Ekonomi Tumbuh, Konsumen Tetap Berhitung

Perilaku Konsumen

Pertumbuhan ekonomi tidak menghapus keterbatasan anggaran. Ketika harga, pendapatan, dan kebutuhan berubah, rumah tangga tetap harus menentukan apa yang dibeli, dikurangi, diganti, atau ditunda.

Pertumbuhan ekonomi sering dibicarakan melalui angka Produk Domestik Bruto (PDB), investasi, perdagangan, dan konsumsi. Namun, bagi rumah tangga, kondisi ekonomi kerap terasa melalui pertanyaan yang sederhana: apa yang masih bisa dibeli bulan ini, apa yang perlu dikurangi, dan apa yang harus ditunda, atau apa yang bisa digantikan?

Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa di balik angka pertumbuhan ekonomi terdapat keputusan-keputusan ekonomi yang dibuat setiap hari. Konsumen memiliki kebutuhan dan keinginan yang beragam, tetapi sumber daya yang dimiliki terbatas. Karena itu, ketika harga atau pendapatan berubah, pilihan konsumsi ikut menyesuaikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29% secara tahunan. Pada periode yang sama, konsumsi rumah tangga menyumbang 53,32% terhadap struktur PDB berdasarkan pengeluaran. Angka ini menunjukkan pentingnya konsumsi rumah tangga bagi perekonomian nasional.

Namun, besarnya konsumsi secara agregat tidak berarti setiap rumah tangga memiliki ruang anggaran yang sama.

Anggaran Selalu Memiliki Batas

Dalam ekonomi mikro terdapat konsep budget constraint, yaitu keterbatasan anggaran yang membuat konsumen harus menentukan prioritas. Pendapatan yang tersedia harus dibagi untuk makanan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan lainnya.

Data Susenas Maret 2025 menunjukkan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan mencapai Rp1,57 juta. Sekitar Rp775,5 ribu digunakan untuk makanan dan Rp793,6 ribu untuk kebutuhan bukan makanan.

Di perkotaan, rata-rata pengeluaran mencapai sekitar Rp1,81 juta, sedangkan di perdesaan sekitar Rp1,21 juta. Data tersebut merupakan pengeluaran, bukan pendapatan, tetapi tetap memberikan gambaran mengenai besarnya ruang konsumsi rumah tangga.

BACA JUGA: Dari Sampah Menjadi Sumber Ekonomi: Universitas Ekasakti Berdayakan LPS Air Pacah Agar Mandiri Finansial Berbasis Green Economy

Dalam kondisi seperti itu, keputusan membeli satu barang dapat berarti mengurangi ruang untuk kebutuhan lainnya. Ketika sebuah keluarga memilih mempertahankan belanja makanan, misalnya, mereka mungkin harus menunda pembelian pakaian, mengurangi makan di luar, atau mengurangi pengeluaran rekreasi.

Di sinilah konsep opportunity cost menjadi nyata. Setiap pilihan memiliki biaya berupa kesempatan lain yang harus dikorbankan.

Ketika Harga Berubah, Pilihan Ikut Berubah

Keterbatasan anggaran semakin terasa ketika harga mengalami perubahan.

BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19% secara tahunan, sementara inflasi inti berada pada 2,92%. Bank Indonesia mencatat inflasi kelompok volatile food mencapai 4,06%, terutama dipengaruhi kenaikan harga daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Bagi konsumen, angka tersebut bukan sekadar statistik.

Ketika harga cabai meningkat, misalnya, rumah tangga tidak selalu langsung berhenti membeli. Ada yang tetap membeli dalam jumlah yang sama karena dianggap kebutuhan penting. Ada yang mengurangi jumlah pembelian, mengganti dengan bahan pangan lain, atau menyesuaikan pengeluaran pada kebutuhan lain.

Begitu pula ketika harga ayam meningkat. Konsumen dapat tetap membeli, tetapi dengan frekuensi lebih rendah atau mencari alternatif protein yang harganya relatif lebih terjangkau.

Respons seperti ini merupakan bagian dari perilaku konsumen. Perubahan harga dapat memengaruhi jumlah barang yang diminta sekaligus mengubah komposisi belanja rumah tangga.

Tidak Semua Barang Mudah Digantikan

Di sinilah konsep elastisitas permintaan menjadi penting. Elastisitas menunjukkan seberapa besar perubahan jumlah barang yang diminta ketika terjadi perubahan harga.

Barang yang memiliki banyak alternatif pengganti cenderung lebih mudah ditinggalkan ketika harganya naik. Sebaliknya, barang yang dianggap penting dan sulit digantikan dapat tetap dibeli meskipun harganya meningkat.

Namun, konsumen bukan kelompok yang seragam. Rumah tangga dengan tingkat pendapatan, jumlah anggota keluarga, lokasi, dan kebutuhan yang berbeda dapat memberikan respons berbeda terhadap perubahan harga yang sama.

Karena itu, kenaikan harga tidak selalu menghasilkan reaksi yang seragam. Satu keluarga mungkin mengurangi konsumsi suatu barang, sementara keluarga lain tetap membelinya dan mengurangi pengeluaran pada barang yang berbeda.

Pilihan tersebut menunjukkan bahwa konsumen berusaha menyesuaikan manfaat yang diperoleh dengan sumber daya yang tersedia.

Pendapatan Juga Mengubah Pola Belanja

Harga bukan satu-satunya faktor yang menentukan konsumsi. Pendapatan juga memainkan peran penting.

Ketika pendapatan meningkat, tambahan uang tidak selalu digunakan untuk membeli lebih banyak barang yang sama. Konsumen dapat meningkatkan kualitas makanan, memilih layanan yang sebelumnya dianggap mahal, memenuhi kebutuhan yang sempat ditunda, atau menambah tabungan.

Sebaliknya, ketika pendapatan terbatas sementara kebutuhan meningkat, rumah tangga harus semakin selektif. Pengeluaran yang dianggap penting akan diprioritaskan, sedangkan kebutuhan yang kurang mendesak dapat dikurangi atau ditunda.

Karena itu, perubahan kondisi ekonomi sebaiknya tidak hanya dilihat dari berapa besar uang yang dibelanjakan, tetapi juga dari ke mana uang tersebut dialokasikan.

Pertumbuhan Ekonomi dan Konsumen yang Berhitung

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi dan kehati-hatian konsumen bukanlah dua hal yang bertentangan.

Perekonomian dapat tumbuh, konsumsi rumah tangga tetap terjaga, tetapi konsumen tetap melakukan penyesuaian terhadap harga, pendapatan, kebutuhan, dan preferensi masing-masing.

Bank Indonesia dalam Tinjauan Kebijakan Moneter September 2026 menyebut konsumsi rumah tangga tetap terjaga, antara lain didukung berbagai stimulus fiskal serta mulai menguatnya keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen.

Ini menunjukkan pentingnya membedakan antara melihat ekonomi dari tingkat makro dan memahami perilaku ekonomi dari tingkat mikro. PDB memberikan gambaran mengenai aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Ekonomi mikro membantu menjelaskan bagaimana individu dan rumah tangga mengambil keputusan di tengah keterbatasan.

Pada akhirnya, konsumen tidak hanya bertanya apakah ekonomi sedang tumbuh. Mereka juga harus menentukan bagaimana pendapatan yang dimiliki digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang terus berubah.

Di balik angka pertumbuhan ekonomi, ada rumah tangga yang tetap memilih, mengganti, mengurangi, atau menunda.

Ekonomi boleh tumbuh, tetapi konsumen tetap harus berhitung.


Penulis :
1. Ihsan Suwandi
2. Fahri Dwi Alfriyan
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang (UNPAM)


Dosen Pengampu: Yossy Wahyu Indrawan, S.E., M.M.


Editor: Darsono. AR

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *