Paradoks Komunikasi Digital: Degenerasi Kemampuan Retorika Lisan di Ruang Publik

komunikasi digital
Berikut caption ringkas yang selaras dengan isi artikel dan visual header: Komunikasi digital menawarkan kecepatan dan kemudahan, tetapi tidak semestinya menggantikan kemampuan retorika lisan. Di tengah dominasi pesan teks dan interaksi daring, public speaking tetap perlu dilatih agar teknologi dan komunikasi tatap muka dapat saling melengkapi. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Abstrak

Transformasi digital telah mengubah pola komunikasi masyarakat dari interaksi tatap muka menuju komunikasi berbasis pesan, media sosial, dan konferensi daring.

Perubahan tersebut memberikan efisiensi dan memperluas akses komunikasi, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan kemampuan retorika lisan, terutama ketika individu harus menyampaikan gagasan secara spontan di ruang publik.

Artikel ini bertujuan menganalisis paradoks komunikasi digital terhadap kemampuan public speaking dan merumuskan cara menjaga keseimbangan antara kecakapan digital dan retorika lisan.

Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui penelaahan artikel ilmiah dan sumber kelembagaan yang relevan.

Hasil kajian menunjukkan bahwa komunikasi digital tidak secara otomatis menyebabkan penurunan kemampuan berbicara. Dampaknya sangat dipengaruhi oleh pola penggunaan media.

Penelitian terdahulu menunjukkan adanya perbedaan karakteristik antara komunikasi berbasis teks, video, dan tatap muka; komunikasi tatap muka menyediakan isyarat nonverbal yang lebih kaya, sedangkan komunikasi digital memberikan fleksibilitas dan kesempatan mengontrol pesan.

Oleh karena itu, kemampuan digital dan public speaking sebaiknya dikembangkan secara bersamaan melalui latihan presentasi, diskusi, organisasi, dan penggunaan media digital sebagai sarana latihan komunikasi.

Kata kunci: komunikasi digital, public speaking, retorika lisan, media sosial, komunikasi tatap muka.

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah membuat komunikasi berlangsung semakin cepat dan fleksibel. Pesan dapat dikirim tanpa batas ruang dan waktu, sementara media sosial memungkinkan seseorang menyampaikan gagasan kepada khalayak luas.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menempatkan literasi digital dan literasi media-informasi sebagai kompetensi penting dalam menghadapi transformasi teknologi. Dengan demikian, kemampuan menggunakan teknologi komunikasi merupakan bagian penting dari kecakapan masyarakat modern.

Namun, kemudahan komunikasi digital menghadirkan sebuah paradoks. Individu dapat sangat aktif berkomunikasi melalui pesan teks, komentar, unggahan, dan video, tetapi aktivitas tersebut tidak selalu identik dengan kemampuan berbicara secara langsung.

Komunikasi lisan membutuhkan kemampuan menyusun gagasan secara spontan, mengatur suara, membaca ekspresi audiens, menggunakan bahasa tubuh, serta merespons pertanyaan secara langsung.

Perbedaan karakteristik tersebut didukung oleh penelitian Oviedo dan Fox Tree (2021). Studi mereka menemukan bahwa cara seseorang pertama kali berinteraksi, melalui teks atau video, dapat memengaruhi rasa percaya diri dan efektivitas kinerja komunikasi.

Komunikasi berbasis teks memberikan kesempatan untuk mengedit respons sebelum dikirim, sedangkan interaksi video lebih dekat dengan tuntutan komunikasi langsung.

Persoalan tersebut relevan bagi mahasiswa dan generasi muda karena kemampuan berbicara tetap diperlukan dalam presentasi akademik, organisasi, wawancara, pekerjaan, dan kehidupan sosial.

Penelitian mengenai interaksi anak muda juga menunjukkan bahwa sebagian partisipan memandang penggunaan media sosial yang berat dapat membuat percakapan tatap muka terasa lebih sulit, walaupun sebagian lainnya merasakan manfaat media sosial terhadap kepercayaan diri dan interaksi kelompok.

Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara media sosial dan kemampuan komunikasi tidak bersifat sederhana atau selalu negatif.

Atas dasar itu, artikel ini membahas bagaimana komunikasi digital dapat menciptakan kesenjangan antara kemampuan berkomunikasi melalui media dan kemampuan retorika lisan, sekaligus menjelaskan bahwa teknologi dapat digunakan sebagai pendukung, bukan pengganti, latihan public speaking.

Metode Penelitian

Artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Data sekunder diperoleh dari artikel jurnal ilmiah yang membahas komunikasi digital, komunikasi tatap muka, interaksi media sosial, dan kompetensi komunikasi, serta sumber kelembagaan UNESCO mengenai literasi digital dan literasi media-informasi.

Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran sumber ilmiah yang dapat diakses secara daring. Sumber kemudian dipilih berdasarkan relevansi dengan tema komunikasi digital dan kemampuan komunikasi lisan.

Analisis dilakukan dengan membaca, membandingkan, dan menginterpretasikan temuan penelitian terdahulu untuk mengidentifikasi pola, perbedaan, serta implikasinya terhadap public speaking.

Metode studi pustaka digunakan karena artikel ini tidak melakukan survei atau eksperimen terhadap responden secara langsung.

Oleh sebab itu, istilah “degenerasi” dalam artikel ini digunakan sebagai istilah analitis untuk menunjukkan kemungkinan melemahnya latihan atau keterampilan retorika lisan akibat pola komunikasi tertentu, bukan sebagai kesimpulan bahwa semua pengguna media digital mengalami penurunan kemampuan berbicara.

Fokus kajian artikel ini meliputi: (1) gambaran fenomena mahasiswa pekerja di Indonesia; (2) generasi anak muda di Indonesia.

Hasil dan Pembahasan

1. Perubahan Pola Komunikasi di Era Digital

Komunikasi digital menawarkan kecepatan, fleksibilitas, dan kemampuan menghubungkan orang yang berada di tempat berbeda. Dalam pendidikan, misalnya, diskusi daring dapat melengkapi pertemuan langsung.

Chen dan Chen (2021) menemukan bahwa diskusi tatap muka dan diskusi daring memiliki fungsi yang berbeda dan keduanya dapat saling melengkapi dalam pembelajaran.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa masalahnya bukan terletak pada keberadaan teknologi, melainkan pada keseimbangan penggunaan berbagai bentuk komunikasi.

Ketika komunikasi digital digunakan sebagai pelengkap, individu dapat memperoleh manfaat efisiensi tanpa harus kehilangan kesempatan berinteraksi secara langsung.

2. Mengapa Retorika Lisan Tetap Penting

Retorika lisan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara. Di dalamnya terdapat kemampuan menyusun argumen, memilih kata, mengatur intonasi, menggunakan jeda, mempertahankan perhatian audiens, dan membaca respons nonverbal.

Komunikasi tatap muka memberikan akses yang lebih besar terhadap isyarat seperti ekspresi wajah, kontak mata, gestur, dan perubahan intonasi.

Penelitian mengenai komunikasi yang dimediasi komputer menunjukkan bahwa komunikasi daring memiliki keterbatasan tertentu dalam penyampaian isyarat nonverbal.

Pada komunikasi video, misalnya, kontak mata dan pengamatan terhadap respons nonverbal dapat lebih terbatas dibandingkan interaksi tatap muka.

3. Paradoks: Teknologi Dapat Melemahkan sekaligus Menguatkan Komunikasi

Penggunaan media digital tidak dapat secara otomatis dinilai sebagai penyebab kemunduran kemampuan berbicara. Penelitian Pollmann, Norman, dan Crockett (2021) menunjukkan bahwa komunikasi tatap muka dan pesan teks dapat memiliki hubungan yang berbeda dengan pemahaman, sehingga bentuk komunikasi sebaiknya dipandang secara bersama-sama, bukan saling menggantikan.

Di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sarana pembelajaran komunikasi. Penelitian Wijayanto, Haryani, dan Aisah (2025) menunjukkan bahwa media sosial dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran yang mendukung kompetensi komunikasi melalui pendekatan pembelajaran yang terarah.

Temuan-temuan tersebut memperlihatkan paradoks utama: teknologi yang berpotensi mengurangi kesempatan latihan percakapan langsung juga dapat menjadi alat untuk meningkatkan kemampuan komunikasi apabila digunakan secara produktif. Karena itu, persoalan utamanya bukan “digital atau tatap muka”, melainkan bagaimana keduanya dikombinasikan.

4. Implikasi bagi Mahasiswa dan Ruang Publik

Bagi mahasiswa, kemampuan public speaking perlu dilatih secara teratur melalui presentasi, diskusi kelas, organisasi, seminar, menjadi moderator, dan kegiatan sosial. Media digital dapat digunakan untuk merekam latihan, mengevaluasi artikulasi, atau mengikuti kegiatan komunikasi yang memperluas pengalaman berbicara.

Di ruang publik, kemampuan retorika juga memiliki fungsi sosial. Seseorang perlu mampu menjelaskan gagasan secara bertanggung jawab, mendengarkan pendapat berbeda, dan menanggapi pertanyaan tanpa hanya bergantung pada teks yang telah dipersiapkan. Dengan demikian, literasi digital perlu berjalan bersama kemampuan komunikasi interpersonal dan lisan.

UNESCO menekankan bahwa literasi media-informasi mencakup kemampuan yang dibutuhkan masyarakat untuk menghadapi peluang dan tantangan transformasi digital. Kerangka tersebut dapat dipahami secara luas sebagai alasan untuk tidak memisahkan kecakapan digital dari kemampuan komunikasi lainnya.

Kesimpulan

Paradoks komunikasi digital terletak pada kenyataan bahwa kemajuan teknologi komunikasi tidak selalu berjalan seiring dengan penguatan kemampuan retorika lisan. Komunikasi berbasis teks memberikan efisiensi dan kontrol terhadap pesan, sedangkan komunikasi tatap muka menuntut spontanitas, kemampuan membaca isyarat nonverbal, dan keterampilan menyampaikan gagasan secara langsung.

Literatur yang dikaji menunjukkan bahwa hubungan antara penggunaan media digital dan kemampuan komunikasi bersifat kompleks: penggunaan yang berlebihan atau menggantikan seluruh interaksi langsung dapat mengurangi kesempatan latihan, tetapi penggunaan yang terarah justru dapat menjadi sarana pengembangan kompetensi komunikasi.

Oleh karena itu, penguatan public speaking perlu dilakukan bersamaan dengan pengembangan literasi digital. Tantangan komunikasi pada era digital bukan memilih antara teknologi dan komunikasi lisan, melainkan membangun keseimbangan agar keduanya saling melengkapi.

Daftar Pustaka

Chen, P.-J., & Chen, Y.-H. (2021). Massive Open Online Course Study Group: Interaction Patterns in Face-to-Face and Online (Facebook) Discussions. Frontiers in Psychology, 12, 670533. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.670533

Oviedo, V. Y., & Fox Tree, J. E. (2021). Meeting by text or video-chat: Effects on confidence and performance. Computers in Human Behavior Reports, 3, 100054. https://doi.org/10.1016/j.chbr.2021.100054

Pollmann, M. M. H., Norman, T. J., & Crockett, E. E. (2021). A daily-diary study on the effects of face-to-face communication, texting, and their interplay on understanding and relationship satisfaction. Computers in Human Behavior Reports, 3, 100088. https://doi.org/10.1016/j.chbr.2021.100088

Sari, W. P., Irena, L., & Azeharie, S. (2023). Digital generation and how they disclose themselves in social media. AIP Conference Proceedings, 2680, 020041. https://doi.org/10.1063/5.0126489

UNESCO. (2026). Media and Information Literacy for Global Communication and Learning. UNESCO. https://www.unesco.org/en/media-information-literacy/global-communication-learning

UNESCO Institute for Information Technologies in Education. (2011). Digital Literacy in Education. UNESCO IITE. https://iite.unesco.org/publications/3214688/

Wijayanto, P. W., Haryani, & Aisah, S. (2025). Exploration of the Use of Social Media as an English Learning Medium to Improve Students’ Communication Competence. Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha, 13(3). https://doi.org/10.23887/jpbi.v13i3.103458

 


Penulis: Natalia Wiranda Sigalingging
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Risza Putri Elburdah, S.Pt., M.M.


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *