Dusun Kragilan, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, 13 Agustus 2026, MMI —Aktivitas pertanian yang menjadi denyut kehidupan warga Dusun Kragilan selama ini turut menyisakan persoalan yang kerap luput dari perhatian, yaitu limbah sayuran hasil panen maupun sisa tanaman yang dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan. Menjawab persoalan sederhana namun berdampak jangka panjang tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Kelompok 47 mengajak warga untuk mengubah cara pandang terhadap limbah pertanian, dari sekadar sisa yang dibuang menjadi bahan baku pupuk kompos yang bernilai guna bagi keberlangsungan pertanian mereka sendiri.
Latar Belakang
Sebagai kawasan yang sebagian besar warganya menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian dan perkebunan sayur, Dusun Kragilan menghasilkan limbah organik dalam jumlah yang tidak sedikit setiap harinya. Sisa sayuran, daun, batang, hingga bagian tanaman yang tidak terpakai umumnya hanya dibiarkan membusuk atau dibuang tanpa pengolahan lebih lanjut. Padahal, limbah tersebut sesungguhnya menyimpan potensi besar apabila diolah dengan tepat, salah satunya melalui proses pengomposan yang dapat mengubahnya menjadi pupuk organik.
Berangkat dari kondisi tersebut, Mahasiswa KKN UMBY Kelompok 47 memandang perlu adanya edukasi dan pendampingan langsung kepada warga mengenai cara sederhana mengolah limbah sayuran menjadi kompos. Langkah ini dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat, sekaligus sejalan dengan upaya mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan edukasi dan praktik pembuatan pupuk kompos dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UMBY Kelompok 47 dengan melibatkan warga Dusun Kragilan, khususnya Kelompok Wanita Tani (KWT) SRIKANDI Tani. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam mengolah limbah sayuran menjadi pupuk kompos yang bermanfaat dan bernilai guna.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memperkenalkan konsep dasar pengomposan, mulai dari jenis limbah sayuran yang dapat dimanfaatkan, bahan tambahan yang diperlukan, hingga tahapan pengolahan limbah hingga menjadi kompos yang siap digunakan. Metode yang diterapkan adalah fermentasi dengan memanfaatkan limbah sayuran sebagai bahan utama yang dicampur dengan bekatul, EM4 Pertanian, molase atau tetes tebu, ragi tempe, terasi, dan air. Melalui kegiatan ini, diharapkan warga dapat memanfaatkan limbah organik secara lebih optimal sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Ternyata Limbah Jeroan Ikan dapat Diolah menjadi Pupuk Cair Organik (POC)
Rangkaian kegiatan berlangsung dalam bentuk penyampaian materi secara langsung yang kemudian dilanjutkan dengan praktik bersama, sehingga warga tidak hanya memperoleh pemahaman secara teori, tetapi juga turut serta secara langsung dalam setiap tahapan proses pembuatan kompos. Pendekatan partisipatif ini dipilih agar pengetahuan yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan secara mandiri oleh warga setelah kegiatan KKN berakhir.
Kegiatan ini diikuti oleh beberapa anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) SRIKANDI TANI dan berlangsung di Poskoh KKN. Vernanda Ridho Amrulloh selaku Ketua Kelompok KKN UMBY Kelompok 47 mengatakan, “Limbah sayuran selama ini sebagian besar dimanfaatkan sebagai pakan ternak, namun hanya bagian yang masih dalam kondisi baik yang dapat digunakan. Sementara itu, sisa hasil panen yang tidak layak dijadikan pakan ternak, seperti daun yang berlubang, sayuran yang busuk, atau hasil panen yang tidak memenuhi standar untuk dijual, umumnya dibuang begitu saja. Oleh karena itu, pemanfaatan limbah organik tersebut dapat dioptimalkan melalui pengolahan yang tepat, salah satunya dengan mengolahnya menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi pertanian dan lingkungan.”
Tujuan dan Manfaat
Kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai bentuk pelaksanaan program kerja KKN, melainkan sebagai upaya bersama untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemanfaatan limbah pertanian secara bijak. Melalui edukasi dan praktik pembuatan kompos ini, mahasiswa berharap warga dapat lebih memahami bahwa limbah sayuran yang selama ini dianggap kurang dimanfaatkan sesungguhnya dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman.
Baca Juga: Proses Pangan dengan Teknologi Non-Termal: Solusi Pengolahan Aman dan Berkualitas Tinggi
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengurangi volume limbah organik yang dihasilkan dari aktivitas pertanian sehari-hari, sekaligus mengenalkan alternatif pupuk yang dapat dibuat secara mandiri dari bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Dengan pengetahuan tersebut, warga diharapkan dapat memanfaatkan kompos hasil olahan sendiri untuk mendukung pertumbuhan tanaman sayuran yang mereka budidayakan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang selama ini banyak digunakan.
Lebih jauh, langkah kecil ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di Dusun Kragilan, sejalan dengan semangat menjaga kelestarian lingkungan tanpa mengesampingkan produktivitas hasil pertanian warga.
Respon dan Partisipasi Masyarakat
Kegiatan ini mendapat sambutan yang baik dari warga Dusun Kragilan. Sebagian besar peserta yang hadir menunjukkan antusiasme dalam mengikuti setiap tahapan kegiatan, mulai dari sesi penyampaian materi hingga praktik langsung pembuatan kompos. Keterlibatan aktif warga dalam proses ini menegaskan bahwa program yang dijalankan bukan sekadar kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa untuk masyarakat, melainkan sebuah proses belajar bersama, di mana mahasiswa berperan sebagai pendamping dan penggerak, sementara warga menjadi bagian aktif yang turut menentukan keberhasilan penerapan ilmu yang diperoleh.
Mba nanik, salah satu anggota KWT Srikandi Tani Warga Dusun Kragilan yang turut mengikuti kegiatan mengatakan, “limbah sayuran kubis lumayan banyak disini, jadi adanya praktek pembuatan kompos ini cukup membantu dalam pengolahan limbah. Kalau bisa di kerjakan pengolahan limbah sayuran malah lebih bagus manfaatnya.”
Harapan dan Keberlanjutan Program
Mahasiswa KKN UMBY Kelompok 47 berharap kegiatan ini tidak berhenti sebatas seremoni pelaksanaan program kerja, melainkan dapat terus berlanjut dan dipraktikkan secara mandiri oleh warga Dusun Kragilan meskipun masa KKN telah berakhir. Pengetahuan mengenai pengolahan limbah sayuran menjadi kompos diharapkan dapat menjadi kebiasaan baru yang tertanam dalam keseharian warga dalam mengelola hasil dan sisa pertanian mereka.
Dukungan dari tokoh masyarakat setempat juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan program ini, misalnya melalui pendampingan lanjutan, penyediaan fasilitas pengomposan komunal, atau pengembangan program serupa di masa mendatang. Dengan demikian, manfaat yang dirasakan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi dapat memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan produktivitas pertanian di Dusun Kragilan.
Penutup
Kegiatan edukasi dan praktik pembuatan pupuk kompos dari limbah sayuran yang dilaksanakan oleh Mahasiswa KKN UMBY Kelompok 47 menjadi bukti nyata bahwa kontribusi mahasiswa dalam pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus berwujud besar dan rumit. Langkah sederhana dalam mengolah limbah pertanian ini menyimpan makna yang mendalam bagi upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendukung kesejahteraan warga melalui pertanian yang lebih berkelanjutan.
Melalui semangat kebersamaan antara mahasiswa dan masyarakat, diharapkan kebiasaan mengolah limbah sayuran menjadi kompos dapat terus tumbuh dan berkembang di Dusun Kragilan, sehingga apa yang semula dipandang sebagai sisa dan beban dapat berubah menjadi sumber daya yang mendukung keberlanjutan pertanian serta kesejahteraan warga di masa mendatang.
Penulis:
1. Sofia Yunilia Lelu Beda
2. Vernanda Ridho Amrulloh
3. Kelompok KKN 47 Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta
Dosen Pengampu: Dr. M. Nastain, S.Sos.,I., M.I.Kom.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI

















