Ketika Networking Menjadi Personal Branding: Antara Membangun Relasi dan Membangun Citra

personal branding
**Caption:** Networking bukan sekadar menambah koneksi, dan personal branding bukan sekadar membangun citra. Di ruang digital, relasi yang bermakna tetap tumbuh dari keaslian, empati, kepercayaan, dan cara kita memperlakukan orang lain. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Pendahuluan

Di era digital seperti sekarang, cara manusia berinteraksi dan membangun hubungan sudah mengalami banyak perubahan. Jika dahulu networking lebih sering dilakukan melalui pertemuan langsung, organisasi, seminar, atau lingkungan pertemanan, saat ini seseorang dapat membangun jaringan hanya melalui layar telepon seluler. Media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan LinkedIn membuat seseorang dapat mengenal dan dikenal oleh orang lain tanpa harus bertemu secara langsung. Bahkan, bagi mahasiswa, media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat untuk membagikan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan, pengalaman, prestasi, dan tujuan karier.

Fenomena tersebut semakin relevan pada tahun 2026. Data Digital 2026 untuk Indonesia menunjukkan bahwa terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, atau sekitar 62,9% dari total populasi Indonesia. Media sosial juga menjadi salah satu jenis platform digital yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya ruang digital dalam kehidupan sosial masyarakat saat ini.

Di tengah kondisi tersebut, muncul istilah yang semakin sering kita dengar, yaitu personal branding. Sederhananya, personal branding merupakan cara seseorang menunjukkan siapa dirinya kepada orang lain melalui kemampuan, pengalaman, nilai, gaya komunikasi, dan berbagai aktivitas yang ditampilkan, baik secara langsung maupun melalui media digital. Seorang mahasiswa, misalnya, dapat membangun personal branding dengan membagikan pengalaman mengikuti organisasi, kegiatan kampus, seminar, magang, perlombaan, proyek, maupun kegiatan sosial.

Personal branding sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang positif. Namun, persoalannya muncul ketika membangun networking tidak lagi berfokus pada membangun hubungan, tetapi justru lebih banyak berfokus pada membangun citra. Seseorang mungkin mulai bertanya, “Bagaimana agar orang lain melihat saya sebagai orang yang sukses?”, bukan “Bagaimana saya dapat membangun hubungan yang baik dengan orang lain?”

Menurut saya, di sinilah pentingnya melihat Building Networking dari perspektif Estetika Humanisme atau Human Literacy. Networking seharusnya bukan sekadar tentang jumlah orang yang kita kenal, jumlah followers, atau banyaknya koneksi di LinkedIn. Networking yang sebenarnya adalah tentang bagaimana manusia membangun hubungan dengan manusia lainnya melalui komunikasi, kepercayaan, empati, dan sikap saling menghargai.

Networking di Tengah Budaya Personal Branding

Networking pada dasarnya merupakan proses membangun dan menjaga hubungan dengan orang lain yang dapat memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Dalam dunia pendidikan dan pekerjaan, networking dapat membuka berbagai peluang, seperti mendapatkan informasi, menemukan mentor, memperoleh kesempatan magang, mendapatkan pekerjaan, atau melakukan kolaborasi.

Perubahan dunia kerja pada tahun 2026 membuat networking menjadi semakin penting. LinkedIn dalam 2026 Grad’s Guide melaporkan bahwa 44% Gen Z menganggap tidak memiliki jaringan yang tepat sebagai salah satu hambatan terbesar untuk mendapatkan peluang kerja dan posisi entry-level. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan dan ijazah saja belum tentu cukup. Hubungan yang dibangun seseorang juga dapat berpengaruh terhadap aksesnya terhadap berbagai peluang.

Di sisi lain, persaingan kerja yang semakin ketat juga membuat seseorang merasa perlu untuk lebih terlihat. LinkedIn melaporkan pada Januari 2026 bahwa hampir 80% orang merasa belum siap menghadapi pencarian kerja pada 2026, sementara 66% recruiter mengatakan bahwa menemukan kandidat berkualitas menjadi semakin sulit. Pada saat yang sama, penggunaan AI dalam proses rekrutmen juga semakin meningkat.

Kondisi tersebut membuat personal branding semakin populer. Ketika ribuan orang memiliki latar belakang pendidikan dan keterampilan yang hampir sama, seseorang perlu memiliki cara untuk menunjukkan keunikan dirinya. LinkedIn sendiri menjelaskan bahwa personal brand berkaitan dengan bagaimana seseorang dipersepsikan oleh orang lain. Dengan kata lain, personal branding sebenarnya tidak hanya berbicara tentang apa yang kita katakan mengenai diri kita, tetapi juga tentang kesan yang muncul pada orang lain ketika mereka mengenal kita.

Contohnya dapat kita lihat pada mahasiswa. Seorang mahasiswa mungkin memiliki pengalaman menjadi panitia sebuah acara. Jika pengalaman tersebut hanya disimpan sebagai kenangan pribadi, mungkin hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Namun, jika ia membagikan pengalaman tersebut di LinkedIn dengan menjelaskan apa yang dipelajari, kemampuan yang dikembangkan, dan kontribusi yang diberikan, maka pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari personal branding.

Dari sini dapat dilihat bahwa networking dan personal branding sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat. Personal branding dapat membantu seseorang memperkenalkan dirinya, sedangkan networking membantu seseorang membangun hubungan setelah dirinya dikenal.

Ketika Membangun Relasi Berubah Menjadi Membangun Citra

Masalahnya, personal branding dapat menjadi sesuatu yang berlebihan apabila seseorang terlalu fokus pada bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain.

Kita sering melihat di media sosial orang-orang membagikan keberhasilan mereka. Ada yang memposting sertifikat, foto seminar, pengalaman organisasi, pencapaian akademik, perjalanan karier, atau kegiatan bersama orang-orang yang dianggap penting. Semua hal tersebut sebenarnya tidak salah. Bahkan, membagikan pencapaian dapat menjadi bentuk apresiasi terhadap diri sendiri dan dapat menginspirasi orang lain.

Namun, media sosial pada akhirnya hanya menampilkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Kita melihat keberhasilan orang lain, tetapi jarang melihat proses panjang, kegagalan, rasa takut, kebingungan, atau perjuangan yang ada di baliknya. Akibatnya, muncul kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2026 mengenai eksplorasi karier anak muda melalui media sosial menunjukkan adanya paradoks dalam penggunaan konten karier. Konten dari teman sebaya dapat memberikan rasa dekat dan membantu seseorang memahami berbagai kemungkinan karier, tetapi konsumsi pasif terhadap konten tersebut juga dapat memicu upward social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih berhasil.

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Misalnya, ketika membuka LinkedIn, seseorang melihat teman seangkatan sudah mendapatkan magang di perusahaan besar. Teman lain mendapatkan sertifikasi. Ada yang memenangkan lomba. Ada yang menjadi pembicara. Ada pula yang sudah memiliki bisnis sendiri.

Melihat hal tersebut dapat memberikan motivasi, tetapi juga dapat menimbulkan pertanyaan dalam diri, “Mengapa saya belum seperti mereka?”

Pada titik tertentu, personal branding dapat berubah menjadi sebuah perlombaan untuk terlihat berhasil. Orang mulai membangun citra bukan berdasarkan siapa dirinya sebenarnya, tetapi berdasarkan bagaimana ia ingin dilihat oleh orang lain.

Menurut saya, inilah sisi yang perlu dikritisi. Personal branding seharusnya membantu seseorang menjadi lebih dikenal, bukan membuat seseorang harus terus-menerus berpura-pura menjadi versi dirinya yang sempurna.

Personal Branding Bukan Berarti Berpura-pura

Saya berpendapat bahwa personal branding sebenarnya tidak bertentangan dengan nilai humanisme. Justru, personal branding dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai dan kemampuan seseorang kepada masyarakat. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana personal branding tersebut dilakukan.

LinkedIn sendiri menekankan pentingnya keaslian dalam membangun personal brand. Dalam panduan yang diberikan kepada para profesional, personal branding tidak hanya berkaitan dengan cerita yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cerita tersebut disampaikan secara autentik.

Hal tersebut menurut saya sangat penting bagi mahasiswa. Kita tidak harus menunggu menjadi orang sukses untuk mulai membangun personal branding. Kita dapat membagikan proses belajar, pengalaman organisasi, kesalahan yang pernah dilakukan, maupun pengetahuan yang sedang dipelajari.

Misalnya, daripada hanya menulis “Saya berhasil menjadi ketua acara kampus”, seseorang dapat menceritakan apa yang dipelajari ketika bekerja sama dengan anggota tim, bagaimana menghadapi perbedaan pendapat, dan bagaimana menyelesaikan masalah ketika acara mengalami kendala.

Dengan demikian, personal branding tidak hanya menunjukkan “apa yang saya capai”, tetapi juga “siapa saya dan nilai apa yang saya miliki”.

Menurut saya, bentuk personal branding seperti inilah yang lebih manusiawi. Kita tidak hanya menunjukkan hasil, tetapi juga proses. Kita tidak hanya menunjukkan kelebihan, tetapi juga mengakui bahwa kita masih belajar.

Building Networking dalam Perspektif Human Literacy

Jika dikaitkan dengan Estetika Humanisme, konsep Building Networking seharusnya tidak berhenti pada kemampuan memperluas koneksi. Lebih jauh dari itu, networking perlu melihat manusia sebagai individu yang memiliki perasaan, pengalaman, kebutuhan, dan nilai.

Dalam perspektif Human Literacy, manusia tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Sayangnya, dalam praktik networking, terkadang orang dapat melihat hubungan secara transaksional.

Misalnya, seseorang hanya mendekati senior karena membutuhkan rekomendasi pekerjaan. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, hubungan tersebut tidak lagi dipelihara. Contoh lainnya adalah seseorang hanya ingin berteman dengan orang yang dianggap memiliki jabatan, popularitas, atau koneksi luas.

Jika networking dilakukan seperti itu, hubungan manusia menjadi seperti transaksi: “Apa yang bisa saya dapatkan dari orang ini?”

Menurut saya, pola tersebut bertentangan dengan semangat humanisme. Networking yang humanis seharusnya dibangun berdasarkan prinsip saling memberi dan saling menghargai.

Pertama adalah empati. Ketika berkenalan dengan seseorang, kita perlu berusaha memahami orang tersebut, bukan hanya memikirkan keuntungan yang bisa kita dapatkan.

Kedua adalah kejujuran. Kita tidak harus menciptakan citra yang sempurna. Justru, menjadi diri sendiri dapat membuat hubungan lebih autentik.

Ketiga adalah komunikasi. Networking bukan hanya menambah kontak, tetapi juga menjaga komunikasi. Menyapa seseorang setelah lama tidak berkomunikasi, mengucapkan selamat atas pencapaiannya, atau sekadar menanyakan kabar dapat menjadi bentuk sederhana dalam menjaga hubungan.

Keempat adalah saling menghargai. Kita tidak boleh menentukan nilai seseorang hanya berdasarkan jabatan, prestasi, jumlah followers, atau popularitasnya.

Kelima adalah kolaborasi. Networking yang baik seharusnya menciptakan kesempatan bagi kedua pihak untuk berkembang, bukan hanya menguntungkan satu pihak.

Dengan demikian, networking yang berkualitas bukan diukur dari seberapa panjang daftar koneksi kita, tetapi dari seberapa kuat hubungan yang kita bangun.

Fenomena 2026: Networking Semakin Digital, tetapi Tetap Membutuhkan Manusia

Tahun 2026 juga menunjukkan bahwa dunia profesional semakin bergeser menuju lingkungan yang sangat digital dan berbasis teknologi. Artificial Intelligence (AI) semakin banyak digunakan dalam proses pencarian dan perekrutan tenaga kerja. LinkedIn melaporkan bahwa 93% recruiter berencana meningkatkan penggunaan AI dalam proses rekrutmen pada 2026.

Di satu sisi, perkembangan tersebut membuat personal branding semakin penting karena profil digital dapat menjadi salah satu cara seseorang ditemukan oleh recruiter. Di sisi lain, semakin banyaknya teknologi justru membuat kemampuan manusia seperti komunikasi, empati, kemampuan bekerja sama, dan membangun kepercayaan menjadi semakin penting.

Hal ini menjadi sebuah paradoks. Kita hidup di zaman ketika seseorang dapat mengenal ratusan bahkan ribuan orang secara digital, tetapi belum tentu memiliki hubungan yang dekat dengan mereka.

Kita dapat mengirim permintaan koneksi hanya dengan satu klik. Kita dapat memberikan like tanpa benar-benar membaca tulisan seseorang. Kita dapat mengucapkan “congratulations” melalui komentar tanpa mengenal orang tersebut secara pribadi.

Karena itu, menurut saya, tantangan networking di era digital bukan lagi bagaimana mendapatkan sebanyak mungkin koneksi, tetapi bagaimana membuat koneksi tersebut memiliki makna.

Media sosial seharusnya menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan, bukan menjadi pengganti hubungan itu sendiri.

Antara Membangun Relasi dan Membangun Citra

Pada akhirnya, membangun personal branding dan membangun networking bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama.

Personal branding membantu orang lain mengetahui siapa kita. Networking membantu kita membangun hubungan dengan mereka. Namun, personal branding harus berfungsi sebagai jembatan menuju hubungan, bukan sebagai topeng untuk menutupi diri kita yang sebenarnya.

Sebagai mahasiswa, kita memang perlu belajar memperkenalkan diri. Kita perlu belajar berkomunikasi, membangun relasi, mengikuti kegiatan, memperluas koneksi, dan menunjukkan kemampuan. Semua itu penting untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan sosial.

Namun, kita juga perlu mengingat bahwa manusia bukanlah sebuah produk yang harus selalu dipasarkan. Kita tidak harus selalu terlihat produktif. Kita tidak harus selalu terlihat sukses. Kita tidak harus memiliki ribuan koneksi untuk dianggap memiliki networking yang baik.

Ada kalanya networking justru dimulai dari hal sederhana: berbicara dengan teman sekelas, membantu anggota kelompok, menghargai dosen, berdiskusi dengan senior, mengikuti organisasi, atau menjaga hubungan baik dengan orang yang pernah bekerja sama dengan kita.

Hal-hal sederhana tersebut mungkin tidak selalu terlihat di media sosial, tetapi justru dapat menghasilkan hubungan yang lebih nyata.

Kesimpulan

Fenomena personal branding di era digital menunjukkan bahwa cara manusia membangun networking telah berubah. Media sosial memberikan kesempatan yang sangat besar bagi mahasiswa dan generasi muda untuk memperkenalkan diri, menunjukkan kemampuan, dan memperluas jaringan. Kondisi dunia kerja pada 2026 juga semakin menegaskan pentingnya visibility, keterampilan, dan jaringan profesional.

Namun, perkembangan tersebut juga memiliki sisi lain. Ketika personal branding terlalu berorientasi pada citra, networking dapat kehilangan makna kemanusiaannya. Hubungan dapat berubah menjadi transaksi dan seseorang dapat merasa harus terus menunjukkan versi dirinya yang sempurna.

Menurut saya, Building Networking yang ideal adalah networking yang tetap menjadikan manusia sebagai pusatnya. Personal branding boleh dilakukan, tetapi harus dibangun berdasarkan kejujuran, konsistensi, kemampuan nyata, dan nilai-nilai yang dimiliki. Kita boleh menunjukkan pencapaian, tetapi tidak perlu menjadikan pencapaian sebagai satu-satunya ukuran nilai diri.

Pada akhirnya, networking bukan hanya tentang “siapa yang saya kenal”, tetapi juga tentang “bagaimana saya memperlakukan orang yang saya kenal”. Personal branding bukan hanya tentang “bagaimana orang melihat saya”, tetapi juga tentang “nilai apa yang saya berikan kepada orang lain”.

Bagi saya, personal branding yang paling kuat bukanlah citra yang dibuat-buat, melainkan reputasi yang terbentuk secara alami dari cara seseorang bersikap dan berinteraksi dengan orang lain. Sebab, ketika media sosial dapat membuat seseorang dikenal oleh banyak orang dalam waktu singkat, justru hubungan yang dibangun dengan empati, kejujuran, dan kepercayaanlah yang membuat seseorang benar-benar diingat.

Dengan demikian, networking yang baik bukan sekadar membangun banyak koneksi, dan personal branding bukan sekadar membangun citra. Keduanya seharusnya menjadi sarana untuk membangun hubungan manusia yang lebih bermakna. Inilah yang menurut saya menjadi inti dari Building Networking dalam perspektif Estetika Humanisme: menjadi dikenal tanpa kehilangan kemanusiaan, membangun citra tanpa kehilangan keaslian, dan memperluas jaringan tanpa menghilangkan nilai sebuah hubungan.

Referensi

LinkedIn. (2026). LinkedIn Research: Nearly 80% of people feel unprepared to find a job in 2026. LinkedIn News.

LinkedIn. (2026). How Graduates Can Find the Best Job Opportunities in 2026. LinkedIn News.

LinkedIn. (2026). Skills on the Rise: The Fastest-Growing Skills in 2026. LinkedIn News.

LinkedIn. (2026). The 50 best colleges for long-term career success in the U.S. LinkedIn News.

LinkedIn. (2022). A Top Tech Recruiter Shares His Secrets for Building a Personal Brand. LinkedIn Talent Blog.

We Are Social. (2025). Digital 2026: Top digital and social media trends in Indonesia. We Are Social Indonesia.

Ahmed, O. (2026). How to Build Your Personal Brand. Vogue.

Tan, P., Zhao, B., & Peng, Z. (2026). Same Stories, Different Journeys: From Social Comparison to Sensemaking in AI-Mediated Peer Career Exploration. arXiv.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses