“KAMU TIDAK SENDIRI”: Cara K-POP Membuat Gen Z Bertahan Hidup

K-POP dan kesehatan mental

K-POP bukan sekadar hiburan, tetapi cara Generasi Z mengelola tekanan dan merasa ditemani.

Fenomena Hallyu atau Korean Wave merupakan suatu istilah yang merujuk pada budaya populer Korea yang semakin tersebar luas melalui berbagai produk entertainment seperti drama, musik, style, dan lain sebagainya (Putri, Liany, & Nuraeni, 2019, dikutip dari Darmawan dan Noorrizki, 2024).

​Salah satu bentuk Korean Wave yang digemari oleh berbagai generasi adalah K-POP. Menurut Ruangguru, K-Pop adalah musik populer asal Korea Selatan yang meramu berbagai gaya, mulai dari pop, hip-hop, R&B, EDM, hingga rock. Bagi sebagian besar anak muda, K-POP bukan sekadar selera musik. Ia adalah cara bertahan hidup.

Di Indonesia, gangguan mental emosional pada usia 15 tahun ke atas mencapai 9,8%, meningkat dari 6% pada tahun 2013 (Mikael dkk., 2022).

Masa perkuliahan yang penuh tekanan akademik dan tuntutan sosial menjadikan mahasiswa sebagai kelompok rentan mengalami gangguan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi (Setyanto dkk., 2023).

Hal ini membuat banyak anak muda Gen Z terpaksa merawat luka batinnya sendiri, hingga akhirnya menjadikan layar ponsel sebagai satu-satunya tempat bersandar.

Gen Z tumbuh di tengah tekanan berlapis, mulai dari tuntutan akademik hingga perbandingan tiada henti di media sosial. Di saat yang sama, ketika Isu kesehatan mental mulai marak dibicarakan, topik ini kerap dianggap sebagai tanda kelemahan atau sikap berlebihan, sehingga banyak dari mereka yang akhirnya memilih untuk diam. Pada saat inilah K-POP hadir untuk meembangkitkan semangat dan menjadi sebuah harapan.

BACA JUGA: Indonesia Raya di Konser NCT Dream: Cerminan Persatuan dan Keadilan Sosial ala K-Pop

Salah satu musisi K-Pop yang tidak hanya terkenal di Korea, tetapi juga di kancah internasional adalah BTS. BTS resmi memulai karier musiknya di Korea Selatan pada 13 Juni 2013 melalui agensi Bighit Music.

Pada tahun 2017, BTS bekerja sama dengan UNICEF untuk meluncurkan kampanye “Love Myself” yang memberikan pesan-pesan terhadap generasi muda terkait peningkatan kesehatan mental, membangun rasa percaya diri, dan mencintai diri sendiri (Siregar, 2024). Lagu BTS yang berjudul Answer: Love Myself memiliki instrumen dan makna dari lagu tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan mental.

BTS tidak hanya terjebak dalam satu tema, tetapi juga mengeksplor dilema dan perjuangan yang dihadapi anak muda dalam kehidupan, kritik terhadap masalah sosial, harapan, energi positif, serta kesehatan mental. Melalui lirik, instrumen, koreografi, dan pesan-pesan yang disampaikan oleh para idola, ada sosok yang langsung berbicara kepada penggemarnya.

Mereka berkata “Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja, kamu berharga, kamu tidak sendirian.”. Kalimat sederhana itu terasa berbeda ketika datang dari seseorang yang dikagumi.

Lalu, faktor apa yang membuat fenomena K-POP memiliki daya pikat emosional yang kuat dalam meredakan rasa terisolasi pada Gen Z? Melalui platform digital, budaya K-POP telah mengubah cara penggemar berhubungan dan berinteraksi dengan idola mereka. Hubungan ini dikenal sebagai hubungan parasosial, yaitu kedekatan emosional satu arah yang dimiliki penggemar terhadap publik figur (Harvey and Manusov, 2001, dikutip dari Maalini dkk.,2025).

Kehadiran idola melalui siaran langsung dan pesan pribadi menciptakan ikatan emosional yang kuat, membuat kalimat penyemangat mereka terasa lebih menyentuh daripada nasihat dari  lingkungan sekitar. Studi mengungkapkan bahwa rutinitas mendengarkan K-POP berperan penting dalam meningkatkan rasa percaya diri, mencintai diri sendiri, dan membantu mengatasi tekanan mental.

Lalu ke mana arah semua ini? Bagian ini bersifat spekulasi, tetapi bertumpu pada tren yang ada. Jika keterbatasan akses kesehatan mental berlanjut, fandom berisiko menjadi jaring pengaman sosial Gen Z hingga masa depan. Namun, fungsi ini rawan dikomersialisasi oleh industri hiburan, terlebih dengan hadirnya AI yang memperdalam ketergantungan parasosial. Sebaliknya, fandom juga berpeluang mengurangi stigma dan mendorong Gen Z mencari bantuan profesional.

Solusi yang dapat diambil adalah menjadikan K-POP sebagai tempat pertama Gen Z dimengerti, tapi bukan sebagai tujuan akhir. Langkah nyata yang dibutuhkan dari pemerintah dan dunia pendidikan adalah menghadirkan ruang konseling yang aman dan minim stigma, sekaligus merangkul remaja di ruang-ruang aman mereka sendiri, seperti komunitas fandom.

Komunitas penggemar dan platform dapat menyertakan informasi layanan bantuan serta melatih pendengar sebaya agar dukungan antaranggota lebih aman. Dan sudah saatnya lingkungan keluarga, institusi pendidikan, atau pihak-pihak terkait  melihat dunia penggemar dari sudut pandang yang lebih positif. Karena, melalui ruang ini, kita dapat lebih peka dalam mengenali seseorang yang sedang membutuhkan dukungan emosional.

​K-Pop idealnya tidak menjadi satu-satunya tempat bersandar, melainkan berdampingan dengan peran keluarga, teman, serta tenaga profesional saat beban mental terasa semakin berat. Jika hal tersebut dapat berjalan dengan baik, kalimat “kamu tidak sendiri” tidak lagi hanya terdengar dari earphone, tetapi benar-benar hadir di dunia nyata Gen Z.

Daftar Pustaka

Darmawan, S. S., & Noorrizki, R. D. (2024). My Idol My Savior : Kajian Literatur Kesepian dan Celebrity Worship pada Remaja penggemar K-Pop. 4(3), 103–110. https://doi.org/10.17977/10.17977/um070v4i32024p103-110

Ilmiah, J., & Antropologi, K. (2022). Musik yang menenangkan hati: analisis terhadap lagu-lagu bts pada era pandemi. 6(1), 49–66.

Indasari, A. D., Puswiartika, D., & Fitriani, D. (2025). Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman Intensitas Mendengarkan Musik K-Pop dengan Self-Love dan Kesehatan Mental Mahasiswa. 11, 197–204. https://doi.org/10.31602/jbkr.v11.i2.19810

Maalinu, M. R., Salem, V. E. T., & Hamsah, H. (2025). K-Pop Sebagai Fenomena Global ( Implikasi BTS Dalam Kehidupan Sosial Mahasiswa FISH Universitas Negeri Manado ). 3, 87–99.


Penulis: Aulia Dita Nugraha
Mahasiswa Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro


Dosen Pengampu: Juang Abdi Muhammad, S.AP., M.AP.


Editor: Darsono. AR

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *