MagangHub: Jembatan ke Dunia Kerja atau Sekadar Persinggahan?

MagangHub
Ilustrasi Magang (Sumber: MMI Arts)

Lulus kuliah seharusnya menjadi awal untuk memasuki dunia kerja.

Namun, bagi banyak fresh graduate, justru di titik inilah persoalan baru dimulai.

Bagaimana cara mendapatkan pekerjaan ketika pengalaman kerja menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan pekerjaan itu sendiri?

Persoalan tersebut bukan sekadar keresahan individual.

Pada 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan universitas di Indonesia mencapai 5,39 persen.

Pada kelompok usia 20–24 tahun, angkanya bahkan mencapai 14,35 persen.

Situasi ini menunjukkan bahwa ijazah perguruan tinggi belum selalu menjadi tiket langsung menuju pekerjaan.

Pada Agustus 2025 saja, BPS mencatat sekitar 904 ribu penganggur dengan pendidikan universitas.

Di tengah persaingan tersebut, pengalaman kerja menjadi persoalan tersendiri bagi fresh graduate.

Mereka membutuhkan pengalaman untuk meningkatkan daya saing ketika melamar pekerjaan, tetapi pada saat yang sama, kesempatan untuk memperoleh pengalaman pertama tidak selalu mudah didapatkan.

Baca Juga: 19 Juta Lapangan Kerja Prabowo-Gibran: Janji atau Fatamorgana?

Salah satu program yang hadir untuk menjembatani persoalan tersebut adalah MagangHub melalui Program Magang Nasional.

Program ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menjalani pengalaman di dunia kerja selama enam bulan, didampingi mentor, memperoleh uang saku, perlindungan jaminan sosial, dan sertifikat setelah menyelesaikan program.

Namun, muncul pertanyaan yang lebih penting: apakah enam bulan di MagangHub benar-benar dapat menjadi jembatan menuju pekerjaan, atau hanya menjadi solusi sementara untuk menambah pengalaman?

Apalagi, mendapatkan posisi magang sendiri tidak mudah karena jumlah peserta yang diterima tetap terbatas.

Karena itu, keberhasilan MagangHub tidak cukup diukur dari banyaknya peserta yang mendapatkan kesempatan magang, tetapi juga dari apa yang terjadi setelah enam bulan tersebut berakhir.

Apakah pengalaman yang diperoleh benar-benar meningkatkan peluang mereka mendapatkan pekerjaan?

Potensi dan Tantangan MagangHub

MagangHub memiliki potensi untuk para fresh graduate, tetapi memiliki tantangannya tersendiri.

MagangHub menawarkan pengalaman yang bisa digunakan untuk melamar di perusahaan.

Jika dicermati lagi, MagangHub juga berisiko menjadi penunda status pengangguran karena setelah melewati masa magang, fresh graduate tidak benar-benar dipastikan akan mendapatkan pekerjaan.

Adanya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi yang besar menjelaskan adanya gap besar antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Seolah-olah, MagangHub hanya sebagai pengubah status “Pengangguran biasa” menjadi “Pengangguran bersertifikat”.

Di samping itu, seleksi dan kuota magang yang ketat dan terbatas serta perusahaan mitra yang meminta kandidat memiliki pengalaman mentereng dengan banyak portofolio menyebabkan fresh graduate kesulitan mencari pengalaman pertama, ketika semuanya meminta pengalaman.

Baca Juga: Bekerja, Kuliah, dan Bertahan: Resiliensi dalam Menghadapi Tekanan Finansial dan Tuntutan Kehidupan

Evaluasi dan Perbaikan Program

Adanya masalah ini, pemerintah dapat mengevaluasi lagi persoalan MagangHub.

Untuk menyelesaikan permasalahan kepastian dan peningkatan peluang bekerja, pemerintah dapat meningkatkan target penyerapan pekerja pasca-magang dengan lebih tinggi yang dapat dipantau berbasis data BPJS Ketenagakerjaan.

Untuk menyelesaikan persoalan fresh graduate yang kesulitan mendapatkan pengalaman, proses seleksi bisa diperbarui dengan menghilangkan syarat pengalaman dan portofolio kompleks.

Sebagai gantinya, seleksi bisa berbasis tes yang mengukur potensi diri, motivasi, dan skill dasar.

MagangHub dan Kepastian Pascamagang

Menghadapi tantangan pasar tenaga kerja yang kompetitif, fresh graduate membutuhkan ruang untuk bereksplor, bukan hanya sekadar harapan tanpa kepastian.

MagangHub memiliki potensi besar untuk menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), tetapi perlu pengelolaan yang lebih efektif dengan memfokuskan pada penyerapan tenaga kerja pascamagang dan meningkatkan kesempatan bagi fresh graduate tanpa pengalaman.


Penulis:
1. Naira Izza Zahira (240432609062)
2. Hashyfa Fi’umais (24043202772)
Mahasiswa Prodi Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Malang


Dosen Pengampu: Nur Anita Yunikawati, S.Pd., M.Pd.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *