Ruang kelas penuh, perjalanan menggunakan transportasi umum, rapat organisasi, hingga mengerjakan tugas bersama membuat mahasiswa sering beraktivitas di sekitar banyak orang. Ketika ada teman yang sedang batuk atau pilek, paparan terhadap penyebab infeksi saluran pernapasan pun lebih sulit dihindari.
Namun, berada di kampus yang ramai tidak berarti kamu pasti akan terkena infeksi saluran pernapasan.
Ada sejumlah kebiasaan yang dapat membantu mengurangi risiko penularan, mulai dari menjaga kebersihan tangan hingga memperhatikan ventilasi ruangan. Langkah pencegahan juga perlu disesuaikan dengan situasi, terutama ketika sedang berada di dekat orang yang mengalami gejala pernapasan.
Apa itu Infeksi Saluran Pernapasan Akut?
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan istilah yang mencakup infeksi akut pada saluran pernapasan. Bagian yang terdampak dapat berada pada saluran pernapasan atas maupun bawah, tergantung penyakit dan patogen penyebabnya.
Virus maupun bakteri dapat menjadi penyebab infeksi saluran pernapasan. Gejalanya pun beragam, misalnya batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan demam. Pada kondisi tertentu, gangguan pernapasan juga dapat muncul.
Karena penyebab dan tingkat keparahannya beragam, istilah ISPA tidak merujuk pada satu penyakit dengan satu cara penularan atau penanganan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui panduan Waspada ISPA di Musim Kemarau menganjurkan sejumlah langkah pencegahan, termasuk mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari orang yang sakit, serta menggunakan masker ketika berada dekat dengan orang yang memiliki gejala ISPA.
Bagi mahasiswa, prinsip tersebut dapat diterapkan dalam situasi sehari-hari di kampus.
1. Biasakan Membersihkan Tangan pada Waktu yang Tepat
Coba ingat berapa banyak benda yang kamu sentuh sejak tiba di kampus.
Gagang pintu kelas, meja, tombol lift, pegangan tangga, mesin absensi, hingga fasilitas umum digunakan bergantian oleh banyak orang. Setelah itu, tanpa sadar tangan mungkin menyentuh hidung, mulut, atau mata.
Karena itu, kebersihan tangan tetap menjadi bagian penting dari pencegahan infeksi.
Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, setelah batuk atau bersin, dan ketika tangan terlihat kotor.
Jika fasilitas cuci tangan tidak tersedia, pembersih tangan berbasis alkohol dapat digunakan sesuai petunjuk penggunaannya.
Tidak perlu terobsesi membersihkan tangan setiap kali menyentuh benda. Fokuslah pada waktu-waktu ketika kebersihan tangan memang diperlukan.
Kebiasaan sederhana lainnya adalah mengurangi menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang belum dibersihkan.
Baca juga: Apakah Sunat Benar-Benar Mengurangi Risiko Infeksi? Ini Faktanya
2. Gunakan Masker Berdasarkan Situasi dan Risiko
Masker tidak harus digunakan setiap saat oleh semua mahasiswa. Penggunaannya dapat disesuaikan dengan kondisi dan risiko paparan.
Misalnya, kamu dapat mempertimbangkan memakai masker ketika sedang mengalami batuk atau gejala infeksi pernapasan agar risiko menularkan penyakit kepada orang lain berkurang.
Masker juga berguna ketika kamu harus berada dekat dengan orang yang sedang mengalami gejala pernapasan atau ketika kualitas udara sedang buruk.
Hal yang sering terlupakan justru cara pemakaiannya.
Pastikan masker menutup hidung dan mulut dengan baik. Ganti masker jika sudah basah, lembap, kotor, atau tidak lagi layak digunakan.
Jika sedang sakit, jangan hanya mengandalkan masker sambil tetap memaksakan seluruh aktivitas. Istirahat dan membatasi kontak dekat dengan orang lain juga perlu dipertimbangkan.
3. Hindari Asap Rokok dan Kurangi Paparan Polusi Udara
Menunggu teman di area merokok mungkin terasa sepele. Bagi saluran pernapasan, paparan asap tersebut tetap bukan kondisi yang ideal.
Asap rokok dan polusi udara dapat mengganggu kesehatan sistem pernapasan. Karena itu, mahasiswa yang tidak merokok sekalipun tetap perlu memperhatikan paparan asap rokok dari lingkungan sekitar.
Kementerian Kesehatan melalui panduan Cegah Dampak Polusi Udara dengan 6M 1S memasukkan menghindari sumber polusi dan asap rokok sebagai salah satu langkah untuk mengurangi dampak polusi udara terhadap kesehatan. Kemenkes juga menganjurkan masyarakat memeriksa kualitas udara dan menggunakan masker ketika tingkat polusi sedang tinggi.
Artinya, respons terhadap polusi sebaiknya mengikuti kondisi.
Ketika kualitas udara buruk, kurangi aktivitas luar ruangan yang tidak diperlukan. Jika harus bepergian, penggunaan masker yang sesuai dapat dipertimbangkan.
Hindari pula merokok di kamar kos atau ruang tertutup yang digunakan bersama.
Artikel lama menyarankan tanaman dalam ruangan sebagai cara menyaring udara. Saran tersebut terlalu menyederhanakan persoalan kualitas udara dan tidak perlu dijadikan strategi utama.
Baca juga: Apa Manfaat Senam Bagi Tubuh? Rahasia Sehat dan Bugar Setiap Hari
4. Perhatikan Ventilasi Ruang Belajar dan Tempat Tinggal
Kamar kos yang selalu tertutup mungkin terasa nyaman karena AC tetap dingin. Namun, kenyamanan suhu tidak selalu sama dengan pertukaran udara yang baik.
Ventilasi perlu diperhatikan, terutama pada ruangan yang digunakan bersama dalam waktu lama.
Penelitian Siti Thomas Zulaikhah, Purwito Soegeng, dan Titiek Sumarawati berjudul Risk Factors of Acute Respiratory Infections in Practice Area for Community of Medical Students in Semarang mengkaji faktor risiko ISPA pada wilayah praktik komunitas mahasiswa kedokteran di Semarang.
Penelitian tersebut menjadi salah satu pengingat bahwa kejadian ISPA tidak dapat dilepaskan begitu saja dari kondisi lingkungan.
Dalam praktik sehari-hari, perhatikan apakah kamar, ruang belajar, atau tempat berkumpul mempunyai pertukaran udara yang memadai.
Jika menggunakan ventilasi alami dan kondisi udara luar sedang baik, membuka pintu atau jendela dapat membantu pertukaran udara. Pada bangunan dengan sistem ventilasi mekanis, pastikan sistem tersebut digunakan dan dirawat sebagaimana mestinya.
Namun, ketika kualitas udara luar sedang buruk akibat asap atau polusi, membuka seluruh jendela bukan selalu pilihan terbaik. Kondisi udara luar juga perlu dipertimbangkan.
5. Terapkan Etika Batuk dan Bersin
Pencegahan infeksi pernapasan bukan hanya tentang melindungi diri sendiri.
Jika kamu yang sedang batuk atau bersin, ada orang lain di kelas, perpustakaan, kendaraan, atau tempat tinggal yang juga perlu dilindungi.
Gunakan tisu untuk menutup hidung dan mulut ketika batuk atau bersin, lalu segera buang tisu ke tempat sampah. Jika tidak tersedia, arahkan batuk atau bersin ke bagian dalam siku, bukan telapak tangan.
Setelahnya, bersihkan tangan.
Jika sedang mengalami gejala pernapasan, menggunakan masker ketika harus berada di sekitar orang lain juga dapat membantu mengurangi penyebaran droplet pernapasan.
Kebiasaan ini sederhana, tetapi relevan dengan kehidupan kampus karena mahasiswa sering menggunakan ruang dan fasilitas secara bersama-sama.
Kalau kondisi tubuh sedang tidak baik, pertimbangkan pula apakah kegiatan tatap muka benar-benar harus diikuti. Tidak semua rapat atau aktivitas organisasi lebih penting daripada memulihkan kondisi sekaligus mengurangi kemungkinan menularkan penyakit kepada orang lain.
6. Jaga Kondisi Tubuh dengan Kebiasaan Dasar yang Realistis
Pencegahan ISPA tidak membutuhkan satu jenis makanan, vitamin, atau olahraga tertentu yang dianggap mampu membuat tubuh “kebal”.
Tubuh tetap membutuhkan pola hidup yang mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Usahakan makan dengan gizi yang beragam dan seimbang, tidur cukup, melakukan aktivitas fisik, serta memenuhi kebutuhan cairan.
Bagi mahasiswa, tantangannya sering bukan karena tidak mengetahui kebiasaan tersebut, melainkan sulit menerapkannya ketika jadwal sedang padat.
Mulailah dari hal yang realistis.
Jika besok harus berada di kampus sejak pagi hingga sore, siapkan makanan atau tentukan waktu untuk makan. Jika beberapa malam terakhir digunakan untuk menyelesaikan tugas, evaluasi kembali waktu istirahat. Aktivitas fisik pun tidak harus selalu dilakukan di pusat kebugaran.
Penelitian Satvica Kalbu, Asri Masitha Arsyati, dan Ade Saputra Nasution berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upaya Pencegahan ISPA pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibn Khaldun Bogor Tahun 2021 secara khusus mengkaji upaya pencegahan ISPA pada mahasiswa.
Konteks mahasiswa penting karena kebiasaan pencegahan perlu diterapkan di tengah rutinitas akademik yang nyata, bukan hanya dipahami sebagai teori kesehatan.
Artikel lama secara khusus mengunggulkan vitamin C untuk mencegah ISPA. Pendekatan tersebut terlalu sempit. Tidak ada satu vitamin atau makanan yang dapat dijadikan jaminan bahwa seseorang tidak akan mengalami infeksi saluran pernapasan.
7. Jangan Memaksakan Aktivitas ketika Sedang Sakit
Ada kecenderungan untuk tetap masuk kuliah karena takut tertinggal materi, tetap menghadiri rapat karena merasa bertanggung jawab, atau tetap mengerjakan seluruh kegiatan meskipun tubuh sedang tidak sehat.
Padahal, ketika mengalami gejala infeksi pernapasan, kamu juga perlu mempertimbangkan orang-orang di sekitar.
Kurangi kontak dekat jika memungkinkan, gunakan masker ketika harus berada bersama orang lain, terapkan etika batuk, dan berikan tubuh waktu untuk beristirahat.
Jangan pula menggunakan antibiotik sendiri hanya karena mengalami batuk, pilek, atau sakit tenggorokan.
ISPA dapat disebabkan oleh virus maupun bakteri. Artinya, antibiotik tidak otomatis diperlukan pada setiap infeksi saluran pernapasan.
Jika gejala terasa berat, memburuk, berlangsung lama, atau membuat kamu khawatir, periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan agar penyebab dan penanganannya dapat dinilai dengan tepat.
Bagaimana dengan Vaksinasi?
Artikel lama menempatkan vaksin influenza sebagai salah satu dari tujuh cara utama dan menyatakan adanya penelitian Universitas Hasanuddin yang membuktikan mahasiswa penerima vaksin flu memiliki risiko ISPA lebih rendah.
Klaim penelitian tersebut tidak layak dipertahankan tanpa publikasi yang dapat diverifikasi.
Namun, bukan berarti vaksinasi tidak relevan.
Vaksin bekerja terhadap penyakit atau patogen tertentu, bukan sebagai “vaksin ISPA” yang mencegah seluruh infeksi saluran pernapasan.
Karena itu, kebutuhan vaksinasi sebaiknya mengikuti rekomendasi berdasarkan usia, kondisi kesehatan, faktor risiko, riwayat imunisasi, perjalanan, atau kebutuhan khusus lainnya.
Jika ingin mengetahui vaksin apa yang sesuai dengan kondisimu, konsultasikan dengan dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Batuk atau pilek ringan memang dapat terjadi dan tidak selalu membutuhkan penanganan khusus.
Namun, jangan menganggap semua gejala pernapasan sebagai ISPA ringan yang pasti sembuh sendiri.
Kementerian Kesehatan dalam panduan Mengenali Gejala ISPA dan Tindakan yang Perlu Dilakukan mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala dan mengambil tindakan yang sesuai.
Cari pertolongan medis jika mengalami kesulitan bernapas atau sesak yang berat, kondisi semakin memburuk, atau muncul gejala yang membuat kamu khawatir.
Mahasiswa dengan penyakit penyerta atau kondisi kesehatan tertentu juga sebaiknya tidak menunda konsultasi ketika mengalami gangguan pernapasan yang signifikan.
Internet dapat membantu memahami informasi dasar, tetapi diagnosis tetap membutuhkan penilaian kondisi masing-masing orang.
Pencegahan ISPA Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan tidak membutuhkan rutinitas yang rumit.
Kebiasaan membersihkan tangan, memakai masker sesuai situasi, menjauhi asap rokok, memperhatikan kualitas udara dan ventilasi, menerapkan etika batuk, serta menjaga kondisi tubuh dapat diterapkan dalam kehidupan mahasiswa sehari-hari.
Hal yang sama pentingnya adalah mengetahui kapan harus berhenti beraktivitas dan beristirahat.
Jika sedang sakit, menjaga jarak dari orang lain bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Dalam situasi tertentu, keputusan tersebut justru membantu melindungi teman sekelas, teman kos, dosen, dan orang lain yang berinteraksi denganmu.
Pencegahan memang tidak dapat menjamin kamu tidak pernah mengalami infeksi saluran pernapasan. Namun, kebiasaan yang tepat dapat membantu mengurangi paparan dan risiko penularan sekaligus membangun lingkungan kampus yang lebih sehat.
Redaksi Media Mahasiswa Indonesia
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















