Menjadi mahasiswa kedokteran sering kali terlihat seperti sebuah pencapaian yang membanggakan.
Namun, di balik jas putih, praktikum, dan ruang kuliah, ada rutinitas yang tidak selalu terlihat: materi yang terus bertambah, ujian yang datang silih berganti, keterampilan yang harus dikuasai, serta waktu istirahat yang terkadang harus berkompromi dengan tuntutan akademik.
Pendidikan kedokteran memang tidak dirancang untuk menjadi mudah.
Seorang dokter nantinya akan berhadapan dengan kondisi kesehatan dan keselamatan manusia.
Karena itu, penguasaan ilmu dan keterampilan dengan standar yang tinggi merupakan suatu kebutuhan.
Namun, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: seberapa berat pendidikan kedokteran seharusnya?
Pertanyaan ini bukan tentang apakah mahasiswa kedokteran perlu bekerja keras. Mereka tentu perlu.
Persoalannya adalah bagaimana memastikan tuntutan untuk menghasilkan dokter yang kompeten tidak berubah menjadi normalisasi terhadap kelelahan yang berlebihan.
Beban mahasiswa kedokteran tidak hanya dapat dilihat dari jumlah materi yang harus dipelajari.
Tekanan juga dapat datang dari ujian, tuntutan nilai, jadwal akademik, keterbatasan waktu, ekspektasi keluarga, maupun tuntutan dari diri sendiri.
Sebuah systematic review yang diterbitkan International Journal of Medical Students pada 2024 mengidentifikasi berbagai kelompok faktor yang berkaitan dengan stres mahasiswa kedokteran.
Baca Juga: Pentingnya Memilih Lingkungan Pertemanan yang Baik bagi Mahasiswa Kedokteran
Selain tekanan akademik, faktor institusi, karakteristik personal, hubungan sosial, dan kondisi finansial juga ikut berperan.
Dengan kata lain, “beban” dalam pendidikan kedokteran bukan sekadar berapa banyak halaman yang harus dibaca.
Gambaran mengenai waktu belajar dapat dilihat dalam penelitian terhadap mahasiswa kedokteran tahun ketiga Universitas Ciputra.
Dalam penelitian tersebut, waktu belajar formal mahasiswa berada pada kisaran 9–12 jam per hari, sedangkan rata-rata waktu tidur berada pada kisaran 5–6 jam per malam.
Angka tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi sebagai gambaran seluruh mahasiswa kedokteran di Indonesia.
Namun, temuan tersebut memberikan ilustrasi mengenai besarnya porsi waktu yang dapat terserap oleh aktivitas akademik.
Ketika waktu belajar mengambil sebagian besar hari dan waktu tidur semakin terbatas, persoalannya bukan lagi sekadar “sibuk”.
Tidur sering menjadi salah satu aspek yang terdampak ketika tuntutan akademik meningkat.
Penelitian pada mahasiswa kedokteran Universitas Negeri Gorontalo menemukan hubungan antara kualitas tidur dan konsentrasi.
Dari 128 mahasiswa yang diteliti, 68 persen memiliki kualitas tidur yang buruk, sementara 64,1 persen berada dalam kategori konsentrasi sedang.
Penelitian tersebut juga menemukan hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dan konsentrasi.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa waktu istirahat bukan sekadar jeda dari aktivitas belajar.
Kualitas tidur juga berkaitan dengan kemampuan mahasiswa untuk menjalani proses belajar.
Hal tersebut menjadi semakin relevan ketika melihat kondisi kesehatan mahasiswa kedokteran secara lebih luas.
Baca Juga: Metode Belajar yang Efektif untuk Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Penelitian terhadap 1.729 mahasiswa kedokteran dari 29 universitas di Indonesia menemukan angka exhaustion dan disengagement yang sangat tinggi.
Sebanyak 95 persen responden berada dalam kategori exhaustion dan 93 persen berada dalam kategori disengagement berdasarkan instrumen yang digunakan penelitian tersebut.
Penelitian lain terhadap 1.947 mahasiswa dari 27 universitas di Indonesia menemukan prevalensi burnout sebesar 35,5 persen.
Kedua penelitian tersebut dilakukan pada periode pandemi COVID-19, sehingga konteks waktunya perlu diperhatikan.
Angka tersebut tidak dapat dianggap sebagai kondisi yang pasti dialami mahasiswa kedokteran Indonesia saat ini.
Namun, temuan dari berbagai penelitian tetap menunjukkan satu hal penting: kesejahteraan mahasiswa kedokteran merupakan persoalan yang layak diperhatikan secara serius.
Beban Akademik dan Kesejahteraan Mahasiswa
Lalu, apakah kondisi psikologis tersebut hanya memengaruhi perasaan mahasiswa, atau juga berkaitan dengan proses akademik mereka?
Systematic review yang diterbitkan pada 2026 menganalisis 45 penelitian mengenai hubungan faktor psikososial dengan performa akademik mahasiswa kedokteran.
Sebanyak 32 penelitian menemukan setidaknya satu hubungan signifikan antara faktor psikososial dan performa akademik.
Secara umum, stres, kecemasan, dan gejala depresi lebih sering ditemukan berkaitan dengan performa akademik yang lebih rendah.
Burnout juga ditemukan berkaitan dengan hasil akademik dalam sejumlah penelitian.
Namun, temuan tersebut perlu dibaca secara hati-hati.
Sebagian besar penelitian yang dianalisis bersifat cross-sectional, sehingga tidak dapat memastikan bahwa stres atau burnout secara langsung menyebabkan penurunan nilai.
Di Indonesia, penelitian terhadap 218 mahasiswa kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya juga menemukan hubungan antara beberapa komponen burnout dengan performa akademik.
Penelitian tersebut secara khusus menemukan keterkaitan pada komponen seperti cynicism dan academic self-efficacy.
Dengan demikian, kesehatan mental mahasiswa bukan hanya persoalan kenyamanan selama menjalani perkuliahan.
Kondisi psikologis juga dapat berkaitan dengan bagaimana mahasiswa menjalani proses belajar dan mencapai hasil akademiknya.
Baca Juga: Menyembuhkan dengan Hati: Kontribusi Pendidikan Kewarganegaraan dalam Dunia Kedokteran
Tekanan Tidak Hanya Berasal dari Tugas
Di titik ini, penting untuk tidak menyederhanakan persoalan menjadi “mahasiswa kedokteran stres karena tugas terlalu banyak.”
Tekanan akademik memang merupakan salah satu faktor.
Namun, penelitian menunjukkan adanya berbagai faktor lain yang dapat berinteraksi.
Ekspektasi keluarga, persaingan akademik, kondisi finansial, hubungan sosial, karakter pribadi, kualitas tidur, dukungan dari lingkungan, hingga sistem pembelajaran dapat memengaruhi pengalaman mahasiswa.
Karena itu, dua mahasiswa yang memiliki jadwal akademik serupa belum tentu mengalami tingkat tekanan yang sama.
Hal ini juga berarti solusi tidak cukup hanya dengan meminta mahasiswa belajar mengatur waktu dengan lebih baik.
Manajemen waktu tetap penting, tetapi lingkungan pendidikan juga perlu dievaluasi: apakah setiap tuntutan yang diberikan memang diperlukan untuk mencapai kompetensi, dan apakah cara tuntutan tersebut diberikan mendukung proses belajar?
Perhatian terhadap kesejahteraan peserta pendidikan kedokteran mulai terlihat dalam sejumlah kebijakan di Indonesia, khususnya pada tahap pendidikan klinis dan internsip.
Pada 2026, Kementerian Kesehatan memperbarui tata kelola Program Internsip Dokter Indonesia.
Salah satu ketentuannya adalah pembatasan jam kerja peserta maksimal 40 jam per minggu.
Kebijakan tersebut juga mencakup pengaturan jadwal jaga, cuti, pendampingan, serta mekanisme pengaduan.
Pada tahun yang sama, Kemenkes mengumumkan skrining kesehatan menyeluruh terhadap 10.564 peserta internsip, termasuk skrining kesehatan jiwa.
Kebijakan tersebut memang berlaku bagi peserta internsip dan tidak dapat diterapkan begitu saja sebagai batas jam belajar bagi mahasiswa kedokteran tahap preklinik.
Namun, langkah tersebut menunjukkan bahwa kesehatan dan kesejahteraan peserta pendidikan mulai dipandang sebagai bagian dari tata kelola pendidikan kedokteran.
Perhatian terhadap lingkungan pendidikan juga mencakup persoalan perundungan.
Kementerian Kesehatan sebelumnya telah mengeluarkan kebijakan mengenai pencegahan dan penanganan perundungan terhadap peserta didik di rumah sakit pendidikan.
Dengan demikian, persoalan kesejahteraan tidak hanya ditempatkan sebagai tanggung jawab individu, tetapi juga mulai dikaitkan dengan bagaimana sistem pendidikan dikelola.
Menjaga Standar Tanpa Menormalisasi Kelelahan
Pendidikan kedokteran memang tidak dapat dipisahkan dari tuntutan.
Mahasiswa perlu mempelajari ilmu dalam jumlah besar, berlatih keterampilan, menghadapi ujian, dan memenuhi standar kompetensi yang tinggi.
Semua itu diperlukan karena kelak pengetahuan dan keterampilan tersebut akan digunakan untuk menangani pasien.
Namun, standar tinggi tidak harus berarti menormalisasi kelelahan.
Mungkin pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Bagaimana membuat mahasiswa kedokteran semakin kuat menghadapi tekanan?”
Pertanyaan lainnya adalah, “Apakah tekanan yang diberikan memang diperlukan untuk membentuk dokter yang kompeten?”
Jika tidak semua tekanan memiliki manfaat pendidikan yang sama, maka evaluasi terhadap sistem menjadi penting.
Mahasiswa tetap memiliki tanggung jawab untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan mengelola dirinya.
Tetapi institusi pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa proses tersebut berlangsung dalam lingkungan yang mendukung pembelajaran dan kesejahteraan.
Pada akhirnya, pendidikan kedokteran tidak seharusnya mempertentangkan kompetensi dengan kesehatan mental.
Keduanya justru perlu berjalan bersama.
Sebab, tujuan pendidikan kedokteran bukan mencetak seseorang yang paling lama mampu bertahan dalam kelelahan.
Tujuannya adalah membentuk dokter yang kompeten, profesional, dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pasien—tanpa kehilangan kemampuan untuk menjaga dirinya sendiri.
Penulis: Shabila Naomi Anandika
Mahasiswa Prodi Kedokteran, Universitas Airlangga
Dosen Pengampu: Mardhayu Wulan Sari, S.Hum., M.A.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Sumber dan Referensi
- Jeyapalan, T., & Blair, E. (2024). The Factors Causing Stress in Medical Students and their Impact on Academic Outcomes: A Narrative Qualitative Systematic Review. International Journal of Medical Students, 12(2), 195–203. (IJMS)
- Lili, R., Molodynski, A., Farrell, S. M., Citraningtyas, T., & Kloping, N. A. (2022). Wellbeing and mental health among medical students in Indonesia: A descriptive study. International Journal of Social Psychiatry, 68(6), 1277–1282. (PubMed)
- Ríos Andrade, R., Peralta Ramírez, A. A., & Trujillo López, S. (2026). Psychosocial factors associated with academic performance in medical students: A systematic review. BMC Medical Education, 26, 451. (PubMed)
- Hubungan Antara Kualitas Tidur dan Daya Konsentrasi pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo. (2025). Jambura Axon Medika.
- Giovani. (2026). Pengaruh Tingkat Konsumsi Kafein Berlebihan terhadap Fokus Belajar Mahasiswa Kedokteran Tahun ke-3 Universitas Ciputra. Jurnal Medika Hutama.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Tata Kelola Internsip Dokter Diperbaiki, Perkuat Perlindungan dan Kesejahteraan Peserta.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kemenkes Evaluasi Total Program Internsip, 10.564 Dokter Jalani Skrining Kesehatan Menyeluruh.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













