Wajah Baru Ruang Publik: Menjamurnya Spanduk AI di Ruang Publik Masyarakat

banner AI
Ilustrasi Banner AI (Sumber: MMI Arts)

Berkendara di sepanjang jalan hari ini menawarkan pemandangan yang berbeda.

Di masa lalu, kita terbiasa melihat desain template sederhana pada poster yang mengumumkan acara komunitas, kegiatan lokal, atau pemberitahuan lembaga resmi.

Namun, pemandangan ini sekarang telah berubah.

Ruang publik saat ini dipenuhi dengan visual yang hidup dan beresolusi tinggi, karakter manusia 3D yang sempurna, dan gaya pencahayaan futuristik yang baru.

Ya, itulah fenomena penggunaan banner berbasis AI yang meluas dan kini menguasai setiap sudut jalan.

Teknologi generator kecerdasan buatan memang memberikan tingkat kenyamanan yang luar biasa tinggi.

Dengan mengetikkan beberapa kata perintah saja, banner formal untuk berbagai acara sosial atau organisasi komunitas dapat diselesaikan dalam hitungan detik tanpa perlu membayar jasa desain grafis.

Namun, di balik efisiensi dan visual modern yang tampak, muncul ironi yang signifikan: penggunaan banner formal berbasis AI yang meluas sebenarnya telah menyebabkan penurunan minat publik terhadap informasi yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga: Sistem Komunikasi Indonesia dalam Krisis Geopolitik: Ketika FYP Menggeser Peran Media Konvensional dalam Membentuk Opini Publik Anak Muda

Apa yang sebenarnya kita lihat saat kita melewati jalan-jalan ramai yang dipenuhi puluhan spanduk serupa?

Sering kali, perhatian kita langsung tertuju pada elemen estetika yang mengganggu.

Desain AI cenderung memiliki gaya yang seragam—wajah manusia yang terlalu mulus, proporsi tubuh yang aneh, atau latar belakang yang terlalu berkilau dan mengalihkan perhatian.

Alih-alih berfokus pada detail penting dari pengumuman tersebut, seperti tanggal acara, tema seminar, atau instruksi, mata para pengguna jalan justru tertarik pada aspek visual yang tidak biasa.

Orang-orang dibuat fokus pada detail seperti karakter yang memiliki enam jari, kerutan yang tidak alami pada pakaian, atau elemen latar belakang yang terlalu dramatis dan bergerak secara ekstrem.

Kegagalan komunikasi ini dapat dijelaskan melalui sudut pandang psikologi kognitif.

Manusia memiliki kecenderungan yang disebut gap-gazing bias, di mana perhatian kita secara otomatis akan tersedot pada kekurangan atau keganjilan dari suatu objek buatan teknologi.

Saat melewati spanduk AI, visual yang terlalu berkilau dan tidak alami ini memicu alarm sensorik di otak kita untuk mencari tahu apa yang ‘salah’ dari gambar tersebut.

Alih-alih memproses pesan tekstual seperti lokasi atau waktu acara, energi kognitif pengguna jalan justru habis hanya untuk mencerna distorsi visual mesin.

Baca Juga: Sudah Siapkah Pemerintah Menghadapi Era AI dalam Pelayanan Publik?

Fungsi utama spanduk sebagai media komunikasi publik gagal karena kontras yang berlebihan dan desain yang terlalu “bising”.

Informasi penting yang seharusnya tersampaikan justru tertutupi oleh ego visual buatan mesin.

Ketika fungsi papan reklame bergeser dari menyampaikan pesan menjadi sekadar memamerkan tampilan teknologi instan, efektivitas komunikasi massa di dalam masyarakat semakin berkurang.

Spanduk akhirnya menjadi sampah visual di jalan, dilewati begitu saja tanpa ada yang benar-benar membaca isinya.

Fenomena ini menjadi refleksi penting bagi penyelenggara organisasi atau lembaga lokal.

Kehadiran AI tidak dapat dihindari dan sangat membantu mengurangi biaya produksi.

Namun, estetika instan tidak boleh mengorbankan keterbacaan.


Penulis: Aqiella Putri Syihab
Mahasiswa Prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Universitas Airlangga


Dosen Pengampu: Dr. Puji Karyanto, S.S, M.Hum.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *