Jarak ribuan kilometer tidak menyurutkan semangat untuk membagikan ilmu. Ivanna Noer Najla, mahasiswi asal Kota Malang yang baru berusia 20 tahun, berhasil menjalankan program Global Volunteer dari AIESEC in UB selama satu bulan penuh di Beylikdüzü, Turki. Program ini berlangsung sejak 23 Juni hingga 26 Juli 2026.
AIESEC in UB sendiri merupakan organisasi kepemudaan yang telah berkomitmen pada kedamaian dan pengembangan potensi kepemimpinan manusia sejak 1948 dan kini tersebar di 114 negara. Salah satu program unggulannya, Global Volunteer, merupakan program pertukaran bagi anak muda untuk menjalankan proyek sosial secara sukarela di luar negeri selama 4–8 minggu, bekerja sama dengan entitas AIESEC di berbagai negara tujuan.
Ivanna mengikuti program ini bersama satu rekan dari universitas yang sama. Ia mengaku tertarik pada program ini karena ingin mengembangkan potensi berbahasa Inggrisnya melalui metode pengajaran yang kreatif, sekaligus penasaran dengan budaya Turki yang kaya akan nuansa seni Eropa.
Program ini sejalan dengan salah satu tujuan SDGs, yaitu poin ke-4, quality education, yang menjamin akses pendidikan inklusif bagi masyarakat. Ivanna memberikan dampak melalui pengajaran bahasa Inggris dengan pendekatan interaktif dan kreatif kepada anak-anak usia dini di Melisa Çocuk Dünyası Anaokulu, sebuah sekolah taman kanak-kanak di kawasan Beylikdüzü, Turki.
Pembelajaran Interaktif

Ivanna mengajar dua kelas dengan rentang usia berbeda, yaitu usia 2–3 tahun dan 4–6 tahun, dengan total maksimal 15 murid. Terkadang, ia dan rekannya harus membagi materi ajar ketika mengajar di kedua kelas tersebut dalam satu waktu.
Salah satu kegiatan yang paling berkesan adalah saat Ivanna mengajak murid-murid mempraktikkan cara menempelkan kapas yang menyerupai bulu domba pada gambar domba yang telah dicetak sebelumnya. Aktivitas ini tidak hanya mengenalkan kosakata bahasa Inggris seputar hewan, tetapi juga warna dan tekstur kepada para murid.
Dalam pelaksanaannya, Ivanna dan rekannya juga harus bekerja sama dengan guru-guru di sekolah tersebut untuk menjalankan kegiatan pengajaran. Pengalaman ini membuka perspektif baru sekaligus menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam beradaptasi dengan budaya kerja yang berbeda dan memahami cara pandang orang lain.
Salah satu tantangan yang cukup terasa adalah keterbatasan bahasa Inggris para murid dan guru, yang membuat komunikasi terkadang terasa sulit. Namun, tantangan ini dapat diatasi dengan bantuan teknologi penerjemah yang tersedia saat ini.
Dari Rasa Malu Menjadi Percaya Diri

Awalnya, para murid belum begitu percaya diri menggunakan bahasa Inggris, bahkan sebagian dari mereka tidak tahu sama sekali kosakata bahasa Inggris. Namun, seiring waktu, ia terus mengajarkan kosakata baru seputar bentuk, binatang, warna, dan bagian tubuh dalam bahasa Inggris melalui metode interaktif seperti bernyanyi dan menari. Perlahan, rasa percaya diri mereka pun tumbuh dan mereka mampu menyebutkan kosakata yang telah diajarkan.
Pengalaman yang paling membekas bagi Ivanna adalah ketika salah satu muridnya dapat menyebutkan umurnya dalam bahasa Inggris, serta murid lain yang mampu menyebutkan angka 1–20, tanda bahwa mereka benar-benar mengingat dan mampu melafalkan apa yang telah dipelajari.
“Mungkin bagi mereka, melafalkan hal tersebut terdengar hanya seperti materi bahasa Inggris biasa, tetapi bagi saya itu hal yang dapat membuat diri saya senang karena artinya saya bisa memberikan mereka dampak yang baik meskipun secara perlahan,” tutur Ivanna dengan bahagia.
Meski masa volunteer-nya telah usai, Ivanna berharap materi bahasa Inggris yang pernah ia ajarkan dapat terus dipraktikkan oleh para murid sehingga berdampak pada peningkatan kemampuan bahasa Inggris di lingkungan mereka.
Belajar Toleransi dan Perspektif Baru

Selama menjalani program volunteer ini, Ivanna juga banyak belajar mengenai budaya dan norma masyarakat setempat melalui interaksi sehari-hari. Ia memahami pentingnya menghargai perbedaan, toleransi, serta komunikasi antarmanusia. Pengalaman ini membantunya tumbuh menjadi pribadi dengan perspektif dan nilai-nilai baru dalam hidupnya.
“Saya merasa beruntung dapat merasakan pengalaman ini, karena tidak hanya dapat relasi secara internasional, namun dapat membantu diri kita juga untuk tumbuh melalui lingkungan baru. Saya yakin bahwa setiap manusia itu dapat memberikan manfaat terhadap manusia lain, walaupun hanya dimulai dari hal yang kecil,” ujarnya.
Keterlibatan Ivanna Noer Najla dalam program ini dapat menjadi motivasi bagi anak muda Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, budaya, dan aksi yang nyata.
Penulis: Ivanna Noer Najla
Mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya (UB)
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















