Angka obesitas di Indonesia tidak pernah benar-benar turun. Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi obesitas pada orang dewasa naik dari 10,5 persen pada 2007 menjadi 21,8 persen pada 2018, dan kini menyentuh 23,4 persen pada 2023. Artinya, lebih dari satu dari lima orang dewasa di negeri ini masuk kategori obesitas.
Yang lebih mengkhawatirkan, kelompok perempuan usia 40–44 tahun mencatat angka tertinggi, hampir mendekati separuh populasinya. Di sisi lain, remaja pun tak luput: data Riskesdas menunjukkan sekitar 16 persen anak usia 13–15 tahun sudah mengalami obesitas.
Setiap kali membahas angka-angka ini, percakapan hampir selalu berhenti di angka timbangan dan saran klise: kurangi porsi, perbanyak olahraga. Seolah tubuh yang membesar hanya soal disiplin yang kendor.
Padahal, di balik setiap kilogram yang bertambah, ada cerita emosi yang jarang ditanyakan: siapa yang sedang stres, siapa yang sedang kesepian, siapa yang belajar sejak kecil bahwa makanan adalah satu-satunya cara meredakan perasaan tak nyaman.
Emotional Eating dan Peran Psikologi dalam Obesitas
Psikologi melihat obesitas bukan sebagai kegagalan moral, melainkan sebagai hasil dari cara seseorang mengelola atau gagal mengelola emosinya.
Ketika tekanan hidup menumpuk, banyak orang secara tak sadar beralih ke makanan sebagai pelarian. Bukan karena lapar secara fisik, tapi karena lapar akan rasa tenang. Fenomena ini dikenal sebagai emotional eating, dan ia bekerja diam-diam, jauh sebelum seseorang sempat menyadarinya.
Stigma dan Lingkaran Setan Bebas Mental
Yang membuat persoalan ini berlipat ganda adalah stigma yang menyertainya. Orang dengan tubuh besar kerap menghadapi cibiran, tatapan menghakimi, bahkan perlakuan berbeda di ruang publik maupun layanan kesehatan.
Alih-alih mendorong perubahan, stigma justru menambah beban psikologis: rasa malu, minder, dan tekanan mental yang pada akhirnya membuat pelarian ke makanan semakin kuat.
Di sinilah lingkaran setan terbentuk: stres memicu makan berlebih, makan berlebih memicu kenaikan berat badan, kenaikan berat badan memicu stigma, dan stigma kembali memicu stres. Siklus ini tidak akan putus hanya dengan menyuruh seseorang “lebih tahan godaan”.
Peneliti kesehatan global Matthias Blüher (2019) bahkan menyebut mekanisme ini secara eksplisit: seiring berat badan bertambah, kapasitas seseorang untuk aktif secara fisik menurun, tekanan psikologis akibat stigma meningkat, dan makanan berkalori tinggi semakin sering dipakai sebagai pelarian dari tekanan itu. Dengan kata lain, tubuh dan pikiran saling menjerat, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Pendekatan Psikologis sebagai Solusi Akar Masalah
Karena itu, pendekatan yang hanya berhenti pada diet dan olahraga sering kali gagal bertahan lama. Sejumlah uji klinis mendukung dugaan ini.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Smith dan koleganya (2023) terhadap 34 studi menemukan bahwa intervensi psikologis mampu menurunkan kecenderungan makan emosional secara bermakna, dengan terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) menunjukkan hasil paling konsisten.
CBT bekerja dengan cara yang sederhana namun mendasar: membongkar keyakinan keliru bahwa makanan adalah satu-satunya sumber kenyamanan, lalu menggantinya dengan cara berpikir dan strategi menenangkan diri yang lebih sehat. Pendekatan lain yang tak kalah menjanjikan adalah mindful eating, praktik melatih kesadaran penuh saat makan agar seseorang bisa membedakan lapar fisik dari lapar emosi.
Studi acak terkontrol oleh Morillo-Sarto dan tim (2023) pada pasien overweight dan obesitas di layanan kesehatan primer Spanyol menunjukkan bahwa kelompok yang menjalani program ini mengalami penurunan perilaku makan emosional yang lebih besar dibanding kelompok yang hanya mendapat perawatan standar.
Sementara itu, riset Mohseni dan rekan-rekannya (2023) di Belanda menemukan bahwa program gaya hidup yang memadukan CBT dengan pendampingan gizi dan aktivitas fisik tak hanya menurunkan berat badan, tapi juga menekan tingkat stres, kecemasan, dan gejala depresi peserta secara signifikan.
Bukti-bukti ini menegaskan bahwa pendekatan psikologis menyasar akar masalah: bagaimana seseorang berpikir tentang dirinya, tubuhnya, dan hubungannya dengan makanan.
Pentingnya Mengubah Cara Pandang terhadap Obesitas
Mengubah cara pandang ini penting. Menangani obesitas semata dari sisi fisik seperti menambal atap yang bocor tanpa memeriksa sumber airnya. Tubuh boleh jadi titik yang paling terlihat, tapi akar persoalannya sering kali ada di pikiran dan perasaan yang tak sempat diberi ruang.
Jika masyarakat, tenaga kesehatan, dan kebijakan publik mau lebih serius menangani obesitas, pendampingan psikologis semestinya berdiri sejajar dengan program gizi dan olahraga, bukan sekadar pelengkap yang gampang dilupakan. Sebab pada akhirnya, obesitas bukan sekadar berat badan.
Ia adalah cermin dari bagaimana seseorang bertahan menghadapi hidup dan seberapa besar ruang yang kita beri untuk memahaminya, alih-alih menghakiminya.
Referensi
Blüher, M. (2019). Obesity: Global epidemiology and pathogenesis. Nature Reviews Endocrinology. https://doi.org/10.1038/s41574-019-0176-8 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Obesitas di Indonesia. Indonesiabaik.id. https://indonesiabaik.id/infografis/obesitas-di-indonesia Mohseni, M., Kuckuck, S., Meeusen, R. E. H., Jiskoot, G., Lengton, R., Savas, M., & Van Rossum, E. F. C. (2023). Improved physical and mental health after a combined lifestyle intervention with cognitive behavioural therapy for obesity. International Journal of Endocrinology and Metabolism, 21(1), e129906. https://doi.org/10.5812/ijem-129906 Morillo-Sarto, H., López-del-Hoyo, Y., Pérez-Aranda, A., Modrego-Alarcón, M., Barceló-Soler, A., Borao, L., & Montero-Marín, J. (2023). ‘Mindful eating’ for reducing emotional eating in patients with overweight or obesity in primary care settings: A randomized controlled trial. European Eating Disorders Review, 31(2), 303–319. https://doi.org/10.1002/erv.2958 Smith, J., Ang, X. Q., Giles, E. L., & Traviss-Turner, G. (2023). Emotional eating interventions for adults living with overweight or obesity: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(3), 2722. https://doi.org/10.3390/ijerph20032722
Penulis: J. V. Simangunsong
Mahasiswa Program Studi Magister Psikologi, Universitas Semarang (USM)
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi