Dari Laboratorium ke Antariksa: Ketika Gaya Sentrifugal Menjadi Nyata

Gaya Sentrifugal
Gaya Sentrifugal (Sumber: MMI)

Ketika Project Hail Mary ramai dibicarakan, yang paling banyak diperbincangkan adalah ceritanya yang menegangkan, akting Ryan Gosling, atau bagaimana film itu menggambarkan kesepian di luar angkasa. Masih sedikit yang membicarakan gaya sentrifugal yang membuat Ryland Grace bisa berdiri di dalam pesawatnya, padahal itu adalah salah satu detail sains paling jujur yang ditampilkan film tersebut.

Kita memang begitu. Kita menikmati hasilnya, tapi tidak pernah benar-benar ingin tahu prosesnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sentrifugasi adalah salah satu teknologi paling fundamental dalam industri pangan. Ia bekerja dengan memutar campuran pada kecepatan tinggi sehingga komponen-komponennya terpisah berdasarkan perbedaan densitas.

Contohnya, susu yang kita minum setiap pagi melewati proses ini. Minyak goreng yang kita pakai juga. Bahkan gula pasir yang kita sendokkan ke teh hangat kita, di suatu titik dalam rantai produksinya, pernah berputar di dalam mesin sentrifugasi.

Namun coba tanyakan ke sepuluh orang awam tentang apa itu sentrifugasi. Kemungkinan besar jawabannya adalah alat di laboratorium sekolah yang hanya dipakai sekali lalu dilupakan.

Di sinilah masalahnya. Bukan karena masyarakat bodoh, tapi karena kita, mereka yang bergelut di bidang sains dan teknologi pangan, berbicara di antara sesama, menggunakan istilah yang hanya dipahami kalangan sendiri, sementara publik terus mengonsumsi produk yang dihasilkan teknologi tersebut tanpa pernah punya gambaran sedikit pun tentang bagaimana ia bekerja.

Literasi sains bukan hanya soal tahu nama-nama unsur atau hafal rumus fisika. Ia juga soal memahami bahwa ada proses panjang dan terukur di balik setiap produk yang masuk ke tubuh kita. Sentrifugasi, sedimentasi, filtrasi, proses-proses ini seharusnya bukan istilah yang hanya dipahami mahasiswa, melainkan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang seharusnya dipahami secara umum, setidaknya dalam bentuk yang paling sederhana.

Yang ironis, justru sebuah film fiksi ilmiah yang melakukannya lebih baik dari banyak kampanye literasi sains yang pernah ada. Project Hail Mary tidak menjelaskan gaya sentrifugal secara eksplisit, ia hanya menunjukkannya, dan membiarkan penonton penasaran. Itu sudah cukup untuk memulai percakapan.

Kita seharusnya bisa melakukan hal yang sama. Penjelasan tentang bagaimana susu segar dipisahkan dari lemaknya tidak harus dimulai dari persamaan Stokes atau diagram alir industri. Ia bisa dimulai dari hal yang sudah ada di kepala orang. Dari film, dari dapur, dari kebiasaan sehari-hari. Dari situ, percakapan bisa tumbuh.

Karena pada akhirnya, masyarakat yang paham proses adalah masyarakat yang lebih kritis terhadap produk yang mereka konsumsi. Itu adalah fondasi kepercayaan yang jauh lebih kuat dari sekadar label “alami” atau “tanpa bahan pengawet” di kemasan.

Kita tidak perlu menunggu film luar angkasa berikutnya untuk mulai bicara soal ini.


Penulis:

  1. Raden Ayu Shafa Nayla Desilva
  2. ⁠Bunga Kayla Defania

Mahasiswa Teknologi Pangan, Universitas Padjadjaran


Dosen Pengampu: Dr. rer. nat. Fetriyuna, S.TP., M.Si.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses