Sebagai mahasiswa Farmasi di Universitas Sumatera Utara, saya terbiasa menghabiskan hari di antara praktikum, jurnal ilmiah, tugas, organisasi, dan berbagai aktivitas akademik. Namun, ada satu hal yang baru saya sadari setelah membahas Indonesia kepada teman-teman dari berbagai penjuru dunia. Ternyata, masih banyak hal tentang negeri sendiri yang belum benar-benar saya kenal.
Kesadaran itu datang ketika saya mengikuti International Summer Course of Pharmacy (ISCP) 2026. Saya bertemu mahasiswa dari berbagai negara, yaitu Kamboja, Brunei Darussalam, Pakistan, Malaysia, Afghanistan, India, dan Tanzania. Saat itu, saya menjadi salah satu perwakilan mahasiswa dari Indonesia.
Ketika mereka bertanya tentang Indonesia, saya mulai berpikir lebih dalam. Tentang kekayaan alam yang selama ini hanya saya lihat dalam gambar. Tentang keberagaman budaya yang mungkin selama ini saya anggap biasa karena tumbuh di dalamnya. Tentang bahasa, makanan, tradisi, dan cerita dari berbagai daerah yang ternyata begitu menarik ketika diceritakan kepada seseorang yang baru pertama kali mendengarnya.
Saya belajar bahwa berada dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan negara bukan hanya tentang seberapa banyak kita tahu tentang dunia, tetapi juga tentang seberapa dalam kita memahami tempat dari mana kita berasal. Sejak saat itu, saya mulai melihat identitas saya sebagai orang Indonesia dengan cara yang berbeda.
Salah satu momen sederhana yang membekas bagi saya adalah ketika saya memperkenalkan rendang, serabi, martabak, hingga durian kepada teman-teman dari berbagai negara. Kami membeli durian dari Ucok Durian, salah satu tempat makanan populer di Medan, lalu mengajak mereka mencicipinya. Reaksinya pun beragam. Ada yang langsung menyukai rasa dan aromanya, ada yang penasaran karena baru pertama kali mencoba, tetapi ada pula yang ternyata tidak cocok dengan aroma dan rasanya.
Bagi sebagian dari mereka, durian merupakan pengalaman yang benar-benar baru. Dari makanan, percakapan kami kemudian berkembang menjadi cerita tentang keluarga, tradisi, dan budaya dari tempat kami masing-masing. Tidak hanya saya yang berbagi; teman-teman dari Malaysia juga membawa berbagai oleh-oleh khas seperti Keropok Lekor, Keropok Keping, dan Keropok Losong untuk kami coba bersama.
Rasanya sederhana, hanya berbagi makanan. Namun, satu gigitan makanan tradisional dapat membuka percakapan, menghadirkan tawa, mempertemukan perbedaan, dan membuat kita semakin menghargai cerita dari tempat masing-masing. Bahkan ketika Ning, Ling, In, dan Chinda, teman saya dari Kamboja, tidak menyukai durian, saya justru belajar bahwa memperkenalkan budaya bukan tentang membuat semua orang menyukai hal yang sama, melainkan memberi mereka kesempatan untuk mencoba, mengenal, dan memahami sesuatu yang sebelumnya mungkin terasa asing.
Tidak hanya berbagi makanan dan cerita, kami juga saling memperkenalkan budaya melalui bakat dan penampilan dari negara masing-masing. Saya mendapat kesempatan memperkenalkan tari Tor-Tor dari suku Batak Mandailing, membawa salah satu bagian dari identitas budaya yang saya banggakan kepada teman-teman dari berbagai negara.
Teman-teman dari Malaysia menampilkan akting atau berlakon dan seni silat, teman-teman dari Kamboja dan Brunei Darussalam menampilkan tarian, teman dari India berbagi melalui nyanyian, sementara teman-teman dari Tanzania dan Pakistan memperkenalkan negara mereka melalui presentasi.
Bagi saya, saat itu kami tidak sekadar menampilkan seni, tetapi sedang membuka jendela kecil menuju rumah dan budaya masing-masing. Mereka yang awalnya datang sebagai orang asing dari berbagai negara perlahan berubah menjadi teman yang saling berbagi cerita, tawa, dan pengalaman.
Bahkan di penghujung acara, Chinda, teman saya dari Kamboja, memberikan kenang-kenangan berupa uang dengan mata uang Kamboja dari negaranya. Benda sederhana itu menjadi sangat berarti bagi saya bukan karena nilainya, tetapi karena menjadi simbol kecil dari persahabatan yang terjalin lintas batas negara. Dari momen itu, saya belajar bahwa pengalaman internasional bukan hanya tentang seberapa banyak tempat yang kita kunjungi, tetapi juga tentang orang-orang yang kita temui, budaya yang kita kenal, dan kenangan yang kita bawa pulang sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Selanjutnya, kami mengunjungi berbagai destinasi di Medan. Bagi saya, perjalanan itu menjadi kesempatan istimewa untuk memperkenalkan Indonesia lebih dekat kepada teman-teman dari berbagai negara melalui kota tempat saya tumbuh dan menjalani sebagian perjalanan hidup.
Saya mengajak mereka mengenali Istana Maimun, peninggalan Kesultanan Deli dengan perpaduan arsitektur Melayu, Islam, dan Eropa; Masjid Raya Medan, salah satu ikon bersejarah kota, tempat kami belajar bahwa menghormati budaya juga berarti menghargai aturan dan tradisi setempat, termasuk ketika teman-teman perempuan yang berkunjung perlu mengenakan hijab sebagai bentuk penghormatan; Tjong A Fie Mansion, rumah bersejarah saudagar Tionghoa yang merekam keberagaman dan kehidupan Medan pada masa lalu; serta Museum Negeri Sumatera Utara yang menyimpan berbagai koleksi sejarah, budaya, dan warisan masyarakat Sumatera Utara.
Saya menceritakan semuanya dengan rasa bangga, seolah sedang membuka halaman demi halaman cerita tentang rumah saya kepada dunia. Namun, di tengah perjalanan itu, saya menyadari bahwa memperkenalkan sebuah tempat bukan hanya tentang menunjukkan bangunan atau menceritakan sejarah, tetapi juga tentang menjembatani perbedaan bahasa, budaya, dan cara pandang agar sebuah cerita dapat benar-benar dipahami dan dirasakan oleh mereka yang baru pertama kali mengenalnya.
Yang paling membekas bagi saya adalah melihat bagaimana cerita-cerita sederhana tentang tanah kelahiran saya mampu membuat mata mereka berbinar. Mereka antusias. Mereka bertanya. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan masyarakat di Medan, budaya yang hidup di dalamnya, tempat-tempat yang belum pernah mereka dengar, hingga Indonesia yang mungkin selama ini hanya mereka kenal dari peta, berita, atau sekilas cerita.
Di saat itulah teknologi menjadi jembatan. Ketika ada teman yang kesulitan memahami penjelasan saya, saya menggunakan Google Translate agar percakapan kami tetap mengalir. Saya juga memanfaatkan Gemini Live untuk membantu menjelaskan dan mengeksplorasi cerita tentang tempat-tempat yang saya perkenalkan secara lebih interaktif.
Dalam satu hari, kami mengunjungi keempat destinasi tersebut dengan memanfaatkan Google Maps untuk menentukan rute, memperkirakan waktu perjalanan, dan memastikan kami tiba di setiap lokasi tanpa tersesat. Keempat destinasi bersejarah itu pun kami pilih berdasarkan rekomendasi dari Gemini, yang membantu kami menemukan tempat-tempat yang relevan untuk mengenal sejarah dan keberagaman budaya Medan.
Bagi saya, pengalaman ini menjadi bukti sederhana bahwa teknologi dapat hadir begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teknologi bukan lagi sekadar alat yang saya gunakan, tetapi menjadi jembatan yang mempertemukan rasa ingin tahu mereka dengan cerita tentang Indonesia yang ingin saya bagikan.
Saya menyadari bahwa teknologi yang saya gunakan untuk membantu orang lain mengenal Indonesia ternyata juga membuat saya semakin ingin mengenal negeri ini lebih dalam. Google Translate membantu kami memahami bahasa satu sama lain, sementara Gemini Live membantu membuka percakapan yang lebih luas. Namun, yang sesungguhnya sedang kami bangun adalah sebuah jembatan antara rasa ingin tahu dunia dan berbagai cerita tentang sejarah serta tempat wisata Indonesia.
Ada rasa bangga yang perlahan bercampur dengan sebuah kesadaran yang menampar saya dengan lembut: Mengapa orang-orang dari belahan dunia lain begitu bersemangat mengenal Indonesia, sementara saya sendiri masih memiliki begitu banyak cerita tentang negeri ini yang belum saya temukan dan kenali?
Pertanyaan itu terus tinggal di kepala saya.
Untuk pertama kalinya, saya menyadari bahwa menjadi bagian dari Indonesia bukan hanya tentang memiliki tempat untuk disebut sebagai rumah. Ada begitu banyak cerita, budaya, sejarah, dan kekayaan yang menunggu untuk dipelajari, dihargai, lalu diceritakan kembali kepada dunia.
Perjalanan ke Bukit Lawang menjadi destinasi terakhir kami untuk mengeksplorasi Indonesia. Di tengah hijaunya hutan Sumatera, saya menyaksikan orang utan yang hidup berdampingan dengan alam dan menyadari bahwa Indonesia bukan hanya tentang keberagaman budaya, tetapi juga tentang kekayaan alam yang memiliki nilai luar biasa bagi dunia.
Perjalanan ISCP 2026 yang pada tahun ini mengusung konsep Towards Sustainable Smoke-Free Generation: Innovation & Action Tobacco Control bukan hanya berbicara mengenai pengendalian tembakau, tetapi juga tentang membangun generasi yang peduli terhadap kesehatan, lingkungan, dan masa depan; generasi yang mampu memanfaatkan inovasi untuk menjaga apa yang berharga sekaligus memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada dunia.
Mungkin, justru karena saya sempat merasa belum cukup mengenal negeri sendiri, saya semakin memahami betapa pentingnya kesempatan untuk menjadi jembatan antara Indonesia dan dunia.
Namun, di balik setiap perubahan besar, selalu ada satu momen sederhana yang menjadi titik awal. Bagi saya, momen itu datang melalui sebuah email yang memberitahukan bahwa saya terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026. Dari lebih dari 81.000 mahasiswa dari lebih dari 1.900 universitas dan perguruan tinggi di Indonesia, hanya 2.000 mahasiswa yang dipercaya untuk mengemban peran ini.
Saat itu, saya sadar bahwa kesempatan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan sebuah kepercayaan untuk membawa manfaat yang lebih besar bagi lingkungan tempat saya belajar dan bertumbuh, Universitas Sumatera Utara. Saya kemudian mengubah kepercayaan tersebut menjadi tindakan nyata melalui enam kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai jurusan dan latar belakang di USU.
Dari setiap kegiatan, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang berdiri di depan, tetapi tentang berani mengambil langkah, mengajak orang lain bertumbuh, dan menciptakan ruang agar teknologi dapat benar-benar dirasakan manfaatnya. Bahkan kini, saya mulai melihat mahasiswa menggunakan Gemini dalam keseharian mereka, di perpustakaan hingga di kantin, untuk mencari ide, memahami materi, merangkum informasi, dan mengeksplorasi hal-hal baru.
Ketika pertama kali mengenal berbagai kemampuan Gemini, saya melihat AI sebagai teknologi yang dapat membantu mahasiswa belajar, melakukan riset, menyelesaikan pekerjaan, dan menghasilkan karya dengan lebih efektif. Namun, semakin saya menjalani peran sebagai Google Student Ambassador 2026, perspektif saya perlahan berubah. Saya menyadari bahwa teknologi tidak lagi sekadar teknologi ketika mampu menjawab persoalan nyata dan memberi manfaat bagi manusia.
Karena itu, saya tidak ingin hanya memperkenalkan AI, tetapi ingin membuat mahasiswa mengalaminya secara langsung. Saya memulai dari persoalan-persoalan yang saya temukan di lingkungan terdekat dengan membuat event “Badminton Training with AI” untuk membantu anggota UKM Bulu Tangkis mengembangkan latihan dan kemampuan mereka; “Meeting Your Younger Self” sebagai ruang refleksi bagi mahasiswa Farmasi; “Poster Research Sprint” untuk membantu mahasiswa mengeksplorasi riset dan mengubahnya menjadi karya visual; “Pharmacy with Gemini Live” agar mahasiswa dapat merasakan pengalaman berdiskusi dengan AI secara lebih interaktif; “AudioLearn with Lyria dan Gemini Canvas” untuk memperkenalkan pengalaman belajar multimodal; serta “Health Note AI Lab” untuk membantu mahasiswa dari jurusan kesehatan mengelola dan memahami berbagai sumber pembelajaran.
Enam kegiatan tersebut menjadi perjalanan yang sangat berarti bagi saya, bukan hanya karena saya dapat memperkenalkan teknologi AI, tetapi karena saya menyaksikan sendiri bagaimana rasa penasaran perlahan berubah menjadi keberanian untuk mencoba. Dari perjalanan itu, saya berhasil menjangkau lebih dari 100 mahasiswa dari berbagai jurusan di Universitas Sumatera Utara.
Namun, setelah enam kegiatan tersebut selesai, kembali muncul satu pertanyaan dalam diri saya: “Apa yang bisa saya lakukan selanjutnya?”
Selain melakukan enam kegiatan di kampus, saya juga memperluas dampak melalui ruang digital. Selama menjadi Google Student Ambassador 2026, setiap minggu saya membuat dan membagikan konten edukasi mengenai Gemini, AI Mode, dan berbagai pemanfaatan AI melalui TikTok maupun Instagram.
Bagi saya, setiap konten adalah kesempatan untuk menjangkau mereka yang mungkin belum pernah hadir di event saya secara langsung: mahasiswa yang sedang belajar di perpustakaan, seseorang yang menemukan konten saya di sela-sela aktivitasnya, atau siapa pun yang ingin mulai mengenal AI tetapi tidak tahu harus memulai dari mana. Saya ingin menunjukkan bahwa dengan cara sederhana, AI dapat menjadi teman untuk belajar, mencari ide, mengeksplorasi informasi, dan berkarya.
Dari sana saya belajar bahwa menjadi seorang ambassador bukan hanya tentang berbicara di depan ratusan orang, tetapi juga tentang konsisten hadir, berbagi, dan membuka akses pengetahuan kepada sebanyak mungkin orang, bahkan kepada mereka yang belum pernah saya temui.
Perjalanan tersebut kemudian membawa saya terpilih sebagai salah satu Top 50 Rising Achiever dari 500 Rising Star Google Student Ambassador 2026, sekaligus membuka kesempatan bagi saya untuk menjadi salah satu dari 40 proposal terbaik dalam penyelenggaraan event Trailblazer yang harus dihadiri minimal 100 peserta.
Namun, bagi saya, pencapaian itu bukanlah garis akhir. Justru di titik inilah saya kembali teringat pada pengalaman ISCP 2026, ketika saya berdiri di hadapan mahasiswa dari berbagai negara, menceritakan Medan, Indonesia, dan segala kekayaan yang ada di dalamnya. Saya melihat bagaimana cerita tentang Indonesia mampu menumbuhkan rasa ingin tahu mereka.
Dari sana muncul sebuah keinginan: bagaimana jika teknologi yang saya pelajari dapat saya gunakan untuk membantu generasi muda Indonesia mengenal, mengeksplorasi, dan menceritakan kembali kekayaan negerinya dengan cara mereka sendiri?
Dari pertanyaan itulah lahir Gemini Wonderland Indonesia.
Baca juga: Work Smarter, Not Harder: Kisah di Balik Top 500 Rising Star dan Dampak Gemini di Dunia Perkuliahan
Gemini Wonderland Indonesia
Pengalaman mengikuti ISCP 2026 menjadi salah satu titik awal yang mengubah cara pandang saya. Ketika saya memperkenalkan Medan dan Indonesia kepada mahasiswa dari berbagai negara, saya melihat bagaimana mata mereka berbinar ketika mendengar cerita tentang budaya, sejarah, alam, dan kekayaan Indonesia.
Di saat yang sama, saya justru bertanya kepada diri sendiri: bagaimana jika teknologi yang saya pelajari dapat saya gunakan untuk membuat lebih banyak generasi muda Indonesia kembali mengenal negerinya sendiri? Bagaimana jika Gemini digunakan untuk menemukan hidden gems Indonesia, menggali sejarah dan budaya daerah, menyusun perjalanan, melakukan riset, hingga menciptakan karya visual tentang Nusantara? Bagaimana jika teknologi yang sering dianggap modern dan jauh dari budaya justru menjadi jembatan yang mendekatkan generasi muda dengan identitas bangsanya sendiri?
Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah lahir Gemini Wonderland Indonesia (Explore Indonesia with Gemini & AI Mode).
Saya bekerja sama dengan BEM Universitas Sumatera Utara dan HIMA Poltekkes Kemenkes Medan untuk memperluas jangkauan kegiatan. Alhamdulillah, lebih dari 200 mahasiswa dari kedua institusi hadir dan menjadi bagian dari event tersebut. Melihat ratusan mahasiswa berkumpul, belajar, mencoba, dan berinteraksi dengan teknologi membuat saya menyadari bahwa sebuah ide yang awalnya hanya tumbuh dalam pikiran seorang mahasiswa ternyata dapat menemukan tempat di hati banyak orang.
Gemini Wonderland Indonesia bukan sekadar seminar AI dan bukan pula sekadar acara kebudayaan, tetapi sebuah pengalaman ketika teknologi, budaya, kreativitas, dan rasa ingin tahu bertemu. Melalui fitur-fitur Gemini dan AI Mode, saya mengajak mahasiswa mencari tempat-tempat tersembunyi yang belum pernah mereka kunjungi, menggali kisah sejarah, mengenal budaya daerah, menyusun perjalanan, melakukan riset, hingga mengubah ide tentang Indonesia menjadi sebuah karya.
Antusiasme peserta Gemini Wonderland Indonesia mulai terasa sejak rangkaian acara dibuka dengan doa, menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Mahasiswa, hingga penampilan hiburan, ice breaking, serta games yang membuat mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara dan Poltekkes Kemenkes Medan semakin akrab.
Namun, bagi saya, momen yang paling berarti terjadi ketika teknologi mulai dipertemukan dengan kekayaan budaya Indonesia. Dalam sesi Indonesia Hero Challenge, peserta diajak menggunakan AI Mode untuk mencari dan mengenal kembali tokoh-tokoh Indonesia yang telah memberikan kontribusi bagi bangsa. Mereka tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi belajar bagaimana menggunakan teknologi untuk menemukan informasi, memverifikasi sumber, dan menggali cerita yang mungkin sebelumnya tidak pernah mereka ketahui.
Dari sana, saya melihat bahwa AI dapat menjadi pintu masuk untuk membuat generasi muda kembali tertarik mengenal sejarah dan tokoh bangsanya sendiri.
Keseruan kemudian berlanjut ketika peserta menggunakan Gemini untuk menebak berbagai kekayaan budaya Indonesia, mulai dari makanan tradisional, tarian daerah, hingga rumah adat dari berbagai penjuru Nusantara. Suasana yang awalnya formal berubah menjadi penuh tawa, rasa penasaran, dan kompetisi yang sehat.
Ada peserta yang baru mengetahui nama makanan atau tarian dari daerah lain, sementara yang lain justru menemukan bahwa pengetahuan tentang budaya Indonesia masih jauh lebih luas daripada yang mereka bayangkan. Bagi saya, momen tersebut menjadi pengingat bahwa belajar budaya tidak harus selalu dilakukan melalui buku atau ruang kelas. Teknologi dapat membuat proses tersebut menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan dekat dengan generasi muda. Bahkan ketika peserta saling berdiskusi untuk menemukan jawaban, mereka tidak hanya sedang bermain, tetapi juga bertukar pengetahuan tentang Indonesia.
Bagian yang tidak kalah menarik adalah Prompt Battle. Peserta didorong untuk berani bereksperimen, gagal, mencoba kembali, dan memahami bagaimana berkomunikasi dengan AI secara lebih efektif. Kemudian, dalam Nano Banana Challenge, peserta ditantang mengubah pengetahuan dan imajinasi mereka tentang Indonesia menjadi sebuah karya.
Mereka belajar bahwa hasil yang baik tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan manusia dalam menyampaikan ide dan memberikan instruksi yang jelas. Dari satu prompt, mereka mulai bereksperimen, memperbaiki ide, mencoba kembali, dan melihat bagaimana teknologi dapat membantu mengubah gagasan sederhana menjadi karya visual.
Saya melihat sendiri bagaimana mahasiswa yang awalnya hanya penasaran perlahan menjadi lebih berani bereksplorasi. Bagi saya, inilah esensi Gemini Wonderland Indonesia: bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar, bermain, berkreasi, dan menemukan bahwa teknologi dapat membantu mereka melihat Indonesia dengan cara yang baru.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan penampilan tari tradisional yang menjadi simbol bagaimana teknologi dan budaya dapat berjalan berdampingan. Setelah sepanjang hari menggunakan AI untuk mencari informasi, menjawab tantangan, dan menciptakan karya, kami kembali diingatkan bahwa di balik semua teknologi tersebut terdapat identitas, sejarah, dan budaya yang harus terus dijaga.
Unsur budaya juga hadir melalui pakaian daerah dan batik yang dikenakan oleh panitia sebagai pengingat bahwa teknologi yang kita gunakan hari ini tumbuh di tengah keberagaman Indonesia. Ketika lebih dari 200 mahasiswa Universitas Sumatera Utara dan Poltekkes Kemenkes Medan hadir dan terlibat, saya menyaksikan sesuatu yang jauh lebih berarti daripada sekadar jumlah peserta.
Mereka datang dari program studi, daerah asal, dan pengalaman yang berbeda, tetapi berkumpul dalam satu ruang untuk belajar, mencoba, dan menciptakan sesuatu. Pada saat itu, saya semakin percaya bahwa AI dapat menjadi jembatan antara mahasiswa dan pengetahuan, antara kreativitas dan teknologi, antara generasi muda dan budaya, dan yang paling penting, antara generasi muda dan Indonesia.
Baca juga: Gemini Agent dan Gemini Enterprise, Teknologi AI yang Mulai Mengubah Operasional Bisnis
Belajar dari Tantangan dan Tanggung Jawab
Gemini Wonderland Indonesia memang berjalan lancar, tetapi ada satu hal yang benar-benar di luar perkiraan saya. Saya awalnya menyiapkan sekitar 100 kursi untuk acara yang dirancang formal. Namun, di luar ekspektasi, lebih dari 200 mahasiswa dari USU dan Poltekkes Kemenkes Medan hadir.
Sempat muncul rasa panik karena jumlah peserta hampir dua kali lipat dari yang saya persiapkan. Namun, di tengah keterbatasan itu, saya belajar bahwa menjadi seorang Google Student Ambassador bukan hanya tentang merencanakan sesuatu dengan sempurna, melainkan tentang tetap tenang, beradaptasi, dan mencari solusi ketika keadaan berubah.
Bersama panitia, kami menata kembali ruang dan memastikan semua peserta tetap dapat mengikuti acara dengan nyaman. Saat melihat begitu banyak mahasiswa tetap bertahan dan antusias mengikuti kegiatan, rasa khawatir saya perlahan berubah menjadi rasa syukur. Saat itu saya sadar, kadang tantangan terbesar justru datang sebagai tanda bahwa sebuah gagasan telah melampaui apa yang pernah kita bayangkan.
Saat event berlangsung, saya tidak ingin melupakan satu hal penting, yaitu tanggung jawab. Kemampuan teknologi yang semakin besar harus berjalan bersama kemampuan manusia untuk berpikir kritis. Karena itu, Responsible AI menjadi bagian penting dalam event ini.
Saya ingin mahasiswa memahami bahwa AI bukan pengganti manusia. AI dapat membantu mencari informasi, tetapi kita tetap harus memeriksa kebenarannya. AI dapat membantu menciptakan karya, tetapi manusia tetap harus memiliki gagasan, nilai, dan tanggung jawab. AI dapat mempercepat proses, tetapi manusialah yang menentukan arah.
Bagi saya, literasi AI yang sebenarnya bukan hanya tentang mengetahui cara menggunakan teknologi, melainkan memahami mengapa, kapan, dan untuk apa teknologi itu digunakan. AI memberikan kemampuan, tetapi manusialah yang menentukan bagaimana kemampuan itu digunakan untuk menciptakan kebaikan.
Dampak Gemini Wonderland Indonesia terlihat dari antusiasme dan perubahan pengalaman belajar para peserta. Berdasarkan evaluasi dan interview peserta di akhir kegiatan, sebagian menjadi lebih memahami pemanfaatan Gemini dan AI Mode, sebanyak 80% merasa lebih tertarik menggunakan AI untuk belajar dan berkreasi, dan banyak mahasiswa menjadi lebih tertarik mengeksplorasi sejarah, budaya, makanan, serta kekayaan Indonesia melalui teknologi.
Bagi mereka, AI tidak lagi sekadar alat untuk menyelesaikan tugas, tetapi menjadi sarana untuk belajar, menciptakan karya, dan mengenal Indonesia dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan.
Perjalanan ini juga mengajarkan saya bahwa dampak tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia dimulai dari satu mahasiswa yang bertanya, satu orang yang berani mencoba, satu kegiatan kecil, atau satu percakapan yang mungkin terlihat sederhana.
Tujuh event edukasi yang telah saya lakukan menjadi bukti bagi saya bahwa ketika teknologi diperkenalkan, rasa penasaran dapat berubah menjadi keberanian untuk mencoba. Perjalanan tersebut membawa saya menjadi salah satu Top 50 Achiever dari 2.000 Google Student Ambassador 2026, sekaligus dipercaya sebagai Kapten Sumatera Utara Buddy 11 untuk berkolaborasi bersama rekan-rekan Google Student Ambassador dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Utara.
Setelah saya selesai melaksanakan ketujuh event ini, satu pertanyaan tetap penting bagi saya: apakah seseorang menjadi lebih berani mencoba, menemukan cara baru untuk belajar, menghasilkan sesuatu, atau bahkan membagikan pengetahuan itu kepada orang lain? Jika jawabannya iya, bagi saya, di situlah sebuah inovasi benar-benar hidup.
Kolaborasi yang Membuat Perjalanan Ini Berarti
Di balik terlaksananya Gemini Wonderland Indonesia, ada begitu banyak tangan yang ikut membantu mewujudkannya. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim Google, khususnya Kak Sheva sebagai mentor saya, yang senantiasa memberikan arahan, dukungan, dan kepercayaan hingga event ini dapat benar-benar hadir di hadapan mahasiswa.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh panitia yang telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan kerja kerasnya sejak persiapan hingga acara selesai. Bahkan, semangat Indonesia kami bawa melalui hal-hal sederhana. Seluruh panitia turut mengenakan batik sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya Indonesia, berdampingan dengan almamater dan PDH yang kami kenakan.
Saya juga sangat bersyukur atas kolaborasi bersama BEM Universitas Sumatera Utara sebagai media partner dan Himpunan Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Medan yang turut memperluas jangkauan dan menyukseskan kegiatan ini.
Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada teman-teman Google Student Ambassador Sumatera Utara Buddy 11 yang telah mempercayai saya sebagai Captain, sekaligus terus mendukung dan menemani perjalanan saya selama menjalankan amanah ini.
Bagi saya, kepercayaan tersebut bukan sekadar tentang memimpin sebuah tim, tetapi tentang belajar berjalan bersama, membangun kolaborasi, serta menciptakan dampak yang lebih luas bersama orang-orang hebat dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Utara, yaitu Dawani Alkhairi Rambe dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Desinta Yamasan Rusli dari Universitas Pelita Harapan Medan, Dona Febriana Pulungan dari Universitas Negeri Medan, serta Frans Darma Putra Siahaan dari Universitas Sumatera Utara.
Meskipun kami datang dari kampus, latar belakang, dan pengalaman yang berbeda, kami dipertemukan oleh satu tujuan yang sama, yaitu membawa teknologi lebih dekat kepada mahasiswa dan membantu mereka belajar, berkembang, serta beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.
Alhamdulillah, kami meraih kemenangan dalam challenge terakhir Buddy, Celebrate Your Roots. Dalam tantangan tersebut, kami memilih Istana Maimun sebagai wisata untuk kembali mengenal dan memperkenalkan sejarah, budaya Melayu, serta salah satu bagian dari kekayaan Indonesia.
Bagi saya, kemenangan itu bukan hanya sebuah pencapaian, tetapi menjadi simbol bahwa ketika perbedaan disatukan oleh tujuan dan semangat yang sama, sesuatu yang jauh lebih besar dapat tercipta. Pengalaman bersama Buddy 11 semakin menguatkan keyakinan saya bahwa perubahan besar tidak pernah lahir dari satu orang saja. Ia tumbuh dari kolaborasi orang-orang yang bersedia belajar bersama, saling mendukung, dan menggunakan kesempatan yang mereka miliki untuk membawa manfaat bagi lebih banyak orang.
Teknologi adalah Jembatan
Saya berasal dari seorang mahasiswa Farmasi yang awalnya hanya ingin belajar teknologi. Kemudian, sebuah kesempatan membawa saya menjadi Google Student Ambassador 2026. Dari sana, saya mulai belajar melihat persoalan di sekitar saya, mencoba menghadirkan solusi, dan memahami bahwa teknologi akan jauh lebih berarti ketika digunakan untuk membantu orang lain.
Saya kemudian bertemu mahasiswa dari berbagai negara melalui ISCP 2026, mendapatkan kesempatan memperkenalkan Indonesia, dan justru menemukan kembali rasa ingin tahu saya terhadap negeri sendiri.
Saya tidak tahu apakah sebuah event dapat mengubah dunia. Namun, saya percaya bahwa sebuah pengalaman dapat mengubah cara pandang seseorang, dan sebuah cara pandang yang berubah dapat melahirkan tindakan baru. Begitulah saya memahami makna dampak: bukan tentang seberapa besar suara kita terdengar, tetapi seberapa jauh kebaikan yang kita mulai dapat diteruskan oleh orang lain.
Saya mungkin belum bisa mengenalkan seluruh Indonesia kepada dunia. Saya juga tidak bisa mengubah cara seluruh generasi muda menggunakan teknologi. Namun, saya bisa memulai dari satu ruang, satu kegiatan, ratusan mahasiswa, dan satu keyakinan sederhana bahwa teknologi seharusnya tidak membuat kita semakin jauh dari identitas kita.
Sebaliknya, teknologi dapat membantu kita melihat lebih dekat: lebih dekat dengan ilmu, lebih dekat dengan kreativitas, lebih dekat dengan sesama, dan yang paling penting, lebih dekat dengan Indonesia. Itulah yang ingin saya bangun melalui Gemini Wonderland Indonesia, bukan sekadar ruang untuk mengenal Gemini, AI Mode, atau teknologi terbaru, tetapi ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berani mencoba, dan menemukan bahwa mereka juga mampu menjadi pencipta perubahan.
Pada akhirnya, Gemini Wonderland Indonesia bukan hanya tentang Gemini. Ini tentang manusia yang memilih untuk belajar. Tentang mahasiswa yang berani mencoba. Tentang generasi muda yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menggunakannya untuk menciptakan sesuatu yang berarti. Tentang Indonesia yang memiliki begitu banyak cerita untuk ditemukan kembali.
Saya mungkin tidak mengubah dunia. Saya hanya memperkenalkan sebuah teknologi. Namun, jika dari sana seorang mahasiswa menemukan kembali rasa ingin tahunya, seorang anak muda berani berkarya, dan satu cerita Indonesia kembali diceritakan kepada dunia, saya percaya langkah kecil itu telah menemukan maknanya.
Teknologi bukanlah tujuan dari perjalanan ini. Teknologi adalah jembatan. Saya memilih menggunakan jembatan itu untuk membawa generasi muda kembali mengenal Indonesia.
Semangat itu kami satukan dalam yel-yel dan slogan “Explore Together, Growing Forever!” yang memiliki makna bahwa proses belajar dan eksplorasi tidak harus dilakukan sendirian. Explore Together berarti kita membuka wawasan, mencoba teknologi, menemukan cerita Indonesia, dan menciptakan pengalaman baru secara bersama-sama. Sementara itu, Growing Forever menjadi pengingat bahwa proses bertumbuh tidak pernah memiliki titik akhir. Setiap pengetahuan, pengalaman, dan keberanian yang kita dapatkan hari ini akan menjadi bekal untuk terus berkembang di masa depan.
Perjalanan ini membuat saya semakin percaya bahwa dampak tidak pernah lahir dari satu orang saja. Ia tumbuh dari kolaborasi, dari mahasiswa yang berani mencoba, dari panitia yang bekerja dengan hati, dari BEM USU dan HIMA Poltekkes Kemenkes Medan yang membuka ruang kolaborasi, serta dari setiap orang yang percaya bahwa teknologi dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih berarti.
Saya mungkin tidak dapat mengenalkan seluruh Indonesia kepada dunia, tetapi saya dapat memulai dari satu ruang, satu kegiatan, dan ratusan mahasiswa. Jika dari Gemini Wonderland Indonesia ada satu mahasiswa yang menjadi lebih berani belajar, satu orang yang menemukan kembali rasa cintanya terhadap budaya Indonesia, atau satu anak muda yang menggunakan teknologi untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat, bagi saya perjalanan ini telah menemukan maknanya.
Teknologi bukanlah tujuan dari perjalanan ini, teknologi adalah jembatan. Melalui jembatan itu, saya ingin terus mengajak generasi muda untuk mengeksplorasi, belajar, berkarya, dan tumbuh bersama.
Explore Together, Growing Forever—bersama mengeksplorasi hari ini, bersama bertumbuh untuk masa depan, dan bersama membawa cerita Indonesia lebih jauh kepada dunia.
Penulis: Dhiya Ulhag Pulungan
Mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Sumatera Utara
Aktif sebagai Google Student Ambassador
Ketua Divisi Kaderisasi UKM Bulu Tangkis Universitas Sumatera Utara 2026-2027
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













