Tugas Kelompok: Wadah Kolaborasi atau Panggung para Free Rider?

tugas kelompok mahasiswa
Tugas Kelompok: Wadah Kolaborasi atau Panggung para Free Rider? Sumber: Penulis.

“Buka Google Docs jam dua malam, melihat tiga nama lain di pojok kanan atas hanya berstatus offline, sementara hanya jemari kita yang sibuk mengetik sendirian.” Skenario ini rasanya sudah menjadi ‘ritual’ wajib yang hampir dialami oleh setiap mahasiswa.

Pada dasarnya, tugas kelompok dirancang sebagai wadah kolaborasi untuk melatih soft skill, kerja sama, membagi beban kerja, hingga membangun relasi. Namun, di dunia perkuliahan, cita-cita luhur tersebut sering kali membentur realitas yang pahit.

Alih-alih meringankan beban, tugas kelompok justru kerap berubah menjadi panggung drama—tempat di mana satu orang bekerja bagai kuda, sementara yang lain cukup berakting sibuk dan ‘menumpang nama’. Dalam dinamika sosial dan akademis, fenomena ini melahirkan satu julukan yang sangat familier, yaitu “free rider”.

Dalam ilmu psikologi, fenomena ini dikenal dengan istilah social loafing. Kondisi ketika seseorang cenderung untuk mengurangi kontribusinya saat bekerja dalam tim, dibanding saat bekerja sendiri.

Mengapa fenomena ini terus ada dan seolah dipelihara? Jawabannya sederhana: karena keadaan dan lingkungan memang mendukung mereka untuk melakukan kebiasaan itu.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang terdorong untuk menjadi free rider:

Pola Pikir “Kan Ada yang Lain”

Pola pikir seperti ini memicu mereka untuk mengurangi rasa tanggung jawab mereka, ada asumsi nyaman di kepala mereka: “Santailah, kan masih ada teman-teman lain yang bisa kerjain”.

Nilai Sama tetapi Usaha Berbeda

Sistem penilaian di kampus hanya melihat hasil atau kinerja dalam kelompok, tanpa melihat kinerja tiap anggota. Tentunya para free rider akan memanfaatkan kesempatan tersebut karena meskipun mereka kurang berkontribusi atau bahkan tidak berkontribusi sama sekali, mereka akan tetap mendapatkan nilai yang sama dengan teman sekelompoknya.

Dikelompokkan dengan Sumber Daya Manusia yang Unggul

Ketika para free rider dikelompokkan dengan orang-orang yang lebih unggul, sering kali mereka berpikir bahwa kontribusinya tidak akan berpengaruh besar terhadap kelompok, sehingga mereka lebih memilih untuk tidak berkontribusi.

Ibarat pisau bermata dua, keberadaan sosok free rider tidak hanya merugikan anggota kelompok lain, tetapi juga menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Bagi anggota kelompok yang aktif, keberadaan free rider memicu ketidakadilan yang memberatkan.

Baca Juga: ADAPTIF: Membangun Sikap Adaptif Mahasiswa melalui Aplikasi Rekan Tumbuh Harian di Tengah Ancaman Otomatisasi AI

Mereka harus menanggung beban kerja ekstra demi menyelamatkan nilai kelompok, yang pada akhirnya memicu burnout, stres, hingga kehilangan kepercayaan (trust issue) untuk bekerja sama dalam tim. Perasaan yang awalnya tidak tega, berubah menjadi kebencian yang merusak hubungan sosial.

Namun, dampak paling berbahaya justru menimpa si free rider itu sendiri. Dengan memilih untuk pasif bahkan tidak berkontribusi sama sekali, secara tidak langsung mereka sedang memangkas kesempatan emas untuk mengasah soft skill mereka—mulai dari problem solving, kemampuan kerja sama tim, manajemen waktu, hingga komunikasi antaranggota.

Mereka mungkin lulus dengan nilai manis, tetapi saat mereka masuk di dunia kerja, mereka akan merasa sulit saat dihadapkan dengan kerasnya realitas kerja sama tim di dunia kerja.

Lalu, bagaimana cara memutus rantai free rider di lingkungan kampus? Tentu bukan dengan cara mengeluh dan menyebarluaskan keburukan si free rider. Perlu adanya langkah konkret dan profesional dari seluruh elemen sivitas akademika untuk mengembalikan marwah tugas kelompok ke tujuan aslinya.

Pertama, dari sisi tenaga pendidik atau dosen. Akar masalah fenomena ini sering kali bersumber dari sistem penilaian yang digunakan.

Kebanyakan dosen menggunakan sistem penilaian kolektif, di mana seluruh anggota kelompok akan mendapat nilai yang sama berdasarkan hasil akhir kelompoknya, tanpa melihat kinerja dari masing-masing individu.

Solusi yang bisa diterapkan oleh para tenaga pendidik atau dosen adalah dengan menggunakan sistem peer evaluation atau penilaian sejawat, di mana tiap individu dinilai kinerja dan kompetensinya oleh rekan atau anggota kelompoknya sendiri.

Sistem ini akan memaksa tiap individu untuk memberikan kontribusinya secara maksimal dan bertanggung jawab atas tugasnya.

Kedua, dari sisi mahasiswa. Budaya ‘tidak tegaan’ harus mulai diganti dengan sikap yang lebih profesional. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan cara membuat kesepakatan kelompok mengenai pembagian kerja dan tenggat waktu pengerjaan tiap individu.

Jika ada anggota yang dirasa mulai pasif, berikan teguran dan komunikasikan secara langsung. Apabila teguran diabaikan, ambil langkah berani untuk mengambil konsekuensi logis: coret namanya dari halaman tugas kelompok.

Bukan sebagai bentuk kebencian, melainkan sikap tegas yang objektif. Sebaliknya, jika terus-menerus hanya memaklumi dan menutupi kemalasan mereka, justru sama dengan menjerumuskan mereka ke dalam zona nyaman yang akan merusak masa depan mereka sendiri.

Baca Juga: Panduan Mahasiswa Mengenal Jogja: Kapan Sewa Mobil Bisa Menjadi Pilihan?

Tugas kelompok yang diberikan di dunia perkuliahan sejatinya adalah miniatur dari realitas dunia kerja. Jika ekosistem kerja sama tim di kampus dibenahi dengan sistem penilaian yang adil dan tegas, tugas kelompok akan benar-benar menjadi wadah yang tepat untuk menempa sosok anggota tim yang baik.

Sebaliknya, jika dibiarkan tanpa adanya evaluasi, perkuliahan hanya akan menjadi pabrik yang terus memproduksi para free rider.


Penulis: Muhammad Prayoga Bimanthara
Mahasiswa Keselamatan dan Kesehatan Kerja Universitas Airlangga (UNAIR)


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *