Dari Tendangan ke Tindakan Cepat, Poltekkes Kemenkes Jakarta II Bekali Pelatih Taekwondo Cegah Cedera dan Trauma Akut

Pelatih Taekwondo
Peserta, narasumber, dan tim pengabdian masyarakat berfoto bersama setelah pelatihan di Kampus Poltekkes Kemenkes Jakarta II (Sumber Dokumentasi: Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Jakarta II dan Taekwondo Sacti Club)

Kolaborasi kampus kesehatan dan komunitas Taekwondo memperkuat peran pelatih sebagai penjaga keselamatan atlet di Dojang.

Jakarta, MMI – Poltekkes Kemenkes Jakarta II melalui Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi berkolaborasi dengan Taekwondo Sacti Club menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Peningkatan Kapasitas Pelatih Taekwondo untuk Pencegahan Cedera dan Atasi Trauma Akut”. Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 25 Juli 2026, pukul 09.00–16.00 WIB, di Kampus Poltekkes Kemenkes Jakarta II, Jakarta.

Program ini melibatkan pelatih dan calon pelatih Taekwondo sebagai peserta utama. Mereka dipersiapkan bukan hanya untuk meningkatkan kualitas teknik latihan, tetapi juga untuk mengenali risiko, mencegah cedera, memberikan pertolongan pertama yang aman, serta menentukan kapan seorang atlet harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan.

Taekwondo dikenal sebagai olahraga dengan gerakan eksplosif, perubahan arah cepat, lompatan, putaran, tendangan berkecepatan tinggi, dan kontak fisik. Karakteristik tersebut membuat latihan perlu dikelola secara disiplin agar manfaat kebugaran dan pembinaan karakter tidak diikuti oleh risiko cedera yang sebenarnya dapat dicegah.

Pelatih Menjadi Garda Pertama Keselamatan Atlet

Ketua tim pengabdian masyarakat, Dr. dr. Nurbaiti, M.K.M., menekankan bahwa pelatih atau sabeum sering menjadi orang pertama yang melihat insiden di dojang. Karena itu, pelatih perlu mampu menghentikan aktivitas pada saat yang tepat, mengamankan area, menilai kondisi awal atlet, dan mengambil keputusan yang tidak memperburuk cedera.

Peran tersebut tidak berarti pelatih menggantikan dokter atau tenaga kesehatan. Pelatih justru perlu memahami batas kewenangannya: memberikan pertolongan awal yang aman, menghindari tindakan berisiko seperti memanipulasi sendi yang diduga mengalami dislokasi, serta tidak mengizinkan atlet kembali berlatih ketika masih menunjukkan tanda bahaya.

Materi pertama berfokus pada tata kelola latihan yang produktif dan aman. Peserta diajak mengidentifikasi bahaya pada gerakan, kondisi matras, alat pelindung, kepadatan ruang latihan, serta beban latihan yang tidak sesuai dengan usia atau kapasitas fisik atlet. Etika pelatih, pengawasan, standar operasional prosedur, dan rencana tanggap darurat dojang juga menjadi bagian penting dalam pembahasan.

Narasumber menyampaikan materi penanganan trauma akut dan prinsip respons awal cedera kepada peserta. (Sumber Dokumentasi: Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Jakarta II dan Taekwondo Sacti Club)

Dari Pencegahan Cedera hingga Respons Trauma Akut

Sesi medis membahas anatomi dasar sistem otot dan rangka, mekanisme cedera olahraga, tanda dan gejala yang perlu diwaspadai, penanganan luka, pembidaian sementara, serta prinsip PRICE (Protection, Rest, Ice, Compression, Elevation) sebagai panduan awal sederhana di lapangan. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai tanda bahaya yang memerlukan rujukan cepat, termasuk dugaan patah tulang, gangguan kesadaran, perdarahan yang sulit dikendalikan, deformitas, dan keluhan yang mengarah pada gegar otak.

Dokter spesialis olahraga Dr. dr. Zaini K. Saragih, Sp.KO(K), menyampaikan materi dengan menghubungkan ilmu medis dan situasi nyata yang kerap dihadapi pelatih. Pendekatan berbasis kasus membantu peserta memahami bahwa respons yang cepat harus tetap terukur: melindungi atlet, mencegah cedera tambahan, dan mengaktifkan bantuan medis ketika diperlukan.

Pelatihan juga menekankan pentingnya pemanasan yang terstruktur, peningkatan intensitas secara bertahap, penggunaan perlengkapan pelindung, pemantauan kelelahan, dan komunikasi terbuka dengan atlet. Langkah sederhana tersebut dapat membantu pelatih mendeteksi masalah lebih dini sebelum berkembang menjadi cedera yang lebih berat.

Pelatih dan calon pelatih Taekwondo mengikuti sesi edukasi keselamatan latihan dan penanganan cedera. (Sumber Dokumentasi: Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Jakarta II dan Taekwondo Sacti Club)

Kolaborasi Kampus dan Komunitas untuk Dojang yang Lebih Aman

Taekwondo Sacti Club berperan dalam mengoordinasikan peserta, menyampaikan kebutuhan yang ditemukan di lapangan, dan membantu tim Poltekkes menyesuaikan materi dengan konteks latihan komunitas. Kolaborasi ini membuat pembahasan tidak berhenti pada teori, tetapi diarahkan menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan dalam sesi latihan sehari-hari.

Kegiatan berjalan tanpa hambatan operasional yang berarti. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan dalam diskusi, perhatian terhadap pemaparan kasus, dan respons terhadap situasi cedera yang dibahas. Rangkaian pembelajaran mencakup paparan interaktif, diskusi kasus, demonstrasi, serta evaluasi kegiatan. Hasil yang terdokumentasi adalah terlaksananya seluruh komponen pembelajaran dan tersusunnya berbagai luaran edukasi.

Membangun Budaya Aman, Bukan Sekadar Menangani Cedera

Pesan utama kegiatan ini adalah bahwa keselamatan atlet perlu dibangun sebelum cedera terjadi. Dojang yang aman membutuhkan pemeriksaan tempat dan peralatan, program latihan yang sesuai, pengawasan aktif, rencana tanggap darurat, pencatatan insiden, serta proses kembali berlatih yang bertahap setelah cedera.

Melalui penguatan kapasitas pelatih, Poltekkes Kemenkes Jakarta II dan Taekwondo Sacti Club berharap setiap sabeum dapat menjadi penggerak budaya latihan yang aman, sehat, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, prestasi atlet tidak hanya diukur dari medali atau kenaikan tingkat, tetapi juga dari kemampuan komunitas menjaga kesehatan dan keberlanjutan karier setiap peserta latihan.

Program ini sekaligus menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat perguruan tinggi dapat menjembatani ilmu kesehatan dengan kebutuhan praktis komunitas olahraga. Ketika pengetahuan medis diterjemahkan menjadi tindakan sederhana yang dapat dilakukan pelatih, dojang dapat berkembang menjadi ruang pembinaan yang lebih profesional, ramah, dan siap menghadapi keadaan darurat.


Penulis: Dr. dr. Nurbaiti, M.K.M.
Dosen Jurusan Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses