Jakarta, MMI — Keberhasilan sebuah penelitian tidak cukup diukur dari terserapnya anggaran atau terlaksananya seluruh kegiatan sesuai proposal. Yang lebih penting adalah sejauh mana penelitian mampu menghasilkan luaran yang dijanjikan, memiliki keberlanjutan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026. Prof. Dr. Dr. Drs. H. Kusmardi, MBiomed., CIRR, ditugaskan sebagai reviewer internal Universitas Indonesia (UI) untuk melakukan penilaian terhadap laporan kemajuan dan presentasi penelitian penerima Hibah BIMA pada 23 September 2026.
Monev menjadi tahapan penting untuk melihat perkembangan penelitian sekaligus memastikan bahwa pelaksanaan kegiatan tetap sejalan dengan tujuan, metode, target luaran, dan rencana yang telah disampaikan dalam proposal. “Monev bukan sekadar melihat apakah kegiatan penelitian sudah dilaksanakan dan berapa persen anggaran yang sudah terserap. Yang lebih penting adalah melihat apa yang sudah dihasilkan, apakah sesuai dengan target, bagaimana kualitas luaran, dan apakah hasil penelitian tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut,” ujar Prof. Kusmardi.
Baca juga: Prof. Kusmardi, Guru Besar FKUI, Raih Gelar Doktor Ilmu Dakwah
Enam Aspek Utama dalam Penilaian
Dalam Skema Riset Dasar, terdapat sejumlah skema yang menjadi bagian dari evaluasi, antara lain Kolaborasi Penelitian Strategis, Penelitian Disertasi Doktor, Penelitian Dosen Pemula, Penelitian Fundamental Reguler, Penelitian Kerja Sama Luar Negeri–Nusantara, serta Penelitian Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul.
Beberapa aspek menjadi perhatian dalam proses penilaian. Pertama, kemajuan ketercapaian luaran wajib yang dijanjikan. Reviewer melihat sejauh mana target luaran yang tercantum dalam proposal telah dicapai pada saat monev. Kedua, kesesuaian pelaksanaan penelitian dengan usulan. Pelaksanaan penelitian perlu tetap memiliki keterkaitan yang jelas dengan tujuan, metode, tahapan, dan target yang telah ditetapkan dalam proposal. Ketiga, potensi keberlanjutan hasil penelitian. Penelitian diharapkan tidak berhenti setelah periode pendanaan berakhir, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan melalui penelitian lanjutan, publikasi, kerja sama, hilirisasi, maupun pemanfaatan hasil penelitian. Keempat, level Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) saat monev. TKT menjadi salah satu indikator untuk melihat perkembangan kesiapan hasil penelitian, terutama pada penelitian yang memiliki orientasi penerapan teknologi. Kelima, persentase serapan anggaran belanja. Penggunaan anggaran perlu sesuai dengan perencanaan dan mendukung pencapaian target penelitian. Serapan anggaran karena itu tidak seharusnya dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai salah satu indikator pengelolaan penelitian. Keenam, realisasi keterlibatan dan kontribusi mitra. Apabila penelitian melibatkan mitra, kontribusi tersebut perlu dapat ditunjukkan secara nyata sesuai dengan peran yang telah direncanakan.
Riset Terapan Harus Menunjukkan Hasil Konkret
Perhatian yang lebih spesifik diberikan pada Skema Riset Terapan, terutama penelitian yang memiliki target luaran berupa model dan prototipe. Pada prinsipnya, aspek penilaian riset terapan sama dengan riset dasar, tetapi terdapat tuntutan tambahan untuk menunjukkan perkembangan luaran secara lebih konkret. Jika target penelitian berupa model, maka pada saat monev peneliti diharapkan sudah dapat menunjukkan model yang dikembangkan beserta proses dan bukti pendukungnya. Demikian pula untuk penelitian dengan target prototipe. Prototipe tidak cukup hanya dijelaskan secara konseptual dalam presentasi, tetapi idealnya sudah dapat ditunjukkan bentuk dan perkembangannya. Apabila telah dilakukan pengujian, dokumen hasil pengujian atau validasi juga perlu tersedia sebagai bukti capaian.
Menurut Prof. Kusmardi, hal tersebut penting karena karakteristik riset terapan memang menuntut adanya hasil yang semakin dekat dengan tahap pemanfaatan. “Kalau targetnya model, pada saat monev harus mulai terlihat modelnya. Kalau targetnya prototipe, prototipenya harus sudah ada sesuai tahapan yang dijanjikan. Kalau sudah diuji, dokumen pengujiannya juga perlu dipersiapkan. Jadi, bukti capaian harus mengikuti jenis luaran yang dijanjikan,” jelasnya.
Baca juga: Mengapa Akademisi Jarang Didengar dalam Kebijakan Publik?
Artikel Ilmiah Jangan Menunggu Akhir Penelitian
Hal lain yang menjadi perhatian adalah kesiapan luaran publikasi ilmiah. Peneliti sering kali menghadapi kendala waktu karena artikel baru mulai disiapkan ketika penelitian hampir selesai. Padahal, proses publikasi ilmiah membutuhkan waktu yang relatif panjang, mulai dari penulisan, pemilihan jurnal, submission, proses editorial, peer review, revisi, hingga keputusan akhir jurnal. Karena itu, peneliti perlu menyusun strategi publikasi sejak awal pelaksanaan penelitian. “Untuk penelitian dengan luaran artikel ilmiah, jangan menunggu penelitian selesai baru mulai menulis. Pada saat monev, artikel sebaiknya sudah disiapkan dan, kalau memungkinkan sesuai target penelitian, sudah disubmit ke jurnal yang dituju,” kata Prof. Kusmardi. Strategi tersebut juga memberikan keuntungan bagi peneliti karena proses publikasi dapat berjalan secara paralel dengan penyelesaian tahapan penelitian.
Monev Bukan Sekadar Pemeriksaan Administratif
Monev juga perlu dipandang sebagai mekanisme penjaminan mutu penelitian. Melalui monev, peneliti mendapatkan kesempatan untuk melihat posisi penelitian secara objektif: bagian mana yang telah tercapai, bagian mana yang masih tertinggal, serta langkah apa yang perlu dilakukan untuk mencapai target hingga akhir periode pendanaan. Bagi perguruan tinggi dan pengelola program, hasil monev dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan penelitian, memberikan pendampingan kepada peneliti, serta menyusun kebijakan pendanaan penelitian pada periode berikutnya. Dengan demikian, monev idealnya tidak hanya menghasilkan penilaian, tetapi juga umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas penelitian.
Baca juga: Dokter Muda FKUI Miliki 60 Publikasi Scopus dan Menjadi Editor Jurnal Internasional
Persiapan Lebih Matang untuk Hibah Tahun Berikutnya
Pelaksanaan Monev Hibah BIMA tahun 2026 memberikan sejumlah pembelajaran yang dapat menjadi perhatian peneliti untuk pengajuan dan pelaksanaan hibah pada tahun berikutnya. Untuk riset dasar, strategi pencapaian luaran perlu dirancang sejak proposal disusun. Target publikasi harus disertai dengan rencana penulisan dan pemilihan jurnal yang realistis. Pada saat monev, artikel diharapkan sudah berada pada tahap yang jelas, bahkan telah disubmit apabila sesuai dengan tahapan dan target penelitian. Untuk riset terapan, peneliti perlu mempersiapkan bukti perkembangan luaran secara konkret. Target model perlu diwujudkan menjadi model yang dapat ditunjukkan, sedangkan target prototipe perlu diarahkan hingga menghasilkan prototipe beserta dokumen pengujian atau validasinya sesuai tahapan penelitian.
Keterlibatan mitra juga perlu diperkuat. Mitra sebaiknya tidak hanya tercantum dalam proposal, tetapi memiliki peran yang jelas dan dapat dibuktikan melalui kegiatan maupun kontribusi yang relevan. Pada akhirnya, kualitas penelitian tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang diperoleh, tetapi oleh seberapa baik dana tersebut dikonversikan menjadi pengetahuan, publikasi, model, prototipe, teknologi, dan manfaat yang dapat dikembangkan lebih lanjut.
Monev Hibah BIMA Kemdiktisaintek 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun budaya penelitian yang semakin berorientasi pada mutu, luaran, akuntabilitas, keberlanjutan, dan dampak. Bagi para peneliti, pesan yang dapat diambil cukup jelas: target luaran jangan dipersiapkan menjelang monev, tetapi sejak penelitian dimulai.
Redaksi Media Mahasiswa Indonesia
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















