Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengedepankan esensi dan makna terhadap moral dan akhlak yang mampu membentuk pribadi peserta didik yang baik (T. Ramli, 2013). Pendidikan karaketr adalah cara berpikir dan berciri khas untuk menjalani hidup dengan bekerja sama dalam keluarga, masyarakat, agama, bangsa, maupun negara (Suyanto, 2019).
Pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan oleh para anggota sekolah, orang tua dan masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar memiliki sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab (Williams & Schnaps, 2019). Penulis menyimpulkan pendidikan karakter adalah usaha pembentukan pribadi peserta didik dengan berciri khas berakhlak, bermoral, peduli, berpendirian teguh dan tanggungjawab oleh orang tua, sekolah dan masyarakat.
Tujuan pendidikan karakter adalah peserta didik dapat memiliki, memahami dan mengimplementasikan norma-norma yang baik dan diterima oleh masyarakat. Peserta didik harus memiliki kecerdasan IQ dan prilaku yang tidak menyimpang. Kualitas moral generasi muda saat ini mengalami penurunan karena itulah pendidikan karakter sangat diperlukan meliputi pendidikan moral, pendidikan nilai-nilai kehidupan, religius, dan budi pekerti di setiap institusi pendidikan. Karakter merupakan pola perilaku yang bersifat individual.
Pilar- pilar pendidikan karakter yang harus diajarkan adalah: 1) trustworthiness (kepercayaan, kejujuran), 2) recpect (respek), 3) responsibility (tanggung jawab), 4) fairness (keadilan), 5) caring (peduli) dan 6) citizenship (kewarganegaraan).
Alasan pendidikan karakter harus diajarkan pada peserta didik menurut Lickona yaitu: menjamin peserta didik memiliki kepribadian baik, meningkatkan prestasi akademik, membentuk karakter yang kuat, menghormati orang lain di masyarakat, menyongsong perilaku di tempat kerja dan mengajarkan nilai budaya.
Realita keadaaan peserta didik yang memiliki kepribadian baik, memiliki karakter yang kuat, serta mampu menghormati orang lain di masyarakat karena karakter- karakter baik di atas tidak serta merta terbawa sejak kelahiran mereka masing- masing namun ada sebuah usaha pengenalan dan pengimplementasian pendidikan karakter sejak dini mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
BACA JUGA: Kurikulum 2013: Membangun Generasi Aktif, Kreatif, dan Berkarakter di Era Teknologi
Lingkungan keluarga mengajarkan anaknya minta doa restu dan salim pada orang tuanya sebelum berangkat sekolah, lingkungan sekolah mengajarkan 3 S (Senyum, Salim, Sapa) sejak masuk pintu gerbang sekolah dan lingkungan masyarakat juga ada kebiasaan salim saat bertemu orang sambil bertanya kabar keadaan. Karakter senyum, salim dan sapa ini merupakan bagian pilar pendidikan karakter berupa respek dan peduli.
Bukti keadaan peserta didik yang meningkat prestasi akademiknya dari penanaman pendidikan karakter adalah mereka memiliki kepercayaan, kejujuran dan tanggung jawab yang tinggi dalam mempelajari dan mengamalkan ilmu pengetahuan karena mengedepankan nilai dan norma dalam kegiatan mereka sehingga tidak berperilaku menyimpang.
Karakter kepercayaan, kejujuran dan tanggung jawab yang dimliki mampu menciptakan banyak kesempatan untuk berprestasi lebih baik lagi. Karakter tanggung jawab mampu meningkatkan prestasi peserta didik menjadi lebih baik sehingga reward dan kesempatan berprestasi tercipta kembali untuk kesempatan berprestasi berkutnya.
Banyak pihak mengapresiasi prestasinya dengan reward yang beragam mulai funding, beasiswa bahkan kesempatan berkarya di instansi atau perusahaan tanpa tes masuk HRD.
Pada saat peserta didik sudah lulus, pendidikan karakter masih tertanam kuat sehingga mampu menjadi insan generasi penerus bangsa yang berwibawa dan membawa kemajuan bangsa di lingkungan yang lebih luas. Aplikasi contoh di masyarakat seorang dokter, akuntan, pengacara dan profesi lainnya akan berpegang teguh dan menjunjung tinggi etika profesinya.
Seorang dokter dan akuntan yang berhasil memberikan solusi suatu kasus dengan jujur dan tanggung jawab akan memperoleh reward dari prestasinya tanpa melakukan penyimpangan perilaku. Apabila diuji dengan tawaran yang menggiurkan tetap berpendirian teguh dengan prinsipnya.
Beberapa alasan pentingnya pendidikan karakter di atas dapat menjadi benteng yang kuat untuk menghadapi tantangan era globalisasi (era digital) yang banyak celah mempengaruhi insan generasi muda terkena dampak negatif globalisai seperti ketidakjujuran, rendahnya kepedulian, fenomena ketidakadilan, turunnya tanggungjawab pada tugasnya masing- masing.
Generasi muda adalah amanah tujuan nasional yang tereksplisit dalam pembukaan konstitusi UUD 1945 alenia ke-4 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas akan mampu menghadapi tantangan apapun bentuknya dan dari mana pun datangnya.
Globalisasi adalah menyangkut seluruh proses dimana penduduk dunia terinkorporasi ke dalam masyarakat dunia yang tunggal (Martin Albrow). Tantangan era digital pada sosial budaya antara lain erosi budaya, menurunnya kultur lokal dan nasional, menurunnya semangat nasionalisme, kecenderungan pragmatis dan menurunnya jatidiri bangsa.
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar sehingga kesempatan terkena dampak era digital ini persentasenya semakin besar. Pada Maret 2021, Internet World Stats mencatat estimasi jumlah penduduk Indonesia mencapai 263 juta jiwa dengan jumlah pengguna internet 132 juta jiwa.
Jumlah penduduk Indonesia menempati rangking ke-3 setelah China dan India. Angka penggunan internet di atas menempatkan Indonesia pada urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, dan Brasil. Tingkat penetrasi internet di Indonesia hingga Maret 2021 mencapai 50,4%, meningkat drastis dari tahun 2016 yang tercatat 34,1% (Sindo, Selasa 29 Agustus 2017).
Sebagian besar pengguna internet berfokus media sosial, belum didominasi pemahaman yang lebih maju bahwa dunia digital bisa dioptimalkan lebih maksimal seperti sharing knowledge, aktualisasi diri, bahkan motif bisnis dan ekonomi.
Dampak negatif media sosial mampu mempengaruhi karakter individu yang terbentuk dari kecil seperti kejujuran teruji saat postingan dan realita berbeda, tanggungjawab menurun karena lupa waktu saat menggunakan media sosial sehingga sampai kehabisan waktu untuk menyelesaikan tugas utamanya seperti siswa belajar dan orang dewasa bekerja, kepedulian dan respek menururn karena sudah cukup diwakili lewat media sosial tanpa kontak fisik (silaturahmi) ke masyarakat.
Alangkah pentingnya ada kebijakan pemerintah agar masyarakat teredukasi dengan baik sehingga bisa menyikapinya secara tepat sekaligus memaksimalkan potensi internet dari sebuah dunia digital.
Hal ini wajar karena banyak program yang ada selama ini masih parsial, terfokus pada bagaimana melatih kemampuan dalam mengakses internet dan bagaimana mewujudkan internet sehat. Padahal program pembinaan digital ini lebih luas dari itu karena juga berbicara soal perilaku dan budaya hidup digital (digital behavior).
Harapan besar implementasi pendidikan karakter yang sistematis dan berkelanjutan, diintegrasikan dalam mata pelajaran, diharapkan dapat meningkatkan mutu hasil pendidikan di sekolah untuk mencapai pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.
Peserta didik diharapkan mampu meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menerapkan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Perserta didik yang mampu mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kehidupannya mampu berkepribadian baik sehingga memiliki kecerdasan IQ dan emosi yang seimbang.
Peserta didik yang memiliki kecerdasan emosi dapat menjadi bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Peran Pendidikan Karakter adalah menciptakan generasi penerus bangsa yang baik, generasi penerus yang dapat mempertahankan ciri khas bangsa dan negaranya, dan generasi penerus yang berkepribadian dan karakter yang tangguh agar tidak mudah terpengaruh dampak- dampak negatif yang telah terjadi pada era globalisasi (era digital) ini.
Penulis: Muhammad Arwani
Mahasiswa Program Studi Psikologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Dosen Pengampu: Dr. Fadillah Suralaga, M.Si.
Editor: Darsono. AR
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















