PADANG – Sampah perkotaan bukan lagi sekadar persoalan kebersihan. Ketika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menjadi sumber pencemaran, mengganggu kesehatan, memperburuk persoalan drainase, dan meningkatkan beban tempat pemrosesan akhir. Pada saat yang sama, sebagian sampah sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi dan dapat kembali menjadi sumber daya melalui pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pengolahan.
United Nations Environment Programme (UNEP) menilai dunia perlu mengubah pola pengelolaan plastik dari pendekatan linear menjadi pendekatan sirkular. Material tidak semestinya berakhir sebagai limbah setelah satu kali digunakan, tetapi perlu dipertahankan dalam siklus penggunaan selama mungkin melalui pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang (UNEP, 2023). Persoalan tersebut juga menjadi tantangan di Kelurahan Air Pacah, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. Kawasan ini merupakan salah satu wilayah perkembangan Kota Padang dengan aktivitas permukiman, perdagangan, dan kegiatan masyarakat yang terus berkembang.
Air Pacah memiliki luas sekitar 14,72 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 21.068 jiwa pada 2023. Di beberapa kawasan rendah, persoalan banjir masih menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut semakin membutuhkan sistem pengelolaan lingkungan yang baik, termasuk pengelolaan sampah dari sumbernya. Sebagian masyarakat juga belum terbiasa memilah sampah sejak dari rumah, toko, sekolah, dan sumber lainnya. Akibatnya, berbagai jenis sampah masih tercampur sebelum dikumpulkan dan dibawa menuju tempat penampungan.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan Universitas Ekasakti melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan judul “Pemberdayaan Lembaga Pengelolaan Sampah Air Pacah Menuju Masyarakat Mandiri Finansial Berbasis Green Economy.”
Program tahun 2026 ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, melalui mekanisme Dana Hibah Kompetitif Nasional, Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
Tim PKM Universitas Ekasakti diketuai Elviyanti, S.T., M.T., dengan anggota Delvianti, S.E., M.M. dan Veny Selviyanty YH, S.T., M.T., serta Tim Mahasiswa.
Mengubah Peran LPS
Lembaga Pengelolaan Sampah Air Pacah atau LPS-AP dibentuk pada 5 Desember 2025 melalui kerja sama Kelurahan Air Pacah dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang. Kehadiran LPS menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah di tingkat masyarakat. Namun, pada tahap awal, kegiatan LPS lebih banyak berfokus pada pengumpulan sampah dari masyarakat untuk kemudian dibawa ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan diteruskan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Air Dingin.
Model pengumpulan dan pengangkutan tetap diperlukan. Namun, pendekatan tersebut belum cukup untuk menjawab persoalan peningkatan timbulan sampah. Semakin banyak sampah yang dihasilkan, semakin besar pula beban yang harus ditanggung sistem pengangkutan dan TPA. Karena itu, program PKM Universitas Ekasakti mendorong perubahan peran LPS Air Pacah. LPS diharapkan tidak hanya menjadi lembaga yang mengumpulkan sampah, tetapi juga mampu memilah, mengolah, menghasilkan produk, dan menciptakan nilai ekonomi dari sampah.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien serta mengurangi material yang berakhir sebagai limbah (UNEP, 2024).
3R+P sebagai Strategi
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam program ini adalah strategi 3R+P, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, dan Process.
Reduce berarti mengurangi sampah sejak dari sumber. Contohnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memilih produk yang menghasilkan lebih sedikit sampah.
Reuse berarti menggunakan kembali barang yang masih layak sehingga tidak segera menjadi limbah.
Recycle berarti mengolah sampah menjadi bahan atau produk baru.
Sedangkan Process menekankan pengolahan sampah menggunakan teknologi yang sesuai sehingga material yang sebelumnya tidak memiliki nilai atau memiliki nilai rendah dapat memperoleh nilai tambah. Strategi ini tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah yang dibuang. Pendekatan tersebut juga berusaha menciptakan hubungan antara pengelolaan lingkungan dengan kegiatan ekonomi masyarakat. UNEP (2023) menekankan bahwa pengurangan penggunaan plastik, penggunaan kembali, serta peningkatan daur ulang merupakan bagian penting dalam upaya mengatasi pencemaran plastik secara global.
Sampah Plastik Menjadi Bahan Baku
Program PKM Universitas Ekasakti memberikan perhatian khusus pada sampah anorganik, terutama plastik.Tidak semua sampah plastik memiliki nilai ekonomi yang sama. Botol plastik dan jenis plastik tertentu relatif memiliki nilai jual. Material seperti ini dapat dipilah dan diproses menggunakan mesin pencacah sehingga menjadi cacahan plastik yang lebih mudah dimanfaatkan atau dipasarkan.
Program juga memperkenalkan penggunaan alat pres untuk membantu pengelolaan material plastik seperti PP dan PET. Sementara itu, terdapat jenis plastik yang nilai jualnya rendah atau bahkan tidak memiliki nilai jual dalam sistem pengumpulan konvensional. Contohnya plastik kresek, bungkus makanan ringan, bungkus mi instan, kemasan deterjen, dan material multilayer. Material tersebut tidak serta-merta harus dibuang. Salah satu alternatif yang diperkenalkan dalam program adalah pemanfaatannya untuk pengembangan Eco Paving Block.
Dengan pendekatan ini, teknologi berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan nilai tambah sampah. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan produk. Lebih jauh, teknologi diharapkan membantu LPS mengurangi jumlah material yang masuk ke TPA sekaligus membuka peluang usaha baru.
Teknologi Harus Diikuti Kemampuan Mengelola Usaha
Pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan memberikan mesin. Mesin pencacah plastik tidak akan menghasilkan manfaat ekonomi jika tidak ada sistem pemilahan bahan baku, pengoperasian, perawatan, pencatatan produksi, pengendalian kualitas, dan pemasaran. Karena itu, program PKM Universitas Ekasakti menggabungkan aspek teknologi, sumber daya manusia, kelembagaan, dan pemasaran. Proposal program menempatkan peningkatan kapasitas produksi dan manajemen sebagai bagian penting dari pemberdayaan LPS. Targetnya bukan hanya meningkatkan kemampuan teknis, tetapi juga memperkuat tata kelola lembaga dan kemampuan mengembangkan usaha. Pendekatan tersebut penting karena pengelolaan sampah berkelanjutan membutuhkan keterpaduan antara aspek teknis, kelembagaan, pembiayaan, dan partisipasi masyarakat.
Sosialisasi dan Pelatihan untuk LPS dan Masyarakat
Tim PKM Universitas Ekasakti melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan pada 22-23 Juli 2026. Peserta berasal dari Lembaga Pengelolaan Sampah Air Pacah, perwakilan RW, dan tokoh masyarakat.
Acara Sosialisasi dan pelatihan di hadiri oleh Plh Lurah Air Pacah Ibu Maria Susanti, SE, Bapak Ismu Kasi Trantib , Bapak Parmilis Ketua LPS , bapak Igal ketua LPM, Bapak Arifi sebagai Tokoh Msyarakat dan Perwakilan dari masing masing RW yang ada di Kelurahan Air Pacah.

Materi pertama adalah Kebijakan dan Konsep Pengelolaan Sampah Berkelanjutan melalui Penerapan 3R+P, Green Economy, dan Green Technology yang disampaikan oleh Ketua Tim, Elviyanti, S.T., M.T.
Materi kedua membahas Teknologi Inovasi Pembuatan Eco Paving Block dari Sampah Plastik dan Penggunaan Mesin Pencacah Plastik yang disampaikan oleh Veny Selviyanty YH, S.T., M.T.
Materi ketiga membahas Manajemen Pemasaran Produk yang disampaikan oleh Delvianti, S.E., M.M.
Pemandu jalannya Materi di pimpin oleh Moderator Bapak Ismunandar dari warga RW 06 Kelurahan Air Pacah, MC acara oleh Mutiara dan Seluruh Kegiatan di bantu oleh Tim mahasiswa universitas Ekasakti (Hasya, Malika, Mutiah, Irpan, Nofta, Sultan, Rafif, Ghalib dan Andre)
Pelatihan diarahkan agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkan pemilahan dan pengolahan sampah. Salah satu hasil awal kegiatan adalah peserta mulai mampu memilah dan mengolah sampah berdasarkan jenis dan potensi pemanfaatannya.
Perubahan tersebut menjadi langkah penting. Pemilahan dari sumber merupakan pintu masuk bagi proses pengolahan berikutnya. Tanpa pemilahan, material yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan akan tercampur dengan sampah lain dan kehilangan sebagian nilai ekonominya.
Green Economy: Ketika Sampah Memiliki Nilai
Konsep Green Economy dalam program ini berusaha menghubungkan tiga kepentingan, yaitu lingkungan, masyarakat, dan ekonomi. Dari sisi lingkungan, semakin banyak sampah yang dipilah dan diolah, semakin sedikit material yang berakhir di TPA. Dari sisi ekonomi, material yang sebelumnya dianggap sampah dapat menjadi bahan baku atau produk yang memiliki nilai jual. Dari sisi sosial, kegiatan tersebut dapat membuka peluang kerja dan usaha di tingkat lokal.
UNEP (2024) menjelaskan bahwa ekonomi sirkular dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya dan menciptakan peluang ekonomi melalui penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Konsep inilah yang ingin dikembangkan di Air Pacah. Sampah tidak hanya dikumpulkan. Sampah dipilah, diolah, kemudian diarahkan menjadi produk atau bahan baku yang memiliki nilai ekonomi.
Target yang Terukur
Program PKM Universitas Ekasakti tidak hanya menetapkan tujuan yang bersifat umum. Proposal program menetapkan sejumlah target yang dapat diukur. Kapasitas sampah yang diolah ditargetkan meningkat dari 200 kilogram menjadi 400 kilogram per minggu. Jenis produk ditargetkan meningkat dari dua menjadi empat jenis produk. Dari sisi ekonomi, pendapatan LPS ditargetkan meningkat dari sekitar Rp1 juta menjadi Rp3 juta per bulan. Jumlah tenaga kerja juga ditargetkan meningkat dari lima menjadi sepuluh orang. Selain itu, program menargetkan penurunan residu sampah yang dibuang ke TPA minimal 30 persen. Target tersebut merupakan target program, bukan seluruhnya hasil yang telah dicapai pada saat artikel ini ditulis. Karena itu, pencapaiannya masih membutuhkan proses pendampingan, pengukuran, dan evaluasi. Pendekatan berbasis target ini penting agar keberhasilan program dapat dinilai secara objektif. Program tidak hanya diukur dari jumlah peserta pelatihan, tetapi juga dari perubahan kapasitas produksi, nilai ekonomi, jumlah tenaga kerja, dan pengurangan residu sampah.
Masyarakat Menjadi Bagian dari Solusi
Keberhasilan pengelolaan sampah tidak mungkin hanya dibebankan kepada LPS. Masyarakat harus terlibat sejak awal. Sampah perlu dipilah dari rumah. Toko perlu memisahkan material yang dapat dimanfaatkan. Sekolah dapat menjadi tempat edukasi pengelolaan sampah. Tokoh masyarakat dan pengurus RW dapat membantu membangun kebiasaan baru di lingkungan.
Dengan pola tersebut, LPS tidak bekerja sendirian. Universitas memberikan pengetahuan, teknologi, pelatihan, dan pendampingan. Pemerintah kelurahan dan pemangku kepentingan lokal mendukung kelembagaan. LPS menjalankan pengelolaan. Masyarakat menjadi sumber sekaligus bagian dari sistem pengelolaan. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan program.
Dari Lingkungan Bersih Menuju Kemandirian Finansial
Program PKM ini memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar mengurangi sampah. Tujuan akhirnya adalah membangun LPS Air Pacah yang mampu mengembangkan kegiatan pengelolaan sampah secara produktif dan berkelanjutan. Jika sistem berjalan dengan baik, sampah yang sebelumnya menjadi beban dapat berubah menjadi sumber bahan baku. Bahan baku dapat diolah menjadi produk. Produk dapat dipasarkan. Hasil penjualan dapat mendukung operasional lembaga dan meningkatkan pendapatan masyarakat yang terlibat. Inilah hubungan antara pengelolaan sampah dengan Green Economy. Program tersebut juga relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (United Nations, 2024).
Air Pacah dan Harapan Baru Pengelolaan Sampah
Masalah sampah tidak dapat selesai hanya dengan mengandalkan pengangkutan menuju TPA. Sampah perlu dikurangi sejak sumber, dipilah, dimanfaatkan kembali, didaur ulang, dan diolah dengan teknologi yang tepat. Program pemberdayaan LPS Air Pacah mencoba membangun perubahan tersebut. Perubahan paling sederhana dimulai dari kebiasaan memilah sampah. Dari pemilahan, muncul material yang dapat dijual. Dari material tersebut muncul peluang pengolahan. Dari pengolahan muncul produk. Dari produk muncul peluang ekonomi. Proses tersebut tentu tidak selesai dalam satu kegiatan. Diperlukan pendampingan, konsistensi, pasar, penguatan kelembagaan, serta partisipasi masyarakat.
Namun, langkah awal sudah dimulai. LPS Air Pacah diharapkan tidak lagi hanya dikenal sebagai lembaga yang mengumpulkan sampah. LPS dapat berkembang menjadi lembaga yang mengelola sampah menjadi sumber daya, menciptakan nilai ekonomi, dan berkontribusi terhadap lingkungan yang lebih berkelanjutan. Pada akhirnya, pesan yang ingin dibangun sederhana: sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang. Jika dipilah, dikelola, dan diolah dengan tepat, sampah dapat menjadi sumber daya dan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Daftar Pustaka
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2021). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah pada Bank Sampah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. (2008). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. (2012). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Sekretariat Negara Republik Indonesia.
United Nations. (2024). The Sustainable Development Goals report 2024. United Nations. https://unstats.un.org/sdgs/report/2024/
United Nations Environment Programme. (2023). Turning off the tap: How the world can end plastic pollution and create a circular economy. United Nations Environment Programme. https://www.unep.org/resources/turning-off-the-tap-end-plastic-pollution-create-circular-economy
United Nations Environment Programme. (2024). Global waste management outlook 2024: Beyond an age of waste: Turning rubbish into a resource. United Nations Environment Programme. https://www.unep.org/resources/global-waste-management-outlook-2024
World Bank. (2018). What a waste 2.0: A global snapshot of solid waste management to 2050. World Bank. https://doi.org/10.1596/978-1-4648-1329-0

Penulis :
1. Elviyanti, S.T.,M.T.
2. Delvianti, S.E., M.M.
3. Veny Selviyanty YH, S.T., M.T.
Tim PKM Program Studi Teknik Sipil, Universitas Ekasakti (UNES)
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI

















