Devide et Impera; Islam Tersekat, Indonesia Darurat

Devide et impera
Efendi Syafruddin (Ketua HmI Cabang Pinrang Periode 2017-2018)

Strategi politik “devide et impera” masih tetap digulirkan secara masif demi kekuasaan yang haus akan penghormatan. Konflik dibangun secara terstruktur sebagai penguatan anti persaudaraan dan memecah belah kebersamaan.

Tidak peduli kawan atau lawan. Siapapun yang berpotensi menjadi penghalang, mereka harus siap disingkirkan, menjadi tumbal keikutsertaan atas kenikmatan pemuja kekuasaan, jabatan, dan kekayaan.

Baca juga: Pembaharuan Pemikiran Islam: Mengandeng Isu Lingkungan

Bacaan Lainnya
DONASI

Apa itu devide et impera? sederhananya, politik pecah belah atau politik adu domba. Devide et impera merupakan perpaduan strategi politik, militer, ekonomi guna merebut ataupun mempertahankan kekuasaan.

Politik Pecah Belah

Politik pecah belah atau politik adu domba, berarti adanya upaya menciptakan perpecahan terhadap kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil agar lebih mudah ditundukkan. Begitupun dengan menciptakan perselisihan dan mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar.

Masih sangat jelas dalam ingatan kita kasus intimidasi yang dialami seorang ulama di Bali beberapa waktu lalu. Dilakukan oleh sejumlah ormas yang berasal dari kelompok minoritas di negeri tercinta ini, Indonesia. Bertingkah seolah-olah paling NKRI, paling Pancasilais. Teriak toleran tapi realitasnya malah intoleran.

Sembunyi di balik kalimat NKRI harga mati atau bahkan berdalih kebebasan berfikir, bersikap dan dan berbuat. Teorinya toleran tapi perlakuannya sangat intoleran.

Baca juga: Bagaimana Seharusnya Mahasiswa?

Bagaimana dengan serangan yang ditujukan bagi para penggiat media sosial? Upaya pembodohan terhadap umat Islam juga semakin liar bebas bernyanyi dengan nada-nada sekuralisme. Peran agama dianggap tidak perlu dalam kehidupan sosial, memisahkan urusan dunia dari agama. Sekulerisme sendiri menentang suatu agama diberi hak istimewa sebagai suatu pengambil keputusan bernegara.

Ragu pada Hadits Nabi

Ustadz-ustadz minim wawasan keislaman dan keIndonesiaan juga bermunculan menggiring opini-opini yang sangat berbahaya. Bahkan untuk mendukung argumentasinya, ada yang dengan lantang tanpa ragu menuduh Hadits tidak bisa dijadikan pegangan karena kemunculannya 200 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Parahnya lagi, mencoba menutupi kebodohannya sendiri dengan mengacaukan logika umat muslim ala kaum orientalis.

Beberapa kali Islam juga dihadirkan sebagai sumber dari segala sumber kegaduhan bangsa ini. Islam coba dibenturkan dengan Islam yang lain. Sesat menyesatkan bahkan saling mengkafirkan. Misalnya saja masalah yang muncul karena obsesi menghadirkan pemimpin yang benar-benar hebat untuk mewujudkan kesejahteraan yang sudah menjadi fenomena universal.

Baca juga: Membumikan Islam Damai

Setiap gerakan-gerakan Muslim di Indonesia juga didramatisir sedemikian rupa oleh para pembeci bersama dengan mereka yang merasa paling benar. Tuduhan-tuduhan kemudian dilontarkan. Gerakan-gerakan Muslim dikatakan politik yang berbahaya, anti Pancasila, anti NKRI, meskipun gerakan tersebut bagian daripada dukungan terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peristiwa-peristiwa tragis seperti ini kemungkinan menjadi hal yang tidak lagi dianggap penting di masyarakat. Dipertontonkan terus menerus dan berlangsung secara liar tidak terkendali. Beragam reaksi dari berbagai kelompok menjadi perdebatan di media cetak, televisi, hingga media sosial berbasis internet. komentar, pujian, kritik, sampai hujatan bermunculan dari berbagai mulut dan tulisan.

Apakah ini untuk Penegasan Eksistensi?

Apakah ini hanya sekedar kebutuhan penegasan eksistensi saja atau memang ada upaya memperkeruh suasana, memprovokasi, menjatuhkan kewibawaan Islam untuk memecah belah NKRI ?

Belum lagi mahasiswa dan pemuda yang disebut sebagai generasi penerus bangsa, yang merupakan sumber daya manusia pembangun. Intelektualitas dan progesifitas mereka saat ini mengalami degradasi.

Sangat berbeda dengan generasi terdahulu, baik dari cara berpikir, pergaulan, begitupun dengan cara menyelesaikan masalah. Pemuda zaman sekarang kini terkesan apatis terhadap masalah-masalah sosial di lingkungannya. Pemuda seakan-akan kehilangan identitasnya.

Baca juga: Menyelesaikan Konflik Secara Damai

Solidnya orang-orang Islam di Indonesia sebagai pemilik saham terbesar atas bangsa ini, tentu dianggap sebagai pengganggu. Tidak heran jika umat muslim hari ini coba dibenturkan satu sama lain dengan berbagai macam tuduhan keji.

Solidaritas Umat Muslim sudah menciptakan kewaspadaan dan kecemasan bagi orang-orang yang tidak mengingikannya karena dianggap sangat berbahaya terhadap kepentingan yang sudah diatur sedemikian rapinya.

Hari ini mungkin hanya sebatas tentang radikalisme, intoleransi, anti Pancasila, anti NKRI. Tidak lama lagi isu kriminalisasi juga ikut ambil bagian. Bahkan, isu PKI pun segera dimekarkan kembali.

Kita membutuhkan persiapan dan kesiapan bagaimana Indonesia ke depan. Diperlukan sebuah kesadaran, semangat juang akan keutuhan NKRI itu sendiri untuk membendung pemikiran-pemikiran destruktif yang kini mulai merajalela.

Efendi Syafruddin
Ketua HmI Cabang Pinrang Periode 2017-2018

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

1 Komentar

Komentar ditutup.