Pernahkah kita merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya sudah memiliki pekerjaan, melanjutkan pendidikan, menikah, atau bahkan mulai memiliki kehidupan yang tampak mapan? Sementara itu, kita masih bertanya-tanya, “Sebenarnya aku ingin menjadi apa?”, “Apakah pilihan hidupku sudah benar?”, atau “Mengapa hidupku tidak berjalan seperti orang lain?” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini semakin sering muncul di rentang usia 20 sampai 40 tahun dan kerap dikaitkan dengan fenomena quarter-life crisis.
Fase ini dapat muncul ketika seseorang menghadapi berbagai perubahan besar, seperti lulus kuliah, memasuki dunia kerja, membangun hubungan, menghadapi tuntutan finansial, serta menentukan arah kehidupan. Penelitian mengenai quarter-life crisis menunjukkan bahwa quarter-life crisis merupakan stresor tambahan pada transisi dari remaja menuju dewasa penuh yang dapat memunculkan kesedihan, kecemasan, depresi, dan penurunan kesejahteraan psikologis, dengan intensitasnya dipengaruhi oleh faktor individu, sosial, budaya, serta perilaku perbandingan sosial (Valentino, K., & Hendrawan, D., 2025).
Apakah Merasa Bingung Berarti Gagal?
Apakah quarter-life crisis selalu berarti bahwa seseorang sedang mengalami kegagalan dalam hidup? Tidak selalu. Justru, fase ini dapat dipahami sebagai bagian dari proses perkembangan ketika seseorang mulai mengevaluasi kembali identitas, nilai, tujuan, dan pilihan hidupnya. Pemahaman dari sudut pandang ini merupakan gambaran dari psikologi positif. Di sinilah perspektif psikologi positif menjadi menarik: bukan dengan menyangkal kesulitan yang sedang dialami, melainkan dengan bertanya, “Kekuatan apa yang dapat saya gunakan untuk menghadapi fase ini?”.
Penelitian menunjukan bahwa intervensi psikologi positif dapat membantu meningkatkan psychological well-being (kesejahteraan psikologis) dewasa awal yang mengalami quarter-life crisis yang ditunjukkan oleh peningkatan perubahan positif berupa meningkatnya keterbukaan, refleksi diri, dukungan sosial, penerimaan diri, dan kejelasan tujuan hidup (Alifatawloh, et al., 2026).
Apa Itu Psikologi Positif?
Psikologi positif merupakan pendekatan dalam psikologi yang berfokus pada pengembangan kekuatan karakter, emosi positif, optimisme, kebermaknaan hidup, serta potensi individu agar dapat mencapai kesejahteraan psikologis yang lebih baik. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi masalah psikologis, tetapi juga membantu individu membangun sumber daya psikologis yang dapat digunakan untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kita menyadari bahwa kehidupan tidak berjalan sesuai harapan dan kita tidak selalu membutuhkan kritik yang lebih keras terhadap diri sendiri.
Terkadang, kita justru membutuhkan kemampuan untuk mengatakan, “Aku sedang mengalami masa yang sulit, dan itu tidak membuatku menjadi orang yang gagal.”. Dalam konteks quarter-life crisis, psikologi positif dapat bermanfaat untuk membantu individu lebih mampu menerima diri, mengenali kekuatan pribadi, membangun hubungan yang positif, menentukan tujuan hidup, serta mengembangkan diri secara lebih adaptif. Psikologi positif dapat digunakan ketika seseorang sedang menghadapi masa transisi, ketidakpastian, tekanan hidup, keraguan terhadap diri sendiri, maupun ketika ingin meningkatkan psychological well-being meskipun tidak sedang mengalami gangguan psikologis.
Dari Quarter-Life Crisis Menuju Kesempatan untuk Bertumbuh
Lalu, bagaimana jika quarter-life crisis tidak hanya dihadapi sebagai masa penuh kebingungan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun kekuatan psikologis? Di sinilah psikologi positif dapat menjadi salah satu jalan untuk membantu mengurangi dampak quarter-life crisis. Alih-alih terus berfokus pada rasa tertinggal, kegagalan, atau ketidakpastian, kita dapat mulai bertanya kepada diri sendiri, “Apa kekuatan yang sebenarnya saya miliki?”, “Hal apa dalam hidup saya yang masih berjalan dengan baik?”, dan “Langkah kecil apa yang dapat saya lakukan hari ini untuk mendekati kehidupan yang saya inginkan?”
Psikologi positif mendorong kita untuk mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, mengenali kekuatan diri, memahami nilai-nilai yang dianggap penting, membangun hubungan yang mendukung, serta menetapkan tujuan yang realistis dan bermakna. Salah satu konsep penting dalam psikologi positif adalah self-compassion, yaitu kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, pengertian, dan penerimaan ketika sedang mengalami kegagalan, kesulitan, atau merasa tidak mampu.
BACA JUGA: Mengurai Krisis Kesehatan Mental: Telaah Psikologi Klinis terhadap Tantangan Individu di Era Digital
Seperti dijelaskan pada penelitian dalam the journal of positive psychology, menunjukkan bahwa intervensi psikologi positif meningkatkan kesejahteraan mental, dan peningkatan tersebut dimediasi oleh peningkatan self-compassion serta kemampuan adaptasi (Wang, et, al., 2026). Self-compassion bukan berarti memanjakan diri atau berhenti berkembang, melainkan membantu kita mengganti kritik diri yang berlebihan dengan sikap yang lebih sehat dan konstruktif.
Self-Compassion sebagai Bagian dari Psikologi Positif
Pada akhirnya menghadapi quarter-life crisis tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar, tetapi dapat dimulai dari hal sederhana. Kita bisa memulai untuk berhenti sejenak (memiliki jeda saat kita sibuk beraktivitas), mengenali hal baik dalam diri, menerima bahwa ketidakpastian adalah bagian dari proses hidup, lalu mengambil satu langkah kecil yang sesuai dengan nilai dan tujuan kita.
Pada akhirnya, memahami dan menerapkan psikologi positif menjadi semakin penting untuk menjaga kesehatan mental di tengah berbagai tekanan yang muncul pada fase quarter-life crisis. Psikologi positif membantu kita untuk tidak hanya berfokus pada masalah, tetapi juga mengenali kekuatan diri, membangun makna hidup, menjaga hubungan yang sehat, serta mengembangkan cara pandang yang lebih adaptif terhadap ketidakpastian.
Langkah Sederhana Menghadapi Quarter-Life Crisis dengan Psikologi Positif
Penerapannya dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap hari, mengenali satu kekuatan diri yang dapat digunakan ketika menghadapi masalah, mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, berbicara kepada diri sendiri dengan lebih penuh pengertian, serta menetapkan tujuan kecil yang realistis dan bermakna.
Dengan membiasakan langkah-langkah sederhana tersebut, kita dapat belajar menghadapi quarter-life crisis bukan hanya sebagai masa penuh tekanan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memahami diri dan bertumbuh secara lebih sehat. Karena itu, mari mulai mengenali dan mempraktikkan prinsip-prinsip psikologi positif dalam kehidupan sehari-hari, agar kita memiliki bekal psikologis yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan, tuntutan, dan ketidakpastian di masa dewasa awal.
DAFTAR PUSTAKA
Alifatawloh, H., Azahra, N., Handayani, N. T., Marisa, S., & Rafifah, Z. (2026). Intervensi psikologi positif meningkatkan psychological well-being pada dewasa awal yang mengalami quarter life crisis. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 4(1), 218–226. https://doi.org/10.5281/zenodo.21230877
Valentino, K., & Hendrawan, D. (2025). Tinjauan sistematis: Gambaran quarter-life crisis, dampak, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Buletin Psikologi, 33(1), 26–47. https://doi.org/10.22146/buletinpsikologi.98848
Wang, J., Tönis, K. J. M., Kraiss, J. T., Drossaert, C. H. C., Schroevers, M. J., & Bohlmeijer, E. T. (2026). Can a positive psychology intervention cultivating self-compassion enhance mental health by fostering self-compassion and adaptive capacities? Results from a randomized controlled trial. The Journal of Positive Psychology, 21(5), 819–830. https://doi.org/10.1080/17439760.2025.2568840
Penulis: Gesya Arsih Windhani, S.Psi.
Mahasiswi Magister Sains Psikologi, Universitas Katolik Soegijapranata
Editor: Darsono. AR
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















