Kerajaan Islam di Nusantara

Kerajaan Islam di Nusantara
Kerajaan Islam di Nusantara (Sumber: MMI)

Abstrak

Penyebaran Islam di Nusantara sering dipahami sebagai proses damai melalui perdagangan, padahal di sejumlah kerajaan peran penguasa sangat menentukan. Artikel ini membandingkan pola islamisasi melalui jalur kekuasaan di Kesultanan Malaka, Banjar, Kutai Kartanegara, dan Gowa-Tallo dengan metode sejarah (heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi).

Hasilnya menunjukkan bahwa konversi raja menjadi titik awal islamisasi di keempat kerajaan, tetapi mekanismenya berbeda: kepentingan dagang dan pernikahan politik di Malaka, dukungan Demak bersyarat di Banjar, dakwah mubalig di Kutai Kartanegara, serta dakwah disertai ekspansi militer di Gowa-Tallo. Islamisasi di Nusantara tidak bersifat tunggal, sehingga jalur kekuasaan perlu dibaca bersama faktor sosial-budaya.

Kata kunci: islamisasi, kerajaan Islam, Nusantara, kekuasaan, studi komparatif

Abstract

Islamization in the Indonesian archipelago is often seen as a peaceful process driven by trade, yet in several kingdoms rulers played a decisive role. This article compares Islamization through political authority in the Sultanates of Malacca, Banjar, Kutai Kartanegara, and Gowa-Tallo, using the historical method (heuristics, source criticism, interpretation, and historiography).

The findings show that the ruler’s conversion started Islamization in all four kingdoms, but through different mechanisms: commercial interests and political marriage in Malacca, conditional Demak support in Banjar, missionary preaching in Kutai Kartanegara, and preaching combined with military expansion in Gowa-Tallo. Islamization was not uniform, so political authority should be read alongside socio-cultural factors.

Keywords: Islamization, Islamic kingdoms, Nusantara, political authority, comparative study

A. Kerajaan Islam di Sumatra

1. Kerajaan Perlak

Keberadaan Perlak sebagai kerajaan Islam pertama masih diperdebatkan sejarawan; buku ajar sendiri mengakui hal ini.

Asal-usul dan Islamisasi

  • Sebelum Islam, Perlak adalah kota dagang Hindu-Buddha. Penguasanya bergelar meurah (setara maharaja) dan wilayahnya penghasil kayu perlak untuk bahan kapal.
  • Menurut kitab Idarul Haq fi Mamlakah Farlak, rombongan dakwah di bawah nakhoda khalifah (sekitar 100 awak dari Arab, Persia, dan India) datang berdagang sekaligus berdakwah.
  • Penguasa dan rakyat memeluk Islam secara sukarela dalam sekitar 50 tahun. Seorang anggota rombongan menikahi putri raja Perlak dan melahirkan Sayid Abdul Aziz.
  • Perlak berdiri 1 Muharam 225 H (16 November 839 M). Sayid Abdul Aziz menjadi sultan pertama, dan ibu kota Bandar Perlak berganti nama menjadi Bandar Khalifah.

Bukti Sejarah

  • Naskah: Idarul Haq, Hikayat Nurul A’la, dan Hikayat Raja-raja Pasai (menyebut penyatuan dengan Pasai tahun 1292).
  • Artefak: tiga jenis koin (dirham emas, koin perak bertulis “Kupang”, koin tembaga berhuruf Arab) dan stempel perak kerajaan bendahara.

Dinamika dan Kemajuan

  • Konflik Syiah dan Sunni pada masa Sultan Ali Mughayat Syah (915–918 M) mengakhiri dinasti Aziziyah dan memunculkan dinasti Makhdum.
  • Perang saudara berikutnya diakhiri Perjanjian Alue Meuh yang membagi wilayah: Baroh (pesisir, Aziziyah) dan Tumong (pedalaman, Makhdum). Pada 986 M Sriwijaya menyerang Perlak.
  • Bidang pendidikan: Dayah Cot Kala (899 M) dan Dayah Bukit Cibrek didirikan pada masa Sultan Abbas Syah.
  • Peran perempuan: Putri Nurul A’la menjabat mangkubumi dan Putri Nurul Qadimah menjabat kepala keuangan pada masa Sultan Ahmad Syah (1108–1134 M).
  • Dua putri sultan menikah dengan penguasa luar: Ganggang Sari dengan Sultan Malikus Saleh (Pasai) dan Ratna Keumala dengan Parameswara (Malaka).

Sistem Pemerintahan

  • Menurut Idarul Haq, sistemnya mirip Dinasti Abbasiyah: sultan dibantu lima wazir (politik, pertahanan, administrasi, keuangan, hukum) serta Majelis Fatwa yang dipimpin mufti. Kemudian ditambah jabatan Qadi Muazam untuk adat dan hukum.

Akhir Kerajaan

  • Sultan terakhir, Abdul Aziz Syah (1263–1292 M), tidak memiliki putra sehingga Perlak bergabung dengan Samudra Pasai di bawah Sultan Muhammad Malik az-Zahir.

2. Kerajaan Samudra Pasai

Asal-usul dan Letak

  • Berkembang sebagai kerajaan Islam sekitar awal atau pertengahan abad ke-13 M dengan Malik as-Saleh sebagai raja pertama (wafat 696 H/1297 M).
  • Letaknya strategis di Selat Malaka, sementara Sriwijaya melemah dan pusat dagang bergeser ke utara. Pada abad ke-13 penyebar Islam bukan lagi sekadar saudagar, tetapi dai profesional (sufi dan ulama).

Bukti dan Peran

  • Sumber asing: catatan Ibnu Battuta (kedatangan ulama Timur Tengah), Tome Pires (hubungan dagang dengan Malaka, Turki, Arab, Persia, Gujarat), dan kunjungan Marco Polo tahun 1292. Nisan raja-raja Pasai berasal dari Gujarat.
  • Pasai menjadi titik penyebaran Islam ke Pariaman, Minangkabau, pesisir Sumatra, Malaka, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, serta memberi corak Islam pada Malaka.
  • Penguasa: Malik as-Saleh, Muhammad Malik az-Zahir (hingga 1326), Ahmad Malik az-Zahir II (1326–1348), Zainal Abidin, Sultanah Nahrisyah, dan lainnya.

Kemunduran

  • Suksesi tidak stabil setelah 1348; pembesar menjalankan pemerintahan. Pasai diserbu Siam dan Majapahit. Pada 1405 Laksamana Cheng Ho menyarankan Zainal Abidin meminta perlindungan kaisar Tiongkok.
  • Portugis menguasai Pasai tahun 1521, dan tahun 1524 Aceh mengambil alih dengan pusat di Bandar Aceh Darussalam.

3. Kesultanan Malaka

Secara geografis Malaka berada di luar wilayah Indonesia sekarang, tetapi dibahas karena eratnya hubungan dengan kerajaan-kerajaan Nusantara.

Pendirian dan Islamisasi

  • Parameswara (Paramisora), bangsawan yang melarikan diri dari gempuran Majapahit, membangun Malaka menjadi pusat dagang. Ia meminta perlindungan Tiongkok dari Majapahit dan Siam.
  • Ia masuk Islam tahun 1414 dengan nama Sultan Iskandar Syah. Penguasa Malaka tercatat sejak 1402 hingga Mahmud Syah (1488–1511).
  • Dakwah bersifat top-down: raja masuk Islam, diikuti pedagang dan rakyat. Mazhab yang berkembang adalah Syafi’i.

Ekspansi dan Kejayaan

  • Pada masa Muzaffar Syah, Malaka meluas ke Semenanjung Malaya dan pesisir timur Sumatra serta mengalahkan Siam. Orang laut menjamin kapal singgah di Malaka dan membayar cukai.
  • Strategi islamisasi: pernikahan politik antara raja taklukan dan putri Malaka, serta pengampunan bagi tawanan yang memeluk Islam.
  • Puncak kejayaan pada masa Alauddin Riayat Syah. Komoditas utama: lada, emas, timah, dan kapur.

Keruntuhan

  • Portugis tiba tahun 1509 (Diego Lopez de Sequeira) dan, atas perintah Alfonso d’Albuquerque, menaklukkan Malaka sepenuhnya tahun 1511. Kerajaan berdiri sekitar satu abad (1414–1511).

4. Kesultanan Aceh Darussalam

Pendirian

  • Berdiri 12 Zulkaidah 916 H (1511 M). Sultan Ali Mughayat Syah melepaskan Aceh dari kekuasaan Pidie dan menjadi penguasa pertama.
  • Pedagang yang menolak monopoli Portugis di Malaka pindah ke Aceh. Sultan menjalin hubungan dengan India, Arab, dan Turki, mendatangkan ahli persenjataan dan perkapalan, lalu berekspansi ke pantai timur Sumatra.

Masa Kejayaan: Sultan Iskandar Muda (1607–1638)

  • Membatasi gerak pedagang asing dan memperbaiki bidang ekonomi, politik, budaya, dan agama.
  • Pemerintahan terbagi antara kaum bangsawan (ulubalang) dan ulama.
  • Lembaga ilmu: Balai Sertia Ulama, Balai Jamaah Himpunan Ulama, Balai Sertia Hukama. Jenjang pendidikan: Meunasah, Rangkang, Dayah, dan Dayah Teuku Cik (setara perguruan tinggi).
  • Tasawuf berkembang: Hamzah al-Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani, kemudian pemikiran Nuruddin ar-Raniri yang diterima luas pada masa Iskandar Tsani.

Kemunduran dan Perlawanan

  • Sebelum dan sesudah masa keemasan, konflik kekuasaan dan penetrasi Portugis melemahkan Aceh. Menjelang abad ke-18 kesultanan tinggal bayang-bayang masa lalu.
  • Perjanjian dengan Inggris (1818, Raffles), Traktat London (1824) yang mengakui kedaulatan Aceh, lalu Traktat Sumatra (1871) yang memberi Belanda keleluasaan; Belanda menyerbu Aceh tahun 1873 (Perang Aceh 1873–1904).
  • Istana jatuh 1874; Sultan Muhammad Daud Syah dinobatkan 1878 di Masjid Indrapuri; Belanda menghapus kesultanan tahun 1903.

B. Kerajaan Islam di Jawa

Berkembangnya Islam di Jawa bersamaan dengan melemahnya Majapahit, memberi peluang penguasa pesisir membangun pusat kekuasaan mandiri. Wali Sanga menjadi nadi dakwah dengan pendekatan lentur dan akomodatif, memakai unsur budaya Hindu-Buddha sebagai sarana dakwah.

1. Kesultanan Demak

Pendirian

  • Demak (dahulu Bintoro/Glagah Wangi, bawahan Majapahit) adalah kerajaan Islam pertama di pesisir utara Jawa Tengah. Berdiri sekitar 1478 M (candrasengkala “sirna ilang kertaning bumi”).
  • Pendirinya Raden Fatah, putra Brawijaya V, yang diangkat oleh Sunan Ampel dan didukung Wali Sanga.

Perkembangan

  • Raden Fatah membangun Masjid Agung Demak (1479), menerapkan hukum Islam, dan mengirim pasukan di bawah putranya, Pati Unus, melawan Portugis di Malaka (1521); Pati Unus gugur.
  • Sultan Trenggana (1521–1546) membawa kejayaan: Sunda Kelapa direbut bersama Cirebon (1527, pimpinan Fadhilah Khan), serta banyak wilayah Jawa Timur ditundukkan (1529). Demak diakui Palembang dan Banjarmasin.
  • Trenggana wafat 1546 saat menyerbu Blambangan. Sunan Prawata dibunuh Arya Penangsang (1547), lalu Joko Tingkir mengalahkan Penangsang dan memindahkan pusat kekuasaan ke Pajang.
  • Raja Demak versi buku: Raden Fatah, Pati Unus, Trenggana, Sunan Prawata, Arya Penangsang.

2. Kesultanan Pajang

Ringkasan

  • Pendiri: Joko Tingkir, menantu Trenggana, bergelar Sultan Hadiwijaya. Ia menaklukkan Blora, Madiun, dan Kediri (1578) dan memperoleh pengakuan raja-raja Jawa sebagai raja Islam (1581).
  • Setelah Hadiwijaya wafat (1582), tampil Arya Pangiri dan Pangeran Benawa (1586–1587). Benawa menyerahkan pusaka Pajang kepada Sutawijaya, sehingga Pajang menjadi bagian Mataram. Peninggalan: Masjid Laweyan.

3. Kesultanan Mataram Islam

Pendirian

  • Sutawijaya, putra Ki Ageng Pemanahan, menjadi raja pertama dengan gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama; pusatnya Kota Gede. Penerusnya Mas Jolang, lalu Mas Rangsang (Sultan Agung).

Masa Kejayaan: Sultan Agung (1613–1645)

  • Ekspansi ke Surabaya, Pasuruan, dan Madura; Mataram menjadi kerajaan terkuat di Jawa.
  • Menyerang VOC di Batavia pada 1628 dan 1629 (belum berhasil sepenuhnya).
  • Tata kota berfilosofi Mancapat–Mancalima (alun-alun sebagai pusat dengan keraton, masjid, pasar, dan penjara), serta pembangunan irigasi.
  • Budaya dan agama: karya sastra (Serat Sastra Gending), penerjemahan naskah Arab, pesantren dan masjid, serta kalender Jawa yang memadukan Hijriah dan Saka.

Kemunduran

  • Konflik internal dan bantuan VOC kepada salah satu pihak berujung intervensi yang makin luas (Paku Buwono II, 1744).
  • Perjanjian Giyanti (3 Februari 1755) membagi Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta (Pangeran Mangkubumi). Perjanjian Salatiga (17 Maret 1757) memberi Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) kedudukan sebagai Mangkunegara I.
  • Kedua perjanjian ini mengakhiri konflik elite Jawa sekaligus memperkuat pengaruh VOC.

4. Kesultanan Cirebon

Pendirian

  • Cirebon mulanya dukuh kecil yang dibangun Ki Gedeng Tapa, kemudian disebut Caruban (campuran) karena penduduknya beragam. Pangeran Cakrabuana (Walangsungsang), putra Prabu Siliwangi dari Subanglarang, membangun perkampungan Islam di Kebon Pesisir.
  • Tahun 1479 kepemimpinan beralih kepada Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), putra Nyai Rara Santang, yang memerintah dari Keraton Pakungwati dan mengubah Cirebon menjadi kesultanan.
  • Cirebon melepaskan diri dari Pajajaran dengan berhenti mengirim upeti. Faktor pendukung: Pajajaran sedang melemah, pembelotan Tumenggung Jayabaya, hubungan keturunan Siliwangi, dan wafatnya Siliwangi (1521).

Kejayaan dan Keruntuhan

  • Masa Sunan Gunung Jati (1479–1568): memperluas kekuasaan ke separuh Jawa Barat dan Banten, membangun pelabuhan, keraton, jalan, serta masjid (antara lain Masjid Agung Cipta Rasa).
  • Kemunduran bermula dari Amangkurat I (Mataram) yang menahan Panembahan Ratu II (1662). Setelah serangan Trunojoyo (1667), Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten mengangkat Sultan Sepuh dan Sultan Anom serta Panembahan Cirebon, sehingga Cirebon terbagi tiga dan sering berselisih.
  • VOC menengahi lewat perjanjian (1681, 1685, 1688, 1699) dan memperoleh monopoli impor-ekspor serta pengawasan pelayaran. Para sultan akhirnya hanya menjadi simbol tanpa kekuatan politik.

5. Kesultanan Banten

Pendirian dan Kejayaan

  • Banten semula bagian Pajajaran. Demak dan Cirebon menaklukkan pelabuhan di pesisir barat laut Jawa sekitar 1526 untuk membendung Portugis; Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunung Jati, berperan di Teluk Banten dan menjadi sultan pertama.
  • Sultan Hasanuddin (1552–1570) membangun perdagangan lada, Keraton Surosowan, pasar, alun-alun, dan masjid (Masjid Agung dan Karangantu).
  • Maulana Yusuf (1570–1580) menaklukkan Pakuan, ibu kota Pajajaran, dan membangun Masjid Agung serta benteng.

Keruntuhan

  • Melemah karena perang saudara, persaingan dagang global, dan ketergantungan pada senjata. Gubernur Jenderal Daendels (1808) memerintahkan Sultan memindahkan ibu kota dan menyediakan tenaga kerja; Sultan menolak, sehingga Surosowan dihancurkan.
  • Pada 22 November 1808 Banten dinyatakan bagian Hindia Belanda. Tahun 1813 Raffles memecat Sultan dan Kesultanan Banten dihapus secara resmi.

C. Kerajaan Islam di Kalimantan

1. Kesultanan Banjar

Pendirian dan Islamisasi

  • Banjar adalah penerus Kerajaan Daha (Hindu) di Kalimantan Selatan. Islam awalnya diterima dari kalangan menengah ke bawah di pesisir.
  • Setelah Raja Sukarama wafat, terjadi sengketa takhta antara cucunya, Pangeran Samudra, dan pamannya, Pangeran Tumenggung. Patih Masih yang telah masuk Islam (pergaulan dengan ulama Gresik dan Tuban) membantu Samudra.
  • Demak membantu Samudra dengan syarat raja dan rakyat memeluk Islam. Versi buku: Islam menjadi agama resmi tahun 1550; Khatib Dayyan dikirim Demak mengajarkan Islam; Samudra bergelar Sultan Suriansyah.

Perkembangan dan Akhir

  • Awal abad ke-17 Banjar terkenal sebagai pusat perdagangan lada. Setelah Demak digantikan Pajang, Banjar berhenti membayar upeti.
  • Sultan Adam (1825–1857) menyusun Undang-undang Sultan Adam dan menegakkan akidah ahlusunah waljamaah.
  • Perang Banjar (11 Juni 1860) dipimpin Sultan Hidayatullah dan Pangeran Antasari. Belanda menang, menghapus kesultanan, dan mengasingkan Hidayatullah ke Cianjur.

2. Kesultanan Kutai Kartanegara

Latar Belakang

  • Kutai Martadipura (Mulawarman, abad ke-4, dibuktikan tujuh prasasti Yupa) beragama Hindu. Kutai Kartanegara muncul abad ke-14 dengan pengaruh Jawa, lalu mengalahkan Kutai Martapura pada masa Pangeran Sinom Panji Mendapa (1605–1635).

Islamisasi

  • Mubalig dan pedagang Jawa dari Tuban dan Gresik membawa Islam sejak berdirinya Demak. Islam menjadi agama resmi di bawah Aji Raja Mahkota Mulia Islam (1545–1610), yang kemudian mengubah kerajaan menjadi kesultanan.
  • Datuk ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan (dari Sumatra, setelah mengislamkan Gowa-Tallo) mengislamkan raja pada 1607. Polanya top-down: raja lebih dulu, rakyat mengikuti. Raja-raja sebelumnya dimakamkan secara Hindu, sedangkan makam raja ini secara Islam.

Masa Modern

  • Kutai bergabung dalam Federasi Kalimantan Timur sebagai swapraja (1947), dan status kerajaannya berakhir pada 21 Januari 1960. Kesultanan dihidupkan kembali secara seremonial pada 22 September 2001 (Sultan Aji Muhammad Salehuddin II).

D. Kerajaan Islam di Sulawesi dan Maluku

1. Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar)

Islamisasi

  • Tiga mubalig Minangkabau, Datuk ri Bandang, Datuk Patimang, dan Datuk ri Tiro, berdakwah lewat jalur raja dan bangsawan (struktural) serta adat dan tradisi (kultural).
  • Tiga pendekatan: syariat bagi masyarakat yang gemar berjudi dan mabuk (Gowa), tauhid bagi yang percaya Dewata Sewwae (akidah), dan tasawuf bagi yang gemar kebatinan (Bulukumba).

Politik dan Ekonomi

  • Gowa dan Tallo bersatu tahun 1528. Raja Gowa Daeng Manrabia bergelar Sultan Alauddin, sedangkan raja Tallo Karaeng Mantoaya menjadi perdana menteri (Sultan Abdullah).
  • Ajakan masuk Islam kepada Bone, Soppeng, Wajo, dan Sidenreng ditolak; Gowa-Tallo menyerang, dan mereka baru menerima Islam setelah kalah.
  • Makassar adalah bandar strategis antara Malaka dan Maluku. Hukum dagang Ade Allopiloping Bacanna Pabalue melindungi pelayaran. Puncak kejayaan pada masa Sultan Muhammad Said (1639–1653) dan Hasanuddin (1653–1669).

Perang Makassar dan Keruntuhan

  • Makassar mengancam jalur dan monopoli rempah VOC. Dengan bantuan Aru Palaka (Bone), VOC memaksa Hasanuddin menandatangani Perjanjian Bongaya (1667): monopoli dagang VOC, benteng (Rotterdam) dikuasai VOC, Bone lepas, dan Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.
  • Hasanuddin dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”. Putranya, Mapasomba, melanjutkan perlawanan hingga dikalahkan Belanda.

2. Kesultanan Ternate

Latar Belakang

  • Maluku (Jazirah al-Mulk) terkenal dengan cengkeh dan dikenal sebagai Moloku Kie Raha (persatuan empat kolano: Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo setelah Perjanjian Moti 1400).

Islamisasi dan Kejayaan

  • Kolano Marhum (1465–1489) adalah penguasa Ternate pertama yang masuk Islam lewat dakwah Datu Maulana Husein, murid Sunan Giri.
  • Zainal Abidin (1486–1500), santri Sunan Ampel, menjadikan Islam agama resmi dan memakai gelar sultan, membentuk lembaga Jolebe (Bobato Akhirat), dan menetapkan sultan sebagai pembina agama (Amir ad-Din).
  • Sultan Bayanullah (1500–1522) menegakkan hukum perkawinan Islam dan mewajibkan bobato beragama Islam.

Portugis dan Perlawanan

  • Portugis tiba 1512 dan memperoleh izin membangun Benteng Toloko (1522); intrik mereka mengacaukan pergantian sultan. Sultan Khairun (1535–1570) dibunuh Portugis saat undangan pesta.
  • Putranya, Sultan Babullah, mengusir Portugis dari Ternate dan memperluas kekuasaan hingga Kepulauan Sulu (Filipina).

3. Kesultanan Tidore

Ringkasan

  • Islam masuk lewat Raja Ciriliyati yang bergelar Sultan Jamaluddin; islamisasi dipercepat oleh pembangunan madrasah dan masjid.
  • Sultan Mansyur (1512–1526) menyambut Spanyol (1521) sehingga Portugis di Ternate menyerang Tidore (1524). Perjanjian damai kemudian mengatur perdagangan rempah dan penarikan armada Portugis.
  • Sultan Saifuddin (1657–1689) membawa Tidore dihormati. Pada akhir abad ke-18 Sultan Nuku bangkit melawan Belanda; wilayahnya mencakup Papua bagian barat, Kei, dan Aru. Ia mengusir Belanda dari Maluku (1801) dan wafat 14 November 1805 pada usia 67 tahun.
  • Ternate dan Tidore akhirnya bersatu melawan kolonial setelah lama bermusuhan akibat politik adu domba.

Info Tambahan

  • Perjanjian Tordesillas (7 Juni 1494) membagi dunia luar Eropa antara Spanyol dan Portugis. Perjanjian Saragosa (22 April 1529) menyerahkan Maluku kepada Portugis dan Filipina kepada Spanyol.

 

Tabel Ringkasan Kerajaan Islam

Kerajaan Wilayah Periode Tokoh kunci Faktor akhir/kemunduran
Perlak Aceh Timur 839–1292 M Sayid Abdul Aziz; Putri Nurul A’la Bergabung dengan Pasai (1292)
Samudra Pasai Aceh Utara ±abad ke-13–1524 Malik as-Saleh; Malik az-Zahir Serangan Siam, Majapahit; Portugis (1521); diambil Aceh (1524)
Malaka Semenanjung Malaya 1414–1511 Parameswara/Iskandar Syah; Muzaffar Syah Ditaklukkan Portugis (1511)
Aceh Aceh 1511–1903 Ali Mughayat Syah; Iskandar Muda Konflik internal; Perang Aceh melawan Belanda
Demak Jawa Tengah ±1478–1549 Raden Fatah; Trenggana; Pati Unus Perebutan takhta; pindah ke Pajang
Pajang Jawa Tengah 1568–1587 Joko Tingkir (Hadiwijaya) Menjadi bagian Mataram
Mataram Islam Jawa Tengah/DIY ±1587–1755 Sutawijaya; Sultan Agung Intervensi VOC; Giyanti (1755), Salatiga (1757)
Cirebon Jawa Barat 1479–abad ke-17 Sunan Gunung Jati; Panembahan Ratu Terpecah tiga; monopoli VOC
Banten Banten ±1526–1813 Hasanuddin; Maulana Yusuf; Ageng Tirtayasa Daendels (1808); dihapus Raffles (1813)
Banjar Kalimantan Selatan ±1526/1550–1860 Suriansyah; Sultan Adam; Antasari Perang Banjar (1860)
Kutai Kartanegara Kalimantan Timur ±abad 14–1960 Aji Raja Mahkota Mulia Islam Menjadi daerah di NKRI (1960)
Gowa-Tallo Sulawesi Selatan 1528–1667 Alauddin; Hasanuddin Perjanjian Bongaya (1667)
Ternate Maluku Utara ±abad 15– Zainal Abidin; Khairun; Babullah Intrik Portugis, tekanan kolonial
Tidore Maluku Utara ±abad 15– Jamaluddin; Mansyur; Nuku Tekanan Belanda; bergabung NKRI

 

Catatan Verifikasi Data

  • Masa Sultan Ageng Tirtayasa tertulis “1651–1647” (hlm. 31); urutan tahun tidak mungkin benar.
  • Sultan Muhammad Daud Syah tertulis ditangkap 1939 tetapi wafat 1907 (hlm. 18).
  • Masa Raden Fatah tertulis “akhir 1500 hingga awal 1600” (hlm. 19), padahal daftar raja menyebut 1478–1518.
  • Penggantian gelar kolano menjadi sultan di Ternate ditulis “tahun 1313” (hlm. 43), padahal Zainal Abidin memerintah 1486–1500.
  • Catatan Marco Polo disebut tahun 1521, padahal kunjungannya 1292 (hlm. 11).
  • Tahun berdirinya Aceh dan islamisasi Banjar (1550) berbeda dengan angka yang sering ditemukan di sumber lain.
  • Keberadaan Perlak sebagai kerajaan Islam tertua masih diperdebatkan.
  • Buku paket SKI kelas 12

Penulis:

  1. Soraya Khoirun Nisa’
  2. Mirza Ali Kharissudin
  3. Diah Novita Fardani, M.Pd.I.

Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, UIN Raden Mas Said Surakarta

Aktif juga di:

  1. Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah
  2. Nurul Ilmi
  3. UKM JQH Al-Wustho

Dosen Pengampu: Diah Novita Fardani, M.Pd.I.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *