Mahasiswa KKN PPM Mandiri UMBY Ajak Anak-Anak “Stop Bullying” Lewat Kuas dan Kaca

Suasana antusias para siswa SD saat mengikuti kegiatan edukasi di Subandi Giyanto Art Studio, Jumat (7/8/2026).

YOGYAKARTA — Pagi itu, Jumat (7/8/2026), halaman Subandi Giyanto Art Studio di Kasihan, Bantul, lebih ramai dari biasanya. Dua puluh anak kelas 5 SD berdatangan, mengenakan seragam dari empat sekolah berbeda: SD Negeri Bangunjiwo, SD Negeri Bibis, SD Negeri Banyuripan, dan SD Negeri Karangjati. Masing-masing sekolah membawa serta satu guru pendamping. Mereka datang untuk mengikuti “Psikoedukasi Pencegahan Bullying”, program yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) PPM Mandiri Kelompok 119 Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Acara dimulai pukul 07.00 pagi. Setelah registrasi selesai, MC membuka acara sekaligus memperkenalkan diri di depan anak-anak yang masih terlihat malu-malu. Giliran berikutnya, Bapak Imam Suharjo, S.T., M.Eng., MCF., selaku Dosen Pembimbing Lapangan KKN Kelompok 119, naik memberi sambutan.

Usai sambutan, MC naik lagi ke depan. Bukan untuk bicara panjang, tapi melempar satu pertanyaan singkat. “Siapa yang tahu apa itu bullying?” Beberapa tangan mungil langsung terangkat. Salah satu siswa berani maju dan menjawab lantang, “Bullying itu mengejek, memukul, dan menyakiti orang lain.” Jawaban sederhana itu disambut tepuk tangan, sekaligus jadi pembuka yang pas sebelum masuk ke materi inti hari itu.

Seorang siswa dengan percaya diri menjawab pertanyaan MC tentang pengertian bullying sebelum sesi materi utama dimulai.

Alfin, mahasiswa program studi Psikologi, lalu tampil membawakan materi utama. Gayanya santai, banyak tanya jawab, tidak menggurui. Anak-anak kelas 5 ini sebenarnya sudah cukup paham soal bullying, jawaban tadi dari salah satu siswa jadi buktinya. Jadi Alfin tidak buang-buang waktu mengulang definisi dari nol. Ia langsung mengarahkan obrolan ke hal yang lebih penting: bagaimana caranya supaya anak-anak ini tidak jadi korban, sekaligus tidak diam-diam ikut jadi pelaku.

Pemaparan materi interaktif mengenai pencegahan bullying oleh Alfin dari program studi Psikologi.

Alfin menjelaskan pelan-pelan ke anak-anak yang duduk menyimak di tempat duduk masing-masing. Bullying, katanya, bentuknya macam-macam. Bisa lewat kata-kata yang menyakitkan, bisa lewat tindakan fisik, bisa juga cuma lewat sikap dingin yang bikin orang lain merasa disingkirkan. Yang perlu diingat, ini tidak cuma terjadi di sekolah. Rumah, lingkungan rumah, sampai media sosial pun bisa jadi tempatnya. Ia lantas mengenalkan jenis-jenisnya satu per satu, ada kekerasan fisik, ada yang lewat ucapan, ada perundungan siber, dan ada juga bentuk yang lebih halus seperti mengucilkan teman dari pergaulan.

Dampaknya tidak main-main. Nilai sekolah bisa anjlok. Pertemanan bisa rusak. Yang paling dikhawatirkan, kondisi emosional anak yang jadi korban bisa terguncang lama, bahkan sampai dewasa nanti. Alfin pun mengajak anak-anak untuk mulai berani bersikap: tegas menolak kalau ada yang mencoba merundung, membangun empati ke sesama teman, lebih bijak saat main media sosial. Satu pesan yang ia tekankan berkali-kali, jangan cuma jadi penonton diam kalau melihat ada teman yang dirundung. Lapor ke guru. Lapor ke orang tua. Atau siapa saja yang bisa dipercaya.

Begitu sesi materi selesai, panitia memberi jeda istirahat. Snack pun dibagikan satu per satu, tidak cuma untuk siswa, tapi juga para guru pendamping yang sejak pagi setia mendampingi. Sambil ngemil, obrolan kecil dan tawa mulai terdengar di sana-sini, suasana yang tadinya serius perlahan mencair.

Sesi istirahat: panitia membagikan snack kepada siswa dan guru pendamping di sela-sela rangkaian acara.

Selesai break, giliran sesi yang paling ditunggu: Workshop Melukis Kaca. Namun sebelum kuas menyentuh kaca, Subandi Giyanto lebih dulu maju memperkenalkan dirinya. Ia cerita sedikit tentang perjalanannya jadi seniman, beberapa penghargaan yang pernah ia bawa pulang, dan prestasi yang sempat diraih selama ini. Ia juga sempat menyebut akun media sosialnya, ada di Instagram, Facebook, dan YouTube, kalau-kalau ada yang mau lihat lebih banyak karyanya nanti.

Subandi Giyanto memperkenalkan profil, prestasi, dan media sosialnya sebelum mengajak anak-anak melukis kaca.

Ketua KKN Kelompok 119, Angella, punya alasan tersendiri kenapa workshop ini dipilih. “Workshop ini mengenalkan generasi alpha akan kebudayaan di sekitar,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa seni lukis kaca adalah bagian dari kekayaan lokal yang jarang disentuh anak-anak zaman sekarang.

Setelah perkenalan singkat itu, barulah sesi melukis bersama dimulai. Di bawah bimbingan langsung Subandi Giyanto, anak-anak mulai mencoret kaca dengan kuas kecil di tangan. Bagi hampir semua peserta, ini pengalaman pertama mereka melukis di atas media yang licin dan tak biasa itu. Ada yang ragu-ragu di awal, tapi setelah beberapa goresan, wajah mereka mulai serius, sesekali tersenyum sendiri melihat hasil coretannya.

Terapi Seni: Siswa kelas 5 SD tampak tekun melukis di atas media kaca dengan pendampingan langsung dari seniman Subandi Giyanto.

Melihat semangat anak-anak yang tak surut sepanjang sesi, Pak Subandi pun tak sungkan memuji. “Kegiatan ini menarik untuk anak-anak mengembangkan diri sesuai kemampuannya,” katanya singkat, namun tulus.

Saking betahnya, beberapa anak bahkan sempat bilang ingin datang lagi ke studio itu di lain waktu, kali ini untuk belajar melukis kaca lebih serius.

Menjelang siang, sebelum acara resmi ditutup, beberapa siswa diminta maju ke depan. Satu per satu mereka bercerita, apa yang baru saja mereka lukis. Panitia sengaja merancang sesi kecil ini sebagai latihan keberanian. Tujuannya sederhana: biar anak-anak terbiasa bicara di depan orang banyak, tidak minder untuk menyuarakan isi kepalanya sendiri.

Melatih keberanian: Perwakilan siswa dengan percaya diri maju mempresentasikan makna di balik karya lukisan kaca mereka.

Sebelum acara benar-benar ditutup, Pak Subandi menyempatkan diri berpesan kepada guru pendamping dan siswa yang hadir. Ia mengaku terbuka apabila ada sekolah lain yang ingin mengadakan workshop serupa. “Kalau ada sekolah yang mau bikin workshop seperti ini, bisa langsung hubungi saya, atau DM saja lewat Instagram,” katanya.

foto bersama menutup rangkaian kegiatan psikoedukasi dan workshop melukis kaca.

Acara pun berakhir sekitar pukul 10.40, ditutup dengan pembagian sertifikat dan foto bersama. Sederhana, tapi cukup untuk meninggalkan kesan di benak anak-anak, bahwa belajar soal empati dan seni ternyata bisa dilakukan dalam satu pagi yang sama.


Penulis:
1. Angella Putri Octavia
2. ⁠Desta Iqbal Hanafi
3. ⁠Nisa Amelia
4. ⁠Grace Natalasya
5. ⁠Esthi Ayu Utami
6. ⁠Yasvi Mardyana
7. ⁠Muhammad Alfin Al Faridzi
8. ⁠Wisnu Waskitho Aji
9. ⁠Andhika Satya Pratama
10. ⁠Ilham Suyadi
11. ⁠Zais Zamrainy Kaimudin
12. ⁠Mohammad Arif Budiarto
Program Studi Psikologi, Informatika, Manajemen, Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY)
KKN-PPM Mandiri UMBY Kelompok 119 Universitas Mercu Buana Yogyakarta


Dosen Pengampu: Imam Suharjo, S.T., M.Eng., MCF.


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses