Selama beberapa tahun terakhir, operasi caesar (sectio caesarea) telah menjadi prosedur yang menyelamatkan nyawa jutaan ibu dan bayi. Frekuensi dilakukannya operasi caesar bahkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Akan tetapi, ada efek samping yang sering muncul akibat trauma yang ditimbulkan selama pembedahan, yaitu plasenta akreta.
Normalnya, setelah bayi lahir, plasenta akan terlepas dari rahim dengan sendirinya atau terkadang memerlukan penarikan oleh dokter dan dengan mudah terlepas.
Pada kasus plasenta akreta, plasenta tumbuh terlalu dalam dan mengakar kuat pada rahim. Ketika melahirkan bayi, plasenta tidak bisa terlepas dan akan memicu perdarahan hebat jika dipaksa lepas.
Apa Hubungan Operasi Caesar dengan Plasenta Akreta?
Rahim sebenarnya memiliki lapisan yang berfungsi menjadi pemisah antara plasenta dengan otot rahim. Lapisan ini mencegah plasenta menginvasi dan mengakar pada otot rahim.
Pada ibu yang sudah menjalani operasi caesar, prosedur bedah akan meninggalkan bekas luka. Pada tempat bekas luka ini, lapisan pelindung menjadi tipis atau bahkan tidak ada.
Saat mengalami kehamilan berikutnya, plasenta terkadang cenderung tumbuh pada bekas luka tersebut. Plasenta tidak dipisahkan dari otot rahim karena lapisan pemisah tersebut tipis atau tidak ada pada bekas luka.
Akibatnya, pembuluh darah akan menembus otot rahim dan membuat plasenta menempel dan mengakar dalam pada otot rahim. Dengan begitu, operasi caesar erat kaitannya dengan risiko terjadinya plasenta akreta.
Klasifikasi Klasik Plasenta Akreta
Selama bertahun-tahun, dunia kedokteran mengelompokkan spektrum plasenta akreta berdasarkan kedalaman invasi plasenta pada dinding rahim. Berikut klasifikasi plasenta akreta yang klasik:
- Plasenta akreta: plasenta menempel pada otot rahim tetapi belum menembus masuk ke dalam.
- Plasenta inkreta: plasenta sudah menginvasi dan tumbuh di dalam otot rahim.
- Plasenta perkreta: plasenta menembus seluruh rahim hingga lapisan luar, bahkan menjalar ke kandung kemih atau usus.
Klasifikasi ini penting, tetapi banyak ahli bedah obstetri menyadari bahwa kedalaman saja kurang representatif untuk merencanakan operasi yang bisa meminimalkan perdarahan.
Klasifikasi Topografis Plasenta Akreta
Terdapat wawasan baru mengenai klasifikasi topografis plasenta akreta. Klasifikasi ini tidak berfokus pada seberapa dalam invasi plasenta, tetapi di mana letak invasi secara anatomis.
Pemetaan ini membagi plasenta akreta ke dalam beberapa area spesifik:
- Area anterior atas
Ini adalah area yang biasanya paling menguntungkan dan prognosisnya paling baik. Dokter bisa melakukan pengangkatan area yang terdampak saja.
- Area anterior bawah
Lokasi sayatan operasi caesar biasanya ada di sini. Plasenta sering kali menempel kuat dan menyatu. Prognosis di area ini kurang baik.
- Area lateral
Jika plasenta akreta terjadi di area ini, pembedahan akan cukup rumit dan berisiko tinggi karena area ini dikelilingi pembuluh darah.
- Area posterior
Area ini jarang terjadi tetapi sulit dijangkau jika terjadi perdarahan ketika operasi.
Klasifikasi ini lebih masuk akal karena menyediakan informasi mengenai arteri dan bagian uterus yang terlibat.
Hal ini akan memudahkan ahli bedah untuk membayangkan peta jalan bedah yang lebih masuk akal, menentukan prosedur tatalaksana bedah yang digunakan, dan menentukan prosedur tatalaksana pembuluh darah yang tepat.
Referensi
Palacios-Jaraquemada JM, Nieto-Calvache ÁJ, Aryananda RA and Basanta N (2023) Advantages of individualizing the placenta accreta spectrum management. Front. Reprod. Health 4:1096175. doi: 10.3389/frph.2022.1096175
Penulis: Michael Purnama
Mahasiswa Program Studi Kedokteran, Universitas Airlangga
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













