Cukup Bubur yang Diaduk, Akidah Jangan Diaduk-aduk! Menurut Ustadz Subhan Bawazier

aqidah jangan diaduk-aduk
Cukup Bubur yang Diaduk, Aqidah Jangan Diaduk-aduk! Menurut Ustadz Subhan Bawazier. Sumber: MMI.

Di Indonesia ada dua kubu soal bubur: Tim Bubur Diaduk dan Tim Bubur Tidak Diaduk. Perdebatan ini lucu, ramai, tetapi tidak pernah merusak persaudaraan. Selesai debat, mereka makan bersama lagi.

Tapi anehnya, dalam perkara akidah, banyak orang malah melakukan sebaliknya. Dalam bubur mereka tidak mau diaduk, tetapi dalam akidah mereka suka mengaduk-aduk. Mencampur yang hak dengan yang batil, mencampur tauhid dengan syirik dengan alasan toleransi dan kebersamaan.

Maka lahirlah jargon dakwah yang sangat terkenal dari Ustadz Subhan Bawazier hafizhahullah:

“Cukup Bubur Yang Diaduk, Aqidah Diaduk-aduk!”

Kalimat ini terlihat sebagai candaan, tetapi maknanya sangat dalam dan sangat Salaf. Beliau ingin menyampaikan bahwa perkara dunia (muamalah, bubur, selera makan) itu luas dan boleh berbeda. Tetapi perkara akidah itu harga mati, tidak boleh dicampur, tidak boleh abu-abu.

Ustadz Subhan Bawazier dikenal sebagai dai yang bermanhaj Salaf, murid dari banyak ulama besar, dengan gaya ceramah yang tegas, lugas, dan tidak basa-basi dalam masalah prinsip. Beliau sangat keras dalam masalah syirik, bid’ah, dan penyimpangan akidah, namun sangat lembut dalam masalah muamalah sesama manusia.

Di tengah zaman fitnah, di mana banyak dai yang menjual akidahnya demi viral, demi follower, demi diundang ke sana kemari, nasihat ini menjadi pengingat.

Baca Juga: Pengaruh Media Sosial Terhadap Aqidah Manusia

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu campur-adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”

Ustadz Subhan Bawazier mengatakan: Agama ini tidak mendatangkan kebaikan dan semua makhluk ini diciptakan untuk beribadah. Laki-laki kasar dan perempuan lembut itu fitrah. Kalau kamu bertawakal kepada Allah:

  1. Allah memberikan solusi.
  2. Allah memberikan kemudahan.
  3. Orang yang bertakwa kepada Allah maka Allah berikan Furqan atau kemampuan membedakan yang hak dan yang batil.
    Akidah adalah ikatan yang kuat antara hamba dengan Tuhannya, maka utamakan dan kuatkanlah iman dan akidah kita.
    Mengapa akidah itu harus dikenal?
    Allah yang harus memperkenalkan akidah dengan tauhid rububiyyah agar kita sebagai hamba-Nya selalu dan di samping itu akidah sebagai sumber ketenangan hati yang hakiki dan dakwah Nabi selama ribuan tahun.
  1. Kenali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan benar.

Baca Juga: Kajian Tabligh Akbar: Mengapa Tauhid Perlu Diulang?

Kesimpulan

  1. Ngaji Tauhid Sampai Mati. Jangan merasa sudah pintar dan hebat. Kitab Tauhid harus dikaji berulang-ulang sampai akhir hayat. Dan kita semua sebagai hamba Allah agar selalu meminta istiqamah fii sabilillah.
  2. Berteman dengan Orang yang Lurus Akidahnya. Teman sangat memengaruhi warna akidah kita.
  3. Berani Tegas dan Jangan Takut Dibenci. Mengatakan “Ini syirik, ini bid’ah” bukan berarti memvonis orangnya masuk neraka. Itu bentuk sayang agar dia kembali ke kemurnian.
  4. Bedakan Tegas dengan Kasar. Tegas itu pada prinsipnya, tetapi lembut pada cara menyampaikannya.

Dalam bubur silakan Anda aduk sepuasmu, tidak akan masuk neraka karena bubur diaduk. Tetapi dalam akidah, kalau kau aduk-aduk antara tauhid dengan syirik, antara sunnah dengan bid’ah, kau akan celaka dunia akhirat. Jadilah muslim yang murni akidahnya, luwes muamalahnya. Keras seperti batu karang dalam akidah, lembut seperti sutra dalam akhlak.


Penulis: Teuku Muhammad Fauzan Robbani, S.Li.
Mahasiswa Magister Ilmu Al Qur’an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Al-Fauzan, S. S. (2017). Kitab Tauhid. Jakarta: Darul Haq.

Abdullah, M. (2022). Fenomena Percampuran Aqidah dan Budaya Lokal di Indonesia: Tinjauan Tauhid. Jurnal Ilmu Aqidah dan Filsafat, 8 (2), 123-140.

Bawazier, Subhan. (2023). Cukup Bubur Yang Diaduk, Aqidah Jangan Diaduk! – Kajian Tauhid. Channel YouTube: Ustadz Subhan Bawazier Official. [https://www.youtube.com/watch?v=link kajian]

Bawazier, Subhan. (2022). Bahaya Mencampuradukkan yang Haq dan Batil. Kajian Masjid Al-Falah Surabaya. Diakses dari Instagram @subhanbawazier.

Bawazier, Subhan. (2024). Prinsip Al-Wala’ wal Bara’ di Zaman Fitnah. Kajian Rutin Jakarta.

Departemen Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Tafsirnya Edisi Penyempurnaan. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Nashir, Haedar. (2021). Manhaj Islam Berkemajuan dan Pemurnian Aqidah. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Saputra, A. (2021). Jargon Dakwah Populer di Media Sosial dan Pengaruhnya Terhadap Pemahaman Aqidah Milenial. Jurnal Studi Islam Kontemporer, 5 (3), 89-105.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *