Siap di Atas Kertas, Belum Tentu Siap Menghadapi Perubahan: Adaptabilitas Karier Mahasiswa di Era Digital

Adaptabilitas Karier Mahasiswa
Ilustrasi Adaptabilitas Karier Mahasiswa (Sumber: MMI)

PENDAHULUAN

Bayangkan dua mahasiswa lulus pada tahun yang sama. Satu berasal dari kampus ternama dengan IPK memuaskan, sementara yang lain datang dari kampus yang biasa saja. Sepuluh tahun lalu, selembar ijazah mungkin masih menjadi salah satu penentu utama ke mana langkah mereka berikutnya. Hari ini, ijazah saja tak lagi cukup untuk menebaknya.

Transformasi dunia kerja di era digital diam-diam menggerus tugas-tugas administratif yang repetitif, jenis pekerjaan yang dulu menjadi pintu masuk paling aman bagi fresh graduate. Sebagai gantinya, pasar kerja semakin menuntut kemampuan mengolah data, berpikir analitis, serta beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang. Perubahan secepat ini memunculkan satu pertanyaan yang semakin mendesak: sebenarnya, apa lagi yang bisa diandalkan mahasiswa selain gelarnya sendiri?

Jawabannya, sayangnya, tidak menenangkan. Data Badan Pusat Statistik per Mei 2026 mencatat 1,03 juta orang atau 14,31 persen dari total pengangguran nasional merupakan lulusan perguruan tinggi jenjang Diploma IV ke atas (Badan Pusat Statistik, 2026).

Angka ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak otomatis menjadi tameng dari risiko pengangguran. Ijazah yang dulu kerap menjadi tiket utama memasuki dunia kerja kini semakin berfungsi sebagai salah satu prasyarat di tengah tuntutan kompetensi baru yang lahir dari transformasi dunia kerja digital.

Gambar 1. Proporsi Pengangguran terhadap Total Pengangguran Nasional

Sumber: Badan Pusat Statistik (2026)

Persoalannya, kecemasan terhadap masa depan kerja ternyata muncul jauh sebelum seorang mahasiswa resmi diwisuda. Sebuah studi terhadap mahasiswa tingkat akhir menemukan bahwa 73,3 persen responden merasa memiliki daya saing kerja atau perceived employability yang tinggi. Menariknya, 80,7 persen responden yang sama tetap berada pada tingkat kecemasan karier sedang (Ramadhani and Hatta, 2026).

Temuan ini memperlihatkan sebuah paradoks: merasa memiliki daya saing kerja tidak selalu berarti merasa siap menghadapi masa depan karier. Dalam literatur, kecemasan semacam ini dikenal sebagai career anxiety, yakni kecemasan yang berkaitan dengan ketidakpastian dan masa depan karier.

Tabel 1. Kategorisasi Tingkat Perceived Employability

Tabel 2. Kategorisasi Tingkat Career Anxiety

Sumber: Ramadhani and Hatta (2026)

Sayangnya, kecemasan semacam ini nyaris tidak pernah dibicarakan seserius keterampilan digital atau penguasaan teknologi. Padahal, menghadapi transformasi dunia kerja tidak cukup hanya dengan belajar menggunakan teknologi baru.

Ada kesiapan psikologis yang ikut menentukan bagaimana mahasiswa merespons ketidakpastian, kegagalan, dan perubahan tuntutan kerja. Karena itu, alih-alih kembali menyerukan mahasiswa untuk sekadar “menjadi adaptif”, tulisan ini membongkar akar psikologis di balik kecemasan karier dan menawarkan langkah konkret untuk membangun kesiapan yang lebih utuh menghadapi dunia kerja digital.

PEMBAHASAN

1. Ketika Transformasi Digital Mempercepat Ketidakpastian Karier

Pergeseran ini bukan sekadar prediksi yang mengambang; sudah ada polanya. Kajian literatur terhadap sejumlah laporan global menjabarkan bahwa pekerjaan administratif dan klerikal termasuk kategori yang paling cepat mengalami penurunan permintaan akibat otomasi, sementara kebutuhan terhadap keterampilan digital, analitik data, dan kreativitas justru meningkat. Kajian tersebut juga menegaskan bahwa keberhasilan melewati transisi ini tidak semata-mata ditentukan oleh teknologi, melainkan oleh kesiapan sumber daya manusia (Frisca et al., 2025).

Kalimat ini penting digarisbawahi, karena artinya persoalan yang dihadapi mahasiswa bukan sekadar keterampilan apa yang harus dikuasai, tetapi juga seberapa siap mereka secara psikologis menghadapi perubahan yang terus bergerak.

Pekerjaan yang dulu dianggap sebagai jalur masuk yang relatif aman bagi fresh graduate kini menghadapi tekanan otomatisasi, sementara kompetensi yang dibutuhkan terus bergeser. Situasi ini menciptakan bentuk ketidakpastian yang tidak sepenuhnya berasal dari ketidaksiapan individu, tetapi juga dari perubahan struktur pekerjaan itu sendiri. Mahasiswa pun dihadapkan pada pertanyaan yang sulit dijawab: kompetensi apa yang akan tetap relevan ketika mereka lulus nanti?

2. Kecemasan Karier sebagai Respons Psikologis yang Nyata

Beban psikologis tersebut memiliki konsep dalam literatur psikologi, yakni career anxiety. Kecemasan ini berkaitan dengan kekhawatiran individu terhadap pilihan, perkembangan, dan masa depan kariernya, termasuk ketika menghadapi transisi menuju dunia kerja yang penuh ketidakpastian (Pisarik, Rowell and Thompson, 2017).

Penelitian fenomenologis terhadap mahasiswa menjabarkan bahwa kecemasan mengenai karier dapat muncul jauh sebelum kelulusan, salah satunya karena mahasiswa belum memiliki gambaran yang jelas mengenai dunia kerja yang akan mereka hadapi (Pisarik, Rowell and Thompson, 2017).

Fenomena tersebut juga terlihat dalam konteks Indonesia. Sebuah studi terhadap mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi di Bandung menemukan bahwa meski 73,3 persen responden merasa memiliki daya saing kerja atau perceived employability yang tinggi, 80,7 persen di antaranya tetap berada pada tingkat kecemasan karier sedang (Ramadhani and Hatta, 2026).

Temuan ini mencerminkan bahwa persepsi atas kemampuan diri dan rasa aman terhadap masa depan karier merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang dapat merasa kompeten, tetapi tetap cemas ketika tidak yakin apakah kompetensinya akan cukup bernilai di tengah perubahan dunia kerja.

Semua temuan ini menegaskan bahwa persoalan kesiapan karier tidak berhenti pada penguasaan kompetensi teknis, tetapi juga menyangkut bagaimana individu menghadapi ketidakpastian yang menyertai masa depan karier.

3. Efikasi Diri dan Adaptabilitas Karier sebagai Kunci Sikap

Jika merasa kompeten belum tentu membuat mahasiswa merasa aman terhadap masa depan kariernya, lalu apa yang membedakan mereka yang mampu menghadapi ketidakpastian dengan mereka yang terus terjebak di dalamnya?

Psikologi karier menawarkan dua konsep yang relevan untuk menjawab persoalan ini, yakni career self-efficacy dan career adaptability. Career self-efficacy berakar pada konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas dan menghadapi tuntutan tertentu (Bandura, 1977).

Dalam konteks karier, Hackett and Betz (1981) mengembangkan konsep tersebut untuk menjelaskan keyakinan individu terhadap kemampuannya menjalankan tugas dan mengambil keputusan terkait karier. Sementara itu, career adaptability yang dikembangkan Savickas (1997) merujuk pada sumber daya psikologis yang membantu individu menghadapi tugas, transisi, dan perubahan dalam perjalanan karier.

Perbedaan keduanya menjadi penting dalam menghadapi dunia kerja yang terus berubah. Efikasi diri menjawab pertanyaan, “Apakah saya mampu?” sementara adaptabilitas karier membantu menjawab, “Bagaimana saya menghadapi perubahan ketika situasinya tidak lagi seperti yang saya bayangkan?”

Perlu dipahami bahwa kesiapan menghadapi transformasi digital tidak cukup dibangun melalui penambahan keterampilan teknis. Mahasiswa juga membutuhkan keyakinan terhadap kemampuan dirinya sekaligus sumber daya psikologis untuk menavigasi perubahan yang belum dapat diprediksi.

Temuan empiris turut memberikan dukungan terhadap pentingnya aspek tersebut. Penelitian pada mahasiswa S1 di Semarang mengungkapkan bahwa efikasi diri bersama perencanaan karier berkontribusi terhadap kesiapan kerja mahasiswa (Violinda, Wahyuningsih and Meiriyanti, 2023).

Temuan ini memperkuat bahwa kesiapan memasuki dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan apa yang dimiliki seseorang dalam bentuk kompetensi, tetapi juga bagaimana ia memandang kemampuan dirinya dan mempersiapkan langkah kariernya. Dari sini, sikap adaptif tidak semestinya dipahami sebagai tuntutan normatif agar mahasiswa sekadar “siap berubah”.

Adaptabilitas perlu dibangun sebagai kapasitas psikologis yang dapat dilatih, sementara efikasi diri perlu diperkuat melalui pengalaman yang membuat mahasiswa benar-benar merasakan bahwa dirinya mampu menghadapi tuntutan baru. Di titik inilah intervensi psikologis menjadi relevan untuk melengkapi pengembangan keterampilan digital.

GAGASAN ATAU SOLUSI

1. Dari Sekadar Menyiapkan Kerja Menjadi Menyiapkan Diri

Berangkat dari pemahaman bahwa kesiapan menghadapi perubahan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis, tulisan ini menawarkan program pendampingan karier berbasis kampus yang mengintegrasikan penguatan psikologis ke dalam layanan karier mahasiswa. Program ini tidak menggantikan pelatihan CV, pencarian lowongan, atau persiapan wawancara yang selama ini dilakukan unit karier kampus, tetapi melengkapinya dengan satu dimensi yang kerap luput, yaitu kesiapan mahasiswa menghadapi ketidakpastian karier.

Tahap pertama adalah klinik karier berbasis asesmen. Unit karier kampus dapat bekerja sama dengan fakultas atau program studi psikologi untuk memetakan efikasi diri dan career adaptability mahasiswa tingkat akhir. Asesmen tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pendampingan masing-masing mahasiswa.

Mahasiswa dengan efikasi diri yang rendah, misalnya, dapat diarahkan pada aktivitas yang membangun pengalaman keberhasilan dan keyakinan terhadap kemampuan diri. Sementara mahasiswa yang membutuhkan penguatan career adaptability dapat memperoleh pendampingan yang berfokus pada eksplorasi, perencanaan, serta kesiapan menghadapi perubahan.

Pendekatan yang terarah semacam ini sejalan dengan temuan bahwa pelatihan adaptabilitas karier dapat membantu mahasiswa melewati transisi dari pendidikan menuju dunia kerja (Koen, Klehe and Van Vianen, 2012).

Tahap berikutnya adalah peer mentoring bersama alumni. Mahasiswa dipertemukan secara rutin dengan alumni yang telah memasuki dunia kerja untuk memperoleh gambaran yang lebih realistis mengenai proses transisi hingga kompetensi yang ternyata dibutuhkan setelah lulus.

Ruang berbagi ini juga dapat membantu mahasiswa memahami bahwa ketidakpastian dan kecemasan dalam membangun karier bukan semata-mata tanda ketidakmampuan. Dengan mendengar pengalaman orang yang pernah berada pada posisi serupa, mahasiswa memperoleh rujukan yang lebih konkret dalam menilai situasi dan menentukan langkah berikutnya.

Tahap ketiga adalah modul psikoedukasi pengelolaan career anxiety. Modul singkat ini dapat membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai hubungan antara pikiran, emosi, dan respons terhadap ketidakpastian karier, disertai latihan regulasi emosi dan restrukturisasi kognitif yang sesuai dengan konteks mahasiswa. Pelaksanaannya dapat dirancang oleh pihak kampus dengan supervisi dosen atau tenaga profesional yang kompeten sehingga tetap memperhatikan batas kewenangan layanan psikologis.

Ketiga tahap tersebut kemudian ditutup dengan evaluasi ulang untuk melihat perubahan pada aspek yang menjadi sasaran program, seperti efikasi diri, career adaptability, dan tingkat kecemasan karier. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk menentukan apakah mahasiswa membutuhkan pendampingan lanjutan atau layanan yang lebih spesifik.

Dengan pola ini, layanan karier kampus tidak lagi berhenti pada pertanyaan “pekerjaan apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi bergerak menuju pertanyaan “seberapa siap saya menghadapi perubahan ketika pekerjaan yang saya inginkan tidak berjalan sesuai rencana?”

Gambar 2. Alur Program Pendampingan Karier Berbasis Kampus

Sumber: Merujuk Koen, Klehe and Van Vianen (2012).

Kekuatan gagasan ini terletak pada sumber dayanya yang relatif dekat dengan ekosistem kampus. Unit karier berperan sebagai pengelola program, fakultas atau program studi psikologi memberikan dukungan asesmen dan supervisi, alumni menjadi sumber pengalaman praktis, sementara teknologi yang sudah digunakan kampus dapat dimanfaatkan untuk administrasi dan pemantauan.

Dengan memanfaatkan sumber daya tersebut, program tidak harus dimulai sebagai layanan baru yang mahal, tetapi dapat dikembangkan sebagai perluasan dari sistem pendampingan karier yang telah ada.

Penutup

Transformasi digital membuat dunia kerja bergerak semakin cepat, sementara mahasiswa harus menyiapkan diri di tengah pekerjaan yang berubah, tuntutan kompetensi yang bergeser, dan masa depan karier yang sulit diprediksi. Persoalannya, kesiapan kerja tidak selalu tumbuh seiring dengan bertambahnya kompetensi.

Seseorang dapat merasa memiliki daya saing, tetapi tetap cemas ketika tidak yakin apakah kemampuan yang dimilikinya akan cukup menghadapi perubahan setelah lulus. Karena itu, yang dibutuhkan mahasiswa bukan hanya keterampilan untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga kapasitas psikologis untuk menghadapi ketidakpastian di dalamnya.

Kampus memiliki posisi strategis untuk menjawab kebutuhan tersebut. Layanan karier tidak cukup berhenti pada informasi lowongan, pelatihan CV, atau seminar motivasi sesaat. Pendampingan perlu bergerak lebih jauh melalui asesmen efikasi diri dan career adaptability, mentoring bersama alumni, serta psikoedukasi untuk membantu mahasiswa mengelola career anxiety.

Dengan memanfaatkan unit karier, dukungan akademik, jejaring alumni, dan sumber daya psikologi yang telah tersedia, pendekatan ini dapat menjadi bagian dari sistem kesiapan kerja yang lebih terukur dan berkelanjutan. Teknologi boleh terus berubah, pekerjaan boleh terus bergeser, tetapi mahasiswa perlu memiliki fondasi psikologis yang membuatnya tidak kehilangan arah setiap kali dunia kerja berubah.


Penulis: Adhiim Hafiidh
Mahasiswa Psikologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

Badan Pusat Statistik, 2026. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen; Rata-rata upah buruh sebesar 3,39 juta rupiah. Available at: https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/08/05/2606/tingkat-pengangguran-terbuka–tpt–sebesar-4-65-persen—rata-rata-upah-buruh-sebesar-3-39-juta-rupiah-.html.

Bandura, A., 1977. Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2), pp.191–215. https://doi.org/10.1037/0033-295X.84.2.191

Frisca, Z.T., Mardiah, A., Putra, D.S. and Shopiah, N.U., 2025. Era baru dunia kerja: Bagaimana AI menggeser pekerjan rutin dan menciptakan peluang baru. Jurnal Manajemen Industri dan Sistem Bisnis (JMISB), 1(1), pp.44–51.

Hackett, G. and Betz, N.E., 1981. A self-efficacy approach to the career development of women. Journal of Vocational Behavior, 18(3), pp.326–339. https://doi.org/10.1016/0001-8791(81)90019-1.

Koen, J., Klehe, U.-C. and Van Vianen, A.E.M., 2012. Training career adaptability to facilitate a successful school-to-work transition. Journal of Vocational Behavior, 81(3), pp.395–408. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2012.10.003.

Pisarik, C.T., Rowell, P.C. and Thompson, L.K., 2017. A phenomenological study of career anxiety among college students. The Career Development Quarterly, 65(4), pp.339–352. https://doi.org/10.1002/cdq.12112.

Ramadhani, G.A. and Hatta, M.I., 2026. Pengaruh perceived employability terhadap career anxiety pada mahasiswa tingkat akhir fakultas psikologi. Bandung Conference Series: Psychology Science, 6(2). https://doi.org/10.29313/bcsps.v6i2.24256

Savickas, M.L., 1997. Career adaptability: An integrative construct for life-span, life-space theory. The Career Development Quarterly, 45(3), pp.247–259. https://doi.org/10.1002/j.2161-0045.1997.tb00469.x.

Violinda, Q., Wahyuningsih, S. and Meiriyanti, R., 2023. Pengaruh career planning, self-efficacy dan adversity quotient terhadap kesiapan kerja mahasiswa S1 di Semarang. Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen. https://doi.org/10.17358/jabm.9.2.639.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *