Mengapa Pidato Pejabat Sering Gagal Menyentuh Publik? Evaluasi dari Sudut Pandang Retorika

pidato pejabat
Ilustrasi Pidato Pejabat (Sumber: Dok. Pribadi)

Pidato pejabat hampir selalu hadir di momen penting: peresmian proyek, peringatan hari besar, hingga penjelasan kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Namun, tidak sedikit pidato yang berlalu begitu saja. Hadirin menunduk, menatap ponsel, atau menunggu acara selesai.

Pesan yang seharusnya menggerakkan justru menguap.

Masalahnya bukan selalu pada isi kebijakan. Sering kali, ia terletak pada cara pidato itu disusun dan dibawakan.

Retorika klasik sudah lama menjelaskan unsur-unsur yang membuat sebuah pidato hidup, dan di sanalah kita bisa mengevaluasinya.

Tujuan yang Terlupakan

William Penn dalam Learningexpress (2010) menegaskan bahwa tujuan utama setiap pidato adalah untuk dipahami.

Mengajari atau membujuk audiens baru menjadi tujuan berikutnya. Prinsip sederhana ini kerap dilupakan.

Banyak pidato pejabat dipenuhi istilah birokratis, singkatan teknis, dan kalimat panjang berlapis.

Pendengar tidak diajak mengerti, hanya diminta mendengarkan.

Padahal, menurut Dale Carnegie, ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam berpidato: siapa yang menyampaikan, bagaimana cara menyampaikannya, dan apa yang disampaikan.

Pidato pejabat umumnya kuat pada unsur ketiga, yakni materi, tetapi lemah pada dua unsur lainnya.

Baca Juga: Retorika untuk Mengguncang Dunia

Struktur yang Pincang

Retorika klasik membagi pidato menjadi empat bagian: exordium (pembuka), protesis (latar belakang), argumenta (isi dan dalil), dan conclusio (penutup).

Banyak pidato resmi justru pincang di bagian pertama dan terakhir.

Pembukaan sering habis untuk daftar panjang penyebutan tokoh dan salam protokoler.

Padahal, fungsi exordium adalah menarik dan merangsang perhatian.

Setelah itu, pidato langsung masuk ke paparan program tanpa menjelaskan mengapa hal tersebut penting bagi pendengar.

Bagian protesis semestinya menjawab pertanyaan sederhana yang selalu ada di benak hadirin: “Apa hubungannya dengan saya?”

Penutup pun sering bermasalah. Conclusio yang baik ringkas, sederhana, dan tidak memuat data baru.

Yang kerap terjadi adalah sebaliknya: pidato diakhiri dengan tambahan angka, daftar capaian, atau malah berhenti mendadak tanpa simpulan dan ajakan.

Baca Juga: Wajah Asli di Balik Pidato

Ketika Naskah Menjadi Tembok

Pidato kenegaraan dan acara resmi memang lazim memakai metode naskah.

Metode ini aman karena menghindari salah ucap.

Namun, ada harga yang dibayar: pembicara terpaku pada kertas, kontak mata hilang, intonasi datar, dan audiens merasa sedang dibacakan, bukan diajak bicara.

Karena itu, metode variatif, yakni gabungan naskah, hafalan, dan spontanitas, layak dipertimbangkan.

Pembicara berpegang pada kerangka yang matang, tetapi memilih kata secara lebih bebas sehingga terdengar hidup. Persiapannya pun tidak sepele.

Latihan membaca naskah berulang kali sampai akrab dengan susunan dan maknanya, lalu mengucapkannya langsung tanpa membaca, adalah kebiasaan yang membedakan orator dari sekadar pembaca teks.

Tubuh yang Ikut Berbicara

Bahasa tubuh sering lebih jujur daripada kata-kata.

Pembicara yang gelisah, sibuk membetulkan pakaian atau aksesori, atau berdiri tanpa kesungguhan, mengirim pesan yang bertentangan dengan ucapannya.

Sebaliknya, pembicara yang berdiri tegak, menjeda pada saat yang tepat, dan membiarkan seluruh tubuhnya mendukung pesan akan lebih mudah dipercaya.

Di sinilah unsur “siapa yang menyampaikan” berperan.

Kredibilitas pejabat tidak hanya ditentukan oleh jabatan, tetapi juga oleh kesan yang ia bangun selama berbicara: tulus atau sekadar menjalankan kewajiban.

Baca Juga: Fenomena Pejabat Viral: Antara Gimmick dan Kinerja

Kritik sebagai Bahan Evaluasi

Satu hal lagi yang jarang dibicarakan adalah sikap terhadap kritik.

Pidato yang baik berhenti pada pidato itu sendiri, tetapi pemimpin yang baik menanggapi respons publik dengan lapang dada.

Jika terbukti keliru, akui dengan rendah hati dan sampaikan langkah perbaikannya.

Jika kritik belum jelas, minta klarifikasi dan contoh. Jika publik marah, akui emosinya, lalu tawarkan solusi.

Tanpa kritik, kita tidak bisa tumbuh menjadi lebih baik, demikian pula para pemimpin kita.

Jalan Pulang ke Audiens

Pidato yang menyentuh publik tidak membutuhkan kata-kata megah.

Ia membutuhkan kejelasan tujuan, struktur yang utuh, bahasa yang dapat dipahami, penyampaian yang tulus, dan kesediaan mendengar umpan balik.

Kemampuan berpidato adalah keterampilan yang bisa dipelajari, dan semakin sering dilatih, semakin baik hasilnya.

Maka, sebelum naik podium, pejabat sebaiknya bertanya bukan hanya “apa yang ingin saya sampaikan?”, melainkan juga “apa yang ingin dipahami dan dirasakan pendengar saya?”

Dari pertanyaan kedua itulah pidato yang berkesan bermula.


Penulis:
1. Nelih
2. Noval Ikhsan
Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Pamulang


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

  1. Dunar, H. (2015). My Public Speaking. Jakarta: Gramedia Pustaka.
  2. Nofrion (2017), dalam Sulistyarini, D. & Zainal, A. G. (2020). Retorika. Serang: AA. Rizki.
  3. Penn, W. (2010), dalam Learningexpress.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *