“Maaf Pak, ada QRIS?”
Pertanyaan pendek ini hampir selalu keluar dari mulut anak muda saat membeli camilan di pinggir jalan. Jika pedagang menggeleng, si anak muda lantas tersenyum canggung. “Saya nggak bawa uang tunai, Pak,” katanya, lalu memutar badan dan pergi. Transaksi pun batal.
Pemandangan harian ini memang masih tampak biasa saja dan normal. Namun, jika kita perhatikan lebih dekat, ada tragedi ekonomi berskala mikro yang sedang terjadi di dalamnya. Gaya hidup nir-tunai atau cashless yang digandrungi Generasi Z kini tanpa sadar mencekik napas para pedagang kaki lima (PKL) senior.
Anak-anak muda hari ini hidup dari layar ponsel. Dompet kulit mulai usang dan kian terganti oleh deretan aplikasi dompet digital. Bagi Gen Z, kepraktisan dan kemudahan adalah raja. Mereka enggan membuang waktu mencari mesin ATM atau menyimpan uang kembalian yang lecek.
Sayangnya, pergeseran gaya hidup ini membawa efek samping struktural yang tidak terduga. Kebiasaan “serba scan” ini memukul telak omzet pedagang kecil yang sudah berumur dan masih murni mengandalkan uang fisik. Mereka kehilangan pelanggan bukan karena rasa makanannya tidak enak, melainkan karena mereka tidak memiliki barcode yang tertanam di gerobaknya.
Sekarang, pertanyaannya, mengapa para PKL senior ini tidak sekadar mendaftar dan memasang QRIS? Jawabannya tidak sesederhana membalik telapak tangan. Ada jurang literasi digital yang menganga sangat lebar di depannya. Bagi seorang kakek penjual kerak telor atau nenek pedagang getuk, mendaftar QRIS adalah proses yang rumit dan menakutkan.
Mereka harus berurusan dengan formulir pendaftaran, surat elektronik, dan verifikasi identitas digital. Belum lagi ketakutan psikologis terhadap uang yang “tidak kelihatan”. Maraknya berita penipuan stiker QRIS palsu atau potongan biaya admin juga menambah panjang daftar kekhawatiran mereka. Bagi pedagang generasi lama, lembaran uang di tangan adalah wujud rezeki yang mutlak.
Akibatnya, ketimpangan ekonomi terjadi secara brutal dan senyap di atas trotoar jalan. Pedagang muda yang melek teknologi sukses meraup lebih banyak keuntungan dari gelombang konsumen cashless. Sebaliknya, PKL senior harus rela gigit jari melihat dagangannya sepi.
Kehilangan tiga sampai lima pembeli dalam sehari akibat tidak punya opsi pembayaran digital mungkin terdengar sepele bagi kelas menengah. Namun, bagi pedagang kecil, angka tersebut bisa berarti hilangnya modal untuk belanja esok hari atau jatah makan keluarga. Mereka perlahan tersingkir dari kompetisi, kalah oleh sebuah sistem yang tidak pernah mereka pahami.
Modernisasi sistem pembayaran memang sebuah Eutopia. Pemerintah dan perbankan tentu berhak bangga dengan meroketnya volume transaksi nontunai setiap tahunnya. Namun, kemajuan teknologi tidak boleh kehilangan jiwa empatinya.
Sosialisasi QRIS tidak cukup hanya dengan membagikan brosur. Bank dan institusi terkait harus turun secara langsung, “menjemput bola”, dan mendampingi para pedagang lansia ini selangkah demi selangkah tanpa membebani mereka dengan biaya potongan yang memberatkan.
Sementara itu, bagi kita para konsumen, tidak ada salahnya menyelipkan beberapa lembar uang kertas di dalam tas. Jangan biarkan sebuah kotak hitam-putih bernama barcode memutus rezeki mereka yang sedang berjuang menyambung hidup di jalanan.
Penulis: M. Jaabir Danadyaksa N
Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Airlangga
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Data dan pernyataan resmi dalam artikel ini merujuk pada: Bank Indonesia, sebagaimana dilaporkan Kompas.com, “BI Sebut Pengguna QRIS Capai 65,77 Juta, Transaksi Tembus Rp1,12 Kuadriliun,” 17 Agustus 2026.
ANTARA News, “BI: QRIS Dipakai 65,77 Juta Pengguna dan Diterima 44,86 Juta Merchant,” 2026.
Kompas.com, “Mulai 1 Oktober 2026, Transaksi QRIS hingga Rp500.000 Bebas MDR, Ini Rinciannya,” 19 Agustus 2026.
Infobanknews, “BI Bebaskan Tarif MDR QRIS Transaksi Rp100 Ribu Mulai 1 Oktober 2026,” 17 Agustus 2026.
Otoritas Jasa Keuangan, Badan Pusat Statistik, dan Lembaga Penjamin Simpanan, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, sebagaimana dilaporkan Stabilitas.id, “Indeks Literasi dan Inklusi 2026 Naik, Ada Lompatan Pesat di Perdesaan dan Kalangan Perempuan,” 10 Agustus 2026.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















