Sebagai mahasiswa Farmasi di Universitas Sumatera Utara, saya terbiasa menghabiskan waktu dengan praktikum, jurnal ilmiah, tugas, organisasi, dan berbagai kegiatan akademik. Namun, ada satu hal yang baru saya sadari setelah membahas tentang Indonesia kepada teman-teman dari berbagai negara di dunia. Ternyata, masih banyak hal tentang negeri ini yang belum benar-benar saya kenal.
Kesadaran itu datang ketika saya mengikuti International Summer Course of Pharmacy (ISCP) 2026. Saya bertemu mahasiswa dari berbagai negara yaitu Kamboja, Brunei Darussalam, Pakistan, Malaysia, Afghanistan, India, dan Tanzania. Saat itu, saya menjadi salah satu perwakilan mahasiswa dari Indonesia.
Ketika mereka bertanya tentang Indonesia, saya mulai berpikir lebih dalam. Tentang kekayaan alam yang selama ini hanya saya lihat dalam gambar. Tentang keberagaman budaya yang selama ini saya anggap biasa karena tumbuh di dalamnya. Tentang bahasa, makanan, tradisi, dan cerita dari berbagai daerah yang ternyata begitu menarik ketika diceritakan kepada seseorang yang baru pertama kali mendengarnya. Saya belajar bahwa berada dan berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan negara bukan hanya tentang seberapa banyak kita tahu tentang dunia, tetapi juga tentang seberapa dalam kita memahami tempat dari mana kita berasal dan sejak saat itu, saya mulai melihat identitas saya sebagai generasi penerus bangsa dengan cara yang berbeda.
Ada satu momen sederhana yang hingga kini masih saya ingat yaitu ketika saya memperkenalkan rendang, serabi, martabak, hingga durian kepada teman-teman dari berbagai negara. Kami membeli durian di Ucok Durian, salah satu tempat makanan populer di Medan, lalu saya mengajak mereka untuk mencicipinya. Reaksi merekapun beragam ada yang langsung menyukai rasa dan aromanya, ada yang penasaran karena baru pertama kali mencoba, tetapi ada pula yang ternyata tidak cocok dengan aroma dan rasanya. Bagi sebagian dari mereka, durian merupakan pengalaman yang benar-benar baru.
Dari makanan, percakapan kami kemudian berkembang menjadi cerita tentang keluarga, tradisi, dan budaya dari tempat kami berasal. Tidak hanya saya yang berbagi makanan, teman-teman dari Malaysia juga membawa berbagai oleh-oleh khas Malaysia yaitu keropok lekor dan keropok keping untuk kami coba bersama. Meskipun terlihat sederhana, hanya dari berbagi makanan bahkan dari satu gigitan makanan tradisional, kami dapat membuka percakapan, menghadirkan tawa dan membuat kami semakin menghargai perbedaan yang ada. Bahkan ketika Ning, Ling, In dan Chinda teman saya dari Kamboja tidak menyukai durian, saya kemudian menyadari bahwa memperkenalkan budaya bukan tentang membuat semua orang menyukai hal yang sama, melainkan tentang memberi mereka kesempatan untuk mencoba, mengenal, dan memahami sesuatu yang sebelumnya mungkin terasa asing.
Tidak hanya berbagi makanan dan cerita, kami juga saling memperkenalkan budaya melalui bakat dan penampilan yang menggambarkan negara asal kami masing-masing. Saya berkesempatan menampilkan tarian tor-tor dari suku Batak Mandailing yang merupakan identitas budaya yang saya banggakan. Perwakilan dari Malaysia menampilkan akting atau berlakon dan seni silat, lalu teman-teman dari Kamboja dan Brunei Darussalam menampilkan tarian, sementara perwakilan dari India menyanyikan lagu populer “Tum Hi Ho” dari penyanyi Arijit Singh, kemudian perwakilan dari Tanzania dan Pakistan memperkenalkan negara mereka melalui presentasi. Bagi saya, saat itu kami tidak sekadar menampilkan seni, tetapi sedang membuka jendela kecil menuju rumah dan budaya masing-masing. Pada awalnya kami datang tanpa saling mengenal dan asing, perlahan berubah menjadi teman yang saling berbagi cerita, tawa, dan pengalaman. Bahkan, teman saya dari Kamboja yaitu Chinda memberikan kenang-kenangan berupa uang dari negaranya. Benda yang sederhana itu menjadi sangat berarti bagi saya bukan karena nilainya, tetapi karena ia menjadi simbol dari persahabatan yang terbentuk. Pada saat itu, saya belajar bahwa pengalaman bukan hanya tentang seberapa banyak tempat yang kita kunjungi, tetapi tentang orang-orang yang kita temui, budaya yang kita kenal dan kenangan yang kita bawa pulang sebagai bagian dari perjalanan hidup kita.
Pada hari berikutnya, kami mengunjungi empat destinasi wisata di Medan dan perjalanan itu menjadi kesempatan istimewa untuk saya memperkenalkan Indonesia lebih dekat melalui kota yang menjadi tempat saya tumbuh. Saya mengajak mereka mengunjungi Istana Maimun, salah satu peninggalan bersejarah Kesultanan Deli yang menggabungkan arsitektur Melayu, Islam, dan Eropa.
Perjalanan kami berlanjut ke Masjid Raya Medan, salah satu ikon bersejarah di Kota Medan. Di tempat ini, kami tidak hanya mengenal sejarah, tetapi juga belajar bahwa menghormati budaya berarti memahami dan menghargai aturan serta tradisi setempat. Dengan mengenakan pakaian yang sopan dan tertutup, termasuk hijab bagi seluruh perempuan, kami belajar bahwa setiap tempat memiliki nilai dan kebiasaan yang patut dihormati.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Tjong A Fie Mansion, sebuah rumah bersejarah milik pengusaha dari etnis Tionghoa yang memperlihatkan keberagaman dan kehidupan masyarakat Medan pada masa lalu. Perjalanan kami kemudian diakhiri dengan mengunjungi Museum Negeri Sumatera Utara, tempat berbagai koleksi yang menyimpan sejarah, budaya, serta warisan masyarakat Sumatera Utara.
Dengan penuh rasa bangga, saya menceritakan berbagai hal yang saya ketahui kepada mereka, seakan sedang membuka lembar demi lembar kisah tentang tanah kelahiran saya untuk diperkenalkan kepada dunia. Namun, di akhir perjalanan itu saya menyadari bahwa memperkenalkan sebuah tempat bukan hanya tentang menunjukkan bangunan atau menceritakan sejarah, tetapi juga tentang menghubungkan perbedaan bahasa, budaya, dan cara pandang agar dapat benar-benar dipahami dan dirasakan oleh mereka yang baru pertama kali mengenalnya.
Saya menyaksikan secara langsung bagaimana kisah tentang tanah kelahiran saya mampu membuat mereka begitu antusias, terpukau, dan penuh rasa ingin tahu. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan masyarakat di Medan, memahami budaya yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat, menemukan tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah mereka dengar, serta mengenal Indonesia bukan hanya dari peta atau berita, tetapi melalui pengalaman secara langsung.
Di situlah teknologi benar-benar menjadi jembatan bagi kami. Saya menggunakan Gemini untuk menemukan rekomendasi tempat, merencanakan perjalanan, hingga menyusun itinerary untuk menjelajahi empat destinasi wisata tersebut. Ketika bahasa menjadi kendala, kami menggunakan Google Translate untuk membantu kami saling memahami meski memiliki perbedaan bahasa. Teknologi bukan lagi sekadar alat, tetapi menjadi bagian dari perjalanan yang mempertemukan kami dengan tempat, budaya, dan cerita baru.
Saya juga menggunakan Gemini Live untuk membantu menjelaskan kisah sejarah dari setiap tempat yang kami kunjungi. Rasanya seperti mengajak teman-teman dari berbagai negara menjelajahi Medan dan dengan bantuan teknologi, setiap perjalanan kami lebih mudah dan bermakna.
Dalam satu hari, kami berhasil mengunjungi keempat destinasi tersebut dengan bantuan Google Maps untuk menentukan rute dan memperkirakan waktu perjalanan sehingga kami dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan lebih terarah.
Pengalaman ini menjadi bukti bahwa teknologi dapat hadir begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Teknologi bukan lagi sekadar alat yang digunakan, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan antara rasa ingin tahu, dengan cerita, budaya, sejarah, dan kekayaan Indonesia yang ingin saya bagikan kepada mereka. Saya mulai menyadari bahwa teknologi yang digunakan untuk membantu mereka mengenal Indonesia ternyata juga membuat saya semakin ingin mengenal negeri ini lebih dalam.
Sebuah pertanyaan muncul dalam pikiran saya, mengapa teman-teman dari berbagai belahan dunia begitu semangat mengenal Indonesia, sementara saya sendiri masih memiliki begitu banyak cerita tentang negeri ini yang belum saya ketahui ?
Untuk pertama kalinya, saya benar-benar memahami bahwa menjadi bagian dari Indonesia bukan sekadar memiliki sebuah tempat yang kita sebut rumah. Indonesia menyimpan begitu banyak kisah, budaya, sejarah, dan kekayaan yang masih menunggu untuk kita kenali, hargai, dan ceritakan kepada dunia.
Perjalanan mengikuti International Summer Course of Pharmacy (ISCP) 2026 ditutup dengan kunjungan kami ke Bukit Lawang yang merupakan destinasi terakhir kami dalam mengenal kekayaan alam di Indonesia. Di tengah hijaunya hutan Sumatera, saya melihat orangutan yang hidup berdampingan dengan alam. Pemandangan tersebut membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya kaya akan budaya dan sejarah, tetapi juga memiliki kekayaan alam yang luar biasa.
ISCP 2026 yang bertemakan “Towards a Sustainable Smoke-Free Generation: Innovation & Action in Tobacco Control” mengajarkan kami upaya dalam mengurangi penggunaan tembakau yang tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga bentuk dari kepedulian terhadap alam dan memastikan keberlanjutan kehidupan di masa depan. Pengalaman ini juga membuktikan bahwa inovasi bukan hanya tentang menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga tentang menemukan cara untuk menjaga apa yang berharga bagi kehidupan dan masa depan.
Pengalaman tersebut perlahan mengubah cara saya memandang negeri sendiri. Jika sebelumnya saya merasa masih memiliki banyak hal yang belum saya kenal tentang Indonesia, pengalaman bersama teman-teman dari berbagai negara justru memotivasi saya untuk terus mengenal lebih dalam cerita, budaya, sejarah, dan kekayaan alam yang ada. Dari sanalah muncul keinginan saya untuk tidak hanya mengenal Indonesia, tetapi juga berkontribusi membawa Indonesia agar dapat dikenal oleh lebih banyak orang, baik di Indonesia maupun di luar negeri.
Keinginan tersebut akhirnya menemukan jawabannya melalui sebuah momen yang membuka jalan saya menuju perjalanan baru. Momen itu datang melalui sebuah email yang memberitahukan bahwa saya terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026. Dari lebih 81.000 mahasiswa yang mendaftar, hanya 2.000 mahasiswa dari seluruh Indonesia yang mendapatkan kesempatan tersebut.
Kabar itu bukan hanya membawa rasa bangga, tetapi juga membawa sebuah tanggung jawab dan kepercayaan yang harus saya buktikan melalui tindakan nyata. Saya memilih untuk memulainya dari tempat yang paling dekat dengan saya, yaitu Universitas Sumatera Utara, kampus tempat saya belajar dan bertumbuh.
Ketika pertama kali mengenal Gemini, saya hanya melihatnya sebagai teknologi yang dapat membantu dalam proses belajar. Namun, semakin saya menjalani peran sebagai Google Student Ambassador, cara pandang saya perlahan berubah. Saya mulai melihat bahwa teknologi menjadi lebih bermakna ketika mampu membantu kehidupan kita sehari-hari dan membantu seseorang menemukan kemampuan yang belum mereka sadari. Karena itu, saya tidak ingin sekadar memperkenalkan Gemini. Saya ingin orang-orang di sekitar saya merasakan bagaimana teknologi dapat hadir di tengah persoalan yang mereka hadapi dan membantu mereka melangkah lebih jauh.
Sebagai ketua dari divisi kaderisasi UKM Bulu Tangkis USU, saya melihat banyak anggota UKM Bulu Tangkis USU yang masih menganggap Gemini hanya sebagai alat untuk membantu tugas perkuliahan, padahal kebutuhan mereka untuk terus berkembang tidak hanya berhenti di ruang kelas. Saya menunjukkan bagaimana Gemini dapat menjadi bagian dari proses latihan dalam olahraga bulu tangkis dengan mengadakan event pertama saya yang memiliki tema “Badminton Training with AI: Improve Your Skill Using Gemini” yang diikuti oleh lebih dari 30 mahasiswa anggota UKM Bulu Tangkis USU dari berbagai jurusan di Universitas Sumatera Utara. Saya memperkenalkan bagaimana Gemini dapat dimanfaatkan untuk menyusun jadwal latihan, memberikan rekomendasi pola hidup sehat, hingga membantu mengevaluasi strategi permainan. Bagi saya, keberhasilan event ini bukan hanya ketika peserta selesai mencoba Gemini, melainkan ketika mereka mulai menggunakannya sehari-hari. Beberapa peserta pada event ini kemudian kembali menghubungi saya dan menceritakan bagaimana jadwal latihan yang mereka susun bersama Gemini dapat membantu mereka berlatih dengan lebih terarah dan meningkatkan performa di lapangan. Bahkan ada yang berhasil meraih prestasi dalam perlombaan bulu tangkis dan mengharumkan nama kampus. Dari sana, saya melihat bahwa sebuah teknologi yang awalnya dianggap hanya untuk akademik ternyata dapat membuka jalan bagi mahasiswa untuk berkembang di bidang yang mereka cintai.
Setelah melihat dampak positif dari event pertama, saya kemudian membawa manfaat teknologi ke lingkungan yang sangat dekat dengan saya yaitu Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara. Di sana, saya menemukan banyak mahasiswa yang sedang berhadapan dengan laporan praktikum, Objective Structured Clinical Examination (OSCE), Problem Based Learning (PBL), bahkan skripsi. Saat berbincang dengan beberapa mahasiswa, saya menyadari bahwa tantangan yang mereka hadapi bukan hanya soal akademik, tetapi juga menjaga motivasi di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, ada mahasiswa yang kelelahan, merasa gagal, kehilangan motivasi, bahkan meragukan kemampuan diri sendiri. Saya kemudian mengadakan event kedua dengan tema “Meeting Your Younger Self: Pharmacy Student Edition with Gemini” yang diikuti oleh 10 mahasiswa, event ini saya selenggarakan sebagai tempat untuk berhenti sejenak dan kembali mengingat alasan mereka memilih jurusan farmasi. Melalui aplikasi Gemini dan fitur Nano Banana, peserta saya ajak membuat gambar diri mereka bersama versi masa kecilnya, kemudian menuliskan pesan dan harapan yang ingin mereka sampaikan kepada diri sendiri. Suasana yang awalnya dipenuhi tekanan perlahan berubah menjadi ruang yang hangat dan penuh cerita. Beberapa peserta mulai terbuka menceritakan perjuangan mereka selama kuliah, sementara yang lain kembali menemukan alasan untuk terus berjuang. Bagi saya, hasil paling berarti dari event ini bukanlah gambar yang mereka hasilkan, melainkan perubahan kecil yang terjadi setelahnya dan teknologi berhasil menjadi jembatan bagi mereka untuk melihat kembali perjalanan, menghargai proses, dan menemukan semangat yang sempat hilang.
Selain mengadakan event di kampus, saya juga memperluas jangkauan edukasi mengenai teknologi melalui media sosial. Saya konsisten membuat dan membagikan konten edukasi setiap minggu tentang Gemini, AI Mode, serta berbagai cara memanfaatkanya melalui aplikasi tiktok, instagram, maupun youtube. Bagi saya, setiap konten merupakan kesempatan untuk menjangkau lebih banyak orang yang mungkin belum sempat hadir di event saya secara langsung atau siapapun yang ingin mengenal Gemini tetapi masih bingung harus memulainya dari mana. Saya ingin menunjukkan bahwa teknologi dapat digunakan dengan cara yang sederhana untuk membantu proses belajar, menemukan ide, mencari informasi, hingga menghasilkan karya. Saya memahami bahwa menjadi seorang ambassador bukan sekadar tampil dan berbicara di depan banyak orang, tetapi juga tentang konsisten berbagi pengetahuan dan membuka akses terhadap teknologi kepada lebih banyak orang, termasuk mereka yang belum pernah saya temui.
Setelah selesai menyelenggarakan dua event tersebut, saya terpilih sebagai Top 500 Rising Star dari 2.000 Google Student Ambassador 2026 di seluruh Indonesia. Untuk melanjutkan ke tier Achiever, saya mengadakan empat event baru dengan total kehadiran minimal 20 peserta.
Sebagai mahasiswa, saya sering melihat teman-teman saya kewalahan dengan tugas dan kesulitan ketika harus mengubah materi yang rumit menjadi poster yang mudah dipahami. Dari permasalahan tersebut, saya menyelenggarakan event ke tiga dengan tema “Poster Research Sprint: Dari Riset Mendalam Menjadi Poster Kreatif dengan Gemini”. Saya memperkenalkan Gemini dengan fitur terbarunya yaitu Deep Research untuk membantu menemukan dan memahami berbagai sumber ilmiah, kemudian menggunakan fitur Nano Banana di Gemini untuk mengubah gagasan tersebut menjadi poster yang lebih kreatif. Sebanyak 95% peserta yang mengikuti event ini mengatakan biasanya membutuhkan waktu lama untuk mencari referensi dan membuat sebuah poster. Ketika pekerjaan yang melelahkan dapat dilakukan dengan lebih efisien, mahasiswa memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, menyusun ide, dan menghasilkan karya dengan kemampuan terbaik mereka. Maka, bagi saya teknologi bukanlah pengganti kreativitas manusia.
Kemudian, saya kembali menemukan sebuah permasalahan bagi mahasiswa farmasi di kampus saya yaitu masih banyak yang belum mengetahui bagaimana teknologi dapat digunakan sebagai teman berdiskusi untuk memahami materi yang sulit. Karena itu, saya membuat event keempat dengan tema “Pharmacy with Gemini Live: Prompt & Solve Challenge”. Saat event ini dimulai, hampir seluruh peserta mengaku belum mengetahui fitur Gemini Live, sementara sebagian pernah mendengarnya tetapi belum memahami cara menggunakannya. Saya kemudian mengajak mereka mencoba langsung bagaimana Gemini dapat digunakan untuk membahas mekanisme kerja obat, konsep farmakologi, hingga berbagai persoalan dalam pembelajaran farmasi. Dengan adanya Prompt & Solve Challenge, peserta dapat berlatih mengembangkan cara berpikir dengan mencari solusi dari persoalan yang mereka hadapi. Antusiasme mereka menjadi momen yang berkesan bagi saya. Materi yang sebelumnya terasa rumit mulai terasa mudah karena mereka dapat berdiskusi secara langsung dan interaktif. Bahkan setelah kegiatan berakhir, manfaatnya tidak berhenti di event ini. Saya mulai melihat banyak mahasiswa menggunakan Gemini Live di ruang kelas, perpustakaan, hingga kantin untuk memahami materi, mencari ide hingga menyelesaikan berbagai persoalan akademik. Saat itu, saya mulai memahami bahwa keberhasilan sebuah event bukan hanya ketika peserta merasa antusias selama event berlangsung, tetapi ketika pengetahuan yang mereka dapatkan tetap dipakai setelah event selesai dan berubah menjadi kebiasaan yang membantu dalam proses belajar.
Dari empat event yang telah selesai saya selenggarakan, saya kembali menemukan tantangan bagi mahasiswa yaitu bukan hanya menemukan informasi, tetapi juga menemukan cara belajar yang sesuai. Banyak mahasiswa masih harus berhadapan dengan materi kuliah yang panjang dan penuh istilah yang sulit dipahami dalam waktu yang terbatas. Karena itu, saya membuat event kelima dengan tema “AudioLearn with Lyria and Gemini Canvas: The Multimodal Learning Revolution”. Saya menunjukkan bagaimana belajar tidak harus selalu dilakukan dengan membaca halaman demi halaman. Saya memperkenalkan Gemini Canvas untuk mengubah materi menjadi flashcard, kuis, ringkasan visual, dan infografis, sekaligus memperkenalkan fitur terbaru di Gemini yaitu Lyria. Peserta kemudian mencoba menggunakan Lyria untuk membuat musik. Suasana dalam kelas yang tadinya tenang seketika dipenuhi oleh rasa kagum dan penasaran. Bahkan ada peserta yang berkata, “Wah, saya baru tahu ternyata belajar dan berkreasi dengan Gemini bisa seseru ini’’. Dari event ini, peserta tidak hanya pulang dengan pengetahuan tentang fitur baru, tetapi juga mendapat pemahaman bahwa teknologi dapat membuat proses belajar lebih fleksibel dan menyenangkan. Peserta dapat belajar sambil beraktivitas, mendengarkan materi seperti podcast dan memilih cara belajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka. Bagi saya, ketika teknologi memberi lebih banyak pilihan, mahasiswa tidak hanya belajar lebih efektif, tetapi juga dapat menemukan kembali kesenangan dalam proses belajar dan berkarya.
Namun, saat melihat mahasiswa kesehatan yang baru memasuki dunia perkuliahan, saya menemukan tantangan lain yaitu peralihan dari lingkungan sekolah ke bangku kuliah yang membuat banyak mahasiswa harus beradaptasi dengan materi yang semakin kompleks, mulai dari buku-buku yang tebal hingga berbagai jurnal ilmiah berbahasa asing. Banyak yang kewalahan karena harus membaca, memahami, merangkum dan menghubungkan informasi dari berbagai sumber secara bersamaan. Oleh karena itu, saya membuat event keenam dengan tema “Health Note AI Lab: Smart Learning & Research” dengan memperkenalkan NotebookLM sebagai teman belajar yang dapat membantu mengelola sumber pembelajaran dengan lebih terstruktur. Saya menunjukkan langsung bagaimana berbagai sumber akademik dapat diolah menjadi ringkasan hingga Audio Overview yang dapat didengarkan seperti podcast. Saat event berlangsung, peserta mulai menggunakan NotebookLM untuk memahami materi, merangkum informasi ilmiah dan mengelola berbagai sumber akademik dengan lebih efektif. Keberhasilan event ini bukan sekadar ketika peserta mampu menggunakan NotebookLM, tetapi ketika mereka dapat menemukan cara baru untuk belajar secara lebih terstruktur karena teknologi yang tepat tidak mengambil alih proses belajar mahasiswa, melainkan membantu kami memiliki lebih banyak kesempatan dan waktu untuk memahami, berpikir dan berkembang.
Pada event ke lima dan ke enam, saya berkesempatan untuk berkolaborasi dengan Bang Syahdika Kurnia Azhari, Top 1 Google Student Ambassador 2025. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bang Syahdika bukan hanya atas kerjasamanya, tetapi juga atas ilmu, pengalaman dan kepercayaan yang diberikan kepada saya. Dari kedua event ini, saya belajar bahwa dampak besar tidak selalu lahir dari langkah yang besar. Bahkan, dapat dimulai dari 10 orang, tumbuh menjadi 20, kemudian berkembang hingga total lebih dari 100 peserta dari berbagai jurusan di Universitas Sumatera Utara yang hadir di event Rising Star dan Achiever saya.
Berdasarkan performa saya sebagai Google Student Ambassador dan setelah selesai melaksanakan enam event, saya terpilih sebagai Top 50 Achiever dari Top 500 Rising Star Google Student Ambassador 2026, saya juga terpilih menjadi salah satu dari 40 proposal terbaik untuk berkesempatan menyelenggarakan event Trailblazer dengan target minimal dihadiri oleh 100 peserta. Saat kesempatan itu datang, saya justru kembali mengingat impian saya saat mengikuti Internasional Summer Course of Pharmacy yaitu membawa Indonesia agar dapat dikenal oleh lebih banyak orang. Keinginan tersebut menemukan jawabannya melalui Event Gemini Wonderland Indonesia. Saya bekerja sama dengan BEM Universitas Sumatera Utara dan HIMA Poltekkes Kemenkes Medan dan hasilnya lebih dari 200 mahasiswa dengan latar belakang, suku, adat, serta budaya yang berbeda hadir dan bertemu dalam satu ruang aula untuk belajar, bereksplorasi, dan menemukan cara baru dalam mengenal Indonesia lebih dalam dengan teknologi.
Sebagai Google Student Ambassador, saya benar-benar memahami bahwa teknologi akan jauh lebih berarti ketika manfaatnya dapat dirasakan dan dibagikan kepada orang lain. Setelah melihat langsung bagaimana teknologi mampu membantu mahasiswa belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi melalui enam event yang telah saya selenggarakan di kampus saya, sebuah pertanyaan kemudian muncul dalam pikiran saya yaitu bagaimana jika teknologi yang selama ini saya pelajari dapat menjadi jembatan bagi generasi muda Indonesia untuk kembali mengenal, memahami, dan mencintai kekayaan negerinya sendiri?
Sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut, saya mengadakan event ketujuh dengan tema “Gemini Wonderland Indonesia: Explore Indonesia with Gemini & AI Mode”. Rangkaian kegiatan event ini diawali dengan doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Mahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan penampilan hiburan, ice breaking, serta games dan sarapan bersama untuk membangun keakraban. Setelah itu, peserta mengikuti sesi penyampaian materi mengenai Gemini dan AI Mode, dilanjutkan dengan makan siang, penyerahan hadiah bagi pemenang Indonesia Hero Challenge, Prompt Battle, dan Nano Banana Challenge, sebelum akhirnya acara ditutup dengan penampilan tari daerah tradisional sebagai simbol perpaduan antara teknologi dan budaya Indonesia.
Gemini Wonderland Indonesia bukan sekadar event yang memperkenalkan teknologi kepada mahasiswa, tetapi sebuah event yang mengajak mereka melihat, mengenal, dan menjelajahi lebih dalam kekayaan Indonesia. Saat sesi penyampaian materi, saya memperkenalkan Gemini dan AI Mode, kemudian mengajak seluruh peserta untuk menemukan hidden gems di Indonesia, mengeksplorasi sejarah dan budaya daerah hingga menyusun rencana perjalanan dan itinerary menggunakan Gemini. Pada pertengahan sesi materi, peserta juga mengikuti Indonesia Hero Challenge, sebuah permainan yang menggunakan AI Mode dengan tujuan agar mereka mengingat kembali pahlawan yang telah berjasa bagi bangsa. Melalui permainan ini, peserta tidak hanya mencari informasi, tetapi juga memastikan kebenaran informasi yang telah diperoleh. Melalui pengalaman tersebut, peserta dapat memperoleh cara pandang baru bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk mengenal sejarah, tokoh bangsa, dan kekayaan Indonesia dengan cara yang lebih menarik dan menyenangkan. Antusiasme peserta semakin terasa ketika mengikuti permainan yang mengangkat kekayaan budaya Indonesia, mulai dari makanan tradisional, tarian daerah, hingga rumah adat Nusantara. Saya masih mengingat bagaimana mereka saling berebut untuk menjawab, bahkan dengan penuh percaya diri meneriakkan jawaban secara bersama-sama. Momen itu bukan hanya membuat suasana semakin meriah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk saling berbagi pengetahuan dan mengenal lebih dekat keberagaman budaya Indonesia.
Saya juga mengadakan Prompt Battle dan Nano Banana Challenge yang menggunakan aplikasi Gemini agar seluruh peserta dapat menuangkan pengetahuan serta imajinasi mereka ke dalam sebuah karya. Peserta yang awalnya datang hanya karena rasa penasaran perlahan mulai berani berdiskusi, menyempurnakan prompt dan mengembangkan ide mereka sendiri. Mereka tidak lagi hanya memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu, tetapi mulai menjadikan Gemini sebagai teman dalam belajar dan berkarya
Saat event berlangsung, saya tidak ingin melupakan satu hal penting yaitu tanggung jawab. Semakin berkembang kemampuan teknologi, semakin besar pula tanggung jawab manusia untuk menggunakannya dengan bijak. Karena itu, Responsible AI menjadi topik penting dalam Gemini Wonderland Indonesia. Saya mengajak peserta memahami bahwa AI dapat membantu menemukan informasi, tetapi manusialah yang harus memeriksa kebenarannya, AI dapat membantu menciptakan karya. Namun, manusia tetap memegang kendali atas ide, inovasi, dan keputusan akhirnya.
Rangkaian kegiatan event Gemini Wonderland Indonesia kemudian ditutup dengan penampilan tari daerah tradisional yang mengingatkan kami bahwa secanggih apapun teknologi yang digunakan, ada identitas dan budaya Indonesia yang tetap menjadi warisan dan harus dijaga. Pesan tersebut juga terlihat dari para panitia event ini yang mengenakan pakaian batik untuk menunjukkan bahwa teknologi dan budaya bukanlah hal yang harus dipisahkan. Ketika lebih dari 200 mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara dan Poltekkes Kemenkes Medan berkumpul dalam satu ruang untuk berkompetisi, bertukar cerita, dan menciptakan karya, saya menyadari bahwa makna kegiatan ini jauh lebih besar daripada sekadar jumlah peserta. Mereka pulang bukan hanya membawa pengalaman baru dalam menggunakan teknologi, tetapi juga membawa rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap sejarah, budaya, dan kekayaan Indonesia. Bagi saya, di situlah keberhasilan Gemini Wonderland Indonesia benar-benar terasa, ketika tiga jam yang singkat mampu menumbuhkan rasa penasaran yang terus berlanjut bahkan setelah acara berakhir. Pada akhirnya teknologi justru menjadi jembatan yang membawa kita menemukan kembali makna Indonesia sebagai rumah dan tanah air yang patut dibanggakan.
Dari hasil evaluasi dan wawancara dengan peserta membuat saya semakin menyadari makna dari event ini. Banyak peserta mengaku semakin tertarik menggunakan Gemini untuk belajar dan berkreasi, sementara peserta lainnya mulai tertarik mengeksplorasi sejarah, budaya, makanan, dan kekayaan Indonesia melalui AI Mode. Bagi saya, inilah dampak yang sebenarnya, ketika peserta tidak hanya pulang membawa pengetahuan tentang teknologi, tetapi juga keberanian untuk mencoba dan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap Indonesia.
Melalui slogan Event Gemini Wonderland Indonesia yaitu “Explore Together, Growing Forever”, saya ingin menyampaikan pesan bahwa proses eksplorasi akan menjadi lebih bermakna ketika dilakukan bersama. Explore Together mewakili semangat untuk bersama-sama mengenal Indonesia lebih dekat, saling berbagi pengetahuan dan menciptakan karya di tengah keberagaman. Sementara Growing Forever menjadi pengingat bahwa setiap pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh selama event ini merupakan awal dari perjalanan untuk terus bertumbuh dan belajar.
“Explore Together, Growing Forever” bukan hanya slogan sebuah event, tetapi prinsip yang ingin terus saya bawa, dengan mengeksplorasi bersama, belajar bersama, dan terus bertumbuh tanpa henti. Saya mulai memahami bahwa sebuah event tidak harus langsung mengubah seseorang dalam satu hari, terkadang cukup dengan menumbuhkan satu rasa ingin tahu, kita telah membuka jalan bagi seseorang untuk terus belajar, mencoba, dan berkembang.
Event Gemini Wonderland Indonesia berlangsung dengan baik, tetapi satu hal di luar perkiraan saya justru terjadi. Awalnya, saya hanya mempersiapkan 100 kursi untuk peserta. Namun, di luar dugaan, lebih dari 200 mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara dan Poltekkes Kemenkes Medan hadir mengikuti event ini. Untuk sesaat, saya panik karena jumlah peserta hampir dua kali lipat dari persiapan awal. Namun, situasi itu justru mengajarkan saya bahwa menjadi Google Student Ambassador bukan tentang memastikan semuanya berjalan sempurna, melainkan tentang tetap tenang ketika keadaan berubah dan berani untuk terus mencari solusi. Bersama panitia, saya menata kembali ruang dan memastikan setiap peserta tetap dapat mengikuti event ini dengan nyaman.
Ketika melihat lebih dari 200 mahasiswa tetap bertahan dengan antusias, rasa khawatir saya berubah menjadi rasa syukur. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa ketika sebuah ide tumbuh melampaui apa yang kita bayangkan, di situlah kemampuan kita untuk beradaptasi benar-benar diuji.
Event Gemini Wonderland Indonesia dapat terlaksana berkat banyak pihak yang hadir dan memberikan kontribusi di sepanjang event ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada tim Google, khususnya Kak Sheva sebagai mentor saya, yang memberikan arahan, dukungan dan kepercayaan kepada saya. Terima kasih juga kepada seluruh panitia yang memberikan waktu, tenaga, pikiran dan kerja keras sejak persiapan hingga event selesai. Bahkan melalui hal sederhana, seperti memakai batik bersamaan dengan almamater dan PDH selama event yang membawa semangat Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa teknologi dan identitas budaya dapat hadir berdampingan dalam satu ruangan. Saya juga bersyukur atas kesempatan untuk berkolaborasi dengan BEM Universitas Sumatera Utara sebagai media partner dan Himpunan Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Medan yang membantu menyelenggarakan event ini dan kepada lebih dari 200 mahasiswa yang hadir, saya berharap kalian tidak hanya membawa pulang pengalaman menggunakan Gemini dan AI Mode, tetapi juga rasa ingin tahu yang baru, keberanian untuk mencoba, serta keyakinan bahwa teknologi dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk belajar, berkarya dan mengenal Indonesia lebih dekat.
Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada teman-teman Buddy Sumatera Utara 11 yang telah memberikan kepercayaan kepada saya sebagai kapten dan menemani perjalanan saya selama menjadi Google Student Ambassador. Bagi saya, kepercayaan tersebut bukan sekadar tanggung jawab untuk memimpin tim, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar dan tumbuh bersama, serta menciptakan dampak positif bersama dengan teman-teman hebat dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Utara yaitu Dawani Alkhairi Rambe dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Desinta Yamasan Rusli dari Universitas Pelita Harapan Medan, Dona Febriana Pulungan dari Universitas Negeri Medan, serta Frans Darma Putra Siahaan dari Universitas Sumatera Utara. Meskipun kami berasal dari kampus dan latar belakang yang berbeda kami dipersatukan oleh tujuan yang sama yaitu membawa teknologi lebih dekat kepada mahasiswa serta membantu mereka belajar, berkembang dan siap beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Alhamdulillah, kebersamaan kami sebagai bagian dari Buddy Sumut 11 ditutup dengan sebuah pencapaian yang berkesan yaitu kemenangan dalam challenge terakhir, Celebrate Your Roots. Kami memilih Istana Maimun sebagai tempat untuk mengenal lebih dekat sejarah di kota Medan sekaligus memperkenalkan sejarah dan budaya Melayu sebagai salah satu bagian dari kekayaan Indonesia. Bagi saya, kemenangan ini bukan hanya tentang hasil yang kami raih, tetapi tentang bagaimana perbedaan di antara kami justru menjadi kekuatan ketika disatukan oleh tujuan dan semangat yang sama. Perjalanan bersama Buddy Sumut 11 semakin menguatkan keyakinan saya bahwa perubahan yang bermakna tidak pernah lahir dari satu orang saja. Perubahan tumbuh melalui kolaborasi dari orang-orang yang mau belajar bersama, saling mendukung dan menggunakan setiap kesempatan untuk memberikan manfaat bagi lebih banyak orang.
Saya mengawali perjalanan ini sebagai mahasiswa Farmasi yang awalnya hanya ingin mengenal teknologi hingga akhirnya terpilih sebagai Google Student Ambassador dan bertemu dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang, bahkan dari berbagai negara. Ketika mendapat kesempatan memperkenalkan Indonesia kepada mahasiswa internasional, saya justru sadar bahwa semakin banyak saya bercerita tentang negeri ini, semakin besar pula keinginan saya untuk mengenalnya kembali. Gemini Wonderland Indonesia menjadi titik awal ketika teknologi yang awalnya saya gunakan untuk membantu proses belajar, akhirnya menjadi jembatan untuk membantu orang lain belajar, berani mencoba, berkarya dan bahkan menemukan kembali rasa bangga terhadap jati diri dan tanah air mereka. Karena itu, saya ingin terus membawa semangat ini dari Indonesia, untuk Indonesia dan suatu hari nanti untuk dunia. Saya mungkin belum memperkenalkan seluruh Indonesia kepada dunia, tetapi saya percaya perubahan dapat dimulai dari satu ruang dan satu event yang dihadiri oleh lebih dari 200 mahasiswa. Jika setelah kegiatan ini ada mahasiswa yang menjadi lebih berani belajar, kembali tertarik mengenal budayanya atau menggunakan teknologi untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat, maka bagi saya langkah kecil tersebut telah menemukan tujuannya. Saya juga percaya bahwa satu ide yang diwujudkan dengan keberanian dapat mengubah cara seseorang memandang sesuatu. Dari satu orang yang terinspirasi, maka akan tumbuh keberanian baru yang kemudian diteruskan kepada orang lain dan inilah makna sesungguhnya, bukan tentang seberapa besar pencapaian yang berhasil saya raih, melainkan seberapa jauh langkah yang saya mulai dapat terus memberikan manfaat.
Dari tujuh event yang saya selenggarakan, menunjukkan kepada saya bahwa dampak tidak harus langsung terlihat besar sejak awal. Saya memulai salah satu event Rising Star dengan hanya 10 peserta, kemudian berkembang menjadi 20 peserta pada tahap Achiever, hingga mencapai lebih dari 200 peserta pada tahap Trailblazer. Namun, hasil tersebut bukanlah akhir, melainkan sebuah tanda dari proses panjang yang mengajarkan saya untuk mengubah rasa ingin tahu menjadi keberanian, keberanian menjadi tindakan dan tindakan menjadi manfaat yang dapat dirasakan bagi mereka yang berada di sekitar saya.
Saat menuliskan kisah ini, saya telah menjadi Alumni Google Student Ambassador, saya harap perjalanan ini tidak berhenti pada saya. Semoga para Google Student Ambassador berikutnya dapat menghadirkan event yang lebih besar, lebih kreatif dan menjangkau lebih banyak mahasiswa agar semakin banyak generasi muda berani menjadikan teknologi sebagai jembatan untuk terus belajar, mengeksplorasi hal-hal baru, mengenal lebih dekat budaya dan kekayaan Indonesia, serta menumbuhkan kembali rasa bangga dan cinta terhadap tanah air.
Penulis: Dhiya Ulhag Pulungan
Mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Sumatera Utara
Aktif sebagai Google Student Ambassador
Ketua Divisi Kaderisasi UKM Bulu Tangkis Universitas Sumatera Utara 2026-2027
Editor: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI





































