Oleh: Prof. Dr. Dr. Drs. H. Kusmardi, M.S., CIRR
Laboratorium sering kali kita bayangkan sebagai ruangan yang dipenuhi meja kerja, mikroskop, alat-alat penelitian, bahan kimia, komputer, dan berbagai instrumen canggih. Di dalamnya mahasiswa melakukan praktikum, dosen melakukan penelitian, dan peneliti menghasilkan publikasi. Namun, apakah laboratorium perguruan tinggi cukup hanya menjadi tempat untuk melakukan eksperimen? Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika perguruan tinggi dituntut menghasilkan penelitian yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia industri.
Saya berkesempatan menghadiri “Workshop Future University Laboratory: Strategic Transformation for Quality Excellence and Value Creation” di Hotel Savero, Depok, Kamis, 1 Oktober 2026, sebagai peneliti senior di Human Cancer Research Cluster IMERI , Drug Development Research Cluster IMERI, Kelompok Riset Patobiologi Universitas Indonesia, dan Kepala Laboratorium Patologi Eksperimental Departemen Patologi Anatomik FKUI. Dari workshop tersebut, saya melihat bahwa pembicaraan tentang laboratorium sebenarnya bukan semata-mata pembicaraan tentang alat. Ini adalah pembicaraan tentang masa depan universitas.
Dari Laboratorium sebagai Fasilitas Menjadi Laboratorium sebagai Strategi
Selama ini, pengembangan laboratorium di perguruan tinggi sering berangkat dari pertanyaan: alat apa yang kita butuhkan? Menurut saya, pertanyaan tersebut perlu diperluas menjadi: untuk apa laboratorium itu dibangun, masalah apa yang hendak diselesaikan, dan nilai apa yang dapat dihasilkan? Perubahan cara berpikir ini sangat penting. Sebuah laboratorium dapat memiliki instrumen mahal dan mutakhir, tetapi apabila alat tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal, tidak terintegrasi dengan kelompok riset, tidak memiliki sistem pemeliharaan yang baik, atau tidak menghasilkan luaran yang berdampak, maka investasi tersebut belum sepenuhnya memberikan nilai bagi universitas.
Karena itu, future university laboratory harus dibangun berdasarkan kebutuhan strategis universitas dan kekuatan riset yang dimilikinya. Laboratorium harus menjadi platform kolaborasi, bukan sekadar fasilitas individual. Dalam bidang biomedik, misalnya, satu permasalahan penelitian dapat membutuhkan pendekatan histopatologi, imunohistokimia, biologi molekuler, omics, bioinformatika, kecerdasan artifisial, hingga analisis klinis. Tidak mungkin seluruh keahlian tersebut berdiri sendiri-sendiri. Laboratorium masa depan harus memungkinkan berbagai disiplin ilmu bertemu.
Akreditasi Bukan Sekadar Pemenuhan Administrasi
Salah satu hal penting yang dibahas dalam workshop adalah hubungan antara akreditasi laboratorium dan value creation. Akreditasi terkadang masih dipersepsikan sebagai kegiatan administratif: menyiapkan dokumen, memenuhi standar, kemudian memperoleh sertifikat. Padahal, jika dikelola dengan benar, akreditasi seharusnya menjadi instrumen untuk membangun budaya mutu. Laboratorium yang terakreditasi harus memiliki sistem yang jelas mengenai kompetensi personel, validitas metode, kalibrasi dan pemeliharaan alat, keselamatan kerja, dokumentasi, pengendalian mutu, hingga evaluasi berkelanjutan.
Dengan demikian, akreditasi bukan tujuan akhir. Akreditasi seharusnya menjadi alat untuk memastikan bahwa laboratorium mampu memberikan layanan dan menghasilkan data yang dapat dipercaya. Dalam penelitian, kualitas data merupakan fondasi utama. Publikasi yang baik tidak akan dapat dibangun dari data yang kualitasnya tidak terjamin.
Digital Laboratory: Perubahan yang Tidak Bisa Dihindari
Perubahan berikutnya adalah digitalisasi. Laboratorium masa depan tidak cukup hanya memiliki komputer yang digunakan untuk mengetik laporan. Digitalisasi harus menyentuh keseluruhan proses laboratorium. Mulai dari registrasi sampel, sample tracking, pencatatan penggunaan alat, penyimpanan data, analisis, pengendalian mutu, hingga pelaporan dapat dikembangkan secara digital. Konsep Digital Laboratory juga membuka peluang untuk membangun shared laboratory yang lebih transparan dan efisien. Peneliti dapat mengetahui ketersediaan alat, melakukan pemesanan, memantau penggunaan, menyimpan data, serta melakukan analisis tanpa harus bergantung pada sistem manual. Lebih jauh lagi, ketika data laboratorium terintegrasi dengan teknologi artificial intelligence, machine learning, dan big data, laboratorium dapat berubah dari tempat menghasilkan data menjadi tempat menghasilkan pengetahuan baru. Inilah yang menurut saya menjadi salah satu karakter penting laboratorium universitas masa depan.
Baca juga: Dari Laboratorium ke Antariksa: Ketika Gaya Sentrifugal Menjadi Nyata
Laboratorium Harus Terhubung dengan Industri
Laboratorium perguruan tinggi juga perlu keluar dari paradigma bahwa penelitian berakhir ketika artikel ilmiah diterbitkan. Publikasi ilmiah memang penting. Namun, penelitian yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi teknologi, metode diagnostik, produk, prototipe, atau layanan perlu memiliki jalur menuju hilirisasi. Karena itu, hubungan antara laboratorium dan industri menjadi semakin penting. Industri memiliki kebutuhan dan permasalahan nyata. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan, sumber daya manusia, serta infrastruktur penelitian. Laboratorium dapat menjadi ruang pertemuan kedua kepentingan tersebut. Kolaborasi seperti ini dapat menghasilkan penelitian yang lebih relevan sekaligus membuka peluang pemanfaatan hasil penelitian secara lebih luas.
Capacity Mapping Harus Menjadi Langkah Awal
Pertanyaan penting berikutnya adalah: seberapa besar sebenarnya kapasitas laboratorium yang kita miliki? Jawabannya tidak cukup hanya dengan membuat daftar alat. Capacity mapping harus mencakup paling tidak empat aspek: SDM, instrumen, kompetensi, dan jejaring. Laboratorium mungkin memiliki alat yang sama dengan laboratorium lain, tetapi memiliki kompetensi SDM yang berbeda. Sebaliknya, laboratorium dengan instrumen yang relatif terbatas dapat memiliki keunggulan karena memiliki peneliti dengan kompetensi khusus. Karena itu, pemetaan kapasitas harus menjadi dasar untuk menentukan positioning laboratorium. Tidak semua laboratorium harus menjadi laboratorium untuk semua hal. Lebih baik sebuah laboratorium memiliki kompetensi unggulan yang jelas, kemudian menjadi pusat kolaborasi untuk bidang tersebut.
Baca juga: Apa itu Teknologi Laboratorium Medis?
Apakah Laboratorium Harus Memiliki Business Model?
Pertanyaan ini mungkin terdengar tidak lazim bagi sebagian kalangan akademik. Namun, menurut saya, jawabannya perlu didiskusikan secara terbuka. Laboratorium membutuhkan biaya untuk pemeliharaan alat, kalibrasi, bahan habis pakai, peningkatan kompetensi SDM, sistem informasi, serta pengembangan teknologi. Jika seluruh pembiayaan hanya bergantung pada anggaran rutin, keberlanjutan laboratorium dapat menjadi persoalan. Karena itu, pengembangan business model laboratorium universitas perlu dipertimbangkan.
Bukan berarti laboratorium harus berubah menjadi institusi komersial semata. Justru yang diperlukan adalah model keberlanjutan yang memungkinkan laboratorium memberikan layanan penelitian, pengujian, pelatihan, kerja sama industri, contract research, serta berbagai bentuk layanan akademik dan profesional secara terukur. Pendapatan yang diperoleh kemudian dapat dikembalikan untuk meningkatkan kapasitas laboratorium.
Dengan model seperti ini, terbentuk sebuah siklus: kapasitas → layanan → pendapatan → reinvestasi → peningkatan kapasitas.
Dari Research Excellence Menuju Value Creation
Bagi saya, inti dari Future University Laboratory bukanlah seberapa banyak alat yang dimiliki universitas. Ukuran yang lebih penting adalah apa yang dapat dihasilkan dari laboratorium tersebut. Apakah menghasilkan data penelitian yang berkualitas? Apakah mempercepat publikasi? Apakah menghasilkan inovasi? Apakah menghasilkan paten? Apakah mampu melahirkan prototipe? Apakah menyelesaikan persoalan masyarakat? Apakah menarik kolaborasi industri? Apakah menjadi tempat mahasiswa belajar melakukan penelitian dengan standar internasional? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa kita dari konsep research excellence menuju value creation. Inilah perubahan paradigma yang menurut saya perlu dibangun.
Baca juga: Mengapa Wajib Memperhatikan Keselamatan Kerja di Laboratorium Medis?
Human Cancer Research Cluster dan Tantangan Kolaborasi
Sebagai peneliti senior di Human Cancer Research Cluster IMERI UI dalam workshop tersebut, saya melihat bahwa tantangan tersebut sangat relevan dengan pengembangan riset biomedik dan kanker. Penelitian kanker saat ini semakin kompleks. Pemahaman terhadap kanker tidak lagi cukup hanya melalui pemeriksaan morfologi. Kita membutuhkan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan patologi, imunologi, biologi molekuler, genetika, omics, pencitraan, bioinformatika, kecerdasan artifisial, hingga data klinis. Karena itu, laboratorium penelitian kanker di masa depan harus mampu menjadi hub kolaborasi multidisiplin. Tidak semua fasilitas harus berada dalam satu ruangan atau satu institusi. Yang jauh lebih penting adalah adanya sistem yang memungkinkan kompetensi dan fasilitas tersebut terhubung. Di sinilah konsep cluster, shared facility, dan digital laboratory menjadi sangat strategis.
Saatnya Membuat Roadmap Laboratorium
Workshop tersebut akhirnya bermuara pada satu hal yang sangat penting: tindak lanjut.
Gagasan yang baik tidak cukup hanya didiskusikan dalam seminar atau workshop.
Setiap laboratorium perlu memiliki roadmap yang menjawab setidaknya lima pertanyaan:
- Di mana posisi laboratorium kita saat ini?
- Apa kekuatan dan keterbatasannya?
- Ke mana laboratorium akan dikembangkan dalam 3–5 tahun ke depan?
- Apa sumber daya yang diperlukan?
- Indikator keberhasilannya apa?
Dengan roadmap tersebut, pengembangan laboratorium menjadi lebih terarah dan dapat dievaluasi secara periodik.
Baca juga: Laboratorium Lingkungan dan Pentingnya Konservasi Alam
Laboratorium adalah Investasi Masa Depan
Pada akhirnya, saya melihat laboratorium bukan sekadar ruangan dengan instrumen mahal. Laboratorium adalah investasi universitas terhadap masa depan ilmu pengetahuan. Jika dikelola dengan baik, laboratorium dapat menjadi tempat lahirnya pengetahuan, inovasi, teknologi, kolaborasi, dan solusi bagi masyarakat. Sebaliknya, jika laboratorium hanya dipandang sebagai proyek pengadaan alat, maka kita berisiko memiliki banyak instrumen tetapi belum tentu memiliki ekosistem penelitian yang kuat. Karena itu, transformasi laboratorium universitas perlu dimulai dari perubahan cara berpikir. Dari “berapa banyak alat yang kita punya?” menjadi “berapa besar nilai yang dapat kita hasilkan?” Dari “laboratorium sebagai fasilitas” menjadi “laboratorium sebagai strategic asset universitas.” Dan dari “penelitian untuk publikasi” menuju “penelitian yang menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan dampak.” Menurut saya, di situlah sesungguhnya makna Future University Laboratory.
Penulis: Prof. Dr. Dr. Drs. H. Kusmardi, M.S., CIRR
Guru Besar Departemen Patologi Anatomik FKUI, Human Cancer Research Cluster IMERI UI, Drug Development Research Cluster IMERI, Kelompok Riset Patobiologi UI.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














