A. Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Cara bekerja, belajar, berkomunikasi, bahkan cara memperoleh informasi sudah sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Media sosial membuat seseorang dapat mengetahui sebuah peristiwa hanya beberapa detik setelah kejadian tersebut terjadi. Informasi yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari untuk tersebar, sekarang dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu yang sangat singkat.
Perubahan tersebut merupakan salah satu gambaran dari perkembangan Industry 4.0, ketika teknologi digital, internet, big data, kecerdasan buatan, dan sistem otomatis semakin terintegrasi dalam kehidupan manusia. Namun, perkembangan teknologi juga membawa persoalan baru. Kecepatan informasi tidak selalu diikuti dengan kecepatan manusia dalam memeriksa kebenarannya.
Salah satu fenomena yang menarik perhatian pada Juli 2026 adalah beredarnya kembali sejumlah video dan foto demonstrasi lama di media sosial yang kemudian diberi narasi seolah-olah menggambarkan demonstrasi yang sedang berlangsung. Pada 27 Juli 2026, misalnya, beredar klaim bahwa Gedung Kejaksaan Agung di Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan, dibakar oleh demonstran. Setelah dilakukan pengecekan, klaim tersebut dinyatakan tidak benar. Demonstrasi memang terjadi dan sempat diwarnai kericuhan serta pembakaran ban, tetapi Gedung Kejaksaan Agung tidak dibakar.
Pada hari yang sama, Polda Metro Jaya juga mengungkap jaringan propaganda digital yang diduga memproduksi dan menyebarkan konten hoaks, fitnah, serta provokasi melalui media sosial. Polisi menangkap delapan tersangka dan menyita sejumlah perangkat elektronik serta uang tunai Rp220 juta yang diduga berkaitan dengan proyek pembuatan konten tersebut. Jaringan tersebut disebut telah beroperasi sejak 2024 dan menggunakan beberapa platform seperti X, Threads, Instagram, dan Facebook.
Bagi saya, fenomena ini menarik bukan hanya karena menyangkut media sosial atau berita palsu. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana manusia menentukan sesuatu sebagai benar di tengah informasi yang bergerak sangat cepat?
Di sinilah saya melihat pentingnya Human Literacy. Manusia tidak cukup hanya mampu menggunakan internet dan media sosial. Manusia juga harus mampu berpikir kritis, memahami konteks, mengendalikan emosi, serta mempertimbangkan dampak dari informasi yang diterima dan dibagikan.
B. Fenomena Viral Juli 2026: Ketika Konten Lama Dianggap sebagai Kejadian Baru
Salah satu masalah terbesar di media sosial adalah bahwa sebuah foto atau video dapat dipisahkan dari konteks aslinya. Sebuah video yang direkam beberapa bulan sebelumnya dapat diunggah kembali dengan caption yang berbeda. Ketika orang melihatnya tanpa mengetahui tanggal dan lokasi sebenarnya, mereka dapat mengira bahwa peristiwa tersebut sedang terjadi saat ini.
Hal seperti inilah yang terlihat pada fenomena penyebaran konten demonstrasi pada Juli 2026. Pada 27 Juli, misalnya, beredar unggahan yang mengklaim bahwa demonstran membakar Gedung Kejaksaan Agung. Padahal, setelah dilakukan pemeriksaan, informasi tersebut tidak benar. Demonstrasi memang terjadi, tetapi gedung tersebut tidak dibakar oleh massa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebuah informasi tidak harus sepenuhnya palsu untuk menjadi menyesatkan. Foto atau video yang digunakan bisa saja benar-benar berasal dari kejadian nyata. Namun, ketika foto atau video tersebut ditempatkan pada waktu, tempat, atau konteks yang berbeda, maknanya dapat berubah.
Menurut saya, ini justru lebih berbahaya daripada berita palsu yang terlihat jelas. Kalau sebuah berita sangat tidak masuk akal, mungkin orang akan lebih mudah curiga. Tetapi jika sebuah video benar-benar menunjukkan kejadian nyata, kemudian hanya tanggal atau konteksnya yang diubah, masyarakat bisa jauh lebih mudah percaya.
Dengan kata lain, masalahnya bukan hanya “apakah videonya asli?”, tetapi juga:
“Apakah video tersebut benar-benar menggambarkan kejadian yang sedang dibicarakan?”
Pertanyaan sederhana ini menurut saya menjadi sangat penting di era media sosial.
C. Mengapa Informasi Seperti Ini Mudah Menjadi Viral
Menurut saya, ada beberapa alasan mengapa informasi yang belum tentu benar dapat menyebar dengan sangat cepat.
1. Pertama adalah kecepatan media sosial.
Ketika seseorang mendapatkan sebuah video, mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk membagikannya. Dalam beberapa detik, informasi tersebut dapat berpindah dari satu akun ke akun lain.
2. Kedua adalah kekuatan visual.
Manusia cenderung lebih mudah percaya ketika melihat foto atau video. Kalimat “terjadi demonstrasi besar” mungkin masih bisa membuat seseorang bertanya-tanya. Namun, ketika seseorang melihat video massa yang sedang berlari, asap, kericuhan, atau aparat yang berjaga, respons emosional dapat muncul lebih cepat.
3. Ketiga adalah judul atau caption yang memancing emosi.
Kata-kata seperti “DARURAT”, “TERKINI”, “TERNYATA”, atau “MEDIA DIAM” dapat membuat seseorang merasa harus segera mengetahui dan menyebarkan informasi tersebut.
4. Keempat adalah algoritma media sosial.
Konten yang mendapatkan banyak interaksi memiliki peluang untuk semakin sering ditampilkan kepada pengguna. Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya belum tentu benar dapat terlihat seperti fakta hanya karena muncul berkali-kali.
Kementerian Komunikasi dan Digital mengingatkan bahwa algoritma media sosial dapat membentuk persepsi publik dan membuat konten sensasional lebih cepat mendapatkan perhatian. Pemerintah juga mendorong masyarakat untuk memeriksa sumber dan asal-usul informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Menurut saya, kondisi tersebut menciptakan sebuah masalah baru. Viralitas akhirnya dapat terlihat seperti validitas. Padahal keduanya berbeda.
Banyak yang melihat sebuah konten bukan karena konten tersebut benar, tetapi karena konten tersebut sudah dilihat banyak orang.
D. Ketika Emosi Lebih Cepat daripada Pikiran
Menurut saya, salah satu hal paling penting dari fenomena ini adalah hubungan antara informasi dengan emosi manusia. Ketika seseorang melihat informasi mengenai kerusuhan, demonstrasi, kekerasan, atau ancaman, respons emosional biasanya muncul lebih cepat daripada proses berpikir kritis.
- Seseorang bisa langsung merasa takut.
- Orang lain bisa langsung marah.
- Ada yang merasa khawatir.
- Ada pula yang merasa harus segera memberitahu keluarganya.
Respons seperti itu sebenarnya manusiawi. Masalahnya adalah ketika emosi tersebut langsung diikuti dengan tindakan menyebarkan informasi tanpa melakukan pemeriksaan. Menurut saya, kecerdasan emosional sangat diperlukan dalam penggunaan media sosial.
Kita perlu mampu mengatakan kepada diri sendiri:
“Saya sedang marah, tetapi saya belum tentu mengetahui seluruh faktanya.”
Atau:
“Video ini terlihat serius, tetapi saya harus mengecek kapan dan di mana video tersebut direkam.”
Kemampuan untuk memberikan jeda antara melihat informasi dan bereaksi merupakan bentuk kedewasaan. Bagi saya, inilah salah satu hubungan penting antara Emotional Intelligence dan Human Literacy.
Manusia yang literat bukan hanya manusia yang mengetahui banyak informasi. Manusia yang literat juga mampu mengendalikan reaksinya terhadap informasi.
E. Industry 4.0: Teknologi Mempercepat Informasi, tetapi Juga Mempercepat Kesalahan
Fenomena tersebut merupakan salah satu konsekuensi dari perkembangan Industry 4.0. Teknologi digital memberikan banyak manfaat. Kita dapat memperoleh informasi dengan cepat, berkomunikasi tanpa batas geografis, bekerja secara digital, dan mengakses pengetahuan dari berbagai sumber. Namun, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk mempercepat penyebaran informasi yang salah.
Dalam kasus propaganda digital yang diungkap Polda Metro Jaya pada 27 Juli 2026, polisi menyebut jaringan tersebut memiliki pembagian peran mulai dari pihak yang menawarkan proyek, pembuat konten, pengelola akun, editor, hingga pihak yang membantu memperkuat penyebaran konten. Delapan tersangka ditangkap dan sejumlah perangkat elektronik serta uang Rp220 juta disita. Hal ini menurut saya menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya digunakan secara spontan oleh individu. Teknologi juga dapat digunakan secara terorganisir.
Artinya, tantangan informasi di era digital bukan lagi hanya soal seseorang yang secara tidak sengaja membagikan berita yang salah. Ada juga kemungkinan adanya pihak yang memang sengaja memproduksi dan mendistribusikan informasi untuk memengaruhi persepsi masyarakat. Inilah mengapa kemampuan berpikir kritis menjadi sangat penting.
Kita tidak boleh hanya bertanya:
“Apakah informasi ini terlihat benar?”
Kita juga perlu bertanya:
“Siapa yang membuatnya?”
“Apa tujuannya?”
“Siapa yang diuntungkan jika saya mempercayainya?”
“Apakah ada sumber lain yang mengonfirmasi?”
Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bentuk sederhana dari berpikir kritis di era Industry 4.0.
F. Society 5.0: Teknologi Harus Tetap Berpusat pada Manusia
Jika Industry 4.0 menggambarkan perkembangan teknologi yang semakin cepat, maka konsep Society 5.0 memberikan penekanan bahwa teknologi harus digunakan untuk menciptakan masyarakat yang berpusat pada manusia. Konsep Society 5.0 dari pemerintah Jepang menggambarkan masyarakat yang berorientasi pada manusia dan memanfaatkan teknologi seperti AI serta Internet of Things untuk meningkatkan kemampuan manusia dan kualitas kehidupan.
Menurut saya, prinsip tersebut sangat relevan dengan fenomena penyebaran hoaks pada Juli 2026. Teknologi seharusnya membantu manusia mendapatkan informasi yang lebih baik, bukan membuat manusia semakin mudah dimanipulasi. Media sosial seharusnya menjadi tempat bertukar informasi, bukan tempat di mana emosi manusia dimainkan untuk mendapatkan engagement. AI dan algoritma seharusnya membantu manusia, bukan membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir sendiri.
Karena itu, menurut saya, keberhasilan Society 5.0 tidak cukup diukur dari seberapa canggih teknologi yang dimiliki masyarakat. Kita juga harus melihat apakah masyarakat tersebut semakin mampu menggunakan teknologi dengan bijaksana.
Kalau teknologi semakin maju tetapi masyarakat semakin mudah percaya terhadap informasi yang belum diverifikasi, berarti ada sesuatu yang belum berhasil.
G. Human Literacy: Tidak Semua yang Kita Lihat Adalah Kebenaran
Human Literacy menurut saya dapat dipahami sebagai kemampuan manusia untuk tetap memiliki kesadaran, pemahaman, empati, dan tanggung jawab ketika berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.
Dalam konteks media sosial, Human Literacy berarti kita tidak hanya mampu menggunakan aplikasi, tetapi juga mampu memahami bagaimana informasi bekerja.
UNESCO menjelaskan bahwa media literacy mencakup kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan konten secara kritis. Kemampuan ini diperlukan agar seseorang mampu mengenali misinformasi dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang lebih baik. Menurut saya, konsep tersebut sangat dekat dengan Human Literacy.
Misalnya, ketika melihat video demonstrasi, kita dapat melakukan beberapa pemeriksaan sederhana:
- Pertama, periksa tanggal.
Apakah video tersebut benar-benar direkam hari ini?
- Kedua, periksa lokasi.
Apakah tempat yang terlihat di video benar-benar lokasi yang disebutkan dalam caption?
- Ketiga, periksa sumber.
Siapa yang pertama kali mengunggah video tersebut?
- Keempat, cari informasi pembanding.
Apakah media kredibel atau sumber resmi juga memberitakan kejadian yang sama?
- Kelima, jangan langsung membagikan.
Jika belum yakin, lebih baik berhenti sampai informasi tersebut dapat diverifikasi.
Menurut saya, hal-hal tersebut sederhana, tetapi justru sering dilupakan.
H. Estetika Humanisme: Ketika Gambar Mengalahkan Logika
Dalam konteks MKU Estetika Humanisme, fenomena ini menurut saya menjadi semakin menarik jika dilihat dari kekuatan visual.
Manusia hidup dengan indera.
- Kita melihat.
- Kita mendengar.
- Kita merasakan.
Sebuah gambar yang kuat dapat membentuk persepsi bahkan sebelum kita memahami penjelasan di baliknya. Misalnya, seseorang melihat foto massa dalam jumlah besar. Secara spontan, ia mungkin menyimpulkan bahwa sedang terjadi demonstrasi besar. Padahal, foto tersebut bisa saja diambil pada waktu berbeda. Di sinilah saya melihat hubungan antara estetika dan humanisme. Estetika bukan hanya tentang sesuatu yang indah.
Visual juga memiliki kekuatan untuk memengaruhi cara manusia memahami realitas.
- Sebuah gambar dapat membangun rasa takut.
- Sebuah video dapat menimbulkan kemarahan.
- Sebuah potongan suara dapat membuat seseorang bersimpati.
Karena itu, menurut saya, manusia harus belajar tidak hanya menikmati informasi secara visual, tetapi juga mempertanyakan makna di baliknya.
- “Apa yang sebenarnya saya lihat?”
- “Apa yang tidak saya lihat?”
- “Apa konteks yang mungkin hilang?”
Pertanyaan seperti itu membuat kita tidak mudah dikendalikan oleh tampilan.
Menurut saya, inilah nilai penting Estetika Humanisme: manusia tetap menjadi subjek yang berpikir, bukan hanya objek yang mudah dipengaruhi.
I. Viralitas Bukanlah Kebenaran
Salah satu kesalahan yang sering terjadi di media sosial adalah menganggap jumlah views, likes, komentar, atau repost sebagai bukti bahwa sebuah informasi benar. Padahal, angka tersebut hanya menunjukkan bahwa sebuah konten mendapatkan perhatian.
- Konten yang salah pun bisa viral.
- Konten yang provokatif justru bisa lebih cepat menyebar.
- Konten yang membuat orang marah bisa mendapatkan engagement yang tinggi.
Menurut saya, kita harus mulai memisahkan tiga hal:
- Viral ≠ benar.
- Banyak yang percaya ≠ fakta.
- Banyak yang membagikan ≠ sudah diverifikasi.
Kesadaran tersebut penting agar kita tidak menjadikan popularitas sebagai pengganti kebenaran. UNESCO juga menekankan bahwa literasi media dan informasi diperlukan untuk menghadapi meningkatnya misinformasi, disinformasi, ujaran kebencian, dan menurunnya kepercayaan terhadap informasi di era digital.
J. Dampak terhadap Kehidupan Sosial
Menurut saya, penyebaran informasi yang salah bukan hanya masalah antara satu pengguna dan pengguna lainnya. Dampaknya dapat menjadi lebih luas. Informasi mengenai demonstrasi, misalnya, dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk keluar rumah, bepergian, bekerja, atau menghindari suatu wilayah.
Informasi yang salah juga dapat membuat masyarakat menjadi takut. Lebih jauh lagi, informasi provokatif dapat memperburuk hubungan antara kelompok masyarakat. Ketika seseorang percaya bahwa kelompok tertentu melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi, kemarahan dapat muncul.
Jika informasi tersebut terus disebarkan, prasangka dapat berkembang. Dari prasangka dapat muncul konflik. Karena itu, menurut saya, penyebaran informasi bukanlah tindakan yang bebas dari tanggung jawab. Kita mungkin berpikir bahwa membagikan satu video hanyalah tindakan kecil.
Tetapi jika video tersebut dibagikan oleh ribuan orang, dampaknya dapat menjadi sangat besar.
Inilah mengapa Human Literacy tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan individu, tetapi juga dengan tanggung jawab sosial.
K. Berpikir Kritis dan Sistematis sebagai Solusi
Menurut saya, menghadapi fenomena seperti ini tidak membutuhkan kemampuan teknologi yang terlalu rumit. Yang paling dibutuhkan adalah kebiasaan berpikir.
Saya membayangkan proses sederhananya seperti ini:
Lihat → berhenti → pertanyakan → periksa → bandingkan → baru percaya atau membagikan.
- Pertama, kita melihat informasi.
- Kedua, kita memberikan jeda sebelum bereaksi.
- Ketiga, kita mempertanyakan sumber dan konteksnya.
- Keempat, kita melakukan verifikasi.
- Kelima, kita membandingkan dengan sumber lain.
- Keenam, setelah merasa cukup yakin, barulah kita menentukan sikap.
Menurut saya, proses sederhana ini sudah mencerminkan berpikir kritis, ilmiah, dan sistematis.
Tidak semua informasi harus kita teliti selama berjam-jam. Tetapi informasi yang berpotensi menimbulkan kepanikan, kebencian, atau konflik seharusnya mendapatkan perhatian lebih.
L. Refleks Pribadi
Bagi saya, fenomena Juli 2026 ini memberikan pelajaran bahwa menjadi pengguna media sosial ternyata membutuhkan tanggung jawab yang lebih besar daripada yang saya bayangkan. Selama ini media sosial sering dianggap sebagai ruang pribadi. Kita merasa bebas untuk memberikan komentar, membagikan video, atau meneruskan informasi kepada teman.
Tetapi sebenarnya setiap tindakan tersebut dapat memengaruhi orang lain. Saya menyadari bahwa terkadang kita membagikan sesuatu bukan karena sudah yakin informasi tersebut benar, tetapi karena merasa informasi tersebut menarik. Kadang kita membagikan karena ingin menjadi orang pertama yang mengetahui sesuatu.
Kadang karena informasi tersebut sesuai dengan pendapat kita. Dan terkadang karena kita terbawa emosi. Menurut saya, inilah yang harus diperbaiki. Saya tidak ingin menjadi pengguna media sosial yang hanya menjadi bagian dari arus informasi. Saya ingin menjadi pengguna yang mampu memilih.
Kalau informasi tersebut benar, saya bisa membagikannya. Kalau belum jelas, saya bisa menunggu. Kalau terbukti salah, saya tidak perlu ikut menyebarkannya. Menurut saya, tidak membagikan informasi yang belum jelas juga merupakan bentuk kontribusi terhadap masyarakat.
M. Apa yang seharusnya Dilakukan Generasi Muda?
Generasi muda merupakan salah satu kelompok yang sangat dekat dengan teknologi digital. Karena itu, menurut saya, generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk membangun budaya digital yang lebih sehat.
- Pertama, kita harus membiasakan cek fakta.
- Kedua, kita harus belajar membedakan fakta, opini, dan provokasi.
- Ketiga, kita perlu mengendalikan emosi ketika menerima informasi.
- Keempat, kita harus berhenti menganggap viral sebagai bukti kebenaran.
- Kelima, kita harus memahami bahwa setiap unggahan memiliki dampak.
- Keenam, kita harus menggunakan teknologi untuk memperluas pengetahuan, bukan mempersempit cara berpikir.
Menurut saya, inilah bentuk nyata Society 5.0. Bukan sekadar masyarakat yang memiliki teknologi canggih, tetapi masyarakat yang dewasa dalam menggunakan teknologi tersebut.
Kesimpulan
Fenomena penyebaran konten demonstrasi lama dan informasi provokatif di media sosial pada Juli 2026 menunjukkan bahwa perkembangan teknologi membawa dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, teknologi memungkinkan masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi dengan sangat cepat. Di sisi lain, kecepatan tersebut juga dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang salah, menyesatkan, bahkan memengaruhi persepsi publik.
Kasus klaim pembakaran Gedung Kejaksaan Agung pada Juli 2026 menjadi salah satu contoh bahwa sebuah peristiwa nyata dapat dipelintir melalui narasi yang tidak sesuai fakta. Pada saat yang hampir bersamaan, Polda Metro Jaya juga mengungkap jaringan propaganda digital yang diduga memproduksi dan menyebarkan konten hoaks, fitnah, serta provokasi secara terorganisir.
Jika dikaitkan dengan Industry 4.0, fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital telah mengubah cara manusia memperoleh dan menyebarkan informasi. Namun, jika dikaitkan dengan Society 5.0, teknologi seharusnya tidak hanya membuat kehidupan menjadi lebih cepat, tetapi juga membuat manusia menjadi lebih baik dan lebih bijaksana.
Dari perspektif Human Literacy, manusia harus memiliki kemampuan untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Hal tersebut sejalan dengan gagasan literasi media dan informasi UNESCO yang menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi misinformasi dan disinformasi.
Sementara itu, dari perspektif Estetika Humanisme, fenomena tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak boleh hanya percaya kepada apa yang terlihat. Gambar dan video memang memiliki kekuatan untuk memengaruhi perasaan dan persepsi, tetapi manusia tetap harus menggunakan akal dan pertimbangannya untuk memahami konteks.
Pada akhirnya, menurut saya, tantangan terbesar di era digital bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Informasi sudah tersedia di mana-mana. Tantangannya adalah bagaimana manusia memilih informasi yang benar dan tidak menjadi bagian dari penyebaran informasi yang salah.
- Teknologi boleh semakin cepat.
- Algoritma boleh semakin pintar.
- Media sosial boleh semakin besar.
Tetapi manusia tetap harus memiliki kemampuan untuk berpikir sebelum percaya, merasa sebelum bereaksi, dan bertanggung jawab sebelum membagikan sesuatu.
Karena pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak akan berarti banyak jika manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir dan kehilangan kepedulian terhadap sesama.
Penulis: Ririn Oktaviani Putri
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Siber Asia (UNSIA)
Dosen Pengampu: Rosanah, S.S., M.I.KOM., AMIPR., C.PS
Editor: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
ANTARA News. (2026, 27 Juli). Kasus propaganda digital, Polda Metro Jaya sita Rp220 juta. ANTARA News
ANTARA News. (2026, 27 Juli). Polisi bongkar sindikat propaganda digital, delapan orang tersangka. ANTARA News
Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2026, 27 Juli). [HOAKS] Pendemo Bakar Gedung Kejagung. Tribrata Polri
Metro TV News. (2026, 27 Juli). Polda Metro Bongkar Sindikat Pembuat Konten Provokatif dan Hoaks. Metro TV News
Prime Minister’s Office of Japan. (2018). Society 5.0: Concept. Prime Minister’s Office of Japan – Society 5.0
RRI. (2026, 27 Juli). Literasi Digital Jadi Kunci Lawan Hoaks dan Provokasi Daring. RRI
Suara.com. (2026, 27 Juli). Komplotan Buzzer Diciduk Polda Metro Jaya, Rp220 Juta Hasil Pembayaran Disita. Suara.com
UNESCO. (2021). Media and information literate citizens: Think critically, click wisely!. UNESCO
UNESCO. (2026). Media and Information Literacy. UNESCO – Media and Information Literacy
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI
















