Clinical Exchange di Departemen Bedah Saraf di Università degli Studi di Verona: Pengalaman Mahasiswa FK Universitas Airlangga

Clinical Exchange Verona

Buongiorno! Kami adalah Rizal Rachbini Mahlevi dan Safina Talitha Laksmi Bintarti, mahasiswa kedokteran tahun ketiga di Universitas Airlangga. Pada Juli 2026, kami berkesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa di Departemen Bedah Saraf Università degli Studi di Verona melalui Office of International Affairs (OIA) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Verona merupakan kota indah di antara Milan dan Venezia yang dikenal dengan arsitektur serta sejarahnya yang ikonik, termasuk kisah Romeo dan Juliet. Program kami berlangsung di Ospedale di Borgo Trento. Setelah tiba di Bandara Milan Malpensa pada 28 Juni 2026, kami melanjutkan perjalanan ke Verona dengan kereta selama kurang lebih dua jam.

Setibanya di sana, kami disambut oleh Prof. Alberto Faletti, ahli bedah saraf dengan spesialisasi neuro-endoskopi sekaligus pembimbing utama kami.

Hari Pertama di Ospedale di Borgo Trento

Pada hari pertama, kami diperkenalkan kepada para residen dan staf, di antaranya Filippo Pasqualini, Pietro Meneghelli, Alessandro D’Intino, Claudia Tolini, Filippo De Bona, Victoria Cassara, dan Valeria Di Caro. Mereka sangat ramah dan terbuka dalam membimbing kami selama proses pembelajaran.

Mengamati Berbagai Prosedur Bedah Saraf

Selama rotasi, kami mengamati berbagai prosedur bedah saraf. Salah satu yang paling berkesan adalah anterior cervical discectomy menggunakan pendekatan Cloward oleh Prof. Faletti.

Beliau menjelaskan, “Pada prosedur ini, dilakukan insisi pada platysma, kemudian diseksi dilakukan secara tumpul menggunakan jari untuk mencapai bidang yang lebih dalam. Otot sternocleidomastoideus disisihkan untuk mengidentifikasi dan meraba arteri karotis, yang kemudian digeser ke arah lateral untuk memberikan akses ke tulang belakang servikal.”

Filippo Pasqualini menambahkan, “Penentuan level vertebra dilakukan dengan bantuan fluoroskopi (X-ray) secara berulang untuk memastikan lokasi yang tepat. Prosedur ini memiliki risiko perdarahan yang serius, yang dapat menyebabkan kompresi trakea. Pada kasus yang kami amati, segmen C5 dan C6 dilebarkan untuk memungkinkan pengangkatan diskus yang mengalami herniasi dan dekompresi saraf.”

Diskus kemudian digantikan dengan cage yang diposisikan secara optimal dengan panduan X-ray.

Operasi Tethered Spinal Cord dan Pemantauan Neurofisiologi

Pada 8 Juli, kami mengikuti operasi tethered spinal cord dengan monitoring neurofisiologi oleh teknisi bernama Diana. Pemantauan impuls listrik secara real time ini sangat penting untuk mencegah kerusakan neurologis selama prosedur berlangsung.

Mempelajari Sindrom Kompresi Saraf Perifer

Pada 9 Juli, kami mempelajari kasus sindrom kompresi saraf perifer. Pasien mengalami nyeri kronis, penurunan sensasi (anesthesia), kelemahan (hyposthenuria), serta gangguan motorik.

Terapi konservatif tidak memberikan perbaikan yang signifikan. Diagnosis ditegakkan melalui Tinel sign serta pemeriksaan elektromiografi (EMG) dan ultrasonografi untuk menilai kondisi nervus medianus.

Biopsi Otak Stereotaktik dan Herniasi Diskus

Pada 15 Juli, kami menyaksikan biopsi otak stereotaktik pada pasien tumor otak dalam kondisi sadar (awake procedure). Teknik berbasis MRI dan CT scan ini memungkinkan penentuan lokasi lesi secara presisi.

Pascaoperasi, pasien diberikan manitol untuk mengurangi edema serebral dan tekanan intrakranial dengan dosis tapering.

Di hari yang sama, kami juga mengikuti penanganan kasus herniasi diskus L4–L5 dengan gejala nyeri yang menjalar ke tungkai kanan.

Claudia menjelaskan, “Prosedur dilakukan melalui pendekatan posterior, dengan akses di antara lamina vertebra. Struktur jaringan disisihkan menggunakan alat seperti spatula untuk mencapai area herniasi, kemudian bagian diskus yang menekan saraf diangkat untuk mengurangi gejala pasien.”

Pengalaman di Luar Aktivitas Klinis

Di sela-sela kegiatan klinis, kami juga berkesempatan mengunjungi Dolomites, Milan dan Danau Como, Munich, serta Riva del Garda.

Kami juga menikmati makan malam bersama Prof. Faletti di pusat kota Verona. Dalam kesempatan tersebut, beliau berbagi cerita inspiratif mengenai perjalanan kariernya hingga meraih gelar profesor di usia muda.

Pelajaran Berharga dari Verona

Pengalaman ini memberikan wawasan yang berharga, tidak hanya dalam aspek teknis, tetapi juga mengenai pentingnya kerja tim multidisiplin, pemanfaatan teknologi, serta keselamatan pasien.

Kami sangat bersyukur atas kesempatan ini dan berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal dalam perjalanan karier kami pada masa mendatang.

Grazie mille kepada Prof. Faletti dan seluruh tim di Ospedale Borgo Trento atas bimbingan dan dukungannya. Kami berharap suatu hari dapat bertemu kembali.

Ci vediamo di nuovo!


Penulis:
1. Rizal Rachbini Mahlevi
2. Safina Talitha Laksmi Bintarti
Mahasiswa Program Studi Kedokteran, Universitas Airlangga (UNAIR)


Dosen Pengampu:
1.⁠ ⁠Adikara Pagan Pratama, Dr., Ph.D.
2.⁠ ⁠dr. Nila Kurniasari, Sp.PA(K)


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses