Bukan Cuma Gurun dan Minyak, Riyadh Juga Punya Aksi ‘Hajwalah’ yang Menantang Maut

Hajwalah Arab Saudi
Ilustrasi Hajwalah di Riyadh. (Foto: Pascal Menoret, Joyriding in Riyadh: Oil, Ubanism, and Road Revolt, Cambridge UP, 2014, hlm. 4)

Jalanan pinggiran Riyadh yang lurus membelah gurun mendadak berubah jadi arena adu nyali. Decit ban beradu aspal memekakkan telinga, disusul kepulan asap putih tebal yang membumbung ke udara gurun yang kering.

Sebuah sedan keluarga, bukan mobil sport, bukan pula mobil balap modifikasi, melintir liar, oleng dari satu sisi jalan ke sisi lain, sementara kerumunan penonton bersorak dari pinggir jalan.

Inilah wajah Hajwalah, atau yang juga dikenal sebagai Tafheet: fenomena Saudi drifting bawah tanah yang pernah mengguncang dunia pada era 2000-an.

Aksi ini viral lewat video-video amatir yang beredar di internet dan sempat membuat banyak orang di luar Jazirah Arab tercengang sekaligus ngeri.

Lalu, dari mana sebenarnya aksi nekat ini berasal? Menurut sejumlah kajian, termasuk buku Joyriding in Riyadh: Oil, Urbanism, and Road Revolt karya antropolog Pascal Menoret (2014), akar fenomena ini bersifat sosiologis, bukan sekadar hobi otomotif biasa.

Tafheet dipercaya mulai muncul pada akhir 1970-an di Arab Saudi, sebuah era ketika kekayaan minyak mengalir deras, tetapi ruang hiburan bagi anak muda nyaris tidak ada.

Kombinasi antara tufush, yaitu rasa bosan akut akibat minimnya sarana rekreasi, dan restriksi sosial yang ketat menciptakan tekanan yang membutuhkan saluran.

Jalan raya pun menjadi jawabannya, apalagi aksi ini paling sering terlihat di jalan-jalan lebar di Riyadh dan Provinsi Al-Qassim. Harga bahan bakar yang sangat murah turut menunjang aksi tersebut sehingga mengebut bukan soal biaya.

Hal yang membuat Hajwalah berbeda drastis dari drifting profesional ala Jepang atau ajang balap resmi lainnya adalah keekstremannya.

Para pelaku umumnya memakai mobil standar pabrikan tanpa modifikasi, bahkan terkadang mobil curian atau sewaan, yang dipacu pada kecepatan sangat tinggi, sekitar 160 hingga 260 km/jam, sambil dibanting ke kiri dan kanan untuk meniru gerakan drifting.

Manuver seperti tanteel (meluncur zig-zag tak terkendali) atau berjalan dengan dua roda menjadi tontonan utama.

Ironisnya, para penonton kerap berdiri sangat dekat di pinggir jalan tanpa pengaman apa pun. Setiap aksi pun bukan cuma mempertaruhkan nyawa pengemudi, tetapi juga nyawa orang-orang di sekitarnya.

Sayangnya, romantisme adrenalin ini punya sisi gelap yang tak bisa disangkal. Hajwalah bukan sekadar hiburan liar, melainkan ajang taruhan nyawa sungguhan yang berulang kali memakan korban jiwa.

Salah satu kasus paling terkenal melibatkan Ahmad Shitaiwi Al Ruwaili, yang dijuluki “King Al Nazeem”. Ia sempat divonis 10 tahun penjara pada 2014 karena joyriding, lalu dibebaskan setelah berjanji bertobat.

Namun, ia akhirnya kembali melakukan aksi drifting dan tewas setelah menabrak dinding saat melaju kencang.

Kasus lain melibatkan Faisal Al Otaibi, yang ditangkap pada 2005 setelah tiga penumpang remaja di mobilnya tewas dalam sebuah aksi joyride.

Kisah-kisah semacam ini menegaskan bahwa di balik gemuruh mesin dan sorak penonton, ada risiko kematian yang sangat nyata.

Menghadapi maraknya korban, pemerintah Arab Saudi awalnya merespons dengan tangan besi: denda besar, penyitaan kendaraan, hingga hukuman fisik bagi pelaku yang tertangkap.

Namun, seiring bergulirnya reformasi sosial di bawah Visi 2030, pendekatannya bergeser dari represi murni menjadi pengalihan energi.

Alih-alih terus memburu drifter jalanan, energi dan bakat anak muda ini kini coba disalurkan ke wadah motorsport resmi.

Federasi Otomotif dan Motor Arab Saudi (SAMF) bahkan menaungi ajang seperti Pro Drift Championship, bagian dari Saudi Games.

Dalam ajang ini, peserta dinilai berdasarkan kriteria angle, line, dan style, dengan format solo maupun battle tandem. Kompetisi tersebut dilengkapi standar keamanan dan pengawasan resmi yang jauh berbeda dari kekacauan tanpa pagar pembatas di jalanan umum.

Bagi mahasiswa atau pembaca Indonesia, kisah Hajwalah di Riyadh sebenarnya menyimpan pelajaran universal: kebutuhan anak muda akan ruang ekspresi, adrenalin, dan pengakuan sosial tidak bisa dibungkam hanya dengan larangan dan hukuman.

Fenomena ini menjadi bukti bahwa represi di jalanan tanpa solusi pengganti hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.

Penyediaan fasilitas dan ruang alternatif yang aman, seperti sirkuit resmi dan kompetisi yang diawasi, menjadi upaya untuk mengubah energi liar generasi muda dari ancaman keselamatan publik menjadi prestasi yang membanggakan.

Daftar Pustaka

Menoret, Pascal. (2014). Joyriding in Riyadh: Oil, Urbanism, and Road Revolt. Cambridge: Cambridge University Press.

Arab News. (2009, February 3). “Abu Kab given 20 years, lashes.” Arab News. https://www.arabnews.com/archive/320418?utm

Saudi Gazette. (2016, September 25). “Joyrider meets a tragic end.” Saudi Gazette. https://saudigazette.com.sa/article/664867/saudi-arabia/saudi-arabia-pakistan-and-turkiye-reaffirm-collective-defense-under-makkah-agreement

 


Penulis: Ahmed Deedat
Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Arab, Universitas Al Azhar Indonesia


Dosen Pengampu: Febri Priyoyudanto, S.S., M.HSc.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *