Cara Mengirim Artikel, Opini, Tulisan dan Berita ke Media Online

Cara Mengirim Artikel, Opini, Tulisan dan Berita ke Media Online 100 Terbit!
Cara Mengirim Artikel, Opini, Tulisan dan Berita ke Media Online 100 Terbit!

Punya tulisan yang sudah selesai tetapi bingung harus mengirimkannya ke mana? Atau mungkin kamu sudah menemukan media yang cocok, tetapi belum tahu bagaimana cara mengirim artikel agar naskah benar-benar sampai ke redaksi?

Mengirim artikel ke media online sebenarnya tidak terlalu rumit. Tantangannya justru terletak pada memilih media yang sesuai, memahami ketentuan redaksi, menyiapkan naskah dengan benar, dan mengikuti prosedur pengiriman yang ditetapkan oleh masing-masing media.

Jenis tulisan yang dapat dikirim juga beragam. Kamu bisa mengirim artikel opini, esai, berita, press release, artikel ilmiah populer, resensi buku, karya sastra, pengalaman pribadi, hingga tulisan mengenai kegiatan kampus.

Setiap media memiliki kebijakan yang berbeda. Ada media yang menerima tulisan melalui email, formulir khusus kontributor, dashboard pengguna, hingga WhatsApp redaksi.

Karena itu, jangan langsung mengirim naskah sebelum memahami prosedurnya.

Artikel ini akan membantumu memahami cara mengirim artikel, opini, tulisan, dan berita ke media online, mulai dari menyiapkan naskah sampai artikel berhasil dipublikasikan.

Bagaimana Cara Mengirim Artikel ke Media Online?

Secara umum, proses mengirim artikel ke media online dapat dilakukan melalui beberapa tahap:

  1. Tentukan jenis tulisan yang ingin dikirim.
  2. Cari media online yang sesuai dengan topik tulisan.
  3. Pelajari syarat dan ketentuan media tersebut.
  4. Siapkan naskah sesuai format yang diminta.
  5. Lengkapi identitas dan biodata penulis.
  6. Kirim artikel melalui saluran resmi redaksi.
  7. Tunggu proses pemeriksaan atau penyuntingan.
  8. Lakukan revisi jika diminta.
  9. Simpan dan bagikan link setelah artikel diterbitkan.

Urutan tersebut terlihat sederhana, tetapi setiap tahap penting. Kesalahan kecil seperti mengirim tulisan ke media yang tidak sesuai atau tidak melengkapi identitas penulis dapat menghambat proses publikasi.

Mari kita bahas satu per satu.

1. Tentukan Jenis Tulisan yang Ingin Kamu Kirim

Langkah pertama adalah mengenali jenis tulisanmu.

Jangan menganggap semua tulisan sebagai “artikel” karena redaksi biasanya membedakan tulisan berdasarkan bentuk dan tujuan penulisannya.

Beberapa jenis tulisan yang umum diterima media online antara lain:

  • Artikel umum;
  • Artikel opini;
  • Esai;
  • Berita;
  • Press release atau rilis berita;
  • Artikel ilmiah populer;
  • Resensi buku;
  • Cerpen dan karya sastra;
  • Artikel pendidikan;
  • Tulisan pengalaman;
  • Laporan kegiatan kampus;
  • Artikel pengabdian masyarakat.

Jenis tulisan akan menentukan media dan rubrik yang paling tepat.

Artikel opini, misalnya, biasanya berisi pandangan atau argumentasi penulis mengenai suatu persoalan. Jika kamu belum terbiasa menulisnya, kamu dapat membaca panduan cara menulis artikel opini yang layak dimuat di media massa cetak dan online.

Sementara itu, tulisan mengenai seminar, kegiatan organisasi, pengabdian masyarakat, wisuda, prestasi mahasiswa, atau kegiatan kampus lainnya dapat disusun dalam bentuk berita atau press release.

Menentukan jenis tulisan sejak awal membuat proses memilih media menjadi jauh lebih mudah.

2. Pilih Media Online yang Sesuai dengan Tulisanmu

Setelah mengetahui jenis tulisan, jangan langsung mengirimkannya ke sembarang media.

Perhatikan karakter pembaca dan jenis konten yang diterbitkan oleh media tersebut.

Jika tulisanmu membahas kehidupan mahasiswa, pendidikan, penelitian, kegiatan kampus, atau gagasan akademik, media yang memiliki pembaca dari kalangan mahasiswa dan akademisi tentu lebih relevan dibandingkan media dengan segmentasi yang sama sekali berbeda.

Cobalah membuka beberapa artikel yang sudah diterbitkan media tujuan.

Perhatikan:

  • topik yang sering dipublikasikan;
  • gaya penulisannya;
  • panjang artikel;
  • penggunaan sumber;
  • struktur tulisan;
  • rubrik yang tersedia; dan
  • siapa penulis atau kontributornya.

Cara sederhana ini membantu kamu mengetahui apakah tulisanmu cocok dengan karakter media tersebut.

Jangan memilih media hanya karena media itu populer. Kesesuaian antara tulisan, rubrik, dan pembaca jauh lebih penting.

Jika kamu bingung memilih media onlinenya, kamu bisa lihat Daftar Media Online yang Menerima Tulisan, Artikel, Opini & Berita

3. Baca Syarat dan Ketentuan Sebelum Mengirim Artikel

Ini salah satu tahapan yang sering dilewatkan penulis.

Setiap media mempunyai kebijakan publikasi sendiri. Karena itu, ketentuan dari satu media tidak otomatis berlaku pada media lainnya.

Sebelum mengirim naskah, periksa apakah media tujuan memberikan informasi mengenai:

  • jenis tulisan yang diterima;
  • panjang tulisan;
  • format file;
  • ketentuan gambar;
  • biodata penulis;
  • aturan orisinalitas;
  • mekanisme pengiriman;
  • proses editorial;
  • waktu penerbitan; dan
  • ketentuan lain setelah artikel diterbitkan.

Ada media yang meminta naskah dikirim melalui email. Ada pula yang menyediakan formulir, akun kontributor, Google Form, atau kontak redaksi.

Ikuti mekanisme yang diminta.

Jika ingin mengirim tulisan ke Media Mahasiswa Indonesia, misalnya, ketentuan lengkapnya tersedia pada halaman Panduan, Syarat dan Ketentuan Publikasi di Media Mahasiswa Indonesia.

Dengan membaca ketentuan terlebih dahulu, kamu tidak perlu menebak-nebak apa yang harus dipersiapkan.

4. Siapkan Naskah Sebelum Dikirim ke Redaksi

Setelah menemukan media yang sesuai, periksa kembali tulisanmu.

Naskah tidak harus sempurna, tetapi sebaiknya sudah cukup rapi sehingga editor dapat memahami gagasan yang ingin disampaikan.

Setidaknya, periksa kembali:

  • judul;
  • struktur tulisan;
  • alur antarparagraf;
  • penggunaan tanda baca;
  • kesalahan ketik;
  • nama orang atau lembaga;
  • data dan fakta;
  • sumber yang digunakan; dan
  • kesesuaian isi dengan judul.

Jika artikel menggunakan subjudul, pastikan pembagiannya membantu pembaca mengikuti pembahasan.

Hindari pula membuat paragraf yang terlalu panjang. Paragraf yang lebih ringkas biasanya lebih nyaman dibaca pada layar ponsel.

Untuk artikel opini, pastikan gagasan utama terlihat jelas. Jangan sampai pembaca selesai membaca tulisan tetapi masih bertanya-tanya mengenai posisi atau argumentasi penulis.

5. Pastikan Artikel Orisinal

Orisinalitas merupakan bagian penting ketika mengirim tulisan ke media.

Jangan mengambil tulisan orang lain lalu mengirimkannya menggunakan nama sendiri.

Jika menggunakan data, teori, pendapat ahli, hasil penelitian, atau informasi dari sumber lain, cantumkan sumber secara wajar sesuai kebutuhan tulisan.

Kamu juga perlu memeriksa kebijakan media mengenai artikel yang sebelumnya pernah diterbitkan.

Sebagian media hanya menerima tulisan yang belum pernah dipublikasikan. Sebagian lainnya mungkin mempunyai kebijakan berbeda.

Karena itu, kembali lagi pada aturan utama: baca ketentuan media tujuan sebelum mengirim naskah.

6. Siapkan Biodata Penulis

Redaksi biasanya membutuhkan identitas penulis sebelum artikel diterbitkan.

Informasi yang diminta dapat berbeda-beda, tetapi umumnya meliputi:

  • nama lengkap;
  • email;
  • nomor kontak WhatsApp (WA);
  • profesi atau status;
  • program studi;
  • perguruan tinggi atau institusi;
  • organisasi, jika relevan; dan
  • foto penulis, jika diperlukan.

Jika artikel ditulis bersama, tuliskan seluruh nama penulis secara jelas.

Jangan menggunakan nama yang berbeda-beda antara naskah, biodata, dan komunikasi dengan redaksi tanpa penjelasan. Hal sederhana seperti ini dapat menimbulkan kebingungan ketika artikel akan diterbitkan.

7. Siapkan Foto atau Gambar Pendukung

Beberapa media meminta penulis menyertakan gambar utama. Media lain memilih menyediakan sendiri gambar untuk artikel yang diterbitkan.

Jika diminta mengirim gambar, pilih visual yang benar-benar berhubungan dengan isi tulisan.

Perhatikan pula kualitas dan hak penggunaan gambar.

Untuk dokumentasi kegiatan, kamu dapat menggunakan foto milik sendiri atau dokumentasi organisasi dengan keterangan yang jelas.

Jangan mengambil sembarang gambar dari internet hanya karena muncul di mesin pencari. Gambar tersebut dapat memiliki hak cipta.

Jika media mempunyai ketentuan ukuran, orientasi, atau rasio tertentu, ikuti ketentuan tersebut.

8. Kirim Artikel Melalui Saluran Resmi Media

Setelah naskah dan kelengkapannya siap, saatnya mengirim artikel.

Periksa halaman kontak, pedoman kontributor, atau halaman pengiriman naskah pada website media tujuan.

Beberapa metode yang umum digunakan adalah:

  • email redaksi;
  • formulir pengiriman artikel;
  • dashboard kontributor;
  • Google Form;
  • Google Docs; atau
  • WhatsApp redaksi.

Gunakan saluran yang memang ditentukan oleh media.

Jika diminta mengirim melalui email, gunakan subjek yang jelas. Misalnya:

Pengiriman Artikel Opini – [Judul Artikel] – [Nama Penulis]

Kemudian tuliskan pengantar singkat yang menjelaskan bahwa kamu ingin mengirim naskah untuk dipertimbangkan redaksi.

Tidak perlu membuat pesan terlalu panjang.

Hal terpenting adalah redaksi dapat mengetahui siapa pengirimnya, jenis tulisan yang dikirim, dan file mana yang harus diperiksa.

9. Periksa Kembali File Sebelum Menekan Tombol Kirim

Kesalahan sederhana sering terjadi pada tahap ini.

Penulis sudah menulis pesan panjang kepada redaksi, tetapi lupa melampirkan artikelnya.

Sebelum mengirim, periksa sekali lagi:

  1. Apakah file artikel sudah terlampir?
  2. Apakah judul file sudah benar?
  3. Apakah biodata sudah disertakan?
  4. Apakah gambar sudah dikirim jika diwajibkan?
  5. Apakah alamat email atau nomor redaksi sudah benar?

Pemeriksaan selama beberapa detik dapat menghindarkanmu dari komunikasi tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan.

10. Tunggu Respons Redaksi

Setelah artikel dikirim, jangan langsung menghubungi redaksi berulang kali.

Media dapat menerima banyak naskah setiap hari. Editor membutuhkan waktu untuk membaca, memeriksa, menyunting, dan menentukan jadwal penerbitan.

Lamanya proses berbeda pada setiap media.

Ada yang memberikan respons dalam hitungan jam atau hari. Ada pula media yang membutuhkan waktu lebih lama karena proses seleksi dan antrean editorial.

Jika media mencantumkan estimasi waktu pemeriksaan, tunggu sampai batas tersebut terlewati sebelum melakukan follow up.

Jika tidak ada informasi mengenai waktu respons, berikan jeda yang wajar sebelum menanyakannya kembali.

11. Lakukan Revisi Jika Diminta Editor

Permintaan revisi bukan berarti tulisanmu buruk.

Editor dapat meminta perubahan karena berbagai alasan, misalnya:

  • judul kurang tepat;
  • pembukaan terlalu panjang;
  • argumentasi belum kuat;
  • data perlu diperjelas;
  • sumber belum lengkap;
  • terdapat kalimat ambigu;
  • struktur tulisan perlu dirapikan; atau
  • tulisan perlu disesuaikan dengan gaya media.

Baca catatan editor dengan teliti.

Jika ada bagian yang tidak kamu pahami, tanyakan secara spesifik. Komunikasi yang jelas akan mempercepat proses penyuntingan.

Editor dan penulis pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama: membuat tulisan menjadi lebih baik sebelum dibaca publik.

12. Periksa Artikel Setelah Diterbitkan

Ketika redaksi mengabarkan bahwa tulisanmu sudah terbit, jangan hanya mengambil link lalu meninggalkannya.

Buka artikel tersebut dan baca kembali.

Periksa:

  • nama penulis;
  • judul;
  • isi tulisan;
  • gambar;
  • caption;
  • tautan;
  • biodata; dan
  • informasi penting lainnya.

Jika menemukan kesalahan, segera sampaikan kepada redaksi secara jelas.

Hindari hanya mengatakan, “Ada yang salah di artikel saya.”

Sebutkan bagian mana yang perlu diperbaiki dan tuliskan versi yang benar. Cara tersebut jauh lebih membantu editor.

Setelah semuanya sesuai, simpan link artikel sebagai bagian dari dokumentasi atau portofolio tulisanmu.

Bagaimana Cara Mengirim Artikel Opini ke Media Online?

Untuk artikel opini, proses pengirimannya pada dasarnya sama. Perbedaannya terletak pada karakter naskah.

Opini sebaiknya mempunyai persoalan yang jelas, argumentasi penulis, dan alasan yang mendukung pandangan tersebut.

Jangan hanya menceritakan sebuah peristiwa lalu menyebutnya opini.

Misalnya kamu ingin membahas biaya pendidikan tinggi. Tulisan tidak cukup hanya menjelaskan bahwa biaya kuliah mahal. Kamu perlu menunjukkan persoalan yang ingin dikritisi, argumentasi, data pendukung jika diperlukan, dan pandangan atau solusi yang kamu tawarkan.

Setelah artikel selesai, cari media yang memang mempunyai rubrik opini dan ikuti prosedur pengirimannya.

Bagaimana Cara Mengirim Berita atau Press Release ke Media Online?

Berita dan press release mempunyai karakter berbeda dengan artikel opini.

Jika kamu mengirim berita kegiatan kampus, organisasi, seminar, kompetisi, pengabdian masyarakat, atau kegiatan lainnya, pastikan informasi dasar sudah lengkap.

Setidaknya jelaskan:

  • apa kegiatannya;
  • siapa yang terlibat;
  • kapan dilaksanakan;
  • di mana berlangsung;
  • mengapa kegiatan dilakukan; dan
  • bagaimana kegiatan berlangsung.

Lengkapi dengan dokumentasi foto yang relevan.

Nama narasumber, jabatan, nama organisasi, nama kampus, lokasi, dan tanggal juga harus diperiksa dengan teliti karena kesalahan pada informasi tersebut dapat memengaruhi akurasi berita.

Jika kamu ingin mempelajari cara membuat berita online, kamu bisa membaca artikel Panduan Lengkap Cara Menulis Press Release yang SEO-Friendly dan Disukai Media

Apakah Mengirim Artikel ke Media Online Harus Membayar?

Tidak selalu.

Setiap media memiliki model publikasi yang berbeda.

Ada media yang menerima artikel secara gratis melalui proses seleksi. Ada media yang memberikan honor kepada penulis. Ada pula platform publikasi yang mengenakan biaya untuk layanan tertentu, proses editorial, atau penerbitan.

Karena modelnya berbeda-beda, jangan berasumsi semua media mempunyai sistem yang sama.

Periksa ketentuan sebelum mengirim tulisan.

Jika ingin memahami persoalan ini lebih jauh, baca Harga dan Biaya Publikasi Media Online: Panduan Lengkap Terbaru.

Apakah Artikel yang Dikirim Pasti Diterbitkan?

Belum tentu.

Pada media yang menggunakan sistem seleksi editorial, keputusan penerbitan berada di tangan redaksi.

Artikel dapat diterima, diminta untuk direvisi, tidak mendapatkan respons, atau ditolak.

Penyebabnya juga tidak selalu berkaitan dengan kualitas tulisan. Naskah mungkin tidak sesuai dengan rubrik, topiknya sudah terlalu sering dibahas, momentum publikasinya sudah lewat, atau redaksi mempunyai pertimbangan editorial lainnya.

Sementara itu, ada pula platform publikasi yang mempunyai mekanisme berbeda dan memberikan kepastian penerbitan setelah penulis memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Karena itu, pahami model media yang kamu pilih sejak awal.

Ingin Mengirim Artikel ke Media Mahasiswa Indonesia?

 

 

Jika tujuanmu secara khusus adalah menerbitkan tulisan di Media Mahasiswa Indonesia, kamu tidak perlu mengikuti seluruh penjelasan umum di atas satu per satu.

Media Mahasiswa Indonesia memiliki mekanisme publikasi tersendiri untuk artikel, opini, esai, berita, artikel ilmiah, resensi, karya sastra, tulisan kegiatan kampus, dan berbagai jenis tulisan lainnya.

Panduan khususnya sudah kami pisahkan agar informasi mengenai proses pengiriman, kontak redaksi, dan tahapan publikasi tidak bercampur dengan panduan umum pada artikel ini.

Silakan buka halaman Kirim Artikel ke Media Mahasiswa Indonesia untuk mengetahui cara mengirim naskah dan langkah yang harus dilakukan.

Sementara itu, informasi yang lebih rinci mengenai format naskah, gambar, identitas penulis, proses editorial, dan ketentuan publikasi tersedia pada Panduan, Syarat dan Ketentuan Publikasi di Media Mahasiswa Indonesia.

Dengan pemisahan ini, kamu dapat memilih informasi sesuai kebutuhan: artikel yang sedang kamu baca menjelaskan cara mengirim tulisan ke media online secara umum, sedangkan halaman Kirim Artikel menjelaskan proses publikasi khusus di Media Mahasiswa Indonesia.

Kesimpulan

Cara mengirim artikel ke media online dimulai jauh sebelum kamu menekan tombol kirim.

Kamu perlu mengetahui jenis tulisan, memilih media yang sesuai, membaca ketentuan, menyiapkan naskah, melengkapi biodata, dan mengirimkannya melalui saluran resmi redaksi.

Setelah itu, beri kesempatan kepada editor untuk memeriksa naskah. Jika diminta melakukan revisi, gunakan kesempatan tersebut untuk memperbaiki tulisan.

Jangan berkecil hati jika tulisan belum diterbitkan oleh media pertama yang kamu tuju. Menulis dan mengirim naskah ke redaksi juga merupakan proses belajar memahami bagaimana sebuah tulisan dipersiapkan untuk pembaca yang lebih luas.

Jika kamu sudah mempunyai naskah dan ingin mempublikasikannya secara khusus di Media Mahasiswa Indonesia, lanjutkan ke halaman Kirim Artikel ke Media Mahasiswa Indonesia untuk mengikuti proses publikasinya.

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait