Tartil di Layar Zoom: Ikhtiar UKM Asy-Syifa Membentuk Generasi Qur’ani

Pelatihan Tahsin
Pelatihan Tahsin UKM Asy-Syifa Universitas Pamulang membuktikan bahwa pembinaan tartil dan akhlak tidak selalu membutuhkan ruang fisik. Melalui pembelajaran daring yang terstruktur, 196 mahasiswa mengikuti sesi materi dan praktik membaca Al-Qur’an. Layar Zoom pun bukan sekadar ruang virtual, tetapi dapat menjadi jembatan untuk menumbuhkan generasi Qur’ani—selama pembelajaran dirancang dengan tepat dan keberlanjutannya terus dijaga. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Di tengah pesatnya digitalisasi pembelajaran kampus, muncul pertanyaan yang cukup mendasar: dapatkah pembinaan spiritual, khususnya kemampuan membaca Al-Qur’an, tetap efektif ketika dipindahkan sepenuhnya ke layar Zoom?

Mengingat semakin banyak organisasi kemahasiswaan yang mengadopsi format daring untuk program kerja keagamaan, termasuk Pelatihan Tahsin yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Asy-Syifa Universitas Pamulang pada 7 dan 10 September 2026.

Menurut saya, kegiatan ini justru membuktikan hal sebaliknya. Keterbatasan ruang fisik bukan sebuah penghalang bagi pembinaan tartil dan akhlak. Ia dapat menjadi peluang untuk menjangkau partisipasi yang jauh lebih luas, asalkan dirancang dengan metodologi yang tepat.

Pendapat tersebut didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, pembelajaran tahsin pada dasarnya membutuhkan dua unsur utama, yaitu penyampaian teori tajwid dan praktik pelafalan yang dikoreksi langsung.

Kedua unsur ini tetap dapat diakomodasi secara daring selama panitia merancang sesi secara terpisah dan bertahap, sebagaimana yang dilakukan UKM Asy-Syifa dengan membagi kegiatan menjadi sesi materi dan sesi praktik.

Ketiga, format daring justru menghilangkan hambatan logistik seperti keterbatasan kapasitas ruangan, jadwal yang berbenturan dengan jam kuliah tatap muka, atau jarak tempat tinggal mahasiswa dari kampus, sehingga mahasiswa dari berbagai program studi dapat berpartisipasi tanpa harus mengorbankan waktu perjalanan.

Keempat, kehadiran narasumber yang kompeten dan relevan dengan latar belakang keilmuan kampus menunjukkan bahwa kualitas materi tidak serta-merta menurun hanya karena disampaikan melalui layar.

Hal yang menentukan kualitas pembelajaran tetaplah kompetensi pengajar dan desain kurikulum pelatihan, bukan semata-mata medium penyampaiannya.

Argumen di atas didukung oleh data pelaksanaan kegiatan itu sendiri. Pelatihan Tahsin ini diikuti oleh 196 mahasiswa/i yang berasal dari seluruh program studi di lingkungan Universitas Pamulang, sebuah jumlah yang menunjukkan tingkat partisipasi lintas disiplin ilmu yang tinggi untuk kegiatan pembinaan keagamaan berbasis daring.

Materi disampaikan oleh Ibu Fina Fitriyana, S.E., M.Ak., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang, dalam dua sesi terstruktur, yaitu Sesi 1 (materi) pada 7 September 2026 pukul 13.00–14.30 Waktu Indonesia Barat (WIB) dan Sesi 2 (praktik) pada 10 September 2026 pukul 11.00–12.30 WIB.

Struktur dua sesi ini secara langsung mencerminkan penerapan prinsip pembelajaran bertahap, dari pemahaman konsep menuju penerapan praktik, yang lazim digunakan dalam metode pengajaran keterampilan apa pun, termasuk keterampilan membaca Al-Qur’an.

Sebagai penunjang keberlanjutan pembelajaran, setiap peserta yang mengikuti kegiatan secara penuh turut memperoleh soft file materi pelatihan, e-sertifikat, dan poin keaktifan kemahasiswaan, yang menjadi insentif konkret bagi mahasiswa untuk berpartisipasi hingga akhir sesi.

Kelancaran seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembukaan pendaftaran, penyampaian materi, sesi tanya jawab, hingga praktik langsung, turut menjadi bukti bahwa koordinasi teknis dan nonteknis panitia berjalan optimal sesuai jadwal yang ditetapkan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Pelatihan Tahsin yang diselenggarakan UKM Asy-Syifa bukan sekadar program kerja seremonial, melainkan bukti nyata bahwa pembinaan spiritual mahasiswa dapat berjalan efektif meski dilaksanakan secara daring, asalkan dirancang dengan metodologi pembelajaran yang tepat dan didukung koordinasi panitia yang matang.

Meski demikian, keberlanjutan menjadi tantangan berikutnya yang perlu dijawab. Antusiasme 196 peserta yang telah terekam dalam kegiatan ini harus ditindaklanjuti dengan program mentoring atau kelompok belajar kecil secara berkala, agar kemampuan tartil yang telah dibina tidak berhenti begitu sertifikat diterima.

Kepada pihak kampus dan organisasi kemahasiswaan lain, kegiatan ini kiranya dapat menjadi rujukan bahwa pembinaan akhlak dan keislaman mahasiswa tetap dapat dihidupkan secara kreatif di tengah keterbatasan ruang dan waktu, asalkan disertai komitmen untuk terus menjaga keberlanjutannya.

 


Penulis: Apriliana Naisyah Putri
Mahasiswa Program Studi Sarjana Akuntansi, Universitas Pamulang


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *