Kenal Semua, Dekat dengan Siapa? Ketika Pertemanan Kampus Serba Luas tapi Tak Dalam

pertemanan kampus
Ilustrasi Mahasiswa (Sumber: MMI Arts)

Kehidupan baru dimulai ketika menginjakkan kaki di kampus dan mengikuti serangkaian acara orientasi.

Suasana baru, tempat baru, dan pastinya wajah-wajah baru dengan beragam personalitas.

Ini menjadi hal yang sangat menyenangkan dan memacu adrenalin, tentunya pada saat awal.

Hormon dopamine itu tidak bertahan lama ketika raga sudah lelah dan jarum jam sudah mengarah ke bawah, tepat berlawanan dengan angka 12, menandakan waktunya untuk pulang.

Tentunya, tidak semua orang bernasib sama.

Ada yang masih bernaung di bawah atap orang tua, ada juga yang merantau jauh dan tinggal sendiri, benar-benar memulai dunia baru.

Ini tak terkecuali pada fenomena asing dengan teman-teman sendiri, apalagi yang baru kenal secara permukaan.

Memang, tidak menutup kemungkinan bahwa ramah dan sosial itu membawa kesenangan dan koneksi luas, tapi kembali lagi ke pertanyaan kepada diri sendiri, apakah ada yang dipercaya dan dirasa nyaman?

Baca Juga: Pengaruh Lingkungan Pertemanan terhadap Remaja

Fenomena “sirkel” sudah tidak asing di telinga kita, mau di media sosial, dari mulut ke mulut, bahkan kabar burung.

Kalimat ini sudah sering dilontarkan generasi-generasi baru, apa sebenarnya maksudnya?

Sirkel atau circle dalam bahasa Inggris, sama artinya dengan “clique” dalam sosiologi.

Clique adalah suatu kelompok kecil dengan tingkat keakraban yang intens dan biasa beranggotakan sedikit.

Sirkel ini terbentuk atas dasar tingkat relatability antarmahasiswa, biasa menjadi tempat satu sama lain saling berkeluh kesah, meminta nasihat, bahkan melakukan hal bersama-sama dikarenakan kecocokan dalam suatu hal spesifik.

Pola ini sangat sering muncul karena budaya yang beragam di perkuliahan, contohnya faktor budaya organisasi, kelompok, kesamaan ketertarikan di suatu forum, media sosial, bahkan tuntutan networking.

Pilihan seseorang antara kualitas dan kuantitas sebenarnya tergantung pada prioritas dan tujuannya sendiri, tidak ada sisi yang salah dan benar di sini.

“Kenal banyak orang” dan “punya teman dekat” bisa terjadi secara bersamaan, namun kebanyakan orang masih kewalahan menanganinya dan kadang diperlukan kecerdasan emosional dan kesanggupan yang tinggi.

Baca Juga: Hubungan Antara Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Resiliensi Akademik Siswa Kelas Xii di SMA Negeri 5 Kota Jambi

Kedua hal ini sama-sama memiliki fungsi yang berbeda, bisa kita kaitkan dengan kerangka psikologi sosiologi sederhana.

Karakterisasi hubungan Strong Ties biasa melibatkan kedekatan emosional yang tinggi, rasa percaya mendalam, dan juga komitmen yang panjang.

Sedangkan Weak Ties biasa dikaitkan dengan hubungan emosional yang rendah, bahkan terkadang tidak melibatkan komitmen yang mendalam.

Sehingga, balik lagi kepada pilihan seseorang, penyesuaian diri dan penempatan prioritas untuk menyesuaikan lingkungan sosial yang ia kehendaki.

Yang menjadi perhatian adalah ketika seseorang tidak tahu ia harus menempatkan diri di mana, atau bahkan kehilangan identitasnya sendiri.

Terkadang, ada beberapa orang yang resah terhadap konflik internal yang kian terjadi di pertemanan seperti konflik, eksklusivitas, atau ketergantungan.

Namun, di sisi lain, ada juga orang-orang yang resah dengan hal seperti people-pleasing dalam pertemanan luas karena susah menyaring hal yang harus ia terima atau tidak.

Dalam hal ini, tidak ada tanda-tanda psikologis yang perlu dikhawatirkan, hanya saja ini tergantung gaya hidup sosial dan preferensi masing-masing.

Baca Juga: Ketika Networking Menjadi Personal Branding: Antara Membangun Relasi dan Membangun Citra

Pergolakan prinsip terjadi ketika menghadapi sesuatu.

Contohnya, seseorang yang pertemanannya luas akan rentan bila ia kebingungan mencari tempat nyaman untuk berkeluh kesah, lebih susah untuk memfilter lingkup yang aman untuknya dan ini menjadi mengkhawatirkan ketika ia mulai vulnerable.

Namun, bila kita melihat kelebihannya juga, orang ini sebenarnya memiliki jaringan dukungan yang lebih luas; tidak dekat bukan berarti membatasinya untuk tetap meminta dukungan dari teman-teman yang ia miliki.

Ia juga terhindar dari drama eksklusivitas internal, dan lebih terbiasa atau tahan banting ketika terjadi suatu peregangan dalam lingkup pertemanannya.

Perspektif solusi bisa berbeda-beda, namun salah satunya adalah semua ini tergantung kesanggupan seseorang.

Effort yang dibutuhkan untuk segala pilihan sama-sama banyak, mulai dari konsistensi, waktu, dukungan, komunikasi, sampai kerentanan.

Sehingga, walaupun kita mengenal semua orang dan saling menyapa, kembali lagi ke mana yang benar-benar memahami kita dan juga mana yang terasa benar bagi diri kita.

Di antara semua circle-mu, mana yang benar-benar tahu kabar terakhirmu?


Penulis: Qarenina Fatya Maulana (626104066008)
Mahasiswa Prodi Manajemen, Universitas Airlangga


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *