Apa itu Glorifikasi? Glorifikasi adalah tindakan atau proses meluhurkan dan memuliakan seseorang atau sesuatu. Dalam penggunaan sehari-hari, istilah ini juga sering dipakai ketika seseorang, tindakan, gaya hidup, atau peristiwa digambarkan secara berlebihan sehingga terlihat lebih baik, hebat, atau terhormat daripada kenyataannya.
Kata glorifikasi sering muncul dalam pemberitaan dan percakapan di media sosial. Istilah ini dapat digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari tokoh publik, kekerasan, gaya hidup, pekerjaan, hubungan romantis, sejarah, hingga budaya populer.
Di Indonesia, istilah glorifikasi pernah menjadi perbincangan luas pada 2021 ketika publik memperdebatkan penyambutan dan kemunculan Saipul Jamil di televisi setelah bebas dari penjara.
Namun, apa sebenarnya arti glorifikasi? Apakah setiap bentuk pujian dapat disebut glorifikasi? Berikut penjelasannya.
Baca juga: Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) dan Konstruksi Identitas Anak Muda di Media Sosial
Apa itu Glorifikasi?
Secara sederhana, glorifikasi adalah proses menempatkan seseorang atau sesuatu pada posisi yang sangat tinggi, mulia, terhormat, atau istimewa.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, glorifikasi berarti proses, cara, atau perbuatan meluhurkan dan memuliakan.
Dalam bahasa Inggris, kata glorify memiliki makna memuji atau menghormati seseorang atau sesuatu. Kata tersebut juga dapat digunakan untuk menggambarkan tindakan membuat sesuatu terlihat lebih baik atau lebih hebat daripada kenyataan sebenarnya.
Karena itu, makna glorifikasi sangat bergantung pada konteks.
Dalam konteks positif atau netral, glorifikasi dapat merujuk pada pemuliaan atau penghormatan.
Namun, dalam kritik sosial dan media, istilah glorifikasi lebih sering digunakan secara negatif. Kata ini biasanya merujuk pada penggambaran berlebihan yang mengabaikan konteks penting, dampak buruk, kesalahan, atau sisi problematis dari objek yang sedang ditampilkan.
Sebagai contoh, film yang menggambarkan perang hanya sebagai petualangan heroik sambil mengabaikan penderitaan warga sipil dapat dikritik karena mengglorifikasi perang.
Demikian pula, konten yang menggambarkan kurang tidur sebagai tanda pekerja keras dapat dianggap mengglorifikasi budaya kerja berlebihan apabila risiko dan konsekuensinya diabaikan.
Baca juga: Media Sosial Lebih Banyak Memberikan Manfaat daripada Kerugian bagi Mahasiswa
Apa Arti Mengglorifikasi?
Mengglorifikasi adalah tindakan meluhurkan, memuliakan, memuji secara berlebihan, atau menggambarkan seseorang maupun sesuatu sebagai lebih hebat daripada kenyataannya.
Kata ini merupakan bentuk verba yang digunakan untuk menunjukkan tindakan.
Contoh:
“Film tersebut dikritik karena dianggap mengglorifikasi kekerasan.”
Kalimat tersebut berarti film dinilai menampilkan kekerasan secara berlebihan sebagai sesuatu yang menarik, hebat, heroik, atau patut dikagumi.
Contoh lainnya:
“Konten itu dianggap mengglorifikasi gaya hidup konsumtif.”
Artinya, konten tersebut dinilai menampilkan konsumsi berlebihan sebagai sesuatu yang menarik atau ideal tanpa memberikan konteks mengenai konsekuensinya.
Dengan demikian, kata “glorifikasi” merujuk pada proses atau tindakan secara umum, sedangkan “mengglorifikasi” digunakan ketika menjelaskan tindakan yang dilakukan oleh suatu pihak.
Apakah Glorifikasi Selalu Bermakna Negatif?
Tidak selalu.
Secara leksikal, glorifikasi tidak otomatis bermakna buruk. Seseorang dapat menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan pemuliaan, penghormatan, atau pengagungan.
Namun, penggunaan kontemporer dalam percakapan publik sering memiliki konotasi kritis.
Ketika seseorang mengatakan bahwa media “mengglorifikasi” seorang tokoh, maksudnya biasanya bukan sekadar bahwa media memberikan pujian. Kritik tersebut sering mengandung anggapan bahwa pujian, perhatian, atau perlakuan yang diberikan terlalu berlebihan dan mengabaikan konteks penting.
Perbedaan konteks ini perlu diperhatikan.
Menghargai prestasi seorang atlet karena berhasil memenangkan kompetisi tidak otomatis merupakan glorifikasi dalam pengertian negatif. Namun, membangun citra seolah-olah tokoh tersebut tidak memiliki kelemahan dan menolak seluruh kritik dapat mengarah pada glorifikasi.
Jadi, masalahnya tidak selalu terletak pada pujian itu sendiri, melainkan pada cara seseorang atau sesuatu direpresentasikan.
Perbedaan Glorifikasi dan Apresiasi
Glorifikasi sering disamakan dengan apresiasi. Padahal, keduanya dapat memiliki karakter yang berbeda.
Apresiasi merupakan penghargaan terhadap karya, usaha, prestasi, atau kontribusi seseorang berdasarkan alasan yang dapat dijelaskan.
Glorifikasi, khususnya dalam penggunaan kritis, cenderung melibatkan pengagungan yang berlebihan atau representasi yang tidak proporsional.
Sebagai contoh, memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang memenangkan kompetisi ilmiah merupakan bentuk apresiasi.
Namun, menggambarkan seorang tokoh sebagai manusia sempurna yang selalu benar dan tidak boleh dikritik dapat menjadi bentuk glorifikasi.
Perbedaannya dapat dilihat dari proporsionalitas.
Apresiasi masih memungkinkan evaluasi kritis. Seseorang dapat menghargai prestasi seorang tokoh sekaligus mengkritik kesalahannya.
Sebaliknya, glorifikasi berlebihan dapat membuat penilaian menjadi tidak seimbang karena hanya menonjolkan sisi tertentu dan mengabaikan fakta yang tidak sesuai dengan citra ideal.
Perbedaan Glorifikasi, Justifikasi, Normalisasi, dan Romantisasi
Beberapa istilah sering digunakan dalam percakapan publik dengan konteks yang berdekatan, tetapi maknanya tidak sama.
Glorifikasi berarti meluhurkan, memuliakan, atau menggambarkan sesuatu secara berlebihan sebagai sesuatu yang hebat dan patut dikagumi.
Justifikasi berarti memberikan alasan atau pembenaran terhadap tindakan, keputusan, atau pendapat tertentu.
Normalisasi merupakan proses ketika perilaku, keadaan, atau gagasan semakin dianggap biasa atau dapat diterima.
Romantisasi adalah penggambaran sesuatu secara lebih indah, menarik, atau ideal daripada kondisi sebenarnya, sering kali dengan mengabaikan kesulitan dan sisi negatifnya.
Satu konten dapat mengandung lebih dari satu unsur.
Misalnya, konten yang terus-menerus menggambarkan bekerja tanpa istirahat sebagai bukti kesuksesan dapat mengglorifikasi budaya kerja berlebihan. Jika narasi tersebut terus diulang, perilaku itu juga dapat mengalami normalisasi. Ketika penderitaan dan kelelahan digambarkan sebagai perjalanan indah menuju kesuksesan, terdapat pula unsur romantisasi.
Karena itu, istilah-istilah tersebut sebaiknya digunakan sesuai konteks, bukan sebagai sinonim yang dapat saling menggantikan begitu saja.
Contoh Glorifikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Glorifikasi dapat ditemukan dalam berbagai konteks. Berikut beberapa contoh yang membantu menjelaskan penggunaannya.
1. Glorifikasi Kekerasan
Kekerasan dapat dianggap mengalami glorifikasi ketika ditampilkan sebagai sesuatu yang keren, heroik, atau layak ditiru tanpa konteks yang memadai mengenai konsekuensinya.
Kritik terhadap glorifikasi kekerasan sering muncul dalam pembahasan film, gim, konten digital, dan pemberitaan.
Namun, menampilkan kekerasan tidak otomatis berarti mengglorifikasinya. Konteks, cara penggambaran, sudut pandang, dan pesan keseluruhan perlu dipertimbangkan.
2. Glorifikasi Kerja Berlebihan
Kalimat seperti “tidur hanya tiga jam adalah harga kesuksesan” dapat menjadi bagian dari glorifikasi kerja berlebihan apabila disampaikan sebagai standar ideal bagi semua orang.
Kerja keras dan disiplin dapat diapresiasi. Masalah muncul ketika kelelahan ekstrem, kurang istirahat, dan pengabaian kebutuhan pribadi ditampilkan sebagai sesuatu yang harus dibanggakan.
3. Glorifikasi Hubungan yang Tidak Sehat
Film, lagu, atau konten media sosial terkadang dikritik karena menggambarkan kecemburuan ekstrem, kontrol berlebihan, atau perilaku posesif sebagai bukti cinta.
Dalam konteks seperti ini, glorifikasi terjadi ketika perilaku bermasalah diberi citra romantis dan menarik.
4. Glorifikasi Gaya Hidup Mewah
Konten yang menampilkan kekayaan tidak otomatis merupakan glorifikasi.
Namun, kritik dapat muncul ketika kekayaan digambarkan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dan kehidupan mewah ditampilkan tanpa konteks mengenai sumber daya, privilege, utang, atau kondisi ekonomi yang berbeda.
5. Glorifikasi Tokoh Publik
Tokoh publik dapat memperoleh apresiasi atas karya atau prestasinya.
Glorifikasi terjadi ketika citra tokoh dibangun secara berlebihan, kritik diabaikan, dan kesalahan diperlakukan seolah-olah tidak relevan hanya karena popularitas atau prestasinya.
Apa Itu Glorifikasi di Media Sosial?
Glorifikasi di media sosial adalah proses ketika seseorang, perilaku, gaya hidup, atau peristiwa ditampilkan secara sangat positif, ideal, heroik, atau menarik sehingga konteks pentingnya dapat terabaikan.
Media sosial memiliki karakter yang mendukung penyebaran representasi semacam ini.
Konten singkat sering menyederhanakan persoalan yang kompleks. Algoritma dapat memperluas distribusi konten yang menarik perhatian. Pengguna juga cenderung melihat potongan tertentu dari kehidupan orang lain, bukan keseluruhan konteksnya.
Beberapa bentuk glorifikasi di media sosial dapat berupa:
- menampilkan kerja tanpa istirahat sebagai satu-satunya jalan menuju sukses;
- menggambarkan perilaku konsumtif sebagai ukuran pencapaian;
- membangun kultus personalitas terhadap tokoh tertentu;
- membuat tindakan berbahaya terlihat menarik untuk mendapatkan perhatian;
- menggambarkan hubungan posesif sebagai bentuk cinta;
- menampilkan pelanggaran aturan sebagai tindakan heroik tanpa konteks.
Namun, istilah glorifikasi tidak boleh digunakan sembarangan.
Konten yang membahas sebuah masalah belum tentu mendukung masalah tersebut. Dokumentasi, kritik, analisis, edukasi, dan glorifikasi merupakan hal yang berbeda.
Untuk menilai sebuah konten, pembaca perlu memperhatikan konteks, narasi, framing, dan pesan keseluruhannya.
Mengapa Glorifikasi Pernah Dikaitkan dengan Saipul Jamil?
Istilah glorifikasi menjadi perbincangan luas di Indonesia pada September 2021 setelah Saipul Jamil bebas dari Lapas Kelas I Cipinang.
Saipul Jamil bebas pada 2 September 2021. Setelah keluar dari penjara, penyambutannya mendapat perhatian luas. Ia menerima kalung bunga dan tampil dalam suasana penyambutan yang oleh sebagian masyarakat dianggap terlalu meriah.
Kontroversi semakin berkembang ketika muncul perdebatan mengenai kemunculannya kembali di program televisi.
Pada saat itu, kritik publik tidak hanya membahas hak seseorang untuk kembali menjalani kehidupan setelah menyelesaikan masa hukuman. Perdebatan lebih banyak berfokus pada bagaimana media dan industri hiburan memberikan panggung serta membingkai kepulangannya.
Komisi Penyiaran Indonesia kemudian meminta lembaga penyiaran televisi untuk tidak melakukan glorifikasi dan amplifikasi terhadap pembebasan Saipul Jamil.
KPI juga meminta lembaga penyiaran lebih berhati-hati dalam menayangkan muatan yang berkaitan dengan perbuatan melawan hukum atau bertentangan dengan norma dan adab.
Dalam konteks tersebut, kata “glorifikasi” digunakan untuk mengkritik bentuk penyambutan dan representasi media yang dianggap memperlakukan pembebasan seorang mantan narapidana secara terlalu meriah.
Apakah Kritik terhadap Glorifikasi Berarti Mantan Narapidana Tidak Boleh Kembali ke Masyarakat?
Tidak sesederhana itu.
Hak seseorang untuk kembali menjalani kehidupan setelah menyelesaikan masa hukuman merupakan persoalan yang berbeda dari kritik terhadap cara media merepresentasikan seseorang.
Perdebatan mengenai glorifikasi biasanya berfokus pada framing.
Seseorang dapat mendukung reintegrasi sosial mantan narapidana sekaligus mengkritik pemberitaan yang dianggap sensasional atau tidak mempertimbangkan perspektif korban.
Dengan kata lain, terdapat perbedaan antara memberikan kesempatan kepada seseorang untuk kembali menjalani kehidupan dan memberikan perlakuan media yang menyerupai perayaan atau pengagungan.
Pembedaan tersebut penting agar diskusi tidak berubah menjadi pilihan palsu antara mendukung rehabilitasi atau mendukung glorifikasi.
Mengapa Glorifikasi Dapat Menjadi Masalah?
Glorifikasi menjadi masalah ketika representasi yang berlebihan menghilangkan konteks penting dan memengaruhi cara publik memahami suatu persoalan.
Pertama, glorifikasi dapat menyederhanakan masalah yang kompleks. Tokoh atau peristiwa hanya ditampilkan dari sisi yang mendukung narasi tertentu.
Kedua, glorifikasi dapat menggeser perhatian dari pihak yang terdampak. Dalam pemberitaan kasus kekerasan, misalnya, perhatian media yang berlebihan kepada pelaku dapat mengurangi ruang bagi pembahasan mengenai korban, pencegahan, dan perlindungan.
Ketiga, pengulangan framing tertentu dapat memengaruhi persepsi publik mengenai perilaku yang dianggap pantas, normal, atau patut dikagumi.
Keempat, glorifikasi dapat menghambat diskusi kritis. Ketika tokoh tertentu diperlakukan sebagai figur yang tidak boleh dikritik, fakta dan argumen dapat kalah oleh loyalitas kelompok.
Namun, dampak tersebut tidak dapat dinilai hanya dari satu kata, foto, atau potongan video. Analisis tetap membutuhkan konteks.
Bagaimana Mengenali Glorifikasi?
Tidak ada satu indikator tunggal yang dapat digunakan untuk menilai semua situasi. Namun, beberapa pertanyaan berikut dapat membantu:
- Apakah seseorang atau sesuatu digambarkan secara tidak proporsional sebagai sangat hebat atau mulia?
- Apakah fakta penting yang dapat mengubah penilaian pembaca sengaja diabaikan?
- Apakah konsekuensi negatif dari suatu perilaku disembunyikan atau diremehkan?
- Apakah kritik terhadap tokoh dianggap sebagai serangan yang tidak boleh dilakukan?
- Apakah perilaku berisiko digambarkan sebagai keren, heroik, atau romantis?
- Apakah pihak yang terdampak justru kehilangan ruang dalam narasi?
- Apakah pujian diberikan berdasarkan prestasi yang jelas atau hanya karena popularitas?
Pertanyaan tersebut tidak otomatis menghasilkan kesimpulan. Fungsinya adalah membantu pembaca mengevaluasi framing secara lebih kritis.
Glorifikasi Bukan Sekadar Pujian
Glorifikasi adalah proses meluhurkan atau memuliakan seseorang maupun sesuatu. Dalam penggunaan kritis, istilah ini sering merujuk pada penggambaran berlebihan yang membuat objek terlihat lebih hebat, baik, atau ideal daripada kenyataan sebenarnya.
Karena itu, glorifikasi berbeda dari apresiasi yang proporsional.
Istilah ini juga tidak sama dengan justifikasi, normalisasi, atau romantisasi, meskipun beberapa proses tersebut dapat terjadi secara bersamaan.
Kasus Saipul Jamil pada 2021 menjadi salah satu peristiwa yang membuat istilah glorifikasi semakin banyak digunakan dalam percakapan publik Indonesia. Namun, penggunaan kata tersebut jauh lebih luas dan dapat diterapkan dalam pembahasan media, budaya populer, hubungan sosial, pekerjaan, sejarah, dan gaya hidup.
Memahami arti apa itu glorifikasi membantu kita membaca pesan secara lebih kritis. Ketika sebuah tokoh, perilaku, atau peristiwa ditampilkan secara luar biasa positif, pertanyaan yang relevan bukan hanya “apa yang ditampilkan?”, tetapi juga “konteks apa yang tidak ditampilkan?”.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Glorifikasi
1. Glorifikasi adalah apa?
Glorifikasi adalah proses atau tindakan meluhurkan dan memuliakan seseorang atau sesuatu. Dalam penggunaan kritis, glorifikasi juga dapat merujuk pada penggambaran berlebihan yang membuat seseorang, perilaku, atau peristiwa terlihat lebih baik dan hebat daripada kenyataannya.
2. Apa arti mengglorifikasi?
Mengglorifikasi berarti melakukan tindakan pemuliaan, pengagungan, atau penggambaran secara berlebihan terhadap seseorang maupun sesuatu. Contohnya, sebuah film dapat dikritik karena dianggap mengglorifikasi kekerasan jika kekerasan ditampilkan sebagai sesuatu yang keren tanpa konteks mengenai dampaknya.
3. Apakah glorifikasi selalu berarti buruk?
Tidak. Secara leksikal, glorifikasi dapat berarti meluhurkan atau memuliakan. Namun, dalam percakapan publik dan kritik media, istilah ini sering memiliki konotasi negatif karena digunakan untuk menggambarkan pujian atau pengagungan yang dianggap berlebihan dan tidak proporsional.
4. Apa contoh glorifikasi?
Contoh glorifikasi antara lain menggambarkan kerja tanpa istirahat sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan, menampilkan perilaku posesif sebagai bukti cinta, atau membangun citra tokoh publik seolah-olah tidak memiliki kesalahan dan tidak boleh dikritik.
5. Apa itu glorifikasi di media sosial?
Glorifikasi di media sosial adalah penggambaran seseorang, gaya hidup, perilaku, atau peristiwa secara sangat positif dan ideal sehingga konteks pentingnya dapat terabaikan. Contohnya dapat berupa glorifikasi budaya kerja berlebihan, gaya hidup konsumtif, atau tindakan berisiko.
6. Apa sinonim glorifikasi?
Sinonim atau kata yang dekat dengan glorifikasi bergantung pada konteks, antara lain pemuliaan, pengagungan, peluhuran, dan penghormatan. Namun, kata-kata tersebut tidak selalu dapat saling menggantikan karena “glorifikasi” dalam penggunaan kritis dapat mengandung makna pengagungan yang berlebihan.
7. Apa perbedaan glorifikasi dan apresiasi?
Apresiasi adalah penghargaan terhadap prestasi, karya, atau kontribusi berdasarkan alasan yang proporsional. Glorifikasi, terutama dalam penggunaan kritis, cenderung menggambarkan seseorang atau sesuatu secara berlebihan dan dapat mengabaikan fakta yang tidak sesuai dengan citra positif yang dibangun.
Penulis: Rofiqoh Ulin Nuha
Mahasiswa FISIB, Universitas Trunojoyo Madura
Editor: Diana Pratiwi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













