Cara Menerbitkan Artikel di Media Online

Cara Menerbitkan Artikel di Media Online
Cara Menerbitkan Artikel di Media Online. (Gambar: Pixabay.com)

Menerbitkan artikel di media online tidak cukup hanya dengan menulis lalu mengirimkan naskah ke redaksi. Penulis perlu memastikan tulisannya sesuai dengan karakter media, memenuhi ketentuan penerbitan, memiliki kualitas yang layak, dan dikirim melalui jalur yang benar.

Proses tersebut berlaku untuk berbagai jenis tulisan, mulai dari opini, esai, artikel ilmiah populer, berita, rilis kegiatan, hingga karya sastra. Setiap media online memiliki standar dan proses editorial yang berbeda sebelum sebuah naskah akhirnya diterbitkan dan dapat dibaca oleh publik.

Bagi mahasiswa, menerbitkan artikel juga sering menjadi bagian dari tugas perkuliahan, kegiatan akademik, KKN, pengabdian masyarakat, maupun kebutuhan membangun portofolio. Jika kamu sudah memiliki naskah dan ingin menerbitkannya di Media Mahasiswa Indonesia, kamu dapat langsung membaca panduan Kirim Artikel ke Media Mahasiswa Indonesia untuk mengetahui ketentuan dan prosedur pengirimannya.

Namun, jika kamu ingin memahami bagaimana proses sebuah tulisan dapat diterbitkan di media online, panduan ini akan membahasnya secara bertahap, mulai dari memilih media yang tepat, mempersiapkan naskah, mengirim artikel, menghadapi proses editorial, hingga apa yang perlu dilakukan setelah artikel tayang.

Apa Artinya Menerbitkan Artikel di Media Online?

Menerbitkan artikel di media online berarti membuat sebuah tulisan tersedia untuk dibaca publik melalui website media setelah melewati proses penerimaan dan penerbitan yang berlaku pada media tersebut.

Proses ini perlu dibedakan dari sekadar menulis artikel. Seseorang dapat menyelesaikan sebuah tulisan, tetapi tulisan tersebut belum menjadi artikel yang diterbitkan sebelum dipublikasikan pada suatu media atau platform.

Begitu pula dengan mengirim artikel. Naskah yang sudah masuk ke redaksi belum tentu langsung diterbitkan. Redaksi dapat memeriksa kesesuaian tema, kualitas tulisan, kelengkapan identitas, sumber informasi, hingga aspek teknis lainnya sebelum menentukan apakah naskah dapat diproses.

Pada kondisi tertentu, editor juga dapat melakukan penyuntingan atau meminta penulis melakukan revisi.

Hal inilah yang membedakan penerbitan melalui media online dengan menerbitkan tulisan sendiri melalui blog atau platform yang memberikan akses publikasi langsung kepada penggunanya. Pada media yang dikelola secara redaksional, terdapat proses yang harus dilalui sebelum artikel tayang.

Artikel Seperti Apa yang Bisa Diterbitkan di Media Online?

Jenis artikel yang dapat diterbitkan sangat bergantung pada karakter masing-masing media.

Ada media yang berfokus pada berita, ada yang lebih banyak menerbitkan opini, sementara media lainnya mempunyai segmentasi khusus seperti pendidikan, mahasiswa, kesehatan, teknologi, politik, olahraga, atau bidang tertentu.

Secara umum, tulisan yang dapat diterbitkan di media online antara lain:

  • artikel opini;
  • esai;
  • artikel ilmiah populer;
  • berita;
  • rilis kegiatan;
  • press release;
  • resensi buku atau film;
  • tulisan edukatif dan informatif;
  • cerpen, puisi, dan karya sastra lainnya.

Sebelum menentukan tujuan penerbitan, sebaiknya cari media yang memang menerima jenis tulisanmu. Kamu dapat menggunakan Daftar Media Online yang Menerima Tulisan, Artikel, Opini & Berita sebagai salah satu referensi untuk memilih media.

Jangan hanya mempertimbangkan seberapa terkenal sebuah media. Kesesuaian antara topik, bentuk tulisan, karakter media, dan pembacanya jauh lebih penting.

Cara Menerbitkan Artikel di Media Online

Tidak ada satu prosedur yang berlaku untuk seluruh media. Namun, proses menerbitkan artikel umumnya dimulai dari menentukan tujuan tulisan, memilih media, menyiapkan naskah, mengirimkannya kepada redaksi, hingga mengikuti proses editorial.

Berikut langkah-langkah yang dapat kamu lakukan.

1. Tentukan Tujuan Menerbitkan Artikel

Sebelum memilih media, tentukan terlebih dahulu mengapa artikel tersebut ingin diterbitkan.

Mahasiswa, misalnya, mungkin membutuhkan publikasi untuk memenuhi tugas kuliah. Penulis lain ingin menyampaikan gagasan mengenai persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, politik, kesehatan, atau bidang yang dikuasainya.

Tujuan lainnya bisa berupa membangun portofolio, memperkenalkan hasil penelitian kepada masyarakat, memberitakan kegiatan organisasi, menyebarkan informasi, atau membangun rekam jejak sebagai penulis.

Tujuan tersebut akan memengaruhi jenis media yang sebaiknya dipilih.

Artikel mengenai kegiatan KKN tentu mempunyai kebutuhan berbeda dengan artikel opini mengenai kebijakan publik. Demikian pula tulisan ilmiah populer tidak selalu cocok dikirim ke media yang lebih banyak menerbitkan berita.

Karena itu, jangan memulai proses penerbitan hanya dengan pertanyaan, “Media mana yang paling besar?” Pertimbangkan terlebih dahulu, “Media mana yang paling sesuai dengan tulisan saya?”

2. Pilih Media Online yang Sesuai dengan Tulisan

Setelah mengetahui tujuan penerbitan, cari media yang memiliki pembaca dan rubrik yang relevan dengan topik tulisanmu.

Jika menulis mengenai kehidupan mahasiswa, pendidikan tinggi, kegiatan kampus, atau pemikiran mahasiswa, kamu dapat mempertimbangkan media yang memang memiliki pembaca dari lingkungan akademik.

Begitu pula dengan tulisan yang sangat spesifik. Artikel kesehatan lebih tepat diarahkan ke media yang mempunyai kanal kesehatan, sedangkan artikel politik dapat dikirim ke media yang membahas politik dan pemerintahan.

Perhatikan pula jenis naskah yang diterima. Media yang menerima opini belum tentu menerima press release. Sebaliknya, portal berita yang menerima rilis kegiatan belum tentu membuka ruang untuk cerpen atau puisi.

Jika masih bingung menentukan pilihan, baca Daftar Media Online yang Menerima Tulisan, Artikel, Opini & Berita untuk memahami beberapa pilihan media berdasarkan karakter publikasinya.

3. Pelajari Pedoman Penerbitan Media

Setelah menentukan media tujuan, jangan langsung mengirim artikel.

Cari terlebih dahulu ketentuan atau pedoman penerbitannya. Langkah sederhana ini dapat menghindarkan naskah dari masalah teknis yang sebenarnya mudah dicegah.

Setiap media dapat menentukan ketentuan berbeda mengenai panjang tulisan, format dokumen, gaya penulisan, foto, biodata penulis, sumber, hingga metode pengiriman.

Ada redaksi yang meminta naskah dikirim dalam format Microsoft Word. Media lain mungkin menggunakan formulir khusus, email, atau sistem pengiriman lainnya.

Perhatikan pula apakah media mempunyai ketentuan mengenai artikel yang sudah pernah diterbitkan di tempat lain.

Jika pedoman sudah tersedia, ikuti ketentuan tersebut. Jangan menganggap satu prosedur pengiriman berlaku untuk semua media.

4. Pastikan Artikel Layak Diterbitkan

Naskah yang sudah selesai ditulis sebaiknya tidak langsung dikirim.

Baca kembali artikel dari awal sampai akhir. Periksa apakah gagasan utamanya sudah jelas, argumen tersusun dengan baik, dan pembaca dapat memahami apa yang ingin kamu sampaikan.

Artikel yang layak diterbitkan setidaknya harus orisinal dan tidak melakukan plagiarisme. Jika menggunakan informasi, data, teori, atau pernyataan dari sumber lain, cantumkan sumber secara tepat.

Periksa pula akurasi informasi yang digunakan. Jangan memasukkan angka, nama, peristiwa, atau klaim faktual yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Judul juga perlu mewakili isi tulisan. Hindari membuat judul sensasional yang ternyata tidak dijelaskan dalam artikel.

Setelah itu, periksa kembali ejaan, tanda baca, struktur paragraf, dan kalimat yang terasa sulit dipahami. Naskah yang bersih akan memudahkan redaksi melakukan pemeriksaan.

Jika tulisan bersifat argumentatif, data dan referensi yang relevan dapat digunakan untuk memperkuat pembahasan. Namun, jangan memenuhi artikel dengan kutipan hingga gagasan penulis sendiri justru tidak terlihat.

5. Siapkan Identitas dan Biodata Penulis

Kesalahan sederhana yang cukup sering terjadi adalah mengirim naskah tanpa identitas yang memadai.

Media perlu mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas tulisan tersebut.

Informasi yang dibutuhkan dapat berbeda pada setiap media, tetapi umumnya mencakup:

  • nama lengkap;
  • asal kampus atau instansi;
  • program studi atau profesi;
  • alamat email;
  • nomor yang dapat dihubungi;
  • foto penulis; dan
  • biodata singkat.

Untuk mahasiswa, identitas kampus dan program studi biasanya relevan dicantumkan karena memberikan konteks mengenai latar belakang penulis.

Pastikan pula nama yang diberikan kepada redaksi merupakan nama yang memang ingin dicantumkan pada artikel ketika diterbitkan.

Biodata tidak harus panjang. Cukup jelaskan identitas dan latar belakang yang relevan dengan tulisan.

6. Kirim Artikel Melalui Jalur yang Disediakan Media

Jika naskah dan identitas sudah siap, kirim artikel melalui jalur resmi yang disediakan media.

Media online dapat menerima naskah melalui email, formulir pengiriman, dashboard penulis, maupun WhatsApp redaksi.

Jika menggunakan email, tuliskan subjek yang mudah dikenali. Misalnya:

Pengiriman Artikel Opini – [Judul Artikel]

Berikan pengantar singkat pada badan email, kemudian lampirkan naskah sesuai format yang diminta.

Jika media menerima naskah melalui WhatsApp, tetap kirim dengan cara yang rapi. Perkenalkan diri, jelaskan tujuan menghubungi redaksi, kemudian ikuti prosedur yang diberikan admin.

Jika kamu membutuhkan pembahasan yang lebih khusus mengenai proses pengiriman, baca Cara Mengirim Artikel, Opini, Tulisan dan Berita ke Media Online.

Perbedaan antara mengirim dan menerbitkan artikel juga perlu dipahami. Pengiriman selesai ketika naskah sudah diterima oleh media, sedangkan penerbitan baru selesai ketika artikel sudah benar-benar tayang.

7. Tunggu Proses Pemeriksaan Redaksi

Setelah artikel dikirim, berikan kesempatan kepada redaksi untuk memeriksanya.

Pada tahap ini, redaksi dapat mengevaluasi apakah artikel sesuai dengan rubrik, standar editorial, karakter pembaca, serta ketentuan media.

Prosesnya tidak selalu sama.

Ada artikel yang dapat langsung diproses, ada yang membutuhkan penyuntingan, dan ada pula yang perlu dikembalikan kepada penulis untuk diperbaiki.

Karena itu, jangan menganggap belum mendapatkan balasan dalam waktu singkat berarti artikel otomatis ditolak.

Waktu pemeriksaan berbeda pada setiap media. Jumlah naskah yang masuk, sistem kerja redaksi, tingkat penyuntingan, dan jadwal penerbitan dapat memengaruhi lamanya proses.

Jika ingin melakukan follow-up, lakukan secara wajar dan mengikuti ketentuan media. Hindari menghubungi redaksi berulang kali dalam waktu yang sangat singkat.

8. Lakukan Revisi Jika Diminta Editor

Permintaan revisi bukan berarti tulisanmu ditolak.

Sebaliknya, revisi dapat menjadi bagian dari proses agar naskah lebih layak diterbitkan.

Editor mungkin meminta penulis memperjelas argumen, memperbaiki struktur, melengkapi sumber, mengubah judul, memperbaiki informasi tertentu, atau menghapus bagian yang tidak relevan.

Baca catatan tersebut secara menyeluruh sebelum melakukan perubahan.

Jika ada arahan yang belum dipahami, tanyakan secara spesifik. Jangan mengabaikan catatan editor atau mengirim kembali file yang sama tanpa melakukan perbaikan.

Setelah revisi selesai, periksa naskah sekali lagi dan kirim melalui jalur yang telah ditentukan. Beri keterangan bahwa file tersebut merupakan versi revisi agar tidak tertukar dengan naskah sebelumnya.

9. Periksa Artikel Setelah Diterbitkan

Ketika redaksi memberi informasi bahwa artikel sudah diterbitkan, buka halaman artikel dan periksa hasilnya.

Pastikan:

  • nama penulis sudah benar;
  • judul sesuai;
  • gambar dapat tampil;
  • isi artikel tidak mengalami kesalahan yang mengubah makna; dan
  • informasi penting ditampilkan dengan benar.

Perubahan tertentu tetap mungkin terjadi karena media mempunyai kewenangan editorial sesuai kebijakan masing-masing.

Namun, jika menemukan kesalahan faktual, kesalahan identitas, tautan yang tidak berfungsi, atau kekeliruan penting lainnya, segera sampaikan kepada redaksi secara sopan.

Simpan pula URL artikel tersebut. Tautan artikel dapat menjadi bukti publikasi dan nantinya digunakan sebagai bagian dari portofolio menulis.

10. Bagikan Artikel dan Bangun Portofolio

Artikel yang sudah diterbitkan tidak harus berhenti sebagai satu halaman di website media.

Bagikan tulisan tersebut melalui media sosial, grup yang relevan, atau jaringan profesional jika memang sesuai. Cara ini dapat membantu tulisan menjangkau pembaca yang lebih luas.

Jika rutin menulis, kumpulkan seluruh artikel yang pernah diterbitkan dalam satu portofolio.

Portofolio tersebut akan menunjukkan perkembangan kemampuan menulis sekaligus rekam jejak publikasi. Bagi mahasiswa, kumpulan artikel juga dapat menjadi dokumentasi kegiatan akademik maupun nonakademik selama kuliah.

Semakin banyak pengalaman menerbitkan tulisan, biasanya semakin mudah pula memahami bagaimana redaksi bekerja dan seperti apa naskah yang layak dikirim.

Cara Menerbitkan Artikel untuk Mahasiswa

Mahasiswa mempunyai kebutuhan publikasi yang cukup beragam.

Ada yang menerbitkan artikel karena tugas dosen, tetapi banyak pula yang menulis atas inisiatif sendiri untuk menyampaikan gagasan dan mengembangkan kemampuan menulis.

Tulisan mahasiswa dapat berasal dari berbagai aktivitas akademik maupun organisasi. Misalnya:

  • opini mengenai isu yang sedang berkembang;
  • artikel ilmiah populer dari materi perkuliahan;
  • hasil penelitian;
  • kegiatan KKN;
  • pengabdian masyarakat;
  • Program Kreativitas Mahasiswa (PKM);
  • seminar dan kegiatan akademik;
  • kegiatan organisasi mahasiswa; hingga
  • pengalaman selama mengikuti berbagai program kampus.

Materi akademik tidak harus diterbitkan dalam bentuk yang sama seperti tugas kuliah. Tulisan dapat diolah kembali agar lebih mudah dipahami masyarakat umum.

Misalnya, gagasan dari makalah dapat dikembangkan menjadi artikel opini. Hasil penelitian dapat disederhanakan menjadi artikel ilmiah populer. Kegiatan KKN dapat ditulis menjadi berita atau artikel pengabdian masyarakat.

Hal terpenting adalah menentukan bentuk tulisan yang sesuai sebelum mengirimkannya ke media.

Jika kamu mahasiswa dan naskahmu sudah siap, informasi mengenai jenis tulisan, persyaratan naskah, proses pengiriman, dan pilihan penerbitan di MMI tersedia pada halaman Kirim Artikel ke Media Mahasiswa Indonesia.

Cara Menerbitkan Artikel di Media Mahasiswa Indonesia

Media Mahasiswa Indonesia (MMI) telah menjadi ruang publikasi bagi tulisan mahasiswa sejak didirikan pada 2013. Seiring perkembangannya, tulisan yang diterbitkan tidak hanya berasal dari mahasiswa, tetapi juga dosen, pelajar, guru, serta penulis dari berbagai latar belakang sesuai ketentuan redaksi.

Jenis tulisan yang dapat dikirim juga beragam, seperti opini, esai, artikel ilmiah populer, berita kegiatan kampus dan organisasi, tulisan KKN dan pengabdian masyarakat, resensi, hingga karya sastra.

Pada artikel ini, prosedur penerbitan di MMI sengaja tidak dijelaskan terlalu panjang karena Media Mahasiswa Indonesia telah menyediakan halaman khusus yang menjadi pusat informasi pengiriman artikel.

Jika ingin menerbitkan tulisan di MMI, buka Kirim Artikel ke Media Mahasiswa Indonesia: Panduan Pengiriman dan Publikasi.

Pada halaman tersebut kamu dapat memeriksa ketentuan naskah dan prosedur pengiriman sebelum menghubungi redaksi. Menggunakan halaman utama tersebut juga menghindarkan kamu dari informasi lama mengenai biaya, waktu penerbitan, atau ketentuan teknis yang mungkin telah diperbarui.

Kesalahan yang Membuat Artikel Sulit Diterbitkan

Artikel yang bagus sekalipun dapat mengalami kendala jika dikirim dengan cara yang kurang tepat.

Salah satu kesalahan paling umum adalah tidak membaca ketentuan media. Penulis sudah menghabiskan banyak waktu membuat naskah, tetapi mengirimkannya ke media yang tidak menerima jenis tulisan tersebut.

Kesalahan lainnya adalah mengirim naskah sebelum melakukan penyuntingan. Typo yang terlalu banyak, paragraf tidak terstruktur, judul tidak sesuai isi, atau argumen yang belum selesai dapat mengurangi kualitas artikel.

Masalah yang lebih serius adalah plagiarisme dan penggunaan informasi tanpa sumber yang jelas. Penulis bertanggung jawab terhadap materi yang dikirimkan atas namanya.

Beberapa kesalahan lain yang sebaiknya dihindari adalah:

  • memilih media yang tidak sesuai dengan topik;
  • tidak mengikuti format pengiriman;
  • identitas penulis tidak lengkap;
  • menggunakan data yang tidak dapat diverifikasi;
  • mengirim tulisan yang terlalu promosi sebagai artikel biasa;
  • mengabaikan permintaan revisi dari editor;
  • melakukan follow-up terlalu sering; dan
  • tidak membaca kembali naskah sebelum dikirim.

Prinsipnya sederhana: jangan membuat redaksi bekerja lebih banyak hanya untuk memperbaiki hal-hal dasar yang sebenarnya dapat diselesaikan penulis sebelum mengirim naskah.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Artikel Dikirim?

Setelah artikel dikirim, simpan naskah final dan bukti pengiriman. Kemudian tunggu sesuai waktu pemeriksaan yang berlaku pada media tersebut.

Pantau email, WhatsApp, atau jalur komunikasi yang digunakan ketika mengirim naskah. Redaksi mungkin menghubungi untuk meminta informasi tambahan atau revisi.

Jika belum ada respons, jangan langsung mengirim artikel berulang kali. Periksa terlebih dahulu apakah media mencantumkan estimasi waktu pemeriksaan atau aturan mengenai follow-up.

Apabila perlu menghubungi redaksi, sampaikan pertanyaan secara singkat. Cantumkan nama penulis dan judul artikel agar naskah lebih mudah ditemukan.

Jika artikel diterima, ikuti proses berikutnya sampai tayang.

Jika ditolak, evaluasi alasannya apabila redaksi memberikan catatan. Penolakan dari satu media tidak berarti tulisan tersebut tidak layak. Artikel mungkin dapat diperbaiki atau dikirim ke media lain sesuai dengan kebijakan penerbitan yang berlaku.

FAQ tentang Cara Menerbitkan Artikel di Media Online

Apakah menerbitkan artikel di media online gratis?

Tergantung kebijakan masing-masing media. Ada media yang menerima kontribusi tulisan tanpa biaya, sedangkan media lainnya memiliki layanan atau skema penerbitan berbayar untuk jenis publikasi tertentu.

Karena itu, periksa ketentuan media sebelum mengirim naskah.

Apakah mahasiswa bisa menerbitkan artikel di media online?

Bisa. Mahasiswa dapat menerbitkan opini, esai, artikel ilmiah populer, berita kegiatan, tulisan KKN, pengabdian masyarakat, karya sastra, dan berbagai bentuk tulisan lainnya selama sesuai dengan ketentuan media tujuan.

Berapa lama artikel bisa diterbitkan?

Tidak ada waktu yang berlaku untuk seluruh media. Proses dapat dipengaruhi oleh antrean naskah, pemeriksaan editor, kebutuhan revisi, serta jadwal penerbitan masing-masing redaksi.

Apakah artikel yang sudah pernah terbit boleh dikirim ke media lain?

Kebijakannya berbeda pada setiap media. Sebagian media mensyaratkan naskah yang belum pernah diterbitkan, sehingga penulis perlu memeriksa ketentuan sebelum mengirim artikel yang sama ke tempat lain.

Apakah artikel harus menggunakan referensi?

Tidak semua jenis tulisan membutuhkan pola referensi seperti karya ilmiah. Namun, data, kutipan, teori, hasil penelitian, atau informasi yang berasal dari pihak lain tetap perlu memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimana mengetahui artikel sudah diterima redaksi?

Beberapa media memberikan konfirmasi setelah naskah masuk, sedangkan media lainnya baru menghubungi penulis ketika artikel akan diproses.

Karena itu, ikuti prosedur pengiriman dan simpan bukti bahwa naskah telah dikirim.

Kesimpulan

Cara menerbitkan artikel di media online dimulai jauh sebelum menekan tombol kirim. Penulis perlu menentukan tujuan, memilih media yang sesuai, membaca pedoman penerbitan, memastikan kualitas naskah, melengkapi identitas, dan mengirim artikel melalui jalur yang benar.

Setelah itu, bersiaplah mengikuti proses editorial. Artikel mungkin langsung diproses, disunting, atau dikembalikan untuk direvisi sebelum akhirnya diterbitkan.

Bagi mahasiswa maupun penulis lain yang ingin membangun rekam jejak publikasi, proses tersebut juga menjadi bagian penting dari pembelajaran menulis. Semakin memahami kebutuhan pembaca dan cara kerja redaksi, semakin baik pula kemampuanmu menyiapkan naskah yang layak diterbitkan.

Jika artikelmu sudah selesai dan kamu ingin mengirimkannya ke Media Mahasiswa Indonesia, langkah berikutnya dapat dilakukan melalui halaman Kirim Artikel ke Media Mahasiswa Indonesia.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses