Pernahkah kalian asyik scrolling TikTok maupun Instagram Reels tanpa sengaja muncul video yang berdurasi 15 detik tentang konflik wilayah Timur Tengah atau ketegangan dagang global bahkan ada latar belakang musik dramatis?
Hanya dengan beberapa ketukan saja video tersebut sudah disukai banyak orang terkadang sebanyak disukai ribuan anak muda bahkan dikomentari ribuan anak muda yang mendadak menjadi “Pengamat Politik Internasional”.
Hari ini, di tengah situasi geopolitik dunia yang semakin memanas, medan pertempuran informasi tidak lagi hanya terjadi di ruang sidang PBB atau meja redaksi koran besar.
Garis depan pembentukan opini publik kini berada di genggaman tangan generasi muda Indonesia: lewat halaman For Your Page (FYP).
Sebagai mahasiswa yang mempelajari ilmu komunikasi, saya, Kezia Tania Putri, melihat ada perubahan besar yang sedang terjadi dalam kondisi media kita, di mana algoritma mulai mengambil peran edukasi publik.
Sistem komunikasi saat ini mengalami perubahan yang besar.
Televisi, koran, dan berita resmi yang dulu banyak digunakan masyarakat mulai berkurang pengaruhnya, terutama bagi generasi muda seperti Gen Z dan Alpha yang lebih memilih mendapatkan informasi melalui media digital.
Dalam diskusi mata kuliah di kelas, Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., menjelaskan bahwa sistem komunikasi dalam suatu negara selalu dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan keadaan politik.
Saat ini, media sosial telah mengubah cara masyarakat, terutama anak muda terutama pada Generasi Z dan Generasi Alpha, dalam mencari dan menerima informasi.
Perubahan ini dapat dijelaskan melalui konsep 5W+1H sebagai berikut:
What?
Cara anak muda mendapatkan informasi sudah berubah.
Dulu, banyak orang mengandalkan televisi, koran, atau berita resmi.
Namun sekarang, banyak anak muda lebih sering mencari informasi melalui media sosial seperti video pendek dan konten yang sedang viral.
Hal ini membuat pendapat mereka tentang suatu isu sering terbentuk dari konten yang mereka lihat di media sosial.
Who?
Perubahan ini melibatkan anak muda sebagai pengguna media sosial, para konten kreator yang membuat dan menyebarkan informasi, serta algoritma media sosial yang menentukan konten apa yang muncul di layar pengguna.
Where & When?
Fenomena ini terjadi di Indonesia saat ini. Penggunaan internet yang semakin luas membuat media sosial menjadi salah satu sumber informasi utama bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Why?
Media sosial banyak digunakan karena lebih cepat, praktis, dan menarik dibandingkan media tradisional.
Berita di televisi atau koran membutuhkan proses yang lebih lama, sedangkan informasi di media sosial dapat langsung tersebar.
Namun, tidak semua informasi yang beredar di media sosial benar, sehingga pengguna harus lebih berhati-hati dalam menerima informasi.
How?
Media sosial membuat informasi yang rumit sering dibuat lebih singkat agar mudah menarik perhatian.
Akibatnya, anak muda terkadang hanya memahami suatu masalah dari satu sisi saja dan bisa terpengaruh oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Ketika anak muda lebih percaya opini influencer ketimbang laporan jurnalisme yang valid, sistem komunikasi kita sedang dalam lampu kuning.
Informasi adalah Alat
Di era krisis geopolitik, siapa yang menguasai narasi, dia yang menang.
Jika opini anak muda disetir oleh algoritma media sosial asing, kita berisiko kehilangan kedaulatan informasi.
Bahaya Simplifikasi
Masalah rumit seperti perang dunia atau sengketa wilayah tidak bisa dipahami hanya lewat video 15 detik.
Hal ini melahirkan generasi yang gampang mengambil kesimpulan tanpa tahu konteks aslinya.
Menata Ulang Strategi Komunikasi
Kita tidak bisa memaksa anak muda kembali menonton TV atau membaca koran.
Solusinya adalah adaptasi lewat dua langkah nyata:
Media Arus Utama Harus Ikut Masuk FYP
Jangan musuhi media sosial. Media konvensional wajib mengemas jurnalisme yang jujur dan akurat ke dalam format video pendek yang visual dan menarik bagi anak muda.
Edukasi Literasi Digital
Pemerintah dan lembaga pendidikan harus lebih agresif mengajar cara menyaring informasi, mengenali robot algoritma, dan membiasakan diri melakukan cross-check ke sumber berita yang punya reputasi.
Dari sinilah kita bisa menarik kesimpulan bahwa, cara kita menerima berita boleh saja berubah, tetapi nalar kritis tidak boleh hilang.
Sistem komunikasi Indonesia harus mampu menyatukan dua kekuatan: keakuratan media konvensional dan kelincahan media digital.
Hanya dengan cara ini, generasi muda kita bisa menjadi aktor global yang cerdas, bukan sekadar penonton yang gampang dimanipulasi oleh perang narasi di media sosial.
Melalui artikel opini ini, Kezia Tania Putri, mahasiswa Ilmu Komunikasi, mencoba memotret realitas Sistem Komunikasi Indonesia saat ini: ketika video singkat di FYP lebih dominan membentuk opini politik generasi muda dibandingkan media konvensional di tengah krisis geopolitik.
Analisis ini disusun berdasarkan bimbingan dan pembelajaran dari dosen pengampu, Bapak Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., pada mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia dengan harapan dapat memantik nalar kritis masyarakat dalam menyaring informasi digital.
Penulis: Kezia Tania Putri
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












