Jago Bicara di Depan Kamera, tetapi Gugup di Dunia Nyata: Tantangan Komunikasi Gen Z

komunikasi Generasi Z
Kepercayaan diri di depan kamera tidak otomatis berpindah ke dunia nyata karena kedua ruang itu menuntut keterampilan yang berbeda. Kamera memberi kendali dan jarak, sedangkan percakapan langsung menuntut respons spontan, kepekaan terhadap isyarat nonverbal, dan kemampuan mendengarkan. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Abstrak

Generasi Z tumbuh bersama media sosial sehingga terbiasa tampil percaya diri di depan kamera, tetapi sering canggung ketika harus berbicara langsung. Artikel opini ini bertujuan menjelaskan penyebab kesenjangan tersebut beserta dampaknya bagi pendidikan dan dunia kerja.

Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi pustaka atas buku, laporan survei, dan artikel jurnal terbaru.

Hasil kajian menunjukkan bahwa komunikasi daring memberi kendali penuh atas citra diri, sedangkan percakapan langsung menuntut respons spontan, kepekaan terhadap isyarat nonverbal, dan kemampuan mendengarkan.

Kampus dan organisasi disarankan melatih komunikasi tatap muka secara terstruktur, sedangkan setiap individu disarankan membiasakan diri berinteraksi langsung secara bertahap.

Kata kunci: komunikasi generasi Z, kecemasan sosial, media sosial, komunikasi tatap muka, kepercayaan diri

Abstract

Generation Z has grown up alongside social media, becoming accustomed to appearing confident in front of a camera, yet often feeling awkward when required to engage in face-to-face conversation. This opinion piece aims to explore the causes of this disparity and its implications for education and the professional world.

A qualitative, descriptive approach was employed, utilizing a literature review of books, survey reports, and recent journal articles.

The findings indicate that online communication grants individuals full control over their self-presentation, whereas in-person interaction demands spontaneous responses, sensitivity to nonverbal cues, and active listening skills.

Academic institutions and organizations are encouraged to provide structured training in face-to-face communication, while individuals are encouraged to gradually accustom themselves to direct, in-person interactions.

Keywords: Generation Z communication, social anxiety, social media, face-to-face communication, self-confidence

Pendahuluan

Di layar telepon seluler (ponsel), banyak anak muda tampak luwes. Mereka berbicara lancar di video pendek, memandu siaran langsung dengan santai, dan menjelaskan apa saja kepada ribuan orang yang tidak mereka kenal.

Namun, ketika diminta presentasi di kelas, menjawab pertanyaan dosen, atau mengikuti wawancara kerja, suara mendadak bergetar, pandangan menghindar, dan kalimat terasa sulit dirangkai.

Kenyataan ini memunculkan pertanyaan sederhana: mengapa orang yang begitu percaya diri di depan kamera justru gugup di dunia nyata?

Pertanyaan ini penting karena generasi Z kini menjadi bagian besar dari masyarakat Indonesia.

Badan Pusat Statistik (2021) mencatat bahwa generasi ini mencakup sekitar 27,94 persen penduduk Indonesia, dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (2024) melaporkan bahwa kelompok ini termasuk penyumbang pengguna internet terbesar.

Kemp (2024) juga menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia di internet tergolong tinggi. Dengan kata lain, sebagian besar proses bersosialisasi generasi ini berlangsung melalui layar.

Sejumlah penulis telah mengingatkan dampak kondisi tersebut. Turkle (2015) berpendapat bahwa percakapan tatap muka melatih empati dan kemampuan mendengarkan, sedangkan komunikasi melalui layar cenderung mengikisnya.

Twenge (2023) memperlihatkan kecenderungan generasi muda menghabiskan lebih banyak waktu di layar dan lebih sedikit bertemu langsung, sementara Haidt (2024) menyebut perubahan masa kecil dari bermain bersama menjadi bergantung pada ponsel sebagai salah satu akar meningkatnya kecemasan.

Meski begitu, kajian lain menunjukkan bahwa hubungan antara media sosial dan kesehatan mental sangat beragam dan tidak dapat disederhanakan (Valkenburg et al., 2022; Twenge et al., 2022).

Bagi mahasiswa manajemen, persoalan ini tidak sekadar urusan pribadi. Wawancara kerja, presentasi, negosiasi, rapat, dan kerja tim menuntut komunikasi langsung yang matang.

Artikel ini bertujuan menjelaskan mengapa kepercayaan diri di depan kamera tidak otomatis berpindah ke dunia nyata serta merumuskan langkah yang dapat ditempuh kampus dan individu untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

Metode

Artikel opini ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik studi pustaka.

Fokus kajiannya adalah kesenjangan antara kepercayaan diri generasi Z saat berkomunikasi di depan kamera dan kecanggungan mereka saat berinteraksi langsung.

Sumber data berupa buku, laporan survei lembaga resmi, dan artikel jurnal yang sebagian besar terbit lima tahun terakhir, ditambah satu rujukan teori klasik tentang keyakinan diri.

Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran pustaka dengan kata kunci seperti komunikasi generasi Z, kecemasan sosial, dan media sosial.

Analisis dilakukan secara tematik dalam tiga langkah: membaca dan merangkum temuan setiap sumber, mengelompokkan temuan ke dalam tema, lalu menafsirkannya menjadi argumen yang disusun penulis.

Karena berbentuk opini, kesimpulan artikel ini merupakan pandangan penulis yang bertumpu pada pustaka, bukan hasil pengujian data primer.

Hasil dan Pembahasan

Kamera sebagai Ruang yang Dapat Dikendalikan

Hasil telaah pustaka menunjukkan bahwa kamera menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki percakapan langsung, yaitu kendali.

Seseorang dapat merekam ulang sampai puas, memilih sudut terbaik, menyunting bagian yang janggal, dan menghapus hasil yang kurang memuaskan. Audiens tidak terlihat, dan tanggapan mereka datang belakangan dalam bentuk angka dan komentar.

Turkle (2015) menggambarkan bahwa komunikasi melalui layar memungkinkan orang menyunting dirinya sebelum tampil, sesuatu yang mustahil dilakukan dalam percakapan nyata.

Dari sudut pandang teori keyakinan diri, Bandura (1997) menyatakan bahwa keyakinan seseorang atas kemampuannya terutama dibentuk oleh pengalaman berhasil secara langsung.

Persoalannya, pengalaman berhasil di depan kamera berlangsung dalam kondisi yang sangat terkendali.

Menurut penulis, wajar bila keyakinan diri yang terbentuk di sana tidak serta-merta berlaku di ruang yang tidak dapat disunting.

Dunia Nyata Menuntut Respons Spontan

Percakapan langsung berlangsung secara waktu nyata. Lawan bicara dapat menyela, mengernyitkan dahi, atau diam terlalu lama, dan semua itu harus dibaca serta ditanggapi seketika.

Perbedaan kedua ruang komunikasi tersebut diringkas pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbedaan Komunikasi di Depan Kamera dan di Dunia Nyata

No. Aspek Di Depan Kamera Di Dunia Nyata
1 Kendali Dapat diulang, disunting, dan dihapus Berlangsung langsung dan tidak dapat ditarik kembali
2 Umpan balik Angka suka dan komentar yang datang belakangan Ekspresi wajah dan nada suara lawan bicara seketika
3 Audiens Tidak terlihat dan berjarak Terlihat, hadir, dan dapat menyela
4 Tuntutan utama Tampil dan menarik perhatian Merespons, mendengarkan, dan menyesuaikan diri

(Sumber: Analisis penulis berdasarkan Turkle (2015) dan Bandura (1997))

Tabel tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan tampil dan kemampuan berinteraksi adalah dua keterampilan yang berbeda.

Di depan kamera, tuntutan utamanya adalah tampil menarik. Di dunia nyata, tuntutan utamanya justru merespons dan mendengarkan. Orang yang mahir pada keterampilan pertama belum tentu terlatih pada keterampilan kedua.

Di sinilah, menurut penulis, letak kekeliruan yang sering terjadi: kita menyamakan keluwesan tampil dengan kecakapan berkomunikasi.

Kurangnya Latihan dan Kecemasan Sosial

Kecanggungan di dunia nyata juga berkaitan dengan minimnya latihan. Haidt (2024) berargumen bahwa generasi yang tumbuh dengan ponsel memperoleh lebih sedikit kesempatan berlatih membaca ekspresi, menunggu giliran bicara, dan menghadapi rasa tidak nyaman dalam interaksi langsung.

Laporan Vogels et al. (2022) mencatat bahwa banyak remaja mengaku berada di dunia maya hampir sepanjang waktu sehingga ruang untuk bergaul secara langsung tentu menyempit.

Kecemasan sosial pun mudah menguat karena setiap pengalaman canggung dihindari, dan penghindaran itu justru membuat kesempatan belajar semakin sedikit.

Namun, penting untuk bersikap adil. Valkenburg et al. (2022) menyimpulkan bahwa dampak media sosial bagi remaja bersifat beragam dan umumnya kecil, sedangkan Twenge et al. (2022) menemukan kaitan yang lebih jelas pada kelompok tertentu, terutama remaja perempuan.

Artinya, media sosial tidak dapat dijadikan satu-satunya kambing hitam. Pola asuh, lingkungan sekolah, kepribadian, dan pengalaman individu turut berperan sehingga generasi Z perlu dipahami, bukan dicap.

Implikasi bagi Pendidikan dan Dunia Kerja

Secara teoretis, pembahasan ini mengusulkan cara pandang bahwa kecakapan di depan kamera sebaiknya dibedakan dari kecakapan berinteraksi langsung.

Perbedaan itu membantu menjelaskan mengapa mahasiswa yang aktif di media sosial dapat tetap kesulitan saat wawancara atau presentasi.

Secara praktis, bagi program studi manajemen, kemampuan komunikasi langsung merupakan modal pokok kepemimpinan, negosiasi, dan kerja tim.

Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan adalah memperbanyak diskusi kelas tanpa gawai, menyediakan simulasi wawancara dan presentasi dengan tingkat kesulitan yang meningkat secara bertahap, serta mendorong organisasi kampus menjadi tempat berlatih berbicara.

Dari sisi individu, rasa gugup dapat dikurangi dengan membiasakan diri berbicara dalam kelompok kecil terlebih dahulu, kemudian meningkat ke audiens yang lebih besar.

Pengalaman berhasil yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, sebagaimana dijelaskan Bandura (1997), akan membangun keyakinan diri yang bertahan di dunia nyata.

Simpulan dan Rekomendasi

Kepercayaan diri di depan kamera tidak otomatis berpindah ke dunia nyata karena kedua ruang itu menuntut keterampilan yang berbeda.

Kamera memberi kendali dan jarak, sedangkan percakapan langsung menuntut respons spontan, kepekaan terhadap isyarat nonverbal, dan kemampuan mendengarkan.

Minimnya latihan interaksi langsung dan penghindaran terhadap situasi yang tidak nyaman memperkuat kegugupan tersebut, meskipun media sosial bukan satu-satunya penyebab.

Penulis merekomendasikan agar kampus menyediakan pelatihan komunikasi tatap muka yang terstruktur dan bertahap, khususnya bagi mahasiswa manajemen yang kelak berhadapan dengan wawancara, rapat, dan negosiasi.

Mahasiswa disarankan membiasakan diri berbicara langsung, mulai dari kelompok kecil. Penelitian lanjutan dengan data primer, misalnya survei atau wawancara kepada mahasiswa di Indonesia, diperlukan untuk menguji argumen dalam artikel ini.

Daftar Pustaka

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024. APJII.

Badan Pusat Statistik. (2021). Hasil Sensus Penduduk 2020. Badan Pusat Statistik.

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The Exercise of Control. W. H. Freeman.

Haidt, J. (2024). The Anxious Generation: How The Great Rewiring of Childhood is Causing an Epidemic of Mental Illness. Penguin Press.

Kemp, S. (2024). Digital 2024: Indonesia. DataReportal. https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia

Turkle, S. (2015). Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age. Penguin Press.

Twenge, J. M. (2023). Generations: The Real Differences Between Gen Z, Millennials, Gen X, Boomers, and Silents—and What They Mean for America’s Future. Atria Books.

Twenge, J. M., Haidt, J., Lozano, J., & Cummins, K. M. (2022). Specification Curve Analysis Shows That Social Media Use is Linked to Poor Mental Health, Especially Among Girls. Acta Psychologica, 224, 103512. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2022.103512

Valkenburg, P. M., Meier, A., & Beyens, I. (2022). Social Media Use and Its Impact on Adolescent Mental Health: An Umbrella Review of The Evidence. Current Opinion in Psychology, 44, 58–68. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.08.017

Vogels, E. A., Gelles-Watnick, R., & Massarat, N. (2022). Teens, Social Media and Technology 2022. Pew Research Center.

 


Penulis: Fabiola Raeng
Mahasiswa Program Studi Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Risza Putri Elburdah


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *