Upaya Mengembangkan Kepribadian Guru yang Sehat di Masa Depan

Guru
Sumber: istockphoto, Karya: Drazen_.

Kualitas hasil pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru, karena seorang guru dalam proses belajar mengajar tetap memegang peran penting, posisi guru dalam proses belajar mengajar belum dapat digantikan dengan alat atau teknologi, teknologi hanyalah alat bantu dalam proses belajar mengajar.

Oleh karena itu dalam proses belajar mengajar lebih diutamakan unsur manusiawinya seperti sikap, nilai, perasaan, motivasi, kepribadian, karakter, kebiasaan yang mendukung dan berharap dilaksanakan oleh siswa setelah proses belajar mengajar selesai.

Kepribadian guru akan mempengaruhi perilaku murid-murid mereka, kemampuan guru untuk membangun hubungan yang sehat dengan murid-murid mereka, gaya mengajar mereka, dan persepsi-persepsi dan pengharapan mereka tentang diri mereka sendiri sebagai guru, dan harapan dari murid-murid sebagai orang yang sedang belajar.

Bacaan Lainnya
DONASI

Pengajaran yang berhasil oleh guru diukur dari prestasi murid oleh masyarakat, oleh karena itu diperlukan guru-guru yang mampu membangun hubungan manusiawi yang memuaskan dan menciptakan suatu etos ruang kelas yang hangat, mendukung, dan mampu menerima murid-murid dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sikap guru dalam menciptakan suasana yang hangat, mendukung, komunikasi antar pribadi yang lancar akan memudahkan dalam mengenali siswanya.

Guru-guru harus mampu mengubah konsep diri mereka sebelum mereka dapat menimbulkan perubahan untuk keadaan yang lebih baik dalam konsep diri murid-murid mereka.

Di dalam menerima diri mereka sendiri guru-guru akan lebih hangat dan mampu menerima keadaan murid, dan suasana yang mendukung, menyenangkan, agar dapat menghasilkan yang terbaik dari murid-murid mereka.

Artinya kualitas dari hubungan antara guru dengan muridnya sangat penting, kondisi ini dapat tercipta apabila didukung oleh kepribadian guru yang menyenangkan (Nursyamsi, 2014).

Untuk mendukung keberhasilan guru dalam mendidik, maka ia harus mampu melaksanakan inspiring teaching, yaitu guru yang melalui kegiatan mengajarnya mampu mengilhami murid-muridnya.

Melalui kegiatan mengajar yang memberikan ilham ini guru yang baik adalah guru yang mampu menghidupkan gagasan-gagasan yang besar, keinginan yang besar pada murid-muridnya.

Melalui kegiatan mengajar yang memberikan ilham guru yang baik adalah guru yang mampu menghidupkan gagasan-gagasan yang besar, keinginan yang besar pada peserta didiknya.

Guru yang mempunyai kharisma di depan murid dan mampu menampilkan “manfaat” materi apa pun yang dipelajari untuk memberikan kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia.

Beberapa kompetensi ini harus dikembangkan secara integratif dan terus dikembangkan. Untuk kepentingan ini guru harus menyisihkan waktu untuk mencerna pengalamannya kemudian memperluas pengetahuan dan keterampilannya secara terus-menerus.

Untuk menjadi guru yang baik, di samping mengajar ia harus merenung, membaca, berlatih, dan melakukan penelitian tindakan kelas untuk perbaikan strategi mengajarnya dan melakukan penelitian atau penelaahan untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya.

Baca Juga: Peran Guru dan Kepala Sekolah pada Kasus Bullying di Sekolah

Agar proses edukatif juga berlangsung terus pada diri guru, maka guru harus menyisihkan waktu. Kalau waktu dihabiskan untuk mengajar dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain setiap hari, dari pagi sampai malam, maka tidak ada kesempatan baginya untuk meningkatkan kemampuannya sebagai pendidik.

Dengan demikian tidak ada harapan baginya untuk meningkatkan mutu pendidikannya dan pendidikan peserta didiknya (Roqib & Nurfuadi, 2023).

Agar guru dalam melaksanakan tugasnya lebih profesional, salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru adalah kompetensi kepribadian. Kepribadian guru akan mempengaruhi kualitas hubungan dengan peserta didik serta cara guru dalam mengajar.

Ada beberapa cara untuk pemahaman dan pengembangan pribadi di dalam jurnal (Nursyamsi, 2014), antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Pembiasaan: melakukan suatu perbuatan atau keterampilan tertentu terus menerus secara konsisten untuk waktu yang cukup lama, sehingga perbuatan dan keterampilan itu benar-benar dikuasai dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan, dalam psikologi proses pembiasaan disebut proses ini akan menjelma menjadi kebiasaan (habit) dan kebiasaan (ability), akhirnya menjadi sifat-sifat pribadi (personal traits) yang terwujud dalam perilaku sehari-hari.
  2. Peneladanan: mencontoh pemikiran, sikap, sifat-sifat dan perilaku orang yang dikagumi dan menjadikan itu sebagai sikap, sifat dan perilaku pribadi.
  3. Pemahaman, Penghayatan, dan Penerapan: secara sadar berusaha untuk mempelajari dan memahami (nilai-nilai, asas-asas dan perilaku) yang dianggap baik dan bermakna, kemudian berusaha mendalami dan menjiwainya, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Ibadah: ibadah wajib, shalat, puasa, dan membiasakan zikir, serta berbuat kebajikan niat karena Allah, secara sadar ataupun tidak disadari akan mengembangkan kualitas terpuji pada mereka yang melaksanakannya.

Hendaknya guru memiliki karakter yang ideal berdasarkan buku Begini Seharusnya Menjadi Guru di antaranya adalah:

1. Mengikhlaskan ilmu untuk Allah

Ini adalah sebuah perkara agung yang dilalaikan banyak kalangan pengajar dan pendidik, yaitu membangun dan menanamkan prinsip mengikhlaskan ilmu dan amalnya hanya untuk Allah. Ini merupakan perkara yang tidak dipahami banyak orang, karena jauhnya mereka dari manhaj Rabbani.

2. Jujur

Sifat jujur adalah mahkota di atas kepala seorang guru atau pengajar. Jika sifat itu hilang, dia akan kehilangan kepercayaan manusia akan ilmunya dan pengetahuan-pengetahuan yang disampaikan kepada mereka, karena anak didik pada umunya akan menerima setiap yang dikatakan oleh gurunya.

Maka jika para anak didik menemukan kedustaan pengajarnya di sebagian perkara, hal itu secara otomatis kan membias kepadanya, menjadikannya jatuh di mata para anak didiknya. Jujur adalah kunci keselamatan hamba didunia dan akhirat.

Allah telah memuji orang-orang yang berbuat jujur dan memotivasi orang-orang mukmin di antara mereka dengan firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَكُونُوا۟ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (QS. At-Taubah : 119).

Baca Juga: Kriteria Mencari Guru dalam Mempelajari Tasawuf

3. Serasi antara ucapan dan perbuatan

Allah Ta’ala berfirman:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Artinya: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. As-Saff : 3).

Maksudnya, mengapa kalian mengatakan (menyuruh melakukan) kebaikan dan menganjurkannya, dan barangkali kalian memuji diri kalian dengannya, sementara diri kalian tidak melakukannya?

Dan mengapa kalian melarang dari yang buruk, dan barangkali kalian mengatakan diri kalian bersih darinya, sementara kalian terjerumus olehnya dan melakukannya? Apakah sikap yang buruk ini pantas bagi orang-orang beriman?

Atau adakah yang lebih besar daripada kebencian di sisi Allah bahwa hamba mengatakan sesuatu yang tidak diperbuatnya?

Oleh karena itu, seyogyanya bagi orang yang memerintahkan kebaikan agar menjadi orang yang pertama kali atau pelopor untuk bersegera melakukannya, dan orang-orang yang melarang keburukan agar menjadi orang yang paling jauh darinya.

4. Bersikap adil dan tidak berat sebelah

Adil yang diperintahkan Allah mencakup adil di dalam hak-Nya dan adil di dalam hak hamba-hamba-Nya dan hendaklah hamba memperlakukan orang lain dengan penuh keadilan. Demikian juga halnya seorang guru harus berlaku adil terhadap anak didiknya, sesuai dengan hak-hak dari anak didik tersebut.

5. Berakhlak mulia dan terpuji

Tidak diragukan bahwa kata yang baik dan tutur bahasa yang bagus mampu memberikan pengaruh jiwa, mendamaikan hati, serta menghilangkan dengki dan dendam dari dalam dada setiap orang, khususnya para guru atau para pengajar kebaikan.

Demikian juga raut wajah yang tampak dari seorang guru atau pengajar, mampu menciptakan umpan balik positif atau negatif pada siswa, karena wajah yang riang dan berseri merupakan sesuatu yang disenangi dan disukai jiwa.

6. Tawadhu (rendah diri)

Tawadhu adalah akhlak terpuji yang akan menambahkan kehormatan dan wibawa pada pemiliknya, dan barangsiapa beranggapan bahwa tawadhu adalah perangai rendah yang mesti dijauhi dan ditinggalkan, maka dia telah salah dan jauh dari harapan, dan cukuplah bagimu imam orang-orang yang bertakwa yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai contoh.

Tawadhu walaupun salah satu bentuk merendahkan diri, hal itu jika disisi Allah, maka betapa nikmat dan lezatnya, karena ubudiyah tidak akan terealisasi dan tidak akan sempurna kecuali dengan sikap merendahkan diri kepada Allah serta tunduk di hadapan-Nya.

Baca Juga: Guru Tingkatkan Efektivitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Salah Satunya dengan Kegiatan Keagamaan

7. Pemberani

Istilah keberanian yang kita maksud di sini adalah keberanian dalam mendidik, sebagaimana yang diistilahkan banyak kalangan dan tidak perlu ada perdebatan dalam penetapannya.

8. Bercanda bersama anak didiknya

Sudah diketahui bersama bahwa materi pelajaran memiliki ciri yaitu membosankan dalam muatannya, di mana ia mengharuskan konsentrasi pikiran dan hati. Anda akan menemukan siswa menguras seluruh indranya untuk menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.

Walaupun guru memiliki bakat mahir dalam menyampaikan dan bagus dalam menyajikan, otak anak didik tetap saja memiliki kemampuan terbatas dalam menerima materi pelajaran.

Oleh karena itu, seharusnya guru menyelipkan candaan di sela-sela pelajaran demi menghilangkan rasa bosan dan jemu yang menyelimuti suasana kelas akibat tumpukan materi pelajaran yang disuguhkan.

9. Sabar dan menahan emosi

Ini merupakan kedudukan mulia yang tidak akan diraih kecuali oleh orang-orang yang memiliki semangat tinggi dan jiwa yang suci.

Dan marah adalah gelora di jiwa, di mana dalam kondisi tersebut orang yang marah kehilangan keseimbangannya, dan pertimbangan-pertimbangan yang dimilikinya terbalik, sehingga hampir-hampir dia tidak bisa membedakan antara yang hak dan yang batil.

Ia merupakan perangai yang tidak terpuji, kecuali marah yang timbul karena Allah, dan itulah perangai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  beliau tidak akan marah atau membela diri beliau (tidak dihargai), namun beliau marah jika syariat-syariat Allah dilanggar.

10. Menghindari perkataan keji yang tidak pantas

Berkata keji, mencaci, dan merendahkan orang lain merupakan sifat-sifat tercela yang ditentang oleh jiwa, dienggani oleh tabiat, dan dijauhi oleh orang-orang mulia. Guru seharusnya menjadi teladan yang diikuti jejaknya dan dititi jalan hidupnya.

Jika guru berperangai dengan beberapa sifat-sifat ini, maka ini merupakan akhlak yang paling buruk yang dimiliki oleh seorang guru.

Dan jika sifat-sifat ini terkumpul pada seorang guru, maka itu merupakan bencana besar, karena siswa akan terpengaruh dengan gurunya, baik perkara positif ataupun negatif. Jika kondisi guru sudah seperti ini, apa yang diharapkan dari seorang guru dan bagaimana sikap siswanya.

Baca Juga: Peran Guru Penggerak dalam Menyongsong Pendidikan yang Berkualitas

11. Berkonsultasi dengan orang lain

Guru kadang dihadapkan pada masalah-masalah berpolemik dan perkara-perkara rumit yang membingungkannya dan tidak menemukan penyelesaian dan solusinya.

Dan kadang kala guru mengalami kesulitan di dalam memahami permasalahan tertentu, atau mungkin ada pertanyaan dari anak didiknya dan dia tidak menemukan jalan keluar ataupun penafsirannya.

Di sisi lain adakalanya guru menemukan dirinya berada di hadapan sebuah permasalahan pada salah satu anak didiknya, atau sebagian mereka dan guru perlu memutuskannya dan menyelesaikan titik masalahnya.

Di  sini guru menempuh beberapa jalan, di antaranya: berusaha keras mencari penyelesaian permasalahannya atau minta alasan (karena belum bisa mencarikan jalan keluar) dan ini adalah suatu hal yang bagus bagi guru, karena dia tidak menjawabnya tanpa dasar ilmu (Zulkifli, 2021).

Penulis: Nisa Fauziah Syahidah
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani Yogyakarta

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Daftar Pustaka

Nursyamsi, N. (2014). Pengembangan Kepribadian Guru. Al-Ta Lim Journal, 21(1), 32–41. https://doi.org/10.15548/jt.v21i1.70

Roqib, M., & Nurfuadi. (2023). Kepribadian Guru Upaya Mengembangkan Kepribadian Guru Yang Sehat Di Masa Depan. Yogyakarta: CV Cinta Buku. Griya Abimana.

Zulkifli. (2021). Karakter Guru Ideal Dalam Buku Begini Seharusnya Menjadi Guru Karya Fu ’ Ad Bin Abdul Azizi Asy-Syalhub. Jurnal Tarbiya Islamica, 2(1), 1–19. https://journal.iaisambas.ac.id/index.php/TarbiyaIslamica/article/download/530/426/

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.