Ketika Tuntutan Hidup Datang Bersamaan
Kehidupan dewasa sering menghadirkan beberapa tuntutan sekaligus. Pekerjaan, pendidikan, kebutuhan ekonomi, dan tanggung jawab pribadi harus dijalankan dalam waktu yang sama. Kondisi tersebut dapat menjadi semakin berat ketika kebutuhan hidup meningkat sementara penghasilan harus dibagi untuk berbagai keperluan.
Situasi semacam ini dialami oleh banyak pekerja yang tetap melanjutkan pendidikan. Salah satu gambaran nyata terlihat pada seseorang yang menjalani pekerjaan sebagai pegawai negeri, kuliah, dan pekerjaan sampingan sebagai driver online. Setelah jam kerja selesai, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat perlu dibagi dengan pekerjaan tambahan dan kewajiban akademik.
Tekanan tersebut dapat memunculkan perasaan gagal, terutama ketika usaha yang dilakukan belum menghasilkan kondisi finansial yang sesuai harapan. Namun, pengalaman menghadapi kesulitan juga dapat menjadi proses pembelajaran yang membentuk kemampuan seseorang dalam menghadapi kehidupan.
Resiliensi: Bukan Berarti Tidak Pernah Lelah
Dalam psikologi, resiliensi dapat dipahami sebagai kemampuan untuk menghadapi kesulitan, menyesuaikan diri, dan tetap menjalankan kehidupan setelah mengalami tekanan. Resiliensi tidak berarti seseorang selalu kuat atau tidak pernah merasa sedih dan lelah. Sebaliknya, seseorang tetap dapat mengalami emosi negatif, tetapi mampu mencari cara untuk menghadapi keadaan tersebut.
Dalam kehidupan pekerja sekaligus mahasiswa, resiliensi dapat terlihat melalui perubahan cara menghadapi masalah. Masalah tidak lagi hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus disesali, tetapi sebagai situasi yang perlu dipahami dan diatasi. Pertanyaan seperti “Mengapa hal ini terjadi?” perlahan dapat bergeser menjadi “Apa yang dapat dipelajari dari keadaan ini?”
Perubahan cara berpikir tersebut penting karena membantu seseorang menjadi lebih tenang, realistis, dan mampu menentukan langkah berikutnya.
Tekanan Finansial dan Perubahan Cara Pandang
Tekanan finansial sering kali tidak hanya berkaitan dengan jumlah pendapatan, tetapi juga dengan perasaan aman, kemampuan memenuhi kebutuhan, dan harapan terhadap masa depan. Ketika penghasilan terasa belum mencukupi, seseorang dapat menilai dirinya secara negatif dan menganggap kondisi tersebut sebagai kegagalan.
Pekerjaan sampingan sebagai driver online dapat menjadi salah satu strategi untuk menghadapi situasi tersebut. Di luar manfaat ekonomi, pekerjaan di jalan juga memberikan pengalaman sosial yang memperluas cara pandang terhadap kehidupan. Pertemuan dengan berbagai penumpang memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki persoalan, kebutuhan, dan perjuangannya sendiri.
Pengalaman tersebut dapat mengubah cara seseorang menilai keberhasilan. Kehidupan tidak selalu dapat diukur dari pendapatan, jabatan, kepemilikan barang, atau pencapaian yang terlihat. Kemampuan untuk tetap bekerja, belajar, dan berusaha memperbaiki keadaan juga merupakan bagian dari keberhasilan.
Belajar Bersyukur dari Kehidupan Sehari-hari
Interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat dapat menumbuhkan rasa syukur. Ketika melihat orang lain yang menghadapi kondisi ekonomi lebih sulit, perhatian dapat bergeser dari hal-hal yang belum dimiliki kepada hal-hal yang masih tersedia.
Rasa syukur bukan berarti menerima keadaan tanpa berusaha. Gratitude dapat berjalan bersama dengan keinginan untuk berkembang. Seseorang tetap dapat mengejar kehidupan yang lebih baik sekaligus menghargai pekerjaan, kesempatan belajar, kesehatan, hubungan sosial, dan orang-orang yang memberikan dukungan.
Dalam konteks psikologi positif, kemampuan menemukan sisi bermakna dari pengalaman sehari-hari dapat membantu seseorang membangun pandangan hidup yang lebih seimbang.
Kuliah sebagai Bagian dari Proses Perubahan
Tekanan kehidupan juga dapat mengubah cara seseorang memandang pendidikan. Kuliah yang sebelumnya mungkin dijalani sekadar sebagai kewajiban dapat mulai dipahami sebagai investasi untuk masa depan.
Pengalaman bekerja sambil kuliah membuat waktu dan kesempatan belajar terasa lebih berharga. Tugas akademik tidak hanya menjadi kewajiban untuk memperoleh nilai, tetapi juga menjadi proses untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan berpikir.
Klutsey dan Mahama (2025) menemukan bahwa academic resilience berkaitan dengan meaning in life dan subjective happiness pada mahasiswa. Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa kemampuan bertahan dalam menghadapi tantangan akademik dapat berjalan bersama dengan adanya tujuan dan makna dalam kehidupan.
Jalanan sebagai Ruang Belajar Sosial
Bagi pekerja gig, jalan bukan hanya tempat mencari penghasilan. Jalan juga dapat menjadi ruang belajar sosial. Pertemuan dengan orang-orang yang tidak dikenal memperlihatkan berbagai bentuk perjuangan dan kebaikan yang tidak selalu terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman tersebut dapat menumbuhkan empati dan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam menilai kehidupan orang lain. Setiap penumpang membawa cerita dan persoalannya sendiri. Kesadaran tersebut dapat membantu seseorang memahami bahwa kesulitan bukan pengalaman yang hanya dimiliki satu orang.
Penelitian Pongsapan, Ramaditya, dan Anjarwi (2026) terhadap pengemudi Gojek di Jakarta juga menunjukkan pentingnya dukungan sosial dan work-life balance bagi kesejahteraan psikologis pekerja gig. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bertahan perlu disertai pengelolaan kehidupan dan hubungan sosial yang sehat.
Dari Kegagalan Menuju Pertumbuhan
Kegagalan dapat menjadi pengalaman yang mengubah cara seseorang melihat dirinya dan kehidupannya. Perubahan tersebut dapat berupa kemampuan menghadapi masalah dengan lebih tenang, meningkatnya penghargaan terhadap kehidupan, hubungan sosial yang lebih bermakna, serta tujuan hidup yang semakin jelas.
Konsep Post-Traumatic Growth (PTG) dalam psikologi menjelaskan kemungkinan munculnya perubahan positif setelah seseorang menghadapi pengalaman yang sangat menantang. Namun, tidak setiap kegagalan atau tekanan kehidupan dapat disebut sebagai trauma atau PTG. Karena itu, konsep tersebut lebih tepat digunakan sebagai kerangka untuk memahami kemungkinan perubahan positif, bukan sebagai diagnosis terhadap pengalaman seseorang.
Dalam kasus pekerja yang menghadapi tekanan finansial sambil menjalani kuliah dan pekerjaan tambahan, perubahan positif dapat terlihat dari meningkatnya keseriusan dalam pendidikan, rasa syukur, penghargaan terhadap orang lain, dan kemampuan memaknai pengalaman sulit.
Makna Hidup yang Lebih Sederhana
Pengalaman menghadapi tekanan dapat membuat tujuan hidup menjadi lebih realistis. Kebahagiaan tidak selalu harus berbentuk pencapaian besar. Kehidupan yang bermakna dapat dibangun melalui pekerjaan yang dijalani dengan baik, pendidikan yang diselesaikan, hubungan yang dihargai, serta kemampuan untuk terus berkembang.
Makna hidup juga dapat ditemukan dalam rasa syukur terhadap apa yang telah dimiliki. Tujuan untuk membahagiakan diri sendiri tidak harus berarti mengejar kesenangan tanpa batas, tetapi dapat berarti membangun kehidupan yang sesuai dengan nilai, kemampuan, dan kebutuhan pribadi.
Penutup
Kisah bekerja, kuliah, dan menjalani pekerjaan sampingan menunjukkan bahwa kegagalan dan tekanan finansial tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan. Kesulitan dapat menjadi ruang untuk belajar mengenai ketahanan diri, rasa syukur, hubungan sosial, pendidikan, dan makna hidup.
Resiliensi bukan sekadar kemampuan untuk bertahan dalam keadaan sulit. Resiliensi juga berkaitan dengan kemampuan menyesuaikan diri, mengevaluasi pengalaman, dan melanjutkan kehidupan dengan cara yang lebih bijaksana.
Pada akhirnya, kehidupan tidak harus sempurna untuk memiliki makna. Selama masih terdapat kemauan untuk belajar, bekerja, memperbaiki diri, dan menghargai kehidupan, pengalaman sulit dapat menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhan pribadi.
Referensi
Klutsey, D. A., & Mahama, I. (2025). Academic resilience as a mediator between meaning in life and subjective happiness among undergraduate students at the University of Education, Winneba. BMC Psychology, 13, Article 673. https://doi.org/10.1186/s40359-025-02989-2
Pongsapan, T. I., Ramaditya, M., & Anjarwi, A. W. (2026). Psychological wellbeing in informal workers within the gig economy: The roles of social support, work–life balance, workload, and time pressure. Frontiers in Psychology, 17, Article 1783219. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2026.1783219
Penulis:
Andintyas Angga Prapto Saputro
Mahasiswa Program Studi Ilmu Psikologi, Universitas Mercu Buana
Laila Meiliyandrie Indah Wardani
Dekan Fakultas Ilmu Psikologi, Universitas Mercu Buana
Dosen Pengampu:
Laila Meiliyandrie Indah Wardani, Ph.D.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













