Viral Bukan Berarti Bermartabat: Menawarkan Konsep Al-Ibda’ Marketing Innovation dalam Perspektif Islam

Al-Ibda' Marketing Innovation
Viral Bukan Berarti Bermartabat: Menawarkan Konsep Al-Ibda' Marketing Innovation dalam Perspektif Islam. Sumber: MMI.

Oleh: Soesanty Maulany
Mahasiswa S3 Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Sultan Agung, Semarang


Dosen Pengampu: Prof. Drs. Widiyanto, M.Si., Ph.D.


“Viral bukan berarti bermartabat. Ramai bukan berarti benar.” 

Dua kalimat itu mewakili kegelisahan saya melihat lanskap pemasaran digital Indonesia belakangan ini. Sebuah merek minuman meledak di media sosial bukan karena kualitas rasa, melainkan karena kontroversi. Platform e-commerce meraih jutaan pengguna, tetapi di saat yang sama muncul kekhawatiran mengenai perlindungan data pribadi.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO), clickbait, dan berbagai strategi yang mengejar perhatian publik seolah menunjukkan bahwa keberhasilan pemasaran diukur dari seberapa ramai diperbincangkan, bukan dari nilai yang dibawanya.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah setiap inovasi pemasaran yang berhasil menarik perhatian pasar otomatis layak disebut sebagai inovasi yang baik? Menurut saya, jawabannya tidak.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, saya menawarkan sebuah gagasan konseptual yang saya sebut Al-Ibda’ Marketing Innovation, yaitu cara memandang inovasi pemasaran melalui perspektif Islamic Worldview.

Saat ini kreativitas telah menjadi komoditas yang sangat berharga. Pelaku usaha, terutama UMKM, berlomba menghadirkan strategi pemasaran yang unik agar mampu bersaing di tengah derasnya arus digitalisasi.

Namun, di balik tingginya angka engagement dan viralitas, muncul berbagai praktik yang patut dikritisi, seperti eksploitasi emosi konsumen, klaim produk yang berlebihan, hingga strategi pemasaran yang lebih mengutamakan sensasi daripada kejujuran.

Inovasi akhirnya sering dipahami sebagai kemampuan memenangkan perhatian pasar, sementara dimensi etika perlahan terpinggirkan.

Dalam perspektif Islam, manusia merupakan khalifah yang dianugerahi akal, ilmu, dan kreativitas sebagai amanah dari Allah SWT. Amanah tersebut menuntut agar setiap bentuk kreativitas diarahkan untuk menghadirkan kemanfaatan, bukan sekadar menciptakan sesuatu yang baru.

Sejalan dengan pemikiran Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din, aktivitas ekonomi semestinya dijalankan dengan kesadaran moral dan orientasi ibadah. Karena itu, kreativitas dalam Islam tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu terikat pada nilai tauhid, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.

Baca Juga: Pengertian Digital Marketing Menurut Para Ahli

Pemahaman tersebut tercermin dalam konsep al-ibda’ (الإبداع), yang dapat dimaknai sebagai kreativitas yang melahirkan pembaruan secara bertanggung jawab. Berangkat dari konsep inilah saya mengajukan Al-Ibda’ Marketing Innovation sebagai sebuah gagasan konseptual.

Gagasan ini memandang inovasi pemasaran bukan hanya sebagai upaya menciptakan keunggulan kompetitif, melainkan juga sebagai proses kreatif yang membangun kepercayaan, menjaga integritas, dan menghasilkan manfaat bagi konsumen serta masyarakat.

Dengan demikian, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari peningkatan penjualan, tetapi juga dari kualitas etika yang menyertainya.

Perbedaan mendasar dengan pendekatan marketing innovation konvensional terletak pada orientasinya. Pendekatan konvensional umumnya menitikberatkan pada diferensiasi, daya saing, dan penguasaan pasar. Sebaliknya, Al-Ibda’ Marketing Innovation menempatkan kreativitas, amanah, dan tanggung jawab sebagai fondasi inovasi.

Tujuannya bukan hanya memenangkan persaingan, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang yang dilandasi kepercayaan. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar “Apakah strategi ini efektif?”, tetapi juga “Apakah strategi ini jujur, adil, dan membawa manfaat?”

Gagasan ini memiliki relevansi yang tinggi bagi UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Di tengah persaingan yang semakin dinamis, kreativitas memang menjadi modal penting untuk berkembang. Namun, kreativitas yang tidak diarahkan oleh nilai berpotensi melahirkan praktik pemasaran yang mengabaikan etika.

Sebaliknya, ketika kreativitas dibangun di atas nilai-nilai Islam, inovasi tidak hanya memperkuat daya saing usaha, tetapi juga memperkuat kepercayaan pelanggan sebagai fondasi keberlanjutan bisnis.

Islam pada hakikatnya tidak membatasi inovasi. Sebaliknya, Islam mendorong manusia untuk terus berpikir, berkarya, dan melakukan pembaruan sebagai bagian dari ikhtiar memakmurkan bumi. Yang menjadi perhatian bukanlah ada atau tidaknya inovasi, melainkan arah dan tujuan inovasi tersebut.

Inovasi yang cerdas tanpa nilai mungkin menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek, tetapi belum tentu menghadirkan kebermanfaatan yang berkelanjutan.

Di tengah transformasi digital yang terus berkembang, dunia usaha membutuhkan inovasi yang tidak hanya kreatif, tetapi juga berintegritas. Melalui gagasan Al-Ibda’ Marketing Innovation, saya mengajak pelaku usaha, akademisi, dan pembuat kebijakan untuk melihat inovasi pemasaran sebagai perpaduan antara kreativitas, etika, dan tanggung jawab.

Baca Juga: The Excitement of BISPRO UPNVJT Students Visiting Rumah Pintar Cendikia Juanda: Learning About History and Innovation

Ketika kreativitas dipandu oleh nilai-nilai Islam, inovasi tidak lagi sekadar menjadi instrumen memenangkan pasar, tetapi menjadi jalan membangun bisnis yang bermartabat, berkelanjutan, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Semoga gagasan ini dapat memperkaya diskursus mengenai inovasi pemasaran dalam perspektif Islam sekaligus mendorong lahirnya praktik bisnis yang lebih berintegritas.

Wallahu a’lam bish-shawab.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses