Tim Peneliti Departemen Pendidikan IPA UM Kembangkan STEAM-Framework, Panduan Operasional Guru dalam Mengintegrasikan STEAM pada Pembelajaran IPA SMP

STEAM-Framework
Tim peneliti Departemen Pendidikan IPA Universitas Negeri Malang sedang berdiskusi tentang pengembangan STEAM-Framework, yaitu model kerangka kerja operasional. Kerangka ini nantinya dapat digunakan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran IPA SMP yang mengintegrasikan unsur Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics. (Foto: Dok. Penulis)

Malang, MMI – Tim peneliti Departemen Pendidikan IPA Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan STEAM-Framework, yaitu model kerangka kerja operasional yang dapat digunakan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran IPA SMP yang mengintegrasikan unsur Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM).

Framework berjudul “STEAM Integration in Practice: Eksplorasi Muatan dan Level Integrasi STEAM dalam Pembelajaran Sains SMP se-Kota Malang” dikembangkan melalui penelitian yang memperoleh pendanaan Hibah Penelitian Internal Universitas Negeri Malang Tahun 2026 skema Bantuan Penelitian Skripsi dengan nomor kontrak 14.04.725/UN32.14.1/LT/2026.

Penelitian ini diketuai oleh Ibu Erni Yulianti, S.Pd., M.Pd., Ph.D., dengan anggota peneliti Naning Atika, mahasiswa Departemen Pendidikan IPA UM.

STEAM-Framework
Tim peneliti STEAM-Framework dari Universitas Negeri Malang. (Foto: Dok. Penulis)

Latar Belakang: Integrasi STEAM di Kelas IPA SMP

STEAM kerap dipandang menjanjikan untuk membuat pembelajaran sains lebih bermakna dan kontekstual.

Namun, dari penelusuran awal terhadap penelitian terdahulu, tim menemukan bahwa kajian tentang integrasi STEAM pada pembelajaran IPA SMP di Kota Malang masih terbatas.

Konsep level integrasi STEAM pun belum banyak dikenal guru. Sebagian guru juga mengenal STEAM sebatas pemanfaatan teknologi, dan penerapannya tidak selalu mudah karena harus menyesuaikan materi serta sarana dan prasarana yang tersedia.

Proses: dari Praktik di Kelas hingga Pandangan Expert Tiga Negara

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim peneliti mengumpulkan data langsung di lapangan melalui observasi dan wawancara.

STEAM-Framework
Peneliti mewawancarai beberapa guru IPA SMP di Kota Malang. (Foto: Dok. Penulis)

Wawancara dilakukan terhadap beberapa guru IPA SMP di Kota Malang untuk mengetahui sejauh mana STEAM telah diintegrasikan di kelas dan bagaimana pandangan mereka terhadap pengintegrasian tersebut dalam pembelajaran sains.

STEAM-Framework
Peneliti mewawancarai beberapa guru IPA SMP di Kota Malang. (Foto: Dok. Penulis)

Tim juga melakukan observasi pembelajaran di sejumlah SMP di Kota Malang untuk melihat langsung aktivitas belajar siswa.

Dari observasi itu, tim menilai apakah pembelajaran telah memuat unsur STEAM dan berada pada level mana: disciplinary, multidisciplinary, interdisciplinary, atau transdisciplinary.

STEAM-Framework
Observasi pembelajaran sains di sejumlah SMP di Kota Malang. (Foto: Dok. Penulis)
STEAM-Framework
Observasi pembelajaran sains di sejumlah SMP di Kota Malang. (Foto: Dok. Penulis)

Selain menggali praktik di sekolah, tim peneliti juga memperluas sudut pandang dengan mewawancarai expert STEAM dari tiga negara, yaitu Indonesia, Australia, dan Malaysia.

Para pakar diminta menyampaikan pandangan tentang STEAM dalam pembelajaran serta tingkat integrasinya.

Masukan mereka menjadi pembanding bagi temuan di lapangan sekaligus landasan konseptual dalam menyusun kerangka kerja operasional bagi guru IPA SMP.

STEAM-Framework
Peneliti mewawancarai expert STEAM. (Foto: Dok. Penulis)

Temuan: Penerapan STEAM Beragam, Level Integrasi Belum Dikenal Guru

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan STEAM di kelas sangat beragam. Pada sebagian sekolah, pembelajaran IPA masih menempatkan sains secara terpisah dari disiplin lain, sedangkan pada sekolah lainnya sains sudah dipadukan dengan unsur teknologi, rekayasa, seni, maupun matematika secara lebih menyatu.

Dari sisi guru, istilah STEAM sudah tidak asing. Sebagian guru bahkan telah mempraktikkannya di kelas, sementara sebagian lainnya belum karena keterbatasan sarana dan prasarana.

Meski demikian, konsep level integrasi STEAM belum dikenal para guru sehingga mereka belum memiliki gambaran tentang kedalaman integrasi dalam pembelajaran yang dijalankan.

Sementara itu, para expert dari tiga negara memiliki pandangan yang sejalan, baik tentang pemaknaan STEAM dalam pembelajaran maupun tentang level integrasinya.

Kesepahaman ini memperkuat landasan konseptual penyusunan STEAM-Framework.

Hasil: STEAM-Framework dengan Empat Level Integrasi

Temuan lapangan kemudian disintesis menjadi STEAM-Framework, yaitu kerangka kerja operasional bagi guru dalam memahami dan menerapkan integrasi STEAM pada pembelajaran sains di jenjang SMP.

Kerangka ini memuat empat level integrasi yang tersusun dari yang paling sederhana hingga paling terpadu.

Level disciplinary berfokus pada pembelajaran dalam satu disiplin ilmu. Level multidisciplinary mengangkat satu tema yang sama, tetapi masing-masing disiplin masih berdiri sendiri.

Level interdisciplinary mulai menghubungkan konsep dan keterampilan antardisiplin dalam satu kesatuan pembelajaran.

Pada level tertinggi, yakni transdisciplinary, seluruh unsur STEAM melebur untuk menyelesaikan masalah nyata.

Setiap level dilengkapi tiga komponen. Pertama, pengertian yang menjelaskan pembelajaran pada level tersebut.

Kedua, karakteristik berupa ciri utama yang membedakannya dari level lain.

Ketiga, aktivitas belajar siswa, yakni kegiatan di kelas yang mewujudkan level itu.

Dengan demikian, guru dapat memetakan posisi pembelajarannya saat ini dan menentukan langkah untuk meningkatkan level integrasinya secara bertahap, sesuai kondisi kelas dan tujuan pembelajaran.

Melalui STEAM-Framework, tim peneliti berharap guru IPA SMP memiliki rujukan praktis untuk memahami dan merancang pembelajaran IPA yang terintegrasi dan kontekstual di kelas.

Upaya ini diharapkan mendukung SDGs poin 4 melalui peningkatan kualitas pembelajaran sains serta SDGs poin 17 melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan expert lintas negara.

 


Penulis: Naning Atika
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang


Dosen Pengampu: Erni Yulianti, S.Pd., M.Pd., Ph.D.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *