Gerakan Remaja Sehat Tanpa Anemia, Santri di Bekasi Diajak Olah Daun Kelor Jadi Camilan Bergizi

Gerakan Remaja Sehat Tanpa Anemia
Gambar 1. Dokumentasi kegiatan sosialisasi dan pemberdayaan bersama santri PKPPS Sya'airullah Bekasi dalam program "Gerakan Remaja Sehat Bebas Anemia Berbasis Pangan Lokal Daun Kelor". (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bekasi, MMI – Sekelompok remaja putri di Pondok Pesantren Khusus Putri (PKPPS) Sya’airullah, Bekasi, kini punya cara baru menjaga kesehatan tubuh mereka: mengolah daun kelor menjadi biskuit, puding, dan nugget. Produk-produk itu lahir dari sebuah program pemberdayaan berbasis masyarakat bertajuk “Gerakan Remaja Sehat Tanpa Anemia dengan Daun Kelor”, yang digagas untuk menekan angka anemia defisiensi besi di kalangan santri.

Gambar 2. Para santri mengikuti pelatihan pengolahan daun kelor menjadi produk pangan fungsional, salah satunya nugget kelor, sebagai bagian dari program pencegahan anemia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Anemia pada remaja putri di lingkungan pesantren selama ini kerap luput dari perhatian. Padahal, kelompok usia ini rentan mengalaminya akibat pertumbuhan yang pesat, siklus menstruasi, serta pola makan yang masih didominasi karbohidrat dengan asupan sayur dan buah yang minim. Gejalanya pun sering dianggap biasa: mudah lelah, pusing, dan sulit berkonsentrasi saat belajar, padahal bisa jadi pertanda anemia yang belum terdeteksi.

Dari situ, tim pengabdian masyarakat yang terdiri atas Yuli Utami, Andri Waskito, Intan Parulian Tiurma Roosleyn, Royani Chairiyah, Safiah Kilwo, Bilqis Mathil Faicha, dan Safna Fitria melihat peluang pada bahan pangan yang sebenarnya mudah ditemukan, tetapi belum dimanfaatkan maksimal: daun kelor (Moringa oleifera), yang dikenal luas sebagai sumber zat besi alami.

Program ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, untuk tahun pendanaan 2026.

Potensi pangan lokal seperti daun kelor sebenarnya sudah ada di sekitar pesantren, tetapi belum diolah menjadi sesuatu yang menarik dan mudah dikonsumsi oleh santri,” demikian inti pemaparan tim dalam laporan kegiatan mereka.

 

Lima Tahap Pemberdayaan

Program ini dijalankan secara partisipatif melalui lima tahapan: sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi pengolahan kelor, pendampingan dan evaluasi, hingga perancangan keberlanjutan program bersama pengurus pesantren.

Kegiatan diawali dengan skrining kadar hemoglobin dan pemetaan pengetahuan awal santri mengenai anemia dan gizi. Setelah itu, para santri mendapatkan edukasi seputar anemia dan gizi seimbang, sebelum masuk ke sesi pelatihan pembuatan tiga produk olahan berbasis daun kelor.

Total 42 santri dari jenjang Wustha (SMP) dan Ulya (SMA) terlibat dalam kegiatan ini.

Mayoritas peserta, sekitar 78,6 persen, berada pada kategori remaja pertengahan usia 14–17 tahun, dan sebagian besar telah tinggal di pesantren lebih dari tiga tahun.

 

Lahirkan Kader “Duta Santri Sehat”

Salah satu hasil yang cukup menonjol dari program ini adalah terbentuknya kelompok kader bernama Duta Santri Sehat. Para santri yang tergabung di dalamnya dilatih untuk menjadi penggerak edukasi kesehatan bagi teman sebaya mereka, sehingga informasi seputar pencegahan anemia dapat terus disebarkan meski pendampingan dari tim luar telah berakhir.

Selain itu, tim juga menyusun modul edukasi dalam bentuk cetak maupun digital agar materi tetap dapat diakses dan digunakan pesantren secara mandiri di kemudian hari.

Dari sisi hasil, pengetahuan santri tentang anemia dan gizi seimbang tercatat meningkat lebih dari 30 persen setelah mengikuti rangkaian edukasi. Tim pengabdian juga mengamati adanya perubahan perilaku konsumsi pangan bergizi, serta kecenderungan perbaikan kadar hemoglobin pada santri selama masa pendampingan berlangsung.

 

Menuju Kemandirian Ekonomi Pesantren

Yang menarik, tiga produk olahan kelor, biskuit, puding, dan nugget, tidak berhenti sebagai materi pelatihan semata. Produk-produk ini diproyeksikan menjadi embrio unit usaha sederhana bagi pesantren, sehingga manfaatnya bisa berlanjut dari sisi kesehatan sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi bagi komunitas pesantren.

Tim pengabdian menilai, pendekatan yang memadukan edukasi gizi dengan pemanfaatan pangan lokal seperti daun kelor terbukti efektif meningkatkan literasi kesehatan sekaligus mendorong kemandirian santri dalam mencegah anemia secara berkelanjutan. Model pemberdayaan semacam ini dinilai berpotensi direplikasi di pondok pesantren lain yang menghadapi persoalan serupa.

 


Penulis:

  1. Yuli Utami, S.Kp MN
  2. Royani Chairiyah, S.SiT.M.Keb,M.Kes

Program Studi Keperawatan dan Kebidanan, Universitas Binawan


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *