Pendahuluan
Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan saat ini tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga sudah menjadi persoalan ekonomi dan keuangan. Perusahaan tidak cukup hanya memikirkan bagaimana memperoleh keuntungan sebesar-besarnya, tetapi juga perlu mempertimbangkan bagaimana kegiatan bisnisnya memberikan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Kondisi tersebut kemudian mendorong munculnya konsep green economy atau ekonomi hijau yang semakin banyak diterapkan dalam dunia bisnis dan manajemen keuangan.
Secara sederhana, ekonomi hijau dapat dipahami sebagai konsep pembangunan ekonomi yang tetap mengejar pertumbuhan, tetapi dilakukan dengan mengurangi kerusakan lingkungan, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan. Dalam konteks manajemen keuangan, konsep tersebut berkaitan erat dengan bagaimana perusahaan mengalokasikan modal, memilih investasi, mengelola risiko, menentukan sumber pembiayaan, serta mengukur kinerja keuangan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial.
Di Indonesia, isu ini semakin relevan pada tahun 2026. Kementerian PPN/Bappenas menempatkan ekonomi hijau sebagai bagian dari arah pembangunan nasional dalam RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029. Pada Juni 2026, Bappenas bersama Global Green Growth Institute (GGGI) juga meluncurkan Green Indonesia Future Initiative (GIFT) yang menargetkan mobilisasi investasi hijau sebesar US$2 miliar hingga 2030.
Menurut saya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ekonomi hijau bukan lagi sekadar tren atau slogan perusahaan. Ekonomi hijau mulai masuk ke dalam keputusan investasi, pembiayaan, manajemen risiko, dan strategi perusahaan. Oleh karena itu, manajemen keuangan mempunyai posisi penting dalam memastikan bahwa transisi menuju ekonomi hijau tidak hanya menghasilkan manfaat lingkungan, tetapi juga tetap memperhatikan keberlangsungan bisnis.
Green Economy dan Perubahan dalam Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan pada dasarnya berhubungan dengan bagaimana perusahaan memperoleh dan menggunakan dana secara efektif dan efisien. Dalam pendekatan konvensional, keputusan keuangan sering berfokus pada profitabilitas, likuiditas, struktur modal, dan peningkatan nilai perusahaan. Namun, perkembangan ekonomi hijau membuat pertimbangan tersebut menjadi lebih luas.
Manajer keuangan sekarang perlu mempertimbangkan pertanyaan seperti: apakah investasi yang dilakukan perusahaan memiliki risiko lingkungan? Apakah proyek yang dibiayai perusahaan berpotensi menimbulkan biaya lingkungan di masa depan? Apakah perusahaan memiliki risiko akibat perubahan regulasi terkait emisi karbon? Apakah pembiayaan yang digunakan mendukung kegiatan usaha berkelanjutan?
Artinya, keputusan keuangan tidak lagi hanya berbicara mengenai “berapa besar keuntungan yang diperoleh”, tetapi juga mengenai “bagaimana keuntungan tersebut diperoleh dan apakah dapat dipertahankan dalam jangka panjang”.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendefinisikan keuangan berkelanjutan sebagai ekosistem yang menyelaraskan kepentingan ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial dalam pembiayaan kegiatan berkelanjutan maupun pembiayaan transisi menuju pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Dalam praktiknya, pendekatan tersebut dapat diterapkan melalui green investment, green loan, green bond, pembiayaan energi terbarukan, efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan berbagai proyek lain yang mendukung pengurangan dampak lingkungan.
Green Investment sebagai Bagian dari Keputusan Investasi
Salah satu bentuk penerapan ekonomi hijau dalam manajemen keuangan adalah green investment. Green investment merupakan investasi yang diarahkan pada proyek atau kegiatan yang memberikan manfaat lingkungan, misalnya energi terbarukan, transportasi rendah emisi, efisiensi energi, pengelolaan air, pengelolaan limbah, dan ekonomi sirkular.
Dari sudut pandang manajemen keuangan, green investment tetap harus dianalisis secara hati-hati. Perusahaan perlu menghitung kebutuhan modal, arus kas, tingkat pengembalian, risiko, dan periode pengembalian investasi.
Hal yang menarik adalah bahwa green investment tidak selalu memberikan keuntungan finansial secara cepat. Penelitian Panangguhan et al. (2026) terhadap perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021–2024 menemukan bahwa green investment tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap ROA dalam jangka pendek. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa CSR memiliki pengaruh positif terhadap ROA dan kinerja lingkungan dapat memperkuat hubungan tertentu.
Menurut saya, temuan tersebut penting karena perusahaan tidak seharusnya menganggap bahwa setiap investasi hijau otomatis menghasilkan keuntungan finansial dalam waktu singkat. Investasi hijau harus dipandang sebagai keputusan strategis jangka panjang. Manfaatnya dapat muncul melalui efisiensi biaya, pengurangan risiko, peningkatan reputasi, akses terhadap pembiayaan, maupun kemampuan perusahaan beradaptasi terhadap perubahan regulasi.
Penelitian Rabbani et al. (2025), misalnya, menemukan berdasarkan data 4.375 perusahaan nonkeuangan dari 74 negara bahwa green investment berkaitan dengan penurunan risiko iklim perusahaan, sementara kinerja ESG yang lebih baik memperkuat efek tersebut.
Green Financing dan Peran Lembaga Keuangan
Selain investasi, ekonomi hijau juga berkaitan erat dengan sumber pembiayaan. Perusahaan membutuhkan dana untuk melakukan transformasi, tetapi tidak semua perusahaan memiliki dana internal yang cukup. Karena itu, lembaga keuangan memiliki peranan penting melalui green financing.
Green financing dapat berupa kredit hijau, obligasi hijau, pembiayaan proyek energi terbarukan, dan instrumen keuangan berkelanjutan lainnya. Bagi perusahaan, keberadaan pembiayaan hijau dapat membuka alternatif sumber modal untuk membiayai proyek yang memiliki manfaat lingkungan.
Di Indonesia, OJK terus memperkuat kerangka keuangan berkelanjutan. Pada 31 Maret 2026, OJK menerbitkan Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) Versi 3. Taksonomi tersebut menjadi salah satu instrumen untuk memberikan klasifikasi kegiatan ekonomi berdasarkan kontribusinya terhadap tujuan keberlanjutan dan mendukung komitmen Indonesia menuju net zero emission.
Dari perspektif manajemen keuangan, keberadaan taksonomi seperti TKBI menjadi penting karena dapat membantu perusahaan dan lembaga keuangan mengidentifikasi kegiatan ekonomi yang memenuhi kriteria keberlanjutan. Dengan demikian, keputusan pembiayaan tidak hanya berdasarkan kemampuan perusahaan membayar utang, tetapi juga dapat mempertimbangkan risiko dan dampak keberlanjutan.
Bank Indonesia juga terus mendorong pembiayaan kepada sektor inklusif dan berkelanjutan. Dalam kebijakan 2026, Bank Indonesia memperkuat Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) untuk mendorong penyaluran kredit atau pembiayaan kepada sektor inklusif dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
ESG Semakin Penting dalam Keputusan Keuangan
Konsep lain yang tidak dapat dipisahkan dari ekonomi hijau adalah ESG, yaitu Environmental, Social, and Governance. ESG melihat perusahaan bukan hanya dari keuntungan finansial, tetapi juga dari bagaimana perusahaan mengelola lingkungan, masyarakat, dan tata kelola.
Bagi manajemen keuangan, ESG dapat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan investasi dan manajemen risiko. Perusahaan yang memiliki masalah lingkungan atau tata kelola dapat menghadapi risiko denda, tuntutan hukum, penurunan reputasi, kehilangan investor, atau meningkatnya biaya pembiayaan.
Penelitian Mahanta et al. (2024) terhadap 909 perusahaan menunjukkan adanya hubungan antara integrasi ESG, efisiensi perusahaan, dan kinerja keuangan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa efisiensi perusahaan menjadi salah satu mekanisme penting dalam hubungan ESG dengan kinerja keuangan.
Namun, hubungan ESG dengan kinerja keuangan juga tidak selalu sama pada setiap perusahaan. Penelitian terhadap perusahaan di G20 yang diterbitkan pada 2026 menemukan bukti yang beragam: green revenue, green investment, dan green expenditure tidak secara konsisten menghasilkan peningkatan kinerja keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat finansial dari strategi hijau dapat membutuhkan waktu dan sangat bergantung pada karakteristik perusahaan serta strategi yang diterapkan.
Menurut saya, hal ini justru membuat peran manajer keuangan menjadi semakin penting. Perusahaan tidak boleh melakukan green investment hanya karena ingin terlihat “hijau”. Investasi tersebut harus benar-benar masuk dalam strategi bisnis dan memiliki tujuan yang jelas.
Manajemen Risiko Perubahan Iklim
Ekonomi hijau juga berkaitan dengan manajemen risiko. Perubahan iklim dapat menimbulkan risiko fisik, seperti banjir, kekeringan, kebakaran, dan gangguan rantai pasok. Selain itu, terdapat risiko transisi yang muncul akibat perubahan kebijakan, teknologi, preferensi konsumen, dan regulasi menuju ekonomi rendah karbon.
OJK pada Maret 2026 meluncurkan Climate Risk and Banking Resilience Assessment (CBRA) 2026 untuk menilai dampak risiko iklim terhadap sektor perbankan. OJK menjelaskan bahwa asesmen tersebut mempertimbangkan dampak risiko iklim terhadap kualitas aset, profitabilitas, dan permodalan perbankan dalam berbagai horizon waktu.
Hal ini memperlihatkan bahwa risiko iklim sudah mulai diperlakukan sebagai bagian dari risiko keuangan. Perusahaan yang tidak mempersiapkan diri dapat menghadapi peningkatan biaya dan ketidakpastian di masa depan.
Penelitian Zhang et al. (2025) menunjukkan bahwa risiko iklim dapat mendorong perusahaan meningkatkan investasi hijau, terutama ketika perusahaan menghadapi perhatian investor dan tekanan eksternal yang lebih besar. Sementara itu, penelitian tentang green credit menunjukkan bahwa pembiayaan hijau dapat menjadi salah satu mekanisme yang membantu mengurangi dampak risiko iklim terhadap stabilitas keuangan.
Green Economy Tidak Selalu Berarti Biaya Tambahan
Salah satu anggapan yang masih sering muncul adalah bahwa menerapkan ekonomi hijau hanya akan menambah biaya perusahaan. Pada tahap awal, memang mungkin terdapat biaya investasi yang cukup besar. Contohnya adalah pembelian mesin hemat energi, pembangunan panel surya, penggunaan kendaraan listrik, pengolahan limbah, atau penerapan sistem produksi yang lebih ramah lingkungan.
Namun, apabila dilihat dalam jangka panjang, investasi tersebut dapat menghasilkan efisiensi. Penggunaan energi yang lebih rendah dapat mengurangi biaya listrik. Pengurangan limbah dapat mengurangi biaya produksi. Penggunaan bahan baku yang lebih efisien dapat meningkatkan produktivitas.
Dengan kata lain, ekonomi hijau dapat menjadi bagian dari strategi efisiensi perusahaan. Manajemen keuangan perlu menghitung bukan hanya biaya investasi awal, tetapi juga manfaat ekonomi yang dapat diperoleh sepanjang umur investasi.
Penelitian Asyifa dan Endri (2025) pada perusahaan sektor industri yang terdaftar di BEI periode 2019–2023 menemukan bahwa green finance, kinerja lingkungan, dan CSR berpengaruh terhadap ROA, sementara green finance dan GCG berpengaruh terhadap ROE dalam model yang mereka teliti.
Tantangan Penerapan Green Economy di Indonesia
Walaupun memiliki peluang besar, penerapan ekonomi hijau masih menghadapi beberapa tantangan. Pertama adalah kebutuhan modal. Transformasi menuju kegiatan usaha yang lebih ramah lingkungan dapat membutuhkan investasi awal yang besar.
Kedua adalah keterbatasan data dan kualitas pengungkapan keberlanjutan. Investor membutuhkan informasi yang dapat dipercaya agar dapat membandingkan perusahaan secara lebih objektif.
Ketiga adalah risiko greenwashing, yaitu kondisi ketika perusahaan terlihat seolah-olah memiliki komitmen lingkungan yang kuat, tetapi praktik sebenarnya tidak sejalan dengan klaim tersebut.
Keempat adalah belum seragamnya dampak finansial dari investasi hijau. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa green investment tidak selalu memberikan peningkatan kinerja keuangan secara langsung. Bahkan, meta-analisis Khan dan Vismara (2025) terhadap berbagai estimasi penelitian menemukan bahwa penerbitan green bond cenderung memberikan dampak positif terhadap kinerja lingkungan, tetapi dampaknya terhadap kinerja keuangan tidak selalu signifikan.
Karena itu, perusahaan membutuhkan strategi yang realistis. Green economy bukan berarti perusahaan harus mengabaikan keuntungan. Justru keuntungan tetap diperlukan agar perusahaan mampu bertahan dan terus membiayai transformasi berkelanjutan.
Peluang bagi Perusahaan Indonesia
Di sisi lain, perkembangan ekonomi hijau memberikan peluang yang besar bagi perusahaan Indonesia. Bappenas pada Agustus 2026 menegaskan bahwa sektor swasta mempunyai peran penting dalam pertumbuhan ekonomi hijau. Bappenas juga menyebutkan target penciptaan lebih dari lima juta lapangan kerja hijau baru pada 2029 dan transformasi lebih dari 72 juta pekerjaan agar semakin produktif, bernilai tambah, dan berkelanjutan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa ekonomi hijau dapat menciptakan pasar baru. Perusahaan dapat mengembangkan energi terbarukan, produk ramah lingkungan, teknologi efisiensi energi, ekonomi sirkular, kendaraan listrik, pengelolaan limbah, hingga jasa keuangan berkelanjutan.
BACA JUGA: Manajemen Keuangan di Era Digital: Tantangan Likuiditas, AI, dan Pembiayaan Digital di Indonesia
Dalam konteks manajemen keuangan, peluang tersebut berarti semakin banyak pilihan investasi dan sumber pendapatan baru. Manajer keuangan harus mampu mengidentifikasi proyek yang memiliki potensi ekonomi sekaligus mampu menjawab kebutuhan transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Opini Penulis
Menurut saya, green economy dalam manajemen keuangan seharusnya tidak dipandang sebagai beban tambahan bagi perusahaan. Green economy lebih tepat dilihat sebagai perubahan cara perusahaan membuat keputusan keuangan.
Manajemen keuangan yang baik bukan hanya tentang bagaimana perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dalam satu periode, tetapi bagaimana perusahaan dapat mempertahankan nilai dan keuntungan tersebut dalam jangka panjang. Jika sebuah perusahaan mendapatkan keuntungan besar tetapi kegiatan usahanya menimbulkan risiko lingkungan yang akhirnya menyebabkan denda, kehilangan konsumen, atau meningkatnya biaya operasional, maka keuntungan tersebut belum tentu mencerminkan keberhasilan jangka panjang.
Sebaliknya, perusahaan yang mengalokasikan dana untuk efisiensi energi, teknologi bersih, pengelolaan limbah, dan inovasi hijau mungkin menghadapi biaya lebih besar pada awalnya. Namun, investasi tersebut dapat menjadi bentuk perlindungan terhadap risiko masa depan sekaligus membuka peluang bisnis baru.
Menurut saya, tantangan terbesar bukan lagi apakah perusahaan perlu menerapkan ekonomi hijau, tetapi bagaimana perusahaan dapat mengintegrasikannya ke dalam perencanaan keuangan secara realistis. Green investment harus disertai analisis investasi, pengukuran risiko, target yang jelas, dan evaluasi terhadap hasilnya.
Dengan demikian, aspek lingkungan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari proses manajemen keuangan. Inilah yang menurut saya menjadi arah penting manajemen keuangan modern.
Kesimpulan
Green economy telah berkembang menjadi bagian penting dari manajemen keuangan modern. Perubahan iklim, perkembangan regulasi, tuntutan investor, dan perubahan perilaku konsumen membuat perusahaan perlu mempertimbangkan faktor lingkungan dalam keputusan investasi, pembiayaan, dan manajemen risiko.
Perkembangan Indonesia pada 2026 menunjukkan bahwa pemerintah, OJK, Bank Indonesia, dan Bappenas semakin memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan berkelanjutan. Penerbitan TKBI Versi 3, pelaksanaan CBRA 2026, penguatan pembiayaan sektor berkelanjutan, serta program GIFT menunjukkan bahwa transformasi hijau semakin terintegrasi dengan kebijakan ekonomi dan keuangan.
Namun, perusahaan tetap perlu berhati-hati karena investasi hijau tidak otomatis menghasilkan keuntungan finansial dalam jangka pendek. Berbagai penelitian terbaru menunjukkan hasil yang beragam. Oleh sebab itu, penerapan green economy harus didukung oleh perencanaan keuangan yang matang, manajemen risiko, tata kelola yang baik, transparansi, serta pengukuran manfaat jangka panjang.
Pada akhirnya, green economy bukan hanya mengenai menyelamatkan lingkungan, tetapi juga mengenai bagaimana perusahaan membangun sistem keuangan yang mampu bertahan menghadapi perubahan ekonomi, lingkungan, dan regulasi. Dengan integrasi yang tepat, manajemen keuangan dapat menjadi salah satu penggerak utama menuju pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Asyifa, N. I., & Endri, E. (2025). Green finance, environment performance, and CSR on financial performance industrial sector in Indonesia: The moderating role of good corporate governance. International Journal of Applied Management and Business, 3(2), 97–110. https://doi.org/10.54099/ijamb.v3i2.1555
Craudia, W., Safitri, H., & Hariyanto, D. (2026). ESG disclosure, green investment, sustainability reporting quality, and firm value: The moderating role of firm size in Indonesian energy companies. Economics and Business Journal (ECBIS), 4(6), 3297–3310. https://doi.org/10.47353/ecbis.v4i6.491
Dwi RT, D. R., Azis, Y. M., & Heryana, T. (2025). Does green finance matter? Sustainability disclosure and financial performance. Jurnal ASET (Akuntansi Riset), 17(2), 383–392. https://doi.org/10.17509/aset(akuntansiriset).v17i2.316
Elarabi, H. A. O., & Khalifa, W. (2025). Impact of sustainable finance on business financial performance: Insight from London Stock Exchange firms. Sustainability, 17(11), 4898. https://doi.org/10.3390/su17114898
Hardi, K., & Arifin, A. Z. (2026). Peran green finance, kinerja lingkungan, dan kinerja keuangan sebagai penentu nilai perusahaan. Jurnal Manajerial dan Kewirausahaan, 8(1). https://doi.org/10.24912/jmk.v8i1.36926
Khan, M. A., & Vismara, S. (2025). Green bond issuance and corporate environmental and financial performance: A meta-analysis. International Review of Economics & Finance, 102, 104313. https://doi.org/10.1016/j.iref.2025.104313
Mahanta, A., Sahu, N. C., Behera, P. K., & Kumar, P. (2024). Variations in financial performance of firms with ESG integration in business: The mediating role of corporate efficiency using DEA. Green Finance, 6(3), 518–562. https://doi.org/10.3934/GF.2024020
Panangguhan, P., Maiyaliza, & Agustina. (2026). The effect of green investment and corporate social responsibility (CSR) on financial performance with environmental performance as a moderating variable in energy sector companies on the IDX. Indonesian Journal of Business Analytics, 6(3), 689–704. https://doi.org/10.55927/ijba.v6i3.16525
Rabbani, M. R., Kiran, M., Cepni, O., & Naeem, M. A. (2025). Fortune favors the green: Role of green investment in mitigating climate risk and the moderating role of ESG performance. The Quarterly Review of Economics and Finance, 103, 102028. https://doi.org/10.1016/j.qref.2025.102028
Salvi, A., Martielli, F., Battisti, E., Forliano, C., & Kumar, S. (2025). Climate change management and companies’ financial performance: Exploring the moderating role of carbon credits. Research in International Business and Finance, 75, 102785. https://doi.org/10.1016/j.ribaf.2025.102785
Suharja, I., & Thamrin, H. (2026). The effect of environmental, social, and governance (ESG) performance, green investment, and capital structure on company value, with profitability as a mediating variable, among listed companies in the agricultural sector. American Journal of Economic and Management Business, 5(7). https://doi.org/10.58631/ajemb.v5i7.499
Zhang, et al. (2025). How does climate risk impact corporate green investment? Evidence from Chinese listed firms. Journal of Environmental Management. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2025.128040
Bank Indonesia. (2026). Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026. Bank Indonesia.
Kementerian PPN/Bappenas. (2026, June 4). Bappenas dan GGGI resmikan GIFT, dorong transformasi ekonomi hijau di Indonesia.
Otoritas Jasa Keuangan. (2026, March 31). Buku Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) Versi 3.
Penulis:
– Adjie Zulfiansyah
– Dita Apriyanti
– Elsa Sri Santi
– Kahfi Khanahaya Romadon
- Lia Dwi Pertiwi
– Liana Mange
– Maudinda Aisyaturrohmah
– Melsa Juliana
– Muhamad Nur Alamsyah [231010500414]
– Siti Nuramelia
Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Pamulang
Editor: Darsono. AR
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















