Apakah Sunat Benar-Benar Mengurangi Risiko Infeksi? Ini Faktanya

Sunat menurut medis
Ilustrasi Sunat (Foto: Dok. Penulis)

Di Indonesia, sunat sangat lekat dengan budaya dan agama.

Tradisi ini biasanya dirayakan dengan meriah.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Namun, pernahkah kalian bertanya-tanya, apa sebenarnya manfaat sunat dari kacamata medis?

Benarkah membuang bagian kecil kulit tersebut bisa menyelamatkan kita dari berbagai infeksi berbahaya?

Pada penis terdapat kulit yang menutupi ujung penis.

Yang kita kenal dengan sunat sendiri menghilangkan bagian kulit tersebut yang setelahnya menjadi lebih mudah untuk dibersihkan.

Jika area di bawah kulit tersebut tidak dibersihkan secara rutin, kotoran alami tubuh, sisa urine, dan kuman dapat menumpuk.

Penumpukan ini dapat menyebabkan bau tidak sedap, iritasi, hingga infeksi.

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi yang terjadi pada saluran yang berfungsi mengeluarkan urine dari tubuh.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi laki-laki yang tidak disunat memiliki risiko lebih tinggi mengalami ISK dibandingkan bayi yang telah disunat.

Hal ini diduga karena kuman lebih mudah berkembang pada area di bawah kulit tersebut yang lembab dan sulit dibersihkan.

Dengan dihilangkannya kulit yang menutupi ujung penis melalui sunat, kebersihan area tersebut menjadi lebih mudah dijaga sehingga risiko infeksi dapat berkurang.

Manfaat sunat tidak hanya berkaitan dengan kebersihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sunat pada pria dapat membantu menurunkan risiko tertular HIV melalui hubungan seksual hingga sekitar 60 persen.

Selain itu, sunat juga diketahui dapat mengurangi risiko tertular beberapa infeksi lain, seperti Human Papillomavirus (HPV) dan herpes.

Meskipun demikian, sunat bukanlah perlindungan mutlak.

Perilaku hidup sehat dan praktik seksual yang aman tetap menjadi cara utama untuk mencegah penularan penyakit.

Kemudian apakah setelah disunat seseorang pasti terhindar dari semua penyakit atau infeksi?

Tentunya tidak berarti seperti itu. Walaupun sudah disunat, kita tetap perlu menjaga  kebersihan area kelamin.

Menjaga kebersihan area tubuh yang lembab dan tertutup memang tidak selalu mudah, terutama pada anak-anak yang belum mampu membersihkan diri secara mandiri.

Karena itu, sunat dapat membantu mempermudah perawatan dan kebersihan area kelamin.

Dengan kebersihan yang lebih baik, risiko terjadinya peradangan pada kepala penis yang ditandai dengan kemerahan, gatal, nyeri, atau bengkak juga dapat berkurang.

Inilah salah satu alasan mengapa sunat sering dianjurkan tidak hanya karena faktor budaya atau agama, tetapi juga karena manfaatnya bagi kesehatan.

Jadi, mitos atau fakta? Jawabannya adalah FAKTA.

Mari jadikan sunat tidak hanya sebagai momen perayaan tradisi, tapi juga langkah awal komitmen menjaga kebersihan area kelamin kita seumur hidup.


Penulis:
1. Daffa Nafisah
2. Cynthia Heidy Marentek
Mahasiswa Prodi Kedokteran, Universitas Trisakti


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

  1. American Academy of Pediatrics Task Force on Circumcision. Male circumcision. Pediatrics. 2012 Sep;130(3):e756-85.
  2. World Health Organization. Male circumcision: global trends and determinants of prevalence, safety and acceptability [Internet]. Geneva: World Health Organization; 2007 [cited 2026 Jun 9]. Available from: https://apps.who.int/iris/handle/10665/43749
  3. Morris BJ, Wamai RG, Henebeng EB, Tobian AA, Klausner JD, Banerjee J, et al. Estimated prevalence of male circumcision worldwide: an updated analysis. PLoS One. 2016 Feb 24;11(2):e0152415.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses