Empat Medan, Satu Proses Belajar: Rangkaian Ekspedisi Angkatan XXI Balanihara Wana MPA Archa Buana

Ekspedisi Angkatan XXI Balanihara Wana MPA
Ilustrasi Ekspedisi Angkatan XXI Balanihara Wana MPA Archa Buana (Sumber: MMI)

Gunung bukan hanya tentang mencapai puncak. Gunung juga tentang proses belajar, ketahanan, kerja sama, dan pengalaman yang didapat selama perjalanan. Semangat itu mewarnai rangkaian ekspedisi Angkatan XXI Balanihara Wana Mahasiswa Pecinta Alam (MPA) Archa Buana Universitas Pamulang.

Pada awal Agustus 2026, anggota dari empat divisi turun ke lapangan: Gunung Hutan di Gunung Raung, Panjat Tebing di Tebing Lawe, Lingkungan Hidup di Gunung Merbabu, dan Arung Jeram di Sungai Elo dan Sungai Progo. Ekspedisi ini merupakan pendidikan lanjutan sekaligus salah satu syarat untuk menjadi anggota penuh. Di dalamnya, anggota mempersiapkan dan memantapkan kemampuan, menambah keterampilan, serta mengaplikasikan berbagai materi yang telah dipelajari selama proses pendidikan.

Abhiyana Raung: Menelusuri Gunung Raung via Sumberwringin

Dokumentasi Ekspedisi Abhiyana Raung, Divisi Gunung Hutan

Ekspedisi Divisi Gunung Hutan Angkatan XXI Balanihara Wana dilaksanakan melalui kegiatan “Abhiyana Raung” pada 9–20 Agustus 2026. Lokasinya Gunung Raung via Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Kegiatan ini bertujuan mengeksplorasi serta mendata jalur historis Gunung Raung via Sumberwringin.

Perjalanan menuju Sumberwringin ditempuh dengan beberapa moda transportasi hingga tim tiba di kawasan Gunung Raung. Sebelum pendakian, tim melakukan berbagai persiapan: birokrasi, pembelian logistik, sosialisasi, plotting jalur, packing, evaluasi, dan briefing.

Pendakian dimulai pada 12 Agustus 2026. Tim melewati Pondok Motor, Batu Tulis, Pondok Sumur, Pondok Tonyok, Pondok Demit, Pondok Mayit, dan Pondok Angin. Sepanjang perjalanan, berbagai materi Gunung Hutan diterapkan langsung, yaitu Mobile Transit, Halang Rintang, Resection, Intersection, dan navigasi darat.

Pada dini hari, perjalanan dilanjutkan dari Pondok Demit menuju Pondok Mayit dan Pondok Angin, lalu ke Puncak Gunung Raung. Di puncak, tim melakukan dokumentasi dan mengibarkan bendera sebagai penanda tercapainya salah satu tujuan utama ekspedisi.

Perjalanan tidak selalu mudah. Jalur berdebu di musim kemarau, keterbatasan sumber air, dan kelelahan fisik menjadi tantangan yang dihadapi. Hal-hal tersebut menjadi bahan evaluasi bagi tim, khususnya tentang pentingnya persiapan fisik dan pengelolaan persediaan air.

Abhiyana Raung akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan menuju puncak. Ekspedisi ini menjadi ruang bagi anggota untuk mengaplikasikan materi, mengenal karakter jalur, berinteraksi dengan masyarakat, serta belajar tentang kerja sama dan tanggung jawab selama berada di alam.

Tebing Lawe: Belajar dari Medan Vertikal

Dokumentasi Ekspedisi Panjat Tebing di Tebing Lawe, Banjarnegara

Di Tebing Lawe, Desa Kendaga, Kabupaten Banjarnegara, MPA Archa Buana melaksanakan ekspedisi panjat tebing pada 10–19 Agustus 2026. Selain menjadi syarat anggota penuh, kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan panjat tebing, mengeksplorasi jalur, serta lebih mengenal kondisi alam dan medan.

Tim terdiri dari Ahmad Surono “Maddok”, Ivan Ibrahim “Ivankop”, Nabil Sufi Romadhon “Coper”, dan Syifa Ramadani “Nikel” sebagai Anggota Madya. Mereka didampingi Ivan Ilham Prasetya “Kolega” (AB/XX-04/137/RAS/25).

Perjalanan menuju Tebing Lawe menjadi awal rangkaian kegiatan yang telah dipersiapkan. Setibanya di Purwokerto, tim bersilaturahmi ke UPL MAPALA Unsoed, lalu melanjutkan perjalanan ke Desa Kendaga dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

Berada langsung di Tebing Lawe memberikan pengalaman yang berbeda dari yang ditemui selama proses pendidikan. Kondisi alam dan medan menuntut tim lebih peka terhadap lingkungan. Sebelum memanjat, tim mengamati kondisi tebing dan jalur yang akan dieksplorasi, dan setiap kondisi yang ditemui menjadi bahan pertimbangan selama di lapangan.

Pemanjatan dan eksplorasi jalur menjadi bagian penting ekspedisi. Di sana, tim mencoba menerapkan materi yang sebelumnya telah dipelajari. Mereka juga belajar tentang kerja sama dan komunikasi. Setiap anggota memiliki peran sehingga mereka harus saling memperhatikan, berkoordinasi, dan menyesuaikan diri dengan keadaan. Medan mengajarkan bahwa kemampuan individu perlu berjalan bersama kemampuan bekerja sebagai tim.

Selain kemampuan teknis, keberadaan di Tebing Lawe memberi kesempatan untuk lebih mengenal alam dan lingkungan sekitar. Hal-hal yang ditemui tidak selalu bisa didapat hanya lewat latihan. Tim belajar beradaptasi, menjaga kondisi diri, dan memahami bahwa setiap medan memiliki karakter yang berbeda.

Seluruh rangkaian kegiatan menjadi bagian dari proses evaluasi. Pengalaman di Tebing Lawe menjadi bahan untuk menilai kembali kemampuan yang telah dimiliki sekaligus hal-hal yang masih perlu dikembangkan. Ekspedisi ini bukan hanya satu tahapan dalam proses pendidikan, tetapi juga ruang belajar melalui pengalaman langsung.

Perjalanan ke Tebing Lawe meninggalkan lebih dari sekadar pengalaman memanjat tebing: ada proses belajar, kerja sama, adaptasi, dan tanggung jawab yang dijalani bersama. Semuanya menjadi bekal bagi Anggota Madya MPA Archa Buana untuk kegiatan-kegiatan berikutnya.

Merbabu via Thekelan: Mengenal Keanekaragaman Burung

Dokumentasi Ekspedisi Divisi Lingkungan Hidup di Gunung Merbabu via Thekelan

Gunung Merbabu berada di Jawa Tengah dan termasuk gunung yang sudah tidak aktif. Salah satu jalur pendakiannya adalah jalur Thekelan di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Di jalur inilah Divisi Lingkungan Hidup Archa Buana melaksanakan ekspedisi pada awal Agustus, sebagai bagian dari pendidikan lanjutan untuk menjadi anggota penuh.

Ekspedisi adalah perjalanan yang telah direncanakan dengan tujuan tertentu. Kegiatan ini berlangsung tiga hari dua malam dan berfokus pada pengamatan keanekaragaman jenis burung di sepanjang jalur pendakian.

Sebelum pengamatan, tim menyempatkan bersilaturahmi dengan organisasi pecinta alam di sekitar Salatiga, yaitu Mapala Mitapasha UIN Salatiga. Tim disambut hangat dan dijamu dengan baik oleh keluarga besar Mitapasha, lalu diajak berkeliling mengenal lingkungan kampus UIN Salatiga. Anggota Mitapasha juga membantu mengantarkan tim menuju basecamp Gunung Merbabu jalur Thekelan. Tim bersyukur atas sambutan, bantuan, dan jamuan tersebut.

Burung dipilih sebagai objek pengamatan karena cukup peka terhadap perubahan kondisi lingkungan. Perubahan atau gangguan pada habitat dapat memengaruhi keberadaan, aktivitas, serta pola kemunculan burung di suatu wilayah.

Melalui kegiatan ini, tim ingin mengetahui jenis-jenis burung di sepanjang jalur Thekelan sekaligus mengamati kondisi habitat di sekitarnya. Tim juga memperhatikan aktivitas pendakian dan keberadaan manusia di jalur untuk melihat apakah tingginya aktivitas manusia memengaruhi kemunculan burung.

Tim menemukan sekitar 10 jenis burung di kawasan tersebut. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Elang Jawa, satwa endemik Pulau Jawa. Burung ini bertubuh dominan cokelat gelap, berdada putih dengan garis-garis cokelat, dan berjambul hitam berujung putih di kepala. Elang Jawa dapat terlihat terbang berputar di atas kawasan lembah. Jenis lain yang ditemukan adalah burung gereja, walet, layang-layang Asia, anis gunung, kekep babi, cica daun, dan sepah hutan.

Tim menggunakan dua metode pengamatan. Metode line transect dilakukan dengan mengikuti garis atau jalur pengamatan yang telah ditentukan pada setiap titik atau plot pengamatan. Metode jelajah bebas dilakukan dengan menjelajahi area di sekitar jalur pendakian untuk menemukan burung yang tidak selalu berada pada titik pengamatan. Kedua metode ini digunakan untuk memperluas peluang menemukan berbagai jenis burung.

Tim juga mendapati perbedaan kemunculan burung menurut kondisi jalur dan aktivitas pendakian. Saat perjalanan naik, jumlah pendaki relatif sedikit. Beberapa burung masih terlihat bertengger di dahan, berpindah dari pohon ke pohon, maupun mencari makan di habitatnya, dan suasana jalur yang tenang membuat aktivitas mereka lebih mudah diamati.

Saat perjalanan turun, jumlah pendaki diperkirakan sekitar dua kali lipat dibandingkan saat naik. Burung menjadi lebih jarang terlihat langsung. Beberapa jenis yang sebelumnya dapat diamati secara visual menjadi sulit ditemukan dan hanya terdengar suaranya dari kejauhan. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia di jalur pendakian perlu diperhatikan dalam pengamatan burung.

Pengamatan ini masih sederhana dan dilakukan dalam waktu terbatas. Faktor lain juga dapat memengaruhi kemunculan burung, seperti cuaca, waktu pengamatan, ketersediaan makanan, vegetasi, dan karakteristik habitat. Hasilnya karena itu menjadi gambaran awal tentang keanekaragaman burung di jalur Thekelan dan pentingnya menjaga habitat agar tetap mendukung berbagai jenis burung.

Dari kegiatan ini, tim memperoleh pengalaman mengamati keanekaragaman hayati sekaligus pemahaman bahwa keberadaan satwa berkaitan erat dengan kondisi lingkungan. Jalur pendakian bukan hanya tempat rekreasi dan pendakian bagi manusia, tetapi juga habitat berbagai satwa.

Menjaga kebersihan, ketenangan, dan kelestarian vegetasi di sepanjang jalur menjadi penting bagi keberlangsungan hidup satwa, termasuk burung di Gunung Merbabu. Harapannya, pengamatan serupa terus dilakukan dan dikembangkan agar kesadaran pendaki untuk menjaga kelestarian alam Merbabu semakin meningkat.

Elo–Progo: Membaca Kehidupan Masyarakat di Balik Arus

Dokumentasi Ekspedisi Divisi Arung Jeram di Sungai Elo–Progo, Magelang

Divisi Arung Jeram MPA Archa Buana Universitas Pamulang melaksanakan ekspedisi arung jeram di Sungai Elo dan Sungai Progo, Magelang, Jawa Tengah. Selain pengarungan, tim melakukan sosial pedesaan (sosped) untuk mengetahui pemanfaatan sungai dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Di Sungai Elo, masyarakat masih memanfaatkan sungai untuk memancing, mandi, dan wisata rafting. Menurut Presito, operator sekaligus pemandu rafting, debit sungai cenderung rendah saat musim kemarau. Aktivitas rafting di kawasan tersebut telah berlangsung sejak 1999 dan mulai ramai sekitar 2009.

Di kawasan River Camp dan Getek Balong, sungai dimanfaatkan untuk memancing dan wisata. Menurut Asrori, pengelola Getek Balong, getek awalnya digunakan warga sebagai transportasi sebelum ada jembatan. Kini getek dikembangkan menjadi wisata yang dikelola masyarakat dan membantu perekonomian warga.

Masyarakat juga masih mempertahankan budaya lokal seperti kuda lumping dan solawatan Jawa. Warga turut melakukan kegiatan bersih sungai, penanaman pohon, dan penebaran benih ikan untuk menjaga lingkungan sekitar.

Hasil sosped menunjukkan bahwa Sungai Elo–Progo masih berperan bagi masyarakat dalam aktivitas sehari-hari, wisata, dan budaya. Namun, sampah, perubahan debit air, serta aktivitas penambangan di sekitar sungai masih menjadi perhatian warga.

Penutup

Keempat ekspedisi berlangsung di medan yang berbeda, yaitu gunung, tebing, hutan jalur pendakian, dan sungai. Namun, pelajaran yang dibawa pulang serupa: penerapan materi pendidikan di lapangan, kerja sama dan tanggung jawab dalam tim, kepekaan terhadap karakter medan, serta kepedulian terhadap alam dan masyarakat di sekitarnya. Seperti pada akhirnya dirasakan di Raung, puncak hanyalah salah satu tujuan. Pengalaman dan pembelajaran selama perjalananlah yang paling berharga untuk dibawa pulang.


Penulis: Anggota Madya MPA Archa Buana
Mahasiswa Universitas Pamulang


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *