Retaknya Estetika Humanisme: Menelusuri Kasus KDRT Pematang Siantar melalui Kacamata Anger Management dan Conflict Management

kasus KDRT Pematang Siantar
KDRT bukan persoalan domestik semata. Ia adalah luka kemanusiaan yang membutuhkan keberanian untuk dihentikan. Sebab rumah yang manusiawi dibangun dari empati, komunikasi, dan rasa saling menghargai. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Rumah tangga pada hakikatnya merupakan ruang aman (safe space) pertama bagi individu untuk mendapatkan kedamaian, rasa dihargai, serta tempat bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan (human dignity).

Namun, realitas sosial sering kali menunjukkan gambaran sebaliknya. Fenomena Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia masih menjadi potret buram yang mencederai nilai dasar kemanusiaan.

Pada Maret 2026, Komnas Perempuan meluncurkan Catatan Tahunan (Catahu) tentang Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) di sepanjang tahun 2025.

Catatan tersebut menyebutkan bahwa terhimpun 376.529 kasus KBGtP pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah kasus sebesar 14,07% dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun sebelumnya yang berjumlah 330.097 kasus.

Hal ini menunjukkan bahwa rumah, hubungan perkawinan, maupun relasi intim menjadi salah satu ruang paling rentan bagi perempuan.

Selain di ruang publik, kekerasan sangat rentan berakar dalam relasi privat yang tersembunyi dan sukar dideteksi.

Salah satu peristiwa yang memicu keprihatinan publik adalah kasus KDRT yang terjadi di Pematang Siantar, Sumatera Utara.

Dalam kasus tersebut, perselisihan domestik yang memuncak berujung pada tindak kekerasan fisik.

Kasus ini bukan sekadar persoalan hukum pidana, melainkan manifestasi dari kegagalan tata kelola emosi (anger management) serta ketidakmampuan menyelesaikan perselisihan secara konstruktif (conflict management).

Melalui perspektif Estetika Humanisme, penulis mencoba mengurai bagaimana degradasi empati dan pengabaian manajemen emosi dapat merusak keharmonisan rumah tangga, serta pentingnya human literacy dalam membangun hubungan yang berkeadilan dan bermartabat.

Kegagalan Anger Management: Ketika Kehilangan Pengendalian Merusak Harkat Kemanusiaan

Menurut Daniel Goleman (1995), anger management (pengelolaan amarah) adalah bagian dari kecerdasan emosional untuk menangani perasaan agar dapat terungkap dengan proporsional melalui pengendalian diri, meredakan ketersinggungan, dan pengungkapan secara asertif.

Dalam kajian psikologi humanistik disebutkan bahwa setiap individu memiliki potensi kebaikan dan kapasitas untuk mengendalikan tindakannya.

Namun, ketika emosi amarah (anger) meledak tanpa hambatan kesadaran (mindfulness), seseorang cenderung kehilangan kepekaan etis dan bertindak secara impulsif maupun agresif.

Kasus penganiayaan dalam rumah tangga di Pematang Siantar memperlihatkan dengan jelas bagaimana kemarahan yang tidak terkelola (poor anger management) menjelma menjadi agresi fisik.

Kasus ini menunjukkan adanya tindakan dehumanisasi yang dilakukan oleh pelaku terhadap korban. Dehumanisasi artinya menganggap pihak lain bukan sebagai subjek yang wajib dihormati, melainkan objek untuk melampiaskan kekesalan.

Penggunaan kekerasan terhadap pasangan atau anggota keluarga adalah bentuk nyata dari dehumanisasi. Tindakan kekerasan menghancurkan keindahan harmoni keluarga dan menggantikannya dengan ketakutan serta trauma mendalam.

Disfungsi Conflict Management: Krisis Komunikasi dan Eskalasi Kekerasan

Konflik dalam dinamika rumah tangga adalah hal yang lumrah dan tak terhindarkan. Namun, yang menjadi pembeda adalah bagaimana konflik tersebut dikelola (conflict management).

Konflik diartikan sebagai bentuk perpecahan atau pertentangan yang timbul antara individu maupun antarkelompok akibat ketidakcocokan persepsi, sasaran, serta kehendak.

Situasi ini mencerminkan kondisi ketidaksesuaian, diskrepansi, serta ketidakselarasan di antara unsur-unsur yang saling berhubungan.

Dalam banyak kasus KDRT, pola yang sering berulang adalah ketidakmampuan kedua pihak untuk melakukan komunikasi empati (empathic communication).

Konflik yang awalnya dipicu oleh masalah sepele (seperti finansial, kecemburuan, atau perbedaan pendapat) bereskalasi secara destruktif karena dipenuhi oleh model penyelesaian dekonstruktif seperti mengedepankan ego, dominasi, dan ancaman fisik alih-alih mencari jalan keluar bersama (win-win solution).

Selain itu, ketidakmampuan untuk mendengar, memahami sudut pandang pasangan, dan memvalidasi emosi tanpa harus bersikap destruktif (minimnya human literacy) menjadi salah satu faktor kasus KDRT terjadi dalam rumah tangga.

Ketika conflict management tidak berjalan, rumah tangga berubah dari tempat berlindung menjadi medan pertempuran yang mengabaikan nilai-nilai keselamatan dan keadilan.

Rekonstruksi Hubungan Berbasis Estetika Humanisme dan Kesadaran Diri

Untuk mencegah berulangnya kasus serupa dan membangun tatanan keluarga yang sehat di masyarakat, diperlukan pendekatan humanistik yang mengintegrasikan beberapa langkah strategis:

Edukasi Self-Awareness & Anger Management

Setiap individu perlu dilatih untuk mengenali sinyal emosi marah dalam dirinya secara dini. Teknik meredakan emosi (time-out, pernapasan kesadaran) penting agar tindakan yang diambil berbasis akal sehat, bukan impulsivitas emosional.

Penerapan Non-Violent Communication (NVC)

Mengembangkan keterampilan mengomunikasikan kebutuhan (needs) dan perasaan (feelings) tanpa menyalahkan atau menyerang pribadi pasangan.

Penguatan Modal Sosial dan Komunitas

Lingkungan sekitar (tetangga dan keluarga besar) harus memiliki kepedulian sosial (social awareness) untuk tidak menganggap KDRT sebagai sekadar “urusan domestik”, melainkan pelanggaran hak asasi manusia yang perlu dicegah dan dibantu penyelesaiannya.

Kasus KDRT di Pematang Siantar menjadi tamparan keras bagi kita tentang pentingnya mengelola emosi dan konflik. Kekerasan bukanlah solusi, melainkan tanda dari krisis moral dan hilangnya literasi kemanusiaan.

Dengan mengintegrasikan prinsip anger management yang matang dan conflict management yang berorientasi pada dialog, kita tidak hanya menyelamatkan institusi keluarga, tetapi juga merawat nilai-nilai estetika humanisme seperti menjunjung tinggi harkat, martabat, dan kebebasan setiap manusia untuk hidup aman dan terhormat.

Daftar Pustaka

Khairunnisa. (2026, 18 Juli). Akhirnya Suami yang KDRT Istri di Pematang Siantar Serahkan Diri ke Polisi, Kekejaman Pelaku Terkuak. TribunnewsBogor.com. https://bogor.tribunnews.com/berita-menarik/317896/akhirnya-suami-yang-kdrt-istri-di-pematang-siantar-serahkan-diri-ke-polisi-kekejaman-pelaku-terkuak (diakses 8 Agustus 2026).

Komnas Perempuan. (2026, 6 Maret). Siaran Pers Komnas Perempuan Peluncuran Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan 2025. Komnas Perempuan. https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-peluncuran-catatan-tahunan-kekerasan-terhadap-perempuan-2025 (diakses 8 Agustus 2026).

Setiawan, N. H., Devi, S. S., Damayanti, L., Pramudya, F., & Antony, H. (2024). Pemahaman dan faktor-faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga: Tinjauan literatur. Jurnal Dialektika Hukum, 6(2), 108–117. https://ejournal.fisip.unjani.ac.id/index.php/jurnal-dialektika-hukum/article/view/1574/807 (diakses 8 Agustus 2026).

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.

Amanda, S. A. A., Hayati, N., Bahtiar, N. A., Bimantara, W. D., & Mu’alimin. (2024). Strategi dan pendekatan dalam mengelola konflik. Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam, 2(6), 460–473. https://doi.org/10.61132/jmpai.v2i6.799 (diakses 8 Agustus 2026).

 


Penulis: Dea Juniarti
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Siber Asia


Dosen Pengampu: Dr. Nurhasanah Haspiaini, M.Si.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses