7 Manfaat Buah dan Sayur bagi Mahasiswa untuk Menjaga Kesehatan

Manfaat Buah dan Sayur

Jadwal kuliah padat sering membuat urusan makan menjadi nomor sekian. Ada yang berangkat hanya dengan kopi, makan siang seadanya, lalu baru menyadari seharian hampir tidak menyentuh buah atau sayuran.

Padahal, buah dan sayur merupakan bagian penting dari pola makan bergizi seimbang. Kementerian Kesehatan melalui pedoman Isi Piringku menganjurkan agar 50 persen piring setiap kali makan terdiri atas sayur dan buah, sedangkan separuh lainnya diisi makanan pokok dan lauk-pauk.

Bagi mahasiswa, manfaat buah dan sayur juga tidak harus diperoleh dari bahan pangan mahal. Pisang, pepaya, jeruk, bayam, kangkung, wortel, tomat, dan berbagai pangan lokal lainnya dapat menjadi pilihan sehari-hari.

Lalu, apa manfaat membiasakan konsumsi buah dan sayur selama menjalani masa kuliah?

1. Membantu Memenuhi Kebutuhan Gizi Harian

Tubuh membutuhkan beragam zat gizi untuk menjalankan fungsinya. Karena tidak ada satu jenis makanan yang menyediakan seluruh kebutuhan tersebut, pola makan perlu terdiri atas berbagai kelompok pangan.

Sayur dan buah mengambil peran penting sebagai sumber berbagai vitamin, mineral, dan serat. Karena itu, keduanya sebaiknya tidak diperlakukan sekadar sebagai pelengkap makanan.

Penelitian Margareta Lisa, Sopiyandi, dan Ikawati Sulistyaningsih mengenai konsumsi sayur dan buah pada mahasiswi Politeknik Kesehatan Pontianak juga menempatkan konsumsi keduanya dalam kaitannya dengan asupan serat, vitamin C, dan zat besi. Penelitian tersebut tercantum dalam referensi ilmiah artikel Hubungan Konsumsi Sayur dan Buah dengan Status Gizi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan.

Kuncinya bukan mencari satu buah atau sayuran yang dianggap paling bergizi. Variasi justru membantu Kamu memperoleh zat gizi dari sumber pangan yang berbeda.

Baca juga: Pengeringan Buah dan Sayuran: Mana yang Lebih Unggul, Microwave Konvensional atau Microwave Vacuum Drying (MVD)?

2. Membantu Memenuhi Asupan Serat

Pola makan mahasiswa terkadang berubah mengikuti kesibukan. Sarapan terlewat, makan siang terlambat, kemudian makanan praktis menjadi pilihan ketika waktu semakin sempit.

Kebiasaan seperti itu dapat membuat sayur dan buah semakin jarang masuk ke menu.

Padahal, keduanya merupakan sumber serat pangan. Karena itu, memasukkan buah dan sayur ke dalam makanan sehari-hari menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu memenuhi kebutuhan serat.

Tidak harus selalu dalam bentuk salad atau menu khusus. Tambahkan sayuran ketika makan nasi dan lauk, kemudian jadikan buah utuh sebagai salah satu pilihan camilan.

3. Menjadi Bagian dari Pola Makan yang Mendukung Status Gizi

Manfaat buah dan sayur tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan pola makan. Menariknya, hubungan konsumsi keduanya dengan status gizi mahasiswa juga telah diteliti di Indonesia.

Rosy Arima Deviani, Ibtidau Niamilah, dan Khoirun Nisa Alfitri meneliti 91 mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Hasil penelitian Hubungan Konsumsi Sayur dan Buah dengan Status Gizi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menunjukkan adanya hubungan signifikan antara konsumsi sayur dan buah dengan status gizi responden.

Temuan tersebut tentu tidak berarti bahwa makan buah dan sayur sendirian menentukan status gizi seseorang.

Status gizi dipengaruhi keseluruhan pola makan, aktivitas fisik, kebutuhan energi, kondisi kesehatan, dan berbagai faktor lainnya. Buah dan sayur lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.

Baca juga: Mengapa Sayuran Kering dalam Mie Bisa Menjadi seperti Sayuran Segar Setelah diberi Air Panas?

4. Memberikan Alternatif Camilan di Tengah Aktivitas Kuliah

Rasa lapar di antara dua jadwal kuliah merupakan hal biasa. Pada titik inilah pilihan makanan sering ditentukan oleh apa yang paling mudah ditemukan.

Kalau di meja kos hanya tersedia makanan ringan kemasan, kemungkinan itulah yang akan dimakan. Sebaliknya, buah yang sudah tersedia membuat Kamu memiliki pilihan lain.

Pisang, jeruk, apel, salak, atau potongan pepaya relatif praktis dijadikan camilan. Beberapa bahkan bisa langsung dimasukkan ke tas sebelum berangkat ke kampus.

Bukan berarti semua makanan ringan harus dihilangkan. Tujuannya adalah membuat pilihan makanan lebih beragam dan memberi buah tempat yang lebih rutin dalam pola makan.

5. Membantu Membentuk Pola Makan yang Lebih Seimbang

Makan sehat tidak berarti hanya memperbanyak buah dan sayur.

Tubuh tetap membutuhkan makanan pokok sebagai sumber energi, lauk-pauk sebagai sumber protein, serta kelompok pangan lainnya dalam jumlah yang sesuai. Buah dan sayur melengkapi komposisi tersebut.

Karena itu, cara termudah mengevaluasi makanan bukan dengan mencari satu bahan pangan yang dianggap paling sehat, melainkan melihat keseluruhan isi piring.

Kalau hampir seluruh piring berisi nasi dan lauk, tambahkan sayuran. Jika setelah makan ingin sesuatu yang manis, buah dapat menjadi salah satu pilihannya.

Pendekatan sederhana seperti ini lebih realistis bagi mahasiswa daripada menerapkan pola makan yang terlalu ketat dan sulit dipertahankan.

Baca juga: Kulit Buah dan Sayur, dari Limbah Jadi Solusi Pangan!

6. Mendorong Mahasiswa Lebih Sadar terhadap Pilihan Makanan

Mengetahui bahwa buah dan sayur baik untuk kesehatan ternyata belum tentu membuat seseorang otomatis rajin mengonsumsinya.

Penelitian Aulia Rafi Rasyid, Faisal Anwar, dan Ikeu Ekayanti berjudul Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Konsumsi Sayur dan Buah pada Mahasiswa IPB Selama Masa Pembelajaran Jarak Jauh memperlihatkan bahwa konsumsi mahasiswa dapat berkaitan dengan berbagai faktor. Penelitian terhadap 66 mahasiswa tersebut antara lain mengkaji preferensi, ketersediaan sayur dan buah di rumah, karakteristik sosial ekonomi keluarga, serta wilayah tempat tinggal.

Temuan itu memberi konteks penting: pilihan makanan tidak selalu ditentukan oleh pengetahuan.

Lingkungan juga berpengaruh.

Kalau buah tidak pernah tersedia di kos, Kamu tentu lebih sulit menjadikannya camilan. Begitu pula ketika tempat makan yang biasa dikunjungi hampir tidak menyediakan pilihan sayuran.

Karena itu, perubahan dapat dimulai bahkan sebelum waktu makan tiba: dari apa yang Kamu beli dan sediakan.

7. Membantu Membangun Kebiasaan Makan Sehat Sejak Kuliah

Masa kuliah menjadi periode ketika banyak orang mulai menentukan sendiri apa yang akan dimakan.

Mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga bahkan harus mengambil keputusan tersebut setiap hari: mau memasak atau membeli makanan, memilih lauk apa, membeli buah atau tidak, hingga mengatur semuanya sesuai uang saku.

Penelitian Ayu Rofia Nurfadillah dan Sri Agleylan Kimun mengenai Pengaruh Uang Saku dan Dukungan Teman Sebaya terhadap Konsumsi Sayur dan Buah pada Mahasiswa Kost menunjukkan bahwa faktor ekonomi dan lingkungan sosial dapat ikut berkaitan dengan kebiasaan konsumsi mahasiswa. Studi tersebut dilakukan terhadap 53 mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo yang tinggal di kos.

Artinya, membangun kebiasaan makan yang lebih baik perlu realistis terhadap kehidupan mahasiswa.

Tidak harus membeli blueberry, alpukat, atau buah impor karena dianggap lebih sehat. Buah dan sayuran lokal yang tersedia di pasar, warung, atau pedagang sekitar kos dapat menjadi pilihan yang jauh lebih masuk akal.

Cara Membiasakan Makan Buah dan Sayur bagi Mahasiswa

Masalah terbesar biasanya bukan mengetahui manfaatnya, tetapi mempertahankan kebiasaan.

Mulailah dari hal kecil. Saat belanja kebutuhan kos, masukkan satu atau dua jenis buah yang mudah dikonsumsi. Pisang, jeruk, pepaya, atau buah lokal yang sedang musim biasanya lebih praktis dan terjangkau.

Saat membeli makanan, perhatikan pula apakah ada sayuran dalam menu. Kamu tidak harus mengubah seluruh pola makan sekaligus.

Cara penyajiannya juga bisa divariasikan. Sayur dapat ditumis, direbus, dibuat sup, atau dikombinasikan dengan lauk. Buah bisa dikonsumsi langsung atau dipotong sebagai camilan.

Ada satu hal lain yang perlu diperhatikan: jangan otomatis menyamakan buah utuh dengan semua produk yang menggunakan nama atau gambar buah.

Minuman rasa buah, jus kemasan, yoghurt buah, atau produk olahan lainnya dapat memiliki komposisi yang berbeda. Membaca daftar bahan dan informasi nilai gizi pada kemasan membantu Kamu mengetahui apa yang sebenarnya dikonsumsi.

Mulai dari Isi Piring Hari Ini

Manfaat buah dan sayur bagi mahasiswa pada akhirnya tidak berasal dari satu jenis buah yang dianggap superfood atau sayuran tertentu yang sedang populer.

Yang lebih penting adalah keberagaman dan konsistensi.

Mahasiswa juga tidak membutuhkan pola makan mahal untuk memulainya. Pilihan sederhana seperti menambahkan sayuran ketika makan, menyediakan pisang di kos, atau mengganti sebagian camilan dengan buah sudah menjadi langkah yang lebih realistis.

Coba lihat makananmu berikutnya.

Kalau sayur dan buah hampir tidak pernah muncul di piring selama beberapa hari terakhir, mungkin itulah perubahan kecil yang bisa Kamu mulai hari ini.

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses