Proses pangan saat ini semakin menuntut inovasi yang menjaga kualitas nutrisi sekaligus memperpanjang umur simpan makanan. Teknologi non-termal menjadi solusi unggul untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Berbeda dengan pengolahan termal yang melibatkan suhu tinggi dan dapat merusak komponen sensitif, proses non-termal memanfaatkan perlakuan fisik atau listrik pada suhu mendekati ruang. Hal ini memungkinkan makanan tetap segar dengan tekstur dan rasa alami yang terjaga.
Permintaan konsumen akan makanan sehat, aman, dan berkualitas tinggi mendorong pengembangan teknologi non-termal dalam berbagai jenis produk pangan, mulai dari buah, sayuran, daging, hingga produk susu. Inovasi ini mendukung tren pengolahan pangan modern yang ramah lingkungan.
Baca juga: Kirim Artikel ke Media Mahasiswa Indonesia: 100% Diterbitkan!
1. Tantangan dalam Proses Pengolahan Pangan Termal
Pengolahan pangan tradisional menggunakan panas tinggi untuk pengawetan memang efektif menurunkan beban mikroba, namun menimbulkan perubahan yang tidak diinginkan.
Tekstur, aroma, dan kandungan nutrisi makanan bisa menurun akibat pemanasan yang lama. Selain itu, proses termal dapat menghasilkan senyawa toksik atau karsinogenik yang berpotensi merugikan kesehatan.
Dampak Termal pada Nutrisi dan Sensorik Makanan
Pemanasan makanan dapat menghilangkan vitamin sensitif panas, merusak protein, dan memicu oksidasi lipid. Misalnya, memanggang daging dapat mengurangi lemak jenuh dan meningkatkan kadar asam lemak tak jenuh ganda, membuat produk lebih rentan terhadap oksidasi.
Selain itu, perubahan tekstur akibat panas dapat menurunkan kenikmatan konsumsi. Kualitas sensorik makanan berkurang, dari rasa hingga aroma, sehingga konsumen cenderung mencari alternatif pengolahan pangan yang lebih alami.
Keterbatasan Pengolahan Termal
Proses termal membutuhkan energi tinggi dan dapat menghasilkan makanan bermutu rendah. Bahkan pengolahan makanan seperti pasteurisasi susu atau pemanasan jus bisa menurunkan kandungan nutrisi penting.
Oleh sebab itu, para profesional pangan kini menyoroti teknologi non-termal yang hemat energi, aman, dan tetap mempertahankan kualitas makanan.
2. Teknologi Non-Termal dalam Proses Pangan
Permintaan konsumen akan makanan segar, aman, dan bergizi tinggi mendorong pengembangan teknologi non-termal dalam proses pangan.
Teknologi ini menawarkan metode pengolahan yang tidak bergantung pada panas tinggi sehingga kualitas nutrisi dan sensorik tetap terjaga.
Berbagai inovasi non-termal memungkinkan pengurangan mikroba tanpa menimbulkan kerusakan bahan makanan. Dengan proses yang cepat dan efisien, makanan tetap memiliki rasa, aroma, dan tekstur yang alami.
Selain itu, teknologi ini juga lebih ramah lingkungan dan hemat energi dibandingkan metode termal konvensional.
Pulsed Electric Field (PEF)
Pulsed Electric Field (PEF) menggunakan pulsa listrik pendek untuk menonaktifkan mikroba pada makanan tanpa mengubah sifat fisik dan nutrisi secara signifikan.
Teknologi PEF sudah banyak diterapkan pada jus, susu, telur cair, dan sup. PEF menjaga komponen bioaktif makanan dan membantu mempertahankan kualitas organoleptik. Meski demikian, teknologi ini membutuhkan kondisi tertentu, seperti produk bebas gelembung udara dan konduktivitas listrik yang sesuai, agar perlakuan berhasil.
Selain pengawetan, PEF juga dapat meningkatkan ekstraksi gula dan senyawa bioaktif dari sel tumbuhan, membuatnya berguna untuk produksi minuman dan makanan fungsional.
High Hydrostatic Pressure (HHP)
Teknologi HHP menggunakan tekanan tinggi untuk menonaktifkan mikroba tanpa pemanasan aktif, sehingga kualitas makanan tetap terjaga.
HHP efektif untuk buah olahan, daging, produk susu, dan minuman. Tekanan tinggi menurunkan aktivitas mikroba sambil meminimalkan reaksi kimia yang merugikan. Walau pemanasan pasif terjadi akibat kompresi adiabatik, HHP tetap dikategorikan sebagai proses non-termal karena dampaknya terhadap kualitas makanan jauh lebih minimal dibandingkan pemanasan langsung.
Ultrasonikasi dan Plasma Dingin
Ultrasonikasi memanfaatkan gelombang suara frekuensi tinggi untuk membersihkan makanan dan menonaktifkan mikroba secara fisik. Plasma dingin menghasilkan radikal aktif yang membunuh mikroba pada permukaan makanan tanpa panas berlebih.
Kedua metode ini ideal untuk sayuran segar, buah, dan rempah-rempah. Ultrasonikasi dapat meningkatkan ekstraksi nutrisi, sedangkan plasma dingin efektif untuk memperpanjang umur simpan makanan sensitif tanpa mengubah warna atau rasa.
Baca juga: Perpindahan Panas pada Proses Penggorengan Minyak Terendam Produk Pangan
3. Keunggulan Teknologi Non-Termal
Teknologi non-termal menawarkan banyak keunggulan dibandingkan proses pengolahan pangan tradisional. Penggunaan metode ini memungkinkan makanan tetap aman dikonsumsi tanpa kehilangan nilai gizi atau kualitas sensorik.
Selain menjaga kandungan nutrisi, teknologi non-termal juga mendukung efisiensi energi dan ramah lingkungan. Inovasi ini memberikan solusi bagi produsen yang ingin memenuhi permintaan konsumen akan makanan segar dan sehat dengan umur simpan lebih panjang.
Menjaga Nutrisi dan Komponen Bioaktif
Proses non-termal mampu mempertahankan vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif yang sensitif terhadap panas. Nutrisi seperti vitamin C dan enzim aktif tetap utuh sehingga nilai gizi makanan tidak berkurang.
PEF dan HHP, misalnya, menonaktifkan mikroba tanpa menyebabkan degradasi nutrisi signifikan. Dengan cara ini, makanan olahan tetap mendukung kesehatan konsumen, sekaligus memenuhi standar gizi modern.
Mempertahankan Kualitas Sensorik
Tekstur, aroma, dan rasa makanan tetap alami berkat proses non-termal. Pengolahan ini mencegah perubahan warna, pengerasan, atau kehilangan kelembapan yang biasanya terjadi pada metode termal.
Makanan yang diproses dengan PEF atau HHP memiliki sensasi mulut yang lebih baik, rasa tetap segar, dan aroma alami bertahan lebih lama. Hal ini menjadi daya tarik bagi konsumen yang mengutamakan pengalaman sensorik saat memilih produk.
Memperpanjang Umur Simpan Makanan
Mikroba penyebab kerusakan makanan dapat dikendalikan tanpa pemanasan ekstrem, sehingga produk tetap aman lebih lama.
HHP dan PEF telah terbukti meningkatkan umur simpan jus, susu, daging, dan sayuran olahan. Produk dapat disimpan lebih lama di lemari pendingin, mengurangi pemborosan, dan mendukung rantai pasok pangan yang efisien.
Baca juga: “Retort” Metode Sterilisasi Pangan Komersil
4. Jenis Proses Pengolahan Pangan Non-Termal Lainnya
Selain PEF dan HHP, berbagai teknologi non-termal lain juga banyak diterapkan dalam pengolahan pangan modern. Setiap teknologi memiliki mekanisme unik untuk menonaktifkan mikroba, menjaga nutrisi, dan memperpanjang umur simpan.
Penggunaan teknologi ini semakin berkembang karena mampu memenuhi kebutuhan konsumen akan makanan segar, aman, dan berkualitas tinggi tanpa energi tinggi.
Ultrasonikasi dalam Pengolahan Pangan
Ultrasonikasi memanfaatkan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan kavitasi di cairan makanan. Kavitasi ini menghancurkan sel mikroba dan meningkatkan ekstraksi senyawa bioaktif dari bahan pangan.
Metode ini cocok untuk jus buah, sayuran, dan produk olahan nabati. Ultrasonikasi meningkatkan kecerahan, homogenitas, dan mempertahankan rasa alami produk, sehingga kualitas sensorik tetap tinggi.
Microwave Non-Termal
Microwave non-termal menggunakan gelombang elektromagnetik untuk menonaktifkan mikroba tanpa memanaskan makanan secara signifikan. Teknologi ini mampu menjaga tekstur dan kandungan air makanan tetap optimal.
Metode ini lebih cepat daripada pemanasan tradisional dan mengurangi kerusakan nutrisi. Produk seperti sayuran beku, sup cair, dan minuman siap saji dapat diproses lebih efisien dengan microwave non-termal.
Teknologi Superkritis
Teknologi superkritis menggunakan fluida superkritis, seperti karbon dioksida (CO₂), untuk mengekstraksi komponen tertentu atau menonaktifkan mikroba.
Metode ini ramah lingkungan karena menggunakan CO₂ sebagai agen pengolahan dan tidak meninggalkan residu berbahaya. Superkritis cocok untuk pengolahan rempah, ekstraksi minyak nabati, dan pembuatan minuman fungsional.
Baca juga: Self Heating Packaging: Solusi Kemasan Pangan Praktis dan Efisien untuk Korban Bencana Alam
5. Penerapan dan Manfaat Teknologi Non-Termal dalam Industri Pangan
Teknologi non-termal tidak hanya inovatif tetapi juga praktis untuk diterapkan di berbagai produk pangan. Produsen dapat meningkatkan kualitas, umur simpan, dan keamanan makanan tanpa energi tinggi.
Manfaat ini semakin penting karena konsumen modern mengutamakan makanan sehat, segar, dan alami. Penerapan teknologi non-termal membantu industri memenuhi standar gizi dan regulasi keamanan pangan.
Penerapan pada Jus dan Minuman
PEF dan ultrasonikasi telah banyak digunakan untuk pasteurisasi jus buah dan sayuran. Produk tetap segar dengan rasa dan warna alami.
Selain itu, teknologi ini menjaga kandungan vitamin dan antioksidan. Umur simpan jus meningkat tanpa penambahan bahan pengawet, membuat produk lebih aman dan diminati pasar.
Penerapan pada Daging dan Produk Hewani
HHP efektif menonaktifkan mikroba pada daging segar, daging olahan, dan produk seafood. Tekstur dan kelembapan daging tetap terjaga.
Metode ini mengurangi risiko kerusakan pangan, memperpanjang umur simpan, dan menjaga kualitas nutrisi. Daging yang diproses dengan HHP tetap lezat dan aman dikonsumsi.
Penerapan pada Produk Susu dan Olahan Susu
PEF dan HHP digunakan untuk pasteurisasi susu cair, yogurt, dan produk olahan susu lain. Kualitas protein, vitamin, dan rasa susu tetap terjaga.
Teknologi ini memungkinkan susu siap minum dengan umur simpan lebih panjang. Produk tetap aman dari mikroba patogen tanpa penambahan zat kimia, sehingga sesuai dengan tren konsumsi sehat.
Penerapan pada Sayuran dan Buah Segar
Ultrasonikasi dan plasma dingin memperpanjang umur simpan sayuran dan buah segar. Tekstur, warna, dan nutrisi tetap optimal.
Metode ini efektif menurunkan mikroba permukaan tanpa merusak komponen sensitif. Buah dan sayur tetap segar lebih lama, mendukung rantai pasok dan mengurangi limbah pangan.
Baca juga: Teknologi Sediaan Solid: Tablet dalam Farmasi Modern, Manfaat, Proses, dan Evaluasinya
6. Tantangan dan Masa Depan Teknologi Non-Termal
Meskipun teknologi non-termal menawarkan banyak keuntungan, beberapa tantangan masih perlu diatasi untuk penerapan luas. Produsen harus mempertimbangkan biaya investasi, kemampuan skala produksi, dan kompatibilitas teknologi dengan berbagai jenis makanan.
Di sisi lain, riset terus berkembang untuk mengoptimalkan metode non-termal agar lebih efisien, ekonomis, dan dapat diterapkan secara global. Masa depan teknologi ini menjanjikan inovasi yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi konsumen.
Keterbatasan Teknologi Non-Termal
Beberapa teknologi non-termal memiliki batasan tertentu. PEF misalnya, membutuhkan produk bebas gelembung udara dan konduktivitas listrik yang sesuai untuk efisiensi pengolahan.
HHP memerlukan peralatan bertekanan tinggi yang mahal. Ultrasonikasi dan plasma dingin cocok untuk permukaan makanan, tetapi kurang efektif untuk produk padat dengan ukuran besar. Produsen harus menyesuaikan teknologi dengan karakteristik produk.
Biaya dan Investasi Awal
Peralatan non-termal, terutama HHP dan PEF, membutuhkan investasi awal yang cukup tinggi. Hal ini menjadi hambatan bagi usaha kecil dan menengah.
Meski demikian, biaya operasional jangka panjang lebih rendah dibandingkan pemrosesan termal karena hemat energi dan mengurangi kerusakan makanan. Investasi awal dapat terbayar melalui peningkatan kualitas produk dan umur simpan yang lebih lama.
Prospek Penelitian dan Inovasi Masa Depan
Riset teknologi non-termal terus berkembang untuk meningkatkan efisiensi dan memperluas aplikasi. Kombinasi teknologi seperti PEF dan ultrasonikasi sedang dieksplorasi untuk meningkatkan keamanan dan kualitas pangan.
Selain itu, inovasi superkritis dan plasma suhu rendah menjanjikan metode pengolahan ramah lingkungan. Masa depan proses pangan non-termal akan semakin aman, hemat energi, dan sesuai dengan tren konsumsi sehat global.
Kesimpulan
Proses pangan non-termal menghadirkan solusi inovatif untuk pengolahan makanan yang aman, berkualitas, dan ramah lingkungan. Teknologi ini menjaga nutrisi, tekstur, dan aroma makanan lebih baik dibandingkan metode termal tradisional.
Berbagai teknologi seperti Pulsed Electric Field (PEF), High Hydrostatic Pressure (HHP), ultrasonikasi, microwave non-termal, dan superkritis telah terbukti efektif untuk berbagai produk pangan, mulai dari jus, susu, daging, hingga sayuran dan buah. Penggunaan teknologi ini membantu produsen memenuhi permintaan konsumen akan makanan segar, bergizi, dan memiliki umur simpan lebih lama.
Meskipun ada tantangan terkait biaya, investasi, dan batasan teknis, prospek riset dan inovasi di bidang non-termal sangat menjanjikan. Kombinasi teknologi dan optimisasi proses akan meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keberlanjutan industri pangan di masa depan. Pengolahan pangan non-termal menjadi kunci untuk menciptakan makanan berkualitas tinggi yang memenuhi standar kesehatan global.
Penulis: Nathan Hanadi Wisnumoerti (F2501212047)
Mahasiswa Magister Ilmu Pangan IPB University
Editor: Rahmat Al Kafi
Referensi
Jadhav, H. B., Annapure, U. S., & Deshmukh, R. R. (2021). Non-thermal Technologies for Food Processing. Frontiers in Nutrition, 8: 657090.
Kim, Y., Kim, E.-Y., Son, H. J., Lee, J.-j., Choi, Y.-h., & Choi, Y.-h. (2017). Identification of a key umami-active fraction in modernized Korean soy sauce and the impact thereof on bitter-masking. Food Chemistry, 233 (2017) 256–262.
Syed, Q. A., Ishaq, A., Rahman, U. U., Aslam, S., & Shukat, R. (2017). Pulsed electric field technology in food preservation: a review . Journal of Nutritional Health & Food Engineering, 6(5):168-172.
Yamamoto, K. (2017). Food processing by high hydrostatic pressure. Bioscience, Biotechnology, and Biochemistry, 81(3):672–679.
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













