Per hari ini, anggapan bahwa “semua adalah takdir” seakan sudah menjadi hal yang lumrah dalam komunikasi sehari-hari. Ketika kegagalan terjadi, baik dalam dunia pekerjaan maupun pendidikan, bahkan saat seseorang dengan sengaja melakukan kesalahan, tidak sedikit yang memilih lepas tangan, meninggalkan tanggung jawab, berhenti berusaha, lalu berkata, “Ini semua sudah takdir.” Narasi seperti ini juga banyak ditemukan di media sosial.
Padahal, dalam Islam diajarkan bahwa seorang mukmin harus meyakini takdir Allah sekaligus memiliki kewajiban untuk berikhtiar. Kekeliruan dalam memahami konsep takdir dapat memengaruhi pola pikir seseorang, melahirkan sikap yang menyimpang, serta berdampak pada cara menjalani kehidupan.
Jika ditinjau dari sudut pandang para pemikir Islam, perbedaan pendapat mengenai takdir telah muncul sejak berkembangnya ilmu kalam. Salah satunya adalah aliran Qadariyah. Menurut kelompok ini, manusia memiliki kebebasan untuk menentukan setiap tindakannya. Mereka berpendapat bahwa manusia merupakan penentu atas seluruh perbuatannya sehingga takdir Allah tidak dipahami sebagai penentu langsung terhadap amal manusia.
Pemikiran tersebut muncul sebagai respons terhadap kelompok lain yang berpendapat bahwa manusia tidak memiliki pilihan karena segala sesuatu sepenuhnya merupakan takdir Allah. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa persoalan takdir bukan sekadar pembahasan teologis, melainkan juga berkaitan erat dengan tanggung jawab moral manusia.
Dalam hadis dijelaskan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Bersemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu merasa lemah.” (HR Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi mengajarkan umat Islam untuk tidak hanya berserah diri, tetapi juga berusaha dengan sungguh-sungguh.
Ikhtiar merupakan bagian dari ibadah, sedangkan tawakal dilakukan setelah adanya usaha. Hadis tersebut menegaskan bahwa keimanan kepada takdir Allah bukan menjadi alasan untuk meninggalkan ikhtiar, melainkan menjadi sumber ketenangan setelah seseorang melakukan usaha secara maksimal.
Terdapat pula hadis lain yang menguatkan prinsip tersebut. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. apakah untanya harus dilepas lalu bertawakal kepada Allah, beliau menjawab, “Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakallah.” Hadis ini mengandung makna yang sangat mendalam.
Tawakal memang dianjurkan, tetapi tidak boleh menghilangkan usaha. Seorang muslim diperintahkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, ajaran dalam hadis Nabi menunjukkan bahwa ikhtiar dan keyakinan terhadap takdir bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam kehidupan.
Apabila diperhatikan, terdapat dua pemahaman di masyarakat yang perlu diluruskan. Sebagian orang terlalu mengandalkan usaha hingga melupakan bahwa hasil akhir berada dalam kehendak Allah. Sebagian lainnya terlalu cepat berlindung di balik alasan takdir sehingga tidak memiliki keinginan untuk memperbaiki keadaan.
Kedua cara pandang tersebut tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Islam mengajarkan keseimbangan antara doa, ikhtiar, dan tawakal. Manusia diberi akal, tenaga, dan kesempatan untuk memilih jalan kehidupannya, tanpa melupakan bahwa segala sesuatu tetap berada dalam pengawasan dan kehendak Allah.
Di era digital saat ini, pemahaman yang benar mengenai takdir menjadi semakin penting. Tidak sedikit narasi di media sosial yang menyederhanakan pembahasan agama menjadi kalimat-kalimat singkat sehingga mudah disalahartikan oleh pembacanya.
Misalnya, ungkapan seperti “Kalau memang rezekinya tidak akan ke mana” atau “Kalau memang jodohnya pasti datang sendiri” sering dipahami tanpa disertai pengetahuan mengenai anjuran Islam untuk berusaha. Akibatnya, sebagian generasi muda kehilangan semangat untuk berikhtiar sejak awal. Padahal, Rasulullah saw. justru menganjurkan umatnya untuk berusaha semaksimal mungkin dalam mencapai tujuan.
Oleh karena itu, memahami hadis tentang takdir dan ikhtiar secara mendalam merupakan cara untuk menghindari kesalahpahaman terhadap perdebatan ulama klasik mengenai hubungan antara usaha dan takdir. Hadis lebih menekankan keseimbangan antara ketetapan Allah dan tanggung jawab manusia atas setiap perbuatannya.
Dengan pemahaman tersebut, seorang muslim tidak akan mudah menyalahkan takdir ketika mengalami kegagalan. Sebaliknya, ia juga tidak akan menjadi sombong ketika memperoleh keberhasilan.
Kesimpulannya, berhentilah menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan, menghindari usaha, atau lari dari tanggung jawab. Meyakini takdir tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Sebaliknya, keyakinan terhadap takdir menjadi pengingat bahwa apa pun hasil dari usaha yang telah dilakukan, Allah-lah penentu akhirnya.
Marilah menjadikan hadis-hadis Nabi sebagai pedoman untuk memperkuat tawakal sekaligus menumbuhkan semangat berikhtiar dalam menghadapi berbagai tantangan zaman dengan sikap bertanggung jawab, penuh harapan, dan jauh dari keputusasaan.
Penulis: Andi abdurrahman
Program Studi: Ilmu hadits, Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Qadim
Dosen Pengampu: Muhammad Ainul Yaqin, M,Ag.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI
















